black_heart_bleeding__negative__by_shake1-d5cmz5r

Maksiat Akan Mengkhianati Pelakunya Saat Dibutuhkan Jiwanya


Kita mungkin pernah mendengar sebuah hadits Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam– tentang ucapan pamungkas seseorang di akhir hayatnya,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaaha illallaah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Cukup mudah bukan? Karena benarlah sabda Nabi tersebut, dan tidaklah apa yang diucapkan oleh beliau melainkan kebenaran, sebagaimana Allah berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (4)

“Dan dia (Nabi Muhammad) tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm:3-4)

Namun apakah setiap orang akan dimudahkan oleh Allah dalam mengucapkan kalimat tauhid tersebut, atau akan ada penghalang-
penghalang yang menyebabkan seorang muslim berat mengucapkan kalimat tersebut ketika sakaratul maut?

Imam Ibnu Qayyim –rahimahullah– menyebutkan dalam kitabnya, Ad-Daa wa d Dawaa, “Diantara dampak maksiat adalah maksiat akan mengkhianati pelakunya pada saat dibutuhkan oleh jiwanya.”

Beliau mengatakan, “Terdapat perkara lain yang lebih menakutkan dan menyakitkan, yaitu pelaku dosa dikhianati oleh hati dan lisannya ketika sedang mengalami sakaratul maut atau hendak berpulang menuju Allah, bahkan tidak jarang dia terhalangi dari pengucapkan syahadat, seperti yang banyak disaksikan”.

Dikatakan kepada sejumlah orang yang sedang menjemput maut: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah“.
Ada yang menjawab: “Ah..ah, aku tidak bisa mengucapkannya”.

Ada pula yang menjawab: “Skak mat !, Sekarang, aku telah menangalahkanmu (teringat ketika dia bermain catur)”.  Setelah mengucapkan hal itu, dia pun meninggal dunia.

Ada yang ketika sakaratul maut mendendangkan lagu sampai dia menghembuskan nafasnya terakhir.

Ada yang menjawab: “Setiap kali aku hendak mengucapkannya, lisanku terhalang (kaku)”. (Ad-daa wa ad dawaa’: hlm 213)

Saya jadi teringat ketika melihat realita yang ada bahwa banyak diantara orang di zaman ini yang berbaring di rumah sakit sebelum ajalnya menjemput adalah karena stroke (Bell’s Palsy) sehingga membuat mulutnya miring tak mampu berbicara kecuali “aa…aa….aa”. Kemudian saya berpikir, bagaimana orang tersebut mampu mengucapkan lafadz tauhid dengan kondisi yang demikian ?? ~semoga mereka disembuhkan oleh Allah dari stroke sebelum ajal menjemput.

Jika seorang hamba mampu dikuasai dan dikendalikan oleh syaithon untuk berbuat maksiat kepada Allah ketika kekuatan, pikiran dan daya ingatkan berada pada puncaknya, lalu bagaimana jika seorang hamba tersebut telah lemah berbaring sementara dirinya merasakan sakitnya sakaratul maut ? Bisa kah selamat ? Sementara Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda,

إنّما الأعمال بالخواتيم

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari)

Semoga Allah senantiasi memberi kita petunjuk sehingga diberi kekuatan agar senantiasa istiqomah dan dihindarkan dari kelalaian dari mengingat Allah.

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim: 27)

——

~Sebuah renungan pribadi di malam yang dingin,

Rembang, 12/4/15~23 Jumadil Akhir~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s