resign keluar bank

Kisah Nyata: Memilih Keluar dari Bank Syariah (Kisah Karyawan Bank Syariah Resign dari Tempat Kerjanya)


BERIKUT KISAH SEORANG KARYAWAN YANG MEMUTUSKAN KELUAR DARI TEMPAT KERJANYA KARENA TIDAK TAHAN LAGI DENGAN BERBAGAI PENYIMPANGAN SYARIAH YANG DILAKUKAN BANK SYARIAH TEMPAT KERJANYA.

oleh Amir Siahaan

Tekadku sudah bulat: keluar dari bank syariah tempatku bekerja, dan kini aku di ruangan atasanku untuk menyerahkan surat pengunduranku. Aku tidak peduli lagi ketika atasanku mencoba mempengaruhiku agar aku kembali berpikir ulang. Alhamdulillah. Permohonan pengunduranku, yang kuajukan tiga bulan sebelumnya, akhirnya disetujui. Per November 2008 aku secara resmi resign dari tempat kerjaku.

Bekerja di bank merupakan keinginan banyak anak muda. Termasuk aku. Sebut saja Aku Amir. Aku memilih bekerja di bank syariah, antara lain karena berharap mendapatkan harta barokah, halal, dan juga bisa berdakwah, mengedukasi umat mengenai pentingnya mencari harta yang halal dan betapa bahaya dan besarnya dosa riba. Layaknya para pemuda yang mengaku ‘aktivis dakwah’. Tapi aku memilih pindah karena yang kuimpikan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Kamu jangan gegabah, Mir. Kenapa kamu malah resign. Saya nilai, kinerja kamu bagus. Kita di sini kan untuk berdakwah,”(a) kata atasanku ketika aku menghadapnya untuk menyerahkan surat permohonanku.

Berdakwah? Apa yang kualami sungguh berbeda dengan yang dia katakan. Aku mencoba melakukan hal-hal kecil di kantorku yang kuyakini kebenarannya. Meja makan di kantor kupisahkan. Yang untuk pegawai pria sendiri. Terpisah dengan meja makan pegawai perempuan. Tapi meja-meja makan itu dikembalikan ke posisi semula. Di kantorku ada lebih dari satu toilet. Aku mengusulkan agar satu toilet khusus untuk karyawati dan toilet lainnya untuk karyawan. Tapi aku malah dicemooh.(b)

Aku pun mencoba menyampaikan hal-hal yang lebih prinsip. Bukan sekadar hal-hal remeh itu. Misalnya, aku pernah mengingatkan atasanku, dalam sebuah briefing pagi, bahwa hadis yang ia sampaikan itu lemah, sebagaimana pernah kubaca. Namun yang kusampaikan menjadi bahan tertawaan.(c)

Aku pun pernah mengingatkan mengenai perilaku yang menurutku keliruannya sudah keterlaluan. Suatu hari aku mengikuti kegiatan outbond yang diselenggarakan oleh kantor pusat dan diikuti oleh karyawan berbagai kantor cabang. Salah satu kegiatan dalam pelatihan itu, trainer mengharuskan kami bergendongan dan berpelukan. Bukan sejenis, tetapi dengan lawan jenis.(d) Aku menyampaikan protes. Tapi tanggapan yang kuterima membuat hatiku sakit.

“Tadi pagi saya dikritik oleh Amir. Katanya haram bersentuhan laki dan wanita.” (e)

“Walaupun prianya di sebelah tembok dan wanitanya di sisi yang lain, kalau hati kotor, ya tetap aja kotor,” (f) kata Pak direktur sumber daya manusia (SDM) bank tempat kerjaku, sembari tersenyum. Aku merasa senyumnya itu mentertawaiku. Seakan aku anak ingusan yang tidak tahu sedikit pun mengenai agama Islam.(g)

Aku mencoba bersabar. Aku berkata dalam hati, apakah mereka tidak pernah belajar agama Islam? Allahu’alam. Menurutku, itu belum seberapa dibandingkan apa yang kualami kemudian dalam sebuah pelatihan lainnya. Seorang trainer, yang menurutku paham mengenai syariat Islam, dalam sebuah pelatihan yang kuikuti, menyampaikan sebuah permakluman yang menurutku sudah keterlaluan. Ia menerangkan, sesungguhnya kita belum bisa lepas dari sistem riba. Aku heran, mengapa mereka yang di bertugas di kantor pusat bisa berkata seperti itu. Hal serupa terjadi dalam kegiatan pembelajaran mengenai zakat yang kuikuti. Kegiatan ini dinamakan basic training yang harus diikuti oleh setiap karyawan di tempat kerjaku. Kegiatan berlangsung seminggu. Materi disampaikan oleh seorang ustad muda. Di belakang namanya ada “Lc”-nya.

