Pernik-Pernik Ramadhan (5): Niat Setiap Hari Atau Saja Sekali Dalam Satu Bulan ?


Niat adalah salah satu rukun puasa, dan tidak sah puasa seseorang kecuali dengan dua perkara ini [1]

Nabi shallallahu’alayhi wa sallam bersabada,

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa (Ramadhan) sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”.[2]

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah niatnya harus setiap hari?

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama menjadi dua pendapat.

Pendapat pertama. Cukup bagi yang berpuasa untuk niat sekali saja pada awal Ramadhan dan niatnya mencukupi selama sebulan penuh, selagi puasanya tidak terputus dengan safar atau sakit. [3] Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Malik, Ishaq bin Rahawih, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad,[4] karena puasa Ramadhan adalah satu kesatuan ibadah yang tidak terpisahkan

Pendapat kedua. Wajib bagi yang berpuasa untuk niat setiap hari. Karena setiap hari adalah ibadah puasa tersendiri yang harus niat. Inilah pendapatnya Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad menurut pendapat yang mahsyur. [5]

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat pertama yaitu cukup bagi orang yang berpuasa untuk niat sekali saja pada awal hari Ramadhan dan niatnya mencukupi selama sebulan penuh. Kecuali, apabila puasanya terputus dengan safar atau sakit maka wajib memperbaharui niatnya lagi. Allahu’alam.[6]

referensi: Panduan Lengkap Puasa Ramadhan, oleh Ust. Syahrul Fatwa dan Ust Yusuf bin Mukhtar.

________________

[1]. Bada’i ash-Shana’i 2/1006 al-Kasani, Bidayatul Mujtahid 2/557, Ibnu Rusyd, Rasudhah ath-Thalibin hlm. 29 an-Nawawi

[2]. HR. Abu Dawud No. 2454, Nasa’i 4/196, Tirmidzi No. 730, Ibnu Majah No. 1700, Ahmad 44/53; Dishahihkan al-Albani dal al-‘Irwa’ No. 914.

[3]. Al-Irsyad ila Sabili ar-Rasyad hlm. 145 Muhammad bin Ahmad al-Hasyimi (Tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)

[4]. Al-Istidzkar 10/35 Ibnu Abdil Barr, al-Mughni 4/337 Ibnu Qudamah

[5]. Al-Mughni 4/337, al-Majmu’ 6/302, Kifayatul Akhyar hlm. 286 Taqiyyuddin Muhammad al-Husaini

[6]. Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/370 Ibnu Utsaimin, Taudhihul Ahkam 3/468 Abdullah al-Bassam, Masa’il Mu’ashirah hlm. 421 Nasyif bin Jam’an.

Iklan

3 thoughts on “Pernik-Pernik Ramadhan (5): Niat Setiap Hari Atau Saja Sekali Dalam Satu Bulan ?”

  1. Inna mal a malu binniyat, sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya.
    Ini berarti, niat itu tetap dilaksanakan selama amalan itu dilaksanakan. Kalau ditengah puasa sudah tak ada niat maka puasanya jelas tak lagi mendapat ridlo Allah.
    Sedangkan hadist yang menyebutkan niat sebelum fajar maka ini maksudnya adalah dimulai niat puasa itu sebelum fajar, tentunya sampai kapan? ya sampai sebelum berbuka. Baru setelah berbuka sudah tak ada niat puasa lagi untuk hari itu. Karena niat itu yang paling utama adalah dalam hati selama amalan dikerjakan.
    Jadi kesimpulannya tidak sekali di awal bulan saja ataupun setiap hari sebelum fajar saja, tetapi selama pelaksanaan amalan puasa dikerjakan kita tetap harus ada niat dalam hati puasa lillahi ta ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s