Arsip Kategori: Fiqih

Pernak-Pernik Faidah Seputar Hukuman Bagi Pencuri Dalam Islam


Di antara hal penting yang diperintahkan oleh Islam untuk menjaganya adalah harta. Islam telah memerintahkan supaya memperoleh harta tersebut dengan cara yang halal, dan melarang memperolehnya dengan cara yang haram. Dan termasuk diantara usaha yang haram adalah mencuri. Lalu bagaimana sebenarnya perlakuan hukuman bagi tindak pencurian dalam Islam ?

Berikut kami sajikan pernak-pernik faidah tentang tindak hukum pencurian dalam Islam: Lanjutkan membaca Pernak-Pernik Faidah Seputar Hukuman Bagi Pencuri Dalam Islam

Iklan

Li’an : Saling Sumpah dan Melaknat Atas Tuduhan Zina


Oleh. Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Apabila seorang suami menuduh isterinya berzina lalu isterinya mendustakan hal itu, maka suami dijatuhi hukum hadd, kecuali jika suami bisa mendatangkan bukti (saksi) atau mereka saling meli’an .

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9] Lanjutkan membaca Li’an : Saling Sumpah dan Melaknat Atas Tuduhan Zina

Faidah-Faidah Tentang Fiqih Jual Beli: Jual Beli Amanah


Faidah-Faidah Tentang Fiqih Jual Beli: Jual Beli Amanah*)

Diantara macam-macam jual beli ditinjau dari penetapan harga barang adalah:

>> Jual Beli Amanah:

  • Jenis jual beli ini adalah jual beli atas suatu barang dengan disebutkan harga modal/pokok barangnya. Dinamakan jual beli amanah karena si penjual dipercaya oleh pembeli dengan sebab menyebutkan harga modalnya tersebut.
  • Jual beli amanah ini dibagi menjadi 3 macam: Murabahah, Tauliyyah, dan Wadli’ah
  • [1] Jual beli Murabahah, yaitu si penjual menyebutkan harga pokoknya dan menjualnya dengan tambahan, penjual mengatakan kepada pembeli “Barang ini modalnya sekian, dan saya akan menjual sekian”. Yaitu dijual dengan menambah dari harga pokoknya.
  • Istilah Murabahah sering disebut pula dalam istilah perbankan, dan pengertian Murabahah disini berbeda dengan Murabahah dalam istilah perbankan. Murabahah dalam pengertian jual beli amanah ini diperbolehkan. Adapun istilah Murabahah dalam istilah perbankan tidak diperbolehkan.

Lanjutkan membaca Faidah-Faidah Tentang Fiqih Jual Beli: Jual Beli Amanah

Haramnya Biawak dan Halalnya Dhab


Oleh. Abu Hatim Abdul Mughni, BA.

Dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari dalam Kitab Khabarul Ahad, Bab Khobarul Mar’ah Waahidah,

قَالَ (ابن عمر رضي الله عنه): كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلىالله عليه وسلم، فِيهمْ سَعْدٌ، فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ،فَنَادَتْهُمُ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم،إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ، فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:كُلُوا أَوِ اطْعَمُوا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ أَوْ قَالَ: لاَ بَأْسَ بِهِ وَلكِنَّهُلَيْسَ مِنْ طَعَامِي.

Abdullah Bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad makan daging. Kemudian salah seorang isteri Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memanggil mereka seraya berkata, ‘Itu daging Biawak dhab’. Mereka pun berhenti makan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Makanlah, karena karena daging itu halal atau beliau bersabda: “tidak mengapa dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku“. Lanjutkan membaca Haramnya Biawak dan Halalnya Dhab