Ia menerangkan mengenai zakat profesi serta berbagai qiyas takaran nishabnya. Ia juga menjelaskan bahwa menurutnya zakat profesi tidak pernah dilakukan di zaman para sahabat. Aku tidak menyia-nyiakan waktu saat ia memberi kesempatan kepada para peserta untuk bertanya. Aku bertanya mengenai dasarnya menentukan nishab zakat profesi. Ia menjelaskan panjang lebar. Dan akhirnya sampai pada pertanyaanku mengenai hukum zakat profesi. Aku tidak terlalu puas dengan jawabannya. Aku kembali bertanya. “Ustad, kalau memang zakat profesi itu perkara baru yang tidak pernah dilakukan para sahabat, lantas kenapa kita harus melakukannya?” Jawaban dia membuatku mengelus dada.
“Inilah dia. Ini adalah ciri-ciri salafi, sedikit-sedikit tanya dalil, sedikit-sedikit bid’ah.” (h)

Aku berkata dalam hati, “Apa salahnya bertanya dalil? Mengapa pula harus dihubung-hubungkan dengan salafi?“ Pengalaman serupa terjadi pada kegiatan pelatihan lainnya. Materi disampaikan seorang ulama aktivis Majelis Ulama Indonesia. Wajahnya sering menghiasi layar kaca. Seorang peserta bertanya kepadanya. “Pak, mengapa di bank syariah lebih banyak karyawan yang tampaknya awam alias hanya sedikit paham agama?” “Ya, ini memang sebuah pe-er (PR) bagi kita. Ketika kita ingin memperkerjakan orang yang paham agama, akan tetapi meraka tidak paham tentang perbankan, ketika kita mempekerjakan orang paham perbankkan untuk menangani urusan oprasional tetapi ia tidak paham syariat. Untuk itu, demi kelancaran, kita memilih yang labih paham masalah perbankkan.” Begitu kira-kira jawaban yang ia sampaikan.

Aku rasa tidak perlu menceritakan secara detil berbagai penyimpangan operasional perbankan syariah, karena perkara ini telah cukup dibongkar habis dan diterangkan para ustad di berbagai kajian mereka. Aku sendiri pun merasa berbagai hal di bank syariah tempatku bekerja tidak lagi sesuai dengan kebenaran yang kuyakini. Bukan saja kegiatannya cenderung meninggalkan syariat. Namun juga tidak islami. Menurutku, yang kulihat dan kualami belum seberapa. Masih banyak lagi penyimpangan yang menurutku sudah jauh dari operasional per-bank-kan syariah yang seharusnya.

Bahkan syirik, khurafat, dan lainya. Yang melakukan memang oknum. Tapi menurutku, oknum-oknum itu justru yang diberi kepercayaan untuk mengemban salah satu amanah syariah agama yang suci. Innalillahi wainnaa ilaihi roji’uun.

Itulah alasan utamaku untuk memutuskan keluar dari tempat kerjaku. Oh, iya. Ada kisah kecil lainnya. Ini mengenai bekas atasanku. Ia, yang dipromosikan menjadi kepala cabang di kota lain, suatu hari berkunjung ke bekas kantornya, ya bekas kantorku juga, ya. Kepada rekanku yang masih bekerja di sana, ia mengorek informasi mengenai alasanku resign. Temanku itu menyampaikan kepadaku soal tanggapannya.
Katanya, “Amir itu pikirannya terlalu picik. Mana bisa zaman sahabat mau dibawa kepada zaman sekarang.” (i)

Keputusanku membuat dunia kecil di sekitarku bergoyang. Orangtuaku tidak setuju. Tapi akhirnya ia dapat memahami keputusanku. Alhamdulillah. Aku juga diberi istri yang qona’ah. Dia bukan hanya dapat menerima keadaanku. Bahkan ia mendukung keputusanku. Kami sama-sama bertekad menjauhi harta riba.

Sementara aku mencari pekerjaan lain, kami mencoba melakukan bisnis kecil-kecilan. Berjualan pisang bakar lalu yang kuantar ke warung-warung. Juga mengumpulkan korankoran bekas untuk dijual. Bahkan aku menjadi tukang ketik, sales handphone sekenan, dan usaha serabutan lain. Aku mencoba mengerjakan apa saja sambil juga melamar kerja.

Tidak mudah. Hari pertama kami berjualan pisang bakar, malamnya aku demam. Warung kami hanya bertahan tiga bulan. Aku tutup karena kehabisan modal. Aku fokus melamar kerja. Tes demi test dan wawancara demi wawacara kulalui. Akhirnya aku diterima bekerja sebagai karyawan tetap perusahaan industri pendukung perusahaan minyak dan gas di luar daerah. Aku meninggalkan istri yang sedang mengandung anak kedua kami selama sebulan untuk mempersiapkan segala keperluan kepindahan kami ke daerah baru. Alhamdulillah, aku masih berkesempatan pulang setiap minggu menemui anak dan istriku.

