Faidah-Faidah Tentang Mengikuti Sunnah Nabi (Bag. 2/2)


💡Lanjutan Faidah Ittiba’ Kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam Bag 2/2 , 📝Sebuah Catatan Pengajian Bersama Syaikh Walid, Gresik 20-02-2017)

1⃣5⃣. Ittiba’ akan mendatangkan kehidupan yang baik. Allah ta’āla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (An-Nahl 97)

1⃣6⃣. Adalah kisah seorang sahabat yang mulia, Julaibib -radliyallahu’anhu-. Salah satu seorang sahabat yang termasuk dalam golongan yang fakir. Suatu hari Rasulullah datang kepada seorang sahabat yang memiliki anak perempuan kemudian melamar sang anak tersebut untuk Julaibib. Dengan penuh kebingungan sahabat itu menjawab: “Baiklah, wahai Rasulullah! Tetapi aku harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan istriku”. Pergilah sahabat ini menemui istrinya. Terlintas di benaknya, apa kata orang jika putriku menikah dengan Julaibib Radhiyallahu anhu ?! Bagaimana martabat keluarganya?! Setelah bertemu dengan istrinya, iapun menceritakan pinangan Rasulullah. Dia berkata: “Wahai, istriku. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang putrimu,” serta merta istrinya menjawab: “Iya, aku sangat setuju”.
“Akan tetapi Rasulullah tidak meminang untuk dirinya, ” jelas sang suami.
“Lantas untuk siapa pinangan itu,” tanya istrinya penuh keheranan.
“Rasulullah meminangnya untuk Julaibib Radhiyallahu anhu ,” tandasnya.
Istrinya menjawab: “Untuk Julaibib Radhiyallahu anhu ? Tidak! Aku tidak setuju. Jangan engkau nikahkan dengannya!”
Mereka enggan memiliki seorang menantu seperti Julaibib Radhiyallahu anhu yang tidak memiliki apa-apa. Demikianlah, keadaan sebagian orang tua yang terkadang lebih mengutamakan dunia seseorang dari pada agamanya. Percakapan itu ternyata terdengan oleh putrinya. Lantas bagaimana dengan sikap putrinya mendengar pinangan dari Rasulullah? Tak disangka, ketika bapaknya hendak beranjak pergi untuk menolak pinangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , terdengarlah suara dari dalam kamar: “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”
Sang ibu kemudian menceritakan bahwa yang meminang adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi pinangan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk Julaibib,
Ternyata putrinya menjawab dengan tegas: “Apakah kalian menolak perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Tidakah kalian mendengar firman Allah
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. – al-Ahzâb/33 ayat 36- Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib Radhiyallahu anhu !”
Akhirnya sang ayah dan ibunya menikahkan anaknya dengan Julaibib demi menaati perintah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-.

Tatkala keduanya menikah, Rasulullah berdoa kepada mereka berdua:
اَللّهُمَّ صُبَّ عَلَيْهِمَا الْخَيْرَ صَبًّا  وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهُمَا كَدًّا كَدًّا
Ya Allah! Curahkanlah kepada keduanya kebaikan yang banyak, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”

Tatkala Julaibib mendengar seruan jihad, maka berangkatlah beliau. Dan beliau gugur di medan jihad sebagai syahid, dengan membunuh tujuh orang kafir. Istrinya sepeninggal Julaibib kemudian menjadi wanita konglomerat yang hartanya melimpah, dan dia banyak berinfak di jalan Allah. Demikianlah keberkahan ittiba’ kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

1⃣7⃣. Syaikh Walid ketika dalam majelis ditanya berkenaan dengan doa Rasulullah kepada Julaibib ini, “Bolehkah kita berdoa kepada pengantin dengan doa kepada Julaibib ini?” Maka beliau menjawab, “Boleh mendoakan kepada kedua mempelai dengan doa ini, dengan syarat kita mengenal keduanya sebagai orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya”

1⃣8⃣. Ittiba’ kepada Rasulullah akan menyemalatkan seseorang di dalam kuburnya. Sebagaimana dalam hadits bahwa ketika dalam kubur maka seseorang akan ditanya oleh malaikat, “Siapa orang yang diutus kepada kalian?”. Dan seorang yang ittiba’ kepada Rasulullah akan dengan mudah menjawabnya dengan baik, dan terselamatkan dari fitnah kubur.

