shalat

Faidah-Faidah Berpakaian Dalam Shalat (Bag 1)


Faidah-Faidah Berpakaian Dalam Shalat (Bag 1)* :

ihram

    1. Tidak ada pakaian khusus untuk digunakan dalam shalat. Selama pakaian tersebut layak, pantas dan menutup aurat maka boleh dipakai untuk shalat.  Kecuali untuk shalat Jumat dan shalat hari raya maka beliau –shallallahu’alaihi wa sallam– sengaja mengkhususkan dengan mengenakan baju terbaik ketika melaksanakan shalat-shalat  tersebut.

  1. Terkadang Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– mengenakan hullah ketika shalat yang berwarna merah. Hullah adalah setelan 2 kain, yaitu izzar dan rida. Izzar kurang tepat jika diterjemahkan dengan sarung, izzar adalah kain yang antara ujung dengan ujung tidak bersambung dan digunakan sebagai bawahan, yang serupa dengan bawahan pakaian ihram para jamaah haji di zaman sekarang. Demikian pula Rida, maka kurang tepat jika diterjemahkan dengan selendang. Rida adalah semacam kain yang di pakai sebagai atasan yang juga serupa dengan atasan pakaian ihram yang dipakai oleh jamaah haji sekarang.
  2.  Qamish adalah pakaian berjahit yang menempel di tubuh, memiliki lengan baju yang dikenakan sebagai pakaian dalam. Dan kurang tepat pula jika qamish diterjemahkan sebagai baju gamis. Apalagi jika dibawa dengan pemahaman kata gamis di zaman sekarang, maka qamish bukanlah gamis.
  3. Demikianlah pakaian umum (secara internasional) orang pada masa itu, yaitu bawahan dan atasan (seperti gambar di atas). Bahkan di zaman Rasulullah sudah menjadi pemandangan umum jika orang-orang hanya memakai bawahan tanpa mengenakan atasan.
  4. Oleh karena itu Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang ummatnya mengenakan bawahan saja ketika melaksanakan shalat, kecuali bagi orang yang memang tidak mampu. Perlu dipahami bahwa di zaman itu setiap orang tidak memiliki banyak kain sebagai pakaian, sehingga rata-rata setiap orang hanya memiliki 2 kain yang digunakan secara bergantian.
  5. Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam melarang untuk shalat dengan hanya menggunakan sirwal. Sirwal yang dimaksud merupakan bawahan, tipis, dan yang digunakan sebagai pakaian dalaman.
  6. Beliau –shallallahu’alaihi wa sallam– juga pernah shalat menggunakan jubbah. Jubbah yang dimaksud adalah semacam pakaian luar yang masih menggunakan qamish dan izar atau sirwal di dalamnya. Lengannya sempit, sehingga ketika Rasulullah berwudhu, beliau mengeluarkan tangannya terlebih dahulu dari Jubbah karena betapa sempitnya.
  7. Jika hanya memiliki selembar kain, maka dikenakan kain tersebut dengan disilangkan menutupi kedua bahunya sampai menutupi bagian bawah tubuh, namun jika tidak mampu karena kain sempit dan jika dipaksakan maka akan tersingkap auratnya maka kain tersebut cukup digunakan untuk izar (bawahan).
  8. Terlarangnya shalat dengan mengenakan kain/ baju tanpa menutupi kedua pundaknya, kecuali jika memang tidak mampu. Tidak mampu dalam hal ini adalah bahwa kain yang dimiliki hanya satu atau dua kain, dan tidak semuanya mampu untuk mengenakan dua kain dalam shalat di zaman Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam-, yaitu pakaian saat itu mahal dan sulit didapatkan.
  9. Tidak dibenarkan pula shalat menggunakan kaos singlet sebagaimana zaman sekarang, jika ternyata masih memiliki beberapa kain/ baju yang bisa dia pakai.

*Ini adalah faidah-faidah yang bisa kami catat dalam pengajian Sifat Shalat Nabi yang disampaikan oleh ustadz Ahmad Sabiq, Lc yang diselenggarakan di Masjid Darussalam (belakang gedung utama Semen Indonesia), Gresik pada tanggal 4 Mei 2016. Pengajian dengan tema ini diselenggarakan setiap Rabu minggu pertama dan ketiga.

 

DOWNLOAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s