Sekarang, aku dan istriku yang sedang menunggu kelahiran anak ketiga kami. Orang-orang mengatakan, ini daerah industri. Di tempat baru kami bisa belajar agama lebih baik karena banyak kajian dan para ustad. Istriku pun bekerja menjadi guru di salah satu sekolah Islam. Dia banyak belajar ilmu agama di sana.

Aku ingin mengatakan, tidak semua cerita keluarnya karyawan dari pekerjaan lamanya karena perkara haram lantas mendapatkan pekerjaan baru lebih baik dalam hal penghasilannya. Penghasilanku sekarang tidak seberapa. Jauh lebih kecil ketimbang ketika bekerja di bank syariah.
Andaikan seseorang keluar dari perbankkan syariah lalu menjadi jadi lebih kaya, pastilah akan banyak karyawan yang pindah kerja. (j)

Bagiku, ketenangan dan keberkahan-lah yang utama. Jangan takut miskin. Tetaplah bekerja. Biarlah kami miskin harta, tapi kami percaya Allah Subhana wa ta’ala tidak akan pernah menyalahi janjinya. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan janji Allah bisa saja terjadi di dunia atau di akhirat, kelak. Batam, 1 Februari 2012.

sumber: Majalah Pengusaha Muslim, edisi 25, Maret 2012

Artikel: https://maramissetiawan.wordpress.com

Footnote:

(a) Mirip dengan yang Allah firmankan dalam Al-Quran, yang artinya: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103 – 104)

(b) Mirip seperti yang Allah firmankan, yang artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orangorang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 10 – 11)

(c) Mirip seperti yang Allah firmankan, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 29 – 30)

(d) Barangkali mereka perlu membaca hadis ini: “Berhati-hatilah kalian terhadap wanita, karena awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya.” (HR. Muslim no. 2742)

(e) Sahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, mengatakan: “Kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada dia menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Tabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 20/212/487)

(f) Mungkin pak direktur sudah merasa sangat bertaqwa. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sepeninggalku, belum pernah ada fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki, melebihi fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096)

(g) Allah menceritakan, bahwa Fir’aun pernah berkata kepada Musa, yang artinya: “Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini (Musa) dan yang hampir tidak jelas cara berbicaranya (karena Musa celat).” (QS. Az-Zukhruf: 52)

(h) Mungkin Pak Ustad lupa dengan firman Allah, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)

(j) Yakinlah, bahwa rezeki Anda telah ditetapkan dalam takdir, dan tidak akan berubah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: “Tidaklah seorang hamba mati, hingga ia benar-benar telah menghabiskan seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan
yang baik dalam mencari rezeki. Ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, derajatnya shahih)

91 thoughts on “Kisah Nyata: Memilih Keluar dari Bank Syariah (Kisah Karyawan Bank Syariah Resign dari Tempat Kerjanya)”

  1. Bro masih mending di BCA,Merreka lebih ngaku bahwa mereka tuh emang pake riba,dr pada pake embel2 atas nama dakwah islam,tapi suasana kerja ga jauh beda ma BCA,muna aan mana tuh ama gue,syariah ga syariah sama ajah,namanya juga duit,sudah bisa berbicara lain,masih mending koperasi wiraatmaja jaman dulu tuh,tapi penerusnya sekarang GA TW DAH SYA GA MW N GA BISA COMMENT ,dah 101 tahun tuh,

  2. Assalamualaikum
    Ad sdkt pertanyaan dalam benak saya ketika mmbca cerita anda…
    1.saya salut dgn keteguhan anda tetapi,apkh pernah trfkrkan,ap d tmpt br anda lingkunganny lbh islami?padahal menurut cerita anda saja yg ktny bank syariah sj sprt it palg yg lgkgn biasa2 saja
    2.tahukah anda bhwa gaji yg anda terima dr gaji perusahaan tmpt anda bkrja dsimpn d bank ap?jk it bank konvensional maka sama saja anda memberi makan kpd anak dan istri anda uang riba hsil dr penyimpanan gaji d bank konvensional
    3.kendala dakwah it bnyk pak,jk dgn sprt it sj menyerah sy sngt menyayangkan.kenapa tdk dgunakan metode yg lbh baik,misal diskusi atw adakan kajian..kan hny dr segi lgkgan sj yg parah org2ny bknkah msh bs didakwahi?dgn kata lain kl memang mw agar dr awal ingny dterapkan syariah seutuhny maka berdaganglah!
    Punten,mav sblmny hny menyampaikan sesuatu yg ad dlm benak saya
    Terima kasih wass5am

