rapak

Latihan Akad Saat Rapak, Apakah Dihukumi Sudah Sah?


Assalamu’alaykum. Afwan sebelumnya, saya ada masalah. Kemarin ketika mau menikah (2 bulan yang lalu), saya disuruh datang ke KUA untuk mengikuti acara rapak pengantin satu pekan sebelum akad. Tujuannya katanya untuk mencocokkan data dari kedua belah calon mempelai. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya. Dalam acara rapak di KUA tersebut, hadir: saya selaku calon mempelai laki-laki, calon istri saya, dan calon mertua sebagai wali calon istri saya, ditambah teman saya sebagai pendamping. Dalam acara itu saya juga membawa maskawin berupa cincin emas. Setelah petugas KUA mencocokkan data-data, maka saya dan mertua dituntun untuk latihan mengucapkan kalimat ijab qabul.

Pertanyaan saya: (1). Apakah akad yang dilakukan di KUA itu dihukumi akad yang sah sehingga saya bisa dikatakan sudah menjadi suami bagi calon istri saya? karena saya pernah mendengar ada hadits yang menyebutkan, bahwa salah satu dari tiga hal yang dihukumi serius walaupun dilakukan karena bercanda ialah akad nikah (2). Jika seandainya pihak wanita atau pria membatalkan pernikahan setelah rapak, apakah boleh langsung dinikahi oleh lelaki lain?  Jazakumullah khairan atas jawabannya.

JAWAB:

Wa’alaykumussalam wa rahmatullah. Rapak di KUA adalah istilah dan peraturan baru yang dikeluarkan oleh Departemen Agama, maksudnya sebelum KUA mencatat pernikahan umat Islam, mereka mengadakan riset atau penelitian dengan memanggil kepada pihak yang akan menikah dan yang akan dinikahkan agar tidak salah tulis dan lainnya pada saat terjadi akad pernikahan. Hal ini untuk kepentingan kita umat Islam di kemudian hari, semisal bila dibutuhkan surat nikah ketika hendak haji, atau umrah, mengurus akta kelahiran anak, maupun keperluan lainnya. Walaupun toh, kita menikah tanpa pencatatan KUA itu sudah sah, jika terpenuhi syarat dan rukunnya. Namun, ketaatan kita kepada waliyul amri (pemerintah) adalah wajib, jika hal ini tidak melanggar syariat Allah.

Ketika KUA mengajari orang tua yang mau menikahkan putrinya tentang cara mengijabkan atau menikahkan putrinya, baik dengan bahasa Arab atau Bahasa Indonesia, niatnya bukankah untuk menuntun wali ketika menikahkan putrinya, tetapi mengajari cara melafalkan akad nikah yang akan dilakukan nanti pada saat terjadi akad nikah yang sesungguhnya. Demikian juga, ketika petugas KUA mengajari calon suami cara qabul atau menerima ijab wali, niatnya bukan menuntun ijab-qabul atau serah terima yang sesungguhnya, tetapi mengajari cara menerima ijabnya si wali, sehingga setelah keduanya selesai belajar tentang caranya, wanita itu belumlah dikatakan menjadi istri yang sah.

Dari Umar bin Khattab radliyallahu’anhu dia berkata, “Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

“Amal-amal perbuatan itu harus ada niatnya, dan setiap perbuatan seseorang tergantung niatnya” (HR. Muslim:1084)

Jika calon suami tidak jadi melanjutkan akad nikah setelah diajari caranya (dalam rapak oleh pihak KUA) maka tidak mengapa, karena belum ada niat ijab-qabul dari kedua belah pihak.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa salah satu dari tiga hal yang dihukumi serius, walaupun dilakukan karena bercanda ialah akad nikah, maka hadits itu diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan seperti Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Adapun derajatnya, ia dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani, bunyinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah –radliyallahu’anhu-, sesungguhnya Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ

Ada tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh atau bergurau, maka akan (tetap) menjadi sungguh sungguh, yaitu: nikah, talak, dan rujuk“. (HR. Abu Dawud: 2194)

Hadits ini tidak bertentangan dengan pengajaran KUA, karena kedua pihak bukan bermaksud mengakadnikahkan, baik dengan serius atau bergurau, tetapi maksudnya belajar. Kesimpulannya, jawaban pertanyaan, masih belum bisa dikatakan sebagai suami dan istri yang sah. Masih bergantung pada keduanya.

Selanjutnya, jika rencana pernikahannya dibatalkan, apakah wanita boleh langsung dinikahi oleh pria lain?

Jika yang menggagalkan pernikahan itu pihak laki-laki atau calon suami, maka wanita itu boleh dinikahi oleh pria lain, tentu bila dinikahkan oleh walinya. Akan tetapi hendaknya wali perempuan memberitahu kepada pihak KUA, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, dengan pertimbangan karena sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Dan seandainya yang menggagalkan dari pihak calon istri, karena dipinang oleh pria lain, maka pria (terakhir) yang ingin menikahinya hendaknya meminta izin kepada calon suami pertama, jika diizinkan maka boleh menikah dengannya. Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

لَا يَخْطُبْ أَحَدُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى  يَنْكِحَ أَوْ يَتْرُكَ

Janganlah salah seorang dari kalian melamar wanita yang telah dilamar oleh saudaranya, sehingga ia menikahi atau meninggalkannya“. (HR. Bukhari: 5144)

Dan sebaiknya rencana pernikahan tersebut tidak digagalkan, kecuali nyata ada sebab yang mengharuskan perpisahan, semisal adanya hal yang memadharatkan agama atau kehormatan dirinya. Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Disalin dari: Majalah al-Mawaddah Vol 83 – Jumadal Ula 1436 H, hlm. 4-5

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s