Pernik-Pernik Ramadhan (10): Berciuman dan Berpelukan Bagi Suami Istri Asalkan Aman dari Keluarnya Mani


Boleh bagi suami istri untuk berpelukan dan berciuman [1] pada siang hari Ramadhan jika dirinya mampu manahan syahwat hingga terjaga dari keluarnya air mani dan tidak terjatuh dalam perbuatan haram berupa jima’. Berdasarkan haditsnya Aisyah radliyallahu’anha, dia berkata:

ْكاَنَ رَسُول اللهِ -صلّى اللهُ عليه و سلّم – يُقَبِّلُ وَ هُوَ صاَئِمٌ وَ يُباَشِرُ وَهُوَ صاَئِمٌ وَ لٰكِنَّه أَمْلَكُكُمْ لإِرْبِهِ

“Dahulu Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu padahal beliau sedang puasa, tetapi beliau adalah seorang di antara kalian yang paling mampu menahan syahwatnya” [2]

Imam Ibnul Arabi -rahimahullah- mengatakan: “Sesungguhnya berciuman dan berpelukan adalah pengecualian dari keharaman al-Qur’an, melakukannya boleh, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam”.[3]

Imam ath-Thahawi rahimahullah mengatakan: “Sungguh atsar-atsar ini telah datang dari jalan yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwasanya beliau berciuman ketika sedang puasa, hal ini menunjukkan bahwa ciuman tidak membatalkan orang yang puasa”. [4]

Jika berciuman dan berpelukan menyebabkan keluarnya air madzi dari suami istri maka puasanya sah tidak batal [5]. Akan tetapi, barangsiapa berciuman dan berpelukan hingga menyebabkan air maninya keluar, maka sungguh puasanya telah batal, dan wajib mengganti puasa yang batal tersebut pada hari yang lain menurut pendapat yang terkuat [6]. Dan wajib pula baginya untuk bertaubat dan menyesali perbuatannya, menjauhi segala perbuatan yang dapat membangkitkan syahwatnya. Karena orang yang puasa dituntut untuk meninggalkan segala kelezatan dan syahwatnya, dan termasuk dalam masalah ini adalah menjaga diri agar tidak keluar air mani-nya. Wallahua’lam [7].

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Ciuman terbagi menjadi tiga macam:

Pertama: Ciuman yang tidak diiringi dengan syahwat. Seperti ciuman seorang bapak kepada anak-anaknya yang masih kecil. Maka hal ini boleh, tidak ada pengaruh dan hukumnya bagi orang yang puasa.

Kedua: Ciuman yang dapat membangkitkan syahwat tetapi dirinya merasa aman dan keluarnya air mani, menurut pendapat mahdzab hanabilah ciuman jenis ini dibenci. Akan tetapi, yang benar adalah boleh, tidak dibenci.

Ketiga: Ciuman yang dikhawatirkan keluarnya air mani, maka jenis ciuman ini tidak boleh, haram dilakukan jika persangkaan kuatnya menyatakan bahwa air maninya akan keluar jika berciuman. Seperti seorang pemuda yang kuat syahwatnya dan sangat cinta kepada istrinya [8]

Endnote:

[1] Lihat atsar-atsar para sahabat dan tabi’in yang membolehkan hal tersebut dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/63, Ma Shahha Min Atsari ash-Shahabah fil Fiqh 2/647-652 Zakarian bin Ghulam Qadir al-Bakistani.

[2] HR. Bukhari No. 1927, Muslim No. 1106

[3] Aridhatul Ahwadzi 3/262 Ibnul Arabi

[4] Syarh Ma’ani Al-Atsar karya ath-Thahawi, Nazhmul Mutanatsir hlm. 131 al-Kattani

[5] Jami’ Ahkam an-Nisa’ 2/361 Mushthafa al-Adawi

[6] Al-Umm 2.86, al-Majmu’ 6/322

[7] At-Tarjih fi Masa’il ash-Shaum wa Zakat hlm. 96 Muhammad Umar Bazimul

[8] Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/427

sumber: Panduan Lengkap Puasa Ramadhan, oleh Ust. Syahrul Fatwa dan Ust Yusuf bin Mukhtar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s