    1. saya setuju dengan bapak ini.
      ketika saya membaca ceritanya, terlihat jelas bahwa alasan utama (hampir 80%) penulis keluar dari bank syariah bukanlah karena ragu” mengenai hukum bank syariah melainkan dia merasa dilecehkan oleh orang-orang yang dia temui selama bekerja di bank tersebut. Perkataan ulama dari MUI itu seharusnya dihiraukan saja, alasan dia berkata seperti itu adalah dikarenakan dominasi oknum-oknum dalam bank tersebut yang lebih memilih menggunakan pekerja yang mengetahui perbankan saja. Padahal dalam kenyataannya, setiap karyawan yang masuk pasti melakukan training terlebih dahulu untuk mempelajari perbankan syariah jadi tidak ada salahnya menggunakan pekerja yang islami.
      Tetapi pemikiran penulis terlalu sederhana dan picik, jika dari awal dia berniat untuk berdakwah seharusnya dia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena dilecehkan oleh orang disekitarnya. Buktikanlah bahwa yang anda yakini itu benar, berdakwahlah mulai dari hal terkecil dan biarkan mereka merasakan manfaat dari perbuatan anda. Ketika anda berhasil memperoleh kepercayaan dari mereka semua, insyaallah dakwah anda akan sukses dan bahkan anda bisa mengubah sistem perbankan syariah indonesia.
      untuk dalil-dalil, saya rasa anda lebih tahu dibandingkan saya. Tetapi yang jelas, jika saya dibekali ilmu seperti anda dan memperoleh kesempatan sebaik itu, saya tidak akan menyia-nyiakannya karena menurut saya, hal seperti itu adalah tantangan yang masih bisa saya lewati.
      Saya hanya berpesan, janganlah menyerah hanya dikarenakan batu kerikil tidak penting seperti itu. Jika anda bertekad maka batu tersebut bisa menjadi pasir yang tidak terasa sakit jika diinjak.

      1. dakwah ya dakwah, riba ya riba….jd kalo mau dakwah boleh, tapi harus keluar dulu/ g makan harta riba.. semangat mas penulis.. point riba diatasi dulu, kalo memang sudah yakin tidak ada riba lg, teruskanlah pekerjaanmu. sekalian diiringi dakwah….

        saya rasa keputusan mas penulis benar, karna kalau qt masih tetap menentang seperti itu di tempat kerja kita bisa jadi bisa mengganggu hubungan / ukhuwah sesama Muslim..So, tetaplah berhubungan baik dengan mereka yang di bank, memeberi arahan dari jauh, dan mendoakan supaya bank syariah qt benar-benar sesuai syariah. Amin..

    1. terkesan aneh…comment saya pun dihapus…….ada2 saja al akh yang satu ini….dia menghindari lubang buaya tapi masuk ke lubang yang di dalamnya ada macan…..aneh…menghindari riba katanya…apakah anda sadar perusahaan sekarang anda bekerja justru memberikan gaji dari bank konvensional…..malah riba didalamnya lebih banyak…toh walaupun pada akhirnya di pindah tapi tetap saja awalnya gaji dikirimkan melalui bank riba…..anda seperti menyerah sebelum berperang,,,,dan terkesan kurang cerdas…..logikanya adalah anda sebenarnya tidak nyaman dengan pekerjaan bukan hal2 asasi yang anda komplain….yah kalau memang inginn bebas dari masalah riba dagang……………..

      1. tidak ada yang menghapus komen Anda, hanya moderasi terlebih dahulu….
        akhiy…..harus dibedakan antara pekerjaan yang merupakan inti pekerjaan atau bukan. Adapun bekerja di bank tentu pegawai didalamnya ikut andil dalam proses bisnis intinya. Bank konvensional sudah jelas tentang ribanya, adapun bank syariah yang diceritakan oleh pencerita di atas lebih tertupi dengan syubhat.
        tentang bank syariah bisa disimak syubhat tentang produknya di url kami berikut.

        https://maramissetiawan.wordpress.com/2012/02/28/wadiah-bank-syariah-sudah-sesuaikah-dengan-syariah/
        https://maramissetiawan.wordpress.com/2012/02/13/kpr-syariah-pun-bisa-menjadi-bermasalah-secara-syariah/

        Oleh karena itulah, selama menjadi pegawai disana tentu kita bisa dikategorikan ta’awun ‘alal itsmi wal ‘udwaan
        Allah berfirman,

        وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
        “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya.” (Al-Maa`idah:2)

        Nabi bersabda,

        Dari Jabir berkata: Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya. (HR. Muslim 4177)

        Sadar atau tidak bahwa perusahaan kita justru memberikan gaji dari bank konvensional? malah riba didalamnya banyak?