1⃣9⃣. Ittiba’ kepada Rasulullah akan menjadi sebab dia masuk kedalam surga. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya, siapakah yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan“ (H.R Bukhari)

2⃣0⃣. Ittiba kepada Rasulullah akan lebih besar pahalanya ketika berada di dalam zaman keterasingan nan penuh fitnah, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi bahwa seorang yang berpegang teguh diatas sunnah Nabi pada zaman tersebut maka dia akan mendapatkan pahala 50x lipat pahala para sahabat

2⃣1⃣. Adapun jika seseorang tidak mentaati Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- maka akan berpengaruh negatif kepada pelaku tersebut, dan menimbulkan berbagai macam penyakit dan musibah di dunia. Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwasanya ada seseorang yang makan dengan tangan kiri karena kesombongannya. Rasulullah telah memperingatkannya namun dia enggan, akhirnya berujung pada musibah dengan kelumpuhan tangannya.

2⃣2⃣. Dikisahkan tentang kakek said ibnu musayyib yang bernama Hazn (artinya sedih), Said bin Musayyib salah seorang tokoh Tabi’in. Kakeknya, Hazn, suatu saat Hazn bertemu dengan Rasulullah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, “Siapa Namamu?”. Kemudian dijawab “Nama saya Hazn (Sedih)”. Maka Rasulullah mengatakan, “Gantilah namamu dengan Sahl (Mudah)”. Hazn menjawab, “Saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan oleh kedua orangtuaku”. Maka semenjak itu Hazn selalu terlihat sedih pada dirinya dan anak keturunannya.

2⃣3⃣. Said ibnu Musayyib pernah mengisahkan, bahwa suatu hari ada seseorang yang berpamitan kepada Said di sebuah masjid untuk berangkat haji dan pada saat itu adzan telah dikumandangkan. Maka Said berkata padanya, “Jangan berangkat terlebih dahulu, karena adzan telah dikumandangkan”. Maka orang tersebut berkata, “Wahai imam aku tertinggal jauh dengan rombonganku”. Said berkata, “Jangan engkau pergi karena Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- melarangnya”. Yaitu sebagaimana sabda beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- :

“Tidaklah seseorang mendengarkan adzan dimasjidku ini kemudian dia keluar – kecuali karena satu keperluan/ buang hajat – kemudian tidak kembali lagi melainkan dia orang munafik” (HR Thabrani)

Namun orang tersebut tetap bersikeras berangkat. Said ibnu Musayyib menanyakan kabar orang tersebut kepada rekan-rekannya, dan sampailah kabar bahwa orang tersebut kakinya patah karena terjatuh dalam perjalanan dari tunggangannya. Ini dikarenakan mengabaikan perintah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-.

2⃣4⃣. Suatu hari ada seseorang yang menyembelih seekor kambing untuk dihidangkan, kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Berikanlah kepadaku satu dzira’ (yaitu kedua kaki depan kambing)”. Maka orang tersebut memberikannya kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah berkata kembali “Berikan kepadaku satu dzira”. Dan diberikannya dzira tersebut kepada beliau. Kemudian untuk ketiga kalinya beliau berkata “Berikanlah kepadaku satu dzira”. Maka orang tersebut nyeletuk, “Ya Rasulullah emangnya kambing punya berapa dzira’ ??”. Kemudian Rasulullah berkata, “Seandainya orang tersebut diam, maka aku akan tetap diberi dzira selama aku memintanya”. Demikianlah akibat protes kepada perintah Rasulullah, akan menghilangkan keberkahan.

2⃣5⃣. Suatu hari Rasulullah menjenguk seorang arab badui, dan beliau mendoakan kepadanya لاَ بَأْسَ، طَهُورُ إِنْ شَاءَ اللهُ “Tidak mengapa, menyucikan dosa-dosa insyaAllah”. Maka arab badui tersebut berkata, “Apa? demam ini menyucikan dosa-dosa? tidak, ini adalah demam yang panas yang akan mengantarkan seseorang kedalam kuburnya”. Maka keesokannya orang tersebut meninggal dunia.

2⃣6⃣. Jangan lah kita sampai kita menentang dan menolak ajaran Rasulullah -shallalahu’alaihi wa sallam- . Hendaknya kita mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan kaum salaf mempelajari hadits sebagaimana mereka mempelajari al-Quran, mereka berulang-ulang mengkhatamkan kitab-kitab hadits.

2⃣7⃣. Hendaknya kita jangan mendahulukan ucapan siapapun dari sabda Rasulullah dan perintah beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-. Tidak mendahulukan perkatakan ustadz, perkataan kyai, tidak pula perkataan syaikh.

Wabillahit taufiq…

📝 Maramis Setiawan
👥 Group WA Info Kajian Sunnah Gresik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s