Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (6/6): Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini


Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini.

Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa.

Allah ta’ala memerintahkan,

“وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”.

Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal”. QS. Al-Hijr: 99.

Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan,

“إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ”.

“Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya”.

Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjama’ah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca al-Qur’an, doa dan dzikir, rajin menghadiri majlis taklim dan gemar bershadaqah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan.

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ“.

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma.

Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab,

“بِئْسَ الْقَوْم! لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”.

“Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”.

Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan.

Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.

-selesai-

Ditulis oleh Ust. Abdullah Zaen, Lc, M.A

sumber: http://tunasilmu.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s