        jawabnya…oleh karena itu bertaqwalah kita kepada Allah untuk semaksimal mungkin menghindari uang riba yang diberikan bank, para Ulama telah membahas bangaimana solusi menyalurkan uang riba dan memang jangan sampai kita gunakan uang riba tersebut untuk dimakan keluarga kita. Dan menggunakan jasa bank selama benar-benar kita perhatikan mana uang riba dan bukan dan mana produk yang mengandung riba atau bukan, insyaAllah tidaklah mengapa. Oleh karena itu para Ulama banyak menuliskan tentang bank syariah yang sesungguhnya dan bagaimana kriteria-kriterianya, dan ini memang masih menjadi tantangan orang-orang yang ahli di dalamnya agar di Indonesia ini bisa terwujud keidealan bank syariah yang sesungguhnya.

        …..anda seperti menyerah sebelum berperang,,,,dan terkesan kurang cerdas…..logikanya adalah anda sebenarnya tidak nyaman dengan pekerjaan bukan hal2 asasi yang anda komplain….yah kalau memang inginn bebas dari masalah riba dagang……………..

        Kalo ini seharusnya yang menjawab harus penulis cerita, karena sepertinya memang Anda menujukan komen ini kepadanya….
        saya cuma mau mengomentari aja….bahwa justru pencerita terkesan waro’ (berhati-hati) terhadap hal-hal yang bisa menjerumuskan dirinya kepada dosa,
        Nabi bersabda,
        إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
        “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan” (HR. Bukhori dan Muslim)

      2. tapi rezeki dari akhi bukan dari zat yang tidak benar… hanya numpang lewat dr bank konvensional, berbeda dengan bkerja di bank, yang jelas2 zat nya tidak jelas,
        kalau mau syariah, anda simpan uang, dan pengelolaan uang tersebut oleh bank rugi, anda juga rugi seharusnya, tp sekarang kan tidak… syariah jadi-jadian… hehehe.. hukum islam tidak bisa memakai logika, ada Al-Qur’an, hadist, kitab-kitab dari ulama terdahulu…

        Riba itu dosa paling kecil saja sama dengan berzina dengan ibumu… semoga kita selamat di dunia ini yaaa brooo

      3. Afwan, sebaiknya dipelajari lagi, antara yang berhudungan langsung dengan bank, dan yang memanfaatkan jasa bank. Kejadian diatas adalah sangat fatal 1) Menggunakana label syariah padahal masih kental dengan riba yang artinya melakukan penipuan,. 2) Masih menggunakan riba. Maka orang yang berhubungan dengannya seperti saksi, pencatat, dsb akan mendapatkan akibatnya krena inti utama usahanya adalah riba. sedangkan jika resign dan bekerja di perusahaan yang inti usahanya bukan riba, misal tambang, dsb,. maka Insya Allah tidak mengapa meskipun gajinya via bank konvensional, karena ini darurat. Hali ini pernah dibahas oleh ulama yang kompeten dibidangnya, sperti Ustdz Erwandi.

  3. subhanallah ceritanya, saya seorang istri dan baru 4 bulan bekerja di bank syariah.., namun saya ingin berhenti karna waktu saya di kantor lebih banyak dibanding mengurus rumah dan saya ingin sekali lebih konsentrasi ibadah karena pekerjaan ini membuat ibadah saya tidak konse.., namun terkendala surat kontrak mengenai denda jika saya behenti, apakah ada saran buat saya?

    1. lebih cepat lebih baik ukh…. karena ini masalah bertaawun dalam pelanggaran syariat, dan pula umur kita tidak ada yg tahu dalam kondisi beriman ataukah sedang berbuat maksiat saat maut menjemput. mungkun bisa ditempuh jalan lobi srbagai pendekatan awal untuk resign, jika sudah buntu ahsannya bayar denda mungkin lebih baik…wallohua’lam…

  4. “Aku rasa tidak perlu menceritakan secara detil berbagai penyimpangan operasional perbankan syariah, karena perkara ini telah cukup dibongkar habis dan diterangkan para ustad di berbagai kajian mereka. Aku sendiri pun merasa berbagai hal di bank syariah tempatku bekerja tidak lagi sesuai dengan kebenaran yang kuyakini. Bukan saja kegiatannya cenderung meninggalkan syariat. Namun juga tidak islami. Menurutku, yang kulihat dan kualami belum seberapa. Masih banyak lagi penyimpangan yang menurutku sudah jauh dari operasional per-bank-kan syariah yang seharusnya”

    sebenarnya dari kutipan ini sudah diterangkan tentang adanya penyimpangan operasional perbankkan syariah, namun sepertinya penulis juga ingin bercerita sisi lain dari klaim “syariah” yang ada di bank syariah. Bukankah lembaga dengan menggunakan atribut “syariah” memberikan persepsi ke masyarakat akan ke”islami”an suatu lembaga, instasi atau yang semisalnya.
    Mengenai penyimpangan operasional perbankkan syariah bisa disimak pada uraian kajian para ustadz yang bisa diakses dengan mudah di internet atau bisa langsung menghadiri majelisnya.
    Barangkali kita bisa cukup arif dalam memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis. Ia sendiripun menerangkan kalau sebagian penyimpangan juga dilakukan oleh “oknum”, so no problem kan.
    Mengenai gaji yang ditransfer dari bank konvensional, sebaiknya saudara bisa lebih membedakan antara hukum menyimpan uang di bank dengan hukum bekerja di bank. Dua permasalahan yang berbeda yang sebagian orang suka menyama-nyamakannya. Silahkan di simak lagi kajian mengenai hukum-hukum tersebut.
    Semoga bisa dipahami positif. kalau tak ingin terjerumus Riba,ya tinggalkanlah Riba dengan sekuat tenaga.

  5. Barakallahu fiikum. Spt Ana alami,selama 11 thn bekerja di kembaga keuangan syariah dan sekarang resign, pulang kampung, disambut kekecewaan orang2 terdekat. Saat ini usaha apa aja di rumah asalkan halal, kadang ada dana kdg tidak, …ana tak pernah menyesali keputusan tsb karena ana yakin Alloh ta’ala menetapkan rejeki lain yang tak kita sangka2.,,masih banyak nikmat lain di sekitar kita yang kadang tidak terpikirkan oleh kita.
    i

  6. membangun ekonomi islam bukan dengan saling menjatuhkan,,, anda ini orang yang payah,, tak mampu bergerak, tak mampu medobrak, kebiasaan yg tak sesuai tuntunan Islam,, sayang sekali saya membaca tulisan ini ada seorang pengecut, saya saat ini msi bekerja di bank syariah dan mencoba membenarkan apa yg tidak seharusnya atau sepantasnya

  7. Ping-balik: Inspiring Story « LV
  8. Betul itu bos,harta harom memang menimbulkan masalah,tidak ada berkah,masih mending bila cuma sekedar habis,kalau malah jadi penyakit,akan lebih repot itu,mereka yang doyan harta harom tidak tahu dan cuek atas resiko,naudzubillah…..

  9. Sama dg sy Mas, sy resign akhr tahun 2009, padahal sudah mau teken kontrak, kelihatannya kt pada institusi yg sama. Bnyak hal yg diperlihatkan scr gamblang ketika sy mulai training,hingga memutskan untuk sign out. Trakhr sy downgrade melamar cpns kemenkumhan sipir dg ijazah Sma hingga tes akhr tp belum rezeki sy. Mohon doa’nya bagi siapapun yg membaca posting ini..Krn berat rasanya hidup tanpa penghasilan

      1. Amin2, trmksh..,smg ada rizki lain yg lbh baik & bisa membuka matahati orang2 terdekat pastinya..Kejadian ini mengingatkan pd kisah awal mula nabi Ibrahim yg menemukan tuhan tetapi dimusuh oleh orang2 sekalilingnya.,,smg sm2 lolos aparatur negara..

  10. asalamualaikum….
    sy pnya prtanyaan ni…bgni crt nya 1 thn yg lalu ada seorang krbat sy mlamar krj dgn mnggunakn ijazah palsu dan diterima dsbuah prusahaan industri otomotif besar sbut sja pt.atra sudh stahun ini brjalan &ia pun rajin solat sedekah,usut punya usut dy melakukan itu krn dy cma lulusan smp tpi memang krn dy pintar&rajin brdoa dy dterima bgaimana pandangan nya menurut islam??

    1. wa’alaykumussalam….
      Nabi pernah bersabda
      مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا
      “Barangsiapa menipu maka dia tidak termasuk golongan kami.” (HR. at-Tirmidzi)
      Maka, hendaknya di bertaubat dengan taubat sebenar2nya.
      Adapun apakah hendaknya di resign dari pekerjaannya atau tidak?

      Ada pertanyaan yang serupa pernah diajukan kepada syaikh bin Baaz::

      Seorang laki-laki bekerja dengan menggunakan ijasah ilmiah (Memasuki lowongan pekerjaan itu dengan ijasah.pent), ia telah melakukan kecurangan di ujian-ujian untuk memperoleh ijasah itu. Dia sekarang bekerja dengan baik dengan pengakuan para bawahannya maka apa hukum gajinya apakah itu halal atau haram?

      Beliau menjawab:
      Tidak apa-apa insya Allah, akan tetapi ia wajib bertaubat kepada Allah ta’ala dari kecurangan yang terjadi. Apabila ia melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya maka apa yang peroleh tidak bermasalah, akan tetapi ia telah melakukan kesalahan pada kecurangannya yang telah lalu, dan ia wajib untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dari hal itu. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 19/31-32

      -Semoga bisa menjawab, wallahua’lam-
      baarokallahufiykum

  11. Sdr amir,kalo menurut kamu itu yg terbaik ya jalani aja,tapi saran saya kalo kita udah mengambil keputusan menjauhi riba janganlah kamu kerja lagi diperusahaan karna mereka juga melakukan subhat,dan ingat gaji yg kamu terima belum tentu lepas dari riba.uang gaji kamu mereka simpan dibank juga dan termasuk subhat juga.sdr amir,kita harus tetap konsisten dgn keputusan kita jgn sebagian sebagian.

    1. Hukum ditarik dari jenis usaha yang kita lakukan, bukan zat uangnya sendiri. Misalnya kita bekerja di pabrik roti,…ketika gajian kita terima gaji baik tunai maupun transfer rekening. Itu hak kita dan jerih payah kita (bi idznillah), dan sumber gaji kita juga berasal dari hasil bisnis perusahaan yang berupa jual-beli yang hukumnya halal. baarokallahufiykum

  12. 15 Mei nanti saya dipanggil untuk mengikuti wawancara di salah satu Bank BUMN di tanah air untuk posisi staff IT. Pada saat ini berada dalam tahap galau apa mau mengikuti wawancara tersebut apa tidak. Saya tidak tahu pasti apa hukumnya untuk posisi yang tidak ada kaitannya dengan transaksi riba tapi bekerja di instansi yang berkutat dengan riba. Mohon pencerahannya bro..🙂

  13. Kita hidup bukan pd negara islam, krn itu pd pondasi ekonomi kita ada perbankan yg tujuan utamanya menghimpun dana dr masyrakat dlm bentuk tabungan & menyalurkannya dlm bentuk pinjaman (kredit), kemudian dari prosentase tertentu kredit itulah yg menjadi penghasilan/keuntungan yg diberi vonis riba. Saya berusaha berpikir bijak, mgkin saja ada para kaum sufi yg tetap berada pada lembaga perbankan dg tujuan pembaharuan sedikit demi sedikit untuk membawanya pada syariat yg benar meski kemungkinannya kecil, dg tidak memakan gaji, ataupun bonus2 perbankan yg menggiurkan, tetap hidup sederhana tp menutupy dg sedikit kemewahan yg diperoleh dr usaha lain yg halal, dg tujuan agar orang lain tidak berada pd perangkap untuk menghina ataupun memenggal kepala saudara sendiri dg memuji2. Dg uang haram perut kt tidak akan meledak, rumah&mobil jg tidak akan terbakar, tp pola pikir kt yg akan berubah menjadi lebih tega bahkan kejam, menjadi tidak peka thd penderitaan orang, barang2 yg dibeli menjadi berumur pendek krn hilang berkahnya, lebih boros, merusak silaturahmi krn cara fikir yg cenderung negatif, keturunan nantinya boleh jd pintar tp buruk hatinya shg kepintarannya menjerumuskan, ada penyakit2 yg menghanguskan harta sedikit demi sedikit, ini yg terjadi & berusaha sy ambil hikmahy… Emosi yg cenderung mudah memuncak sehabis mengkonsumsi makanan yg dirasa haram. Agak melebar : sy pernah membuat surat penting dg windows bajakan, pdhal sy baru sj menguasai linux, shrusy sy menggunakan linux,.Yg terjadi surat ini gagal Acc & membawa efek buruk untuk sy.,., ada kejadian lain seorang teman yg tidak mau berzakat fitrah hy dg 20rb pdhal pngeluaran/bulan sj ratusan ribu dg alasan belum bekerja pdhal ada rizki yg cukup, beberapa minggu kemudian dia membeli dvdrom,ram,vga,hardisk, dan kesemuanya erorr…Peka thd kejadian2 musibah kecil hingga besar yg dibwa melalui perenungan akan membawa kita pada kesalahan2 masa silam.,percayalah..

  14. Kenyataannya Bank syariah terlibat dlm penanaman saham, yg dalam islam dilarang. Rekayasa fikih dg keilmuan ekonomi syariah yg mumpuni tanpa adanya penyeimbang tasawuf menjadikan seseorang/kelompok orang terjerumus dlm fasik, & sebaliknya tasawuf yg tidak disertai fikih akan terjrumus menjadi kafir zindiq. Saya telah keluar dari customer service lembaga syariah, tp sy stuju fungsi lain dr bank yg tidak ada sangkut pautnya dg perdagangan uang semisal : menabung untk keamanan tanpa diambil bunganya, transver yg lbh aman drpd mengundang kekhilafan jika kt membwa uang berjumlah besar kemanapun, jngan meminjam jk tidak benar2 terjepit krn ini ihtiyarnya menghindari riba..Bank ada maslahat disisi lain ada mudaratnya,..

  15. Bank Syariah itu sistemnya bagus, namun people nya yang tidak mengerti aturan main dalam me manajemen bank syariah. soo back to quran & hadits

  16. Semoga kisah ini hanya kasuistis saja .. artinya mungkin di Bank syariah lain gak seperti itu, bahkan mungkin hanya di cabang itu saja..tidak di cabang lain. Pada masa itu saja, dan semoga sekarang sudah berubah.. Karena begitulah beratnya sebuah lembaga yang berlabel “syariah”. Semua harus sempurna.. dan begitu mudahnya orang mencemooh institusi berlabel “syariah” hanya gara2 ada kekhilafan yang gak mesti tidak bisa diperbaiki. Sementara memaklumi institusi konvensional lain non syariah lain yang lebih parah kelakuannya. Artinya kalo institusi syariah baru bisa 80% halal (belum sempurna) maka akan datang cibiran bertubi2, sebaliknya institusi konvensional yang dasarnya saja sudah jelas haram (80% haram) masih dimaklumi.

    Semoga bank syariah lebih baik lagi menuju kesempurnaan akad2, operasional dan perilaku sesuai tuntunan Allah dan Rasulnya. Aamiin..

  17. Bekerja di bank adalah salah satu pilihan diantara puluhan ribu lapangan pekerjaan…
    Emangnya hidup akan sengsara kalo tidak bekerja di bank..???
    Pilihlah pekerjaan yg bener2 baik, sehingga akan diperoleh rezeki yg baik pula…
    Janganlah mencari2 alasan pembenaran thd suatu pekerjaan yg sudah jelas halal haramnya….

  18. Wah saya baru baca nee… kisahnya menarik dan ybs punya sikap tegas dalam memilih (namun tdk nampak upaya optimal dalam berdakwah) mau melangkah kemana. Sangat inspiratif.
    Ada pertanyaan besar menggelayut di benak saya; Apabila SEMUA Karyawan Bank Syariah resign spt ybs (tentu dgn alasan yg beda2) lalu TUTUPlah Bank Syariah dr muka bumi Indonesia ini (ybs kerja di Indonesia kan?) maka bertepuk tanganlah Karyawan Bank Konvensional sembari mengembangkan tangannya menyambut mantan2 nasabah Bank Syariah utk bertransaksi di Bank mereka sambil bisik2: Udah gua bilang ntu Bank Syariah gak bakal tahan lama, skrng terbukti kan? elo pada balik lagi pake Bang Konvensional kan?
    Mudah2an ada Solusi.

  19. assalamualaikum…… saya seorang pencari kerja. saya cukup memahami bagai mana konsep riba dalam perbankan dan kredit. Namun orang tua saya tetap ngotot untuk kerja di Perbankan. setelah saya jelaskan tentang keharaman riba pada perbankan, orang tua saya tidak setuju pada penjelasan saya. alasannya karna bekerja di Bank itu tujuannya dapat membantu orang dalam mendapatkan dana dan gajinya besar . seolah – olah kesannya positif dan baik.. mungkin orang tua saya seorang PNS yang notaben selalu bergantung pada Bank… mulai dari kebutuhan RT, bangun rumah, beli motor dsb, semuanya panjang tangan dari Bank. Jadi tertanam lah dalam otak mereka bahwa bekerja di bank itu baik . ( Bagaimana saya harus menanggapi dan meluruskan pendapat orang tua saya ini ? )
    Dampak tidak langsung kalau saya mengamati bahwa banyak para nasabah (termasuk keluarga saya) kehidupannya tidak tentram dan nyaman.. ntah tidak tau mengapa rumah saya seperti neraka, selalu ribut banyak cek cok baik saya dengan orang tua, adik saya maupun bapak sama ibu saya ( padahal orang tua kami sudah menunaikan ibadah2 wajib). Tidak hanya keluarga saya tetapi lingkungan sekitar saya yang notaben adalah PNS juga mengalami masalah2 yang tak kalah pelik dari keluarga saya ada yang bercerai karna utang. Oh ya perlu di ketahui Masjid kami tidak pernah penuh saat sholat berjamaah, satu saaf kotor..kecuali sholat jumat dan hari raya.
    satu hal yang tdk saya mengerti barang yang dibeli secara kredit dari Leasing lebih cepat habisnya( rusaknya ) dari barang yang di beli dari barang kontan ( bukan masalah kualitas ) tetapi ada2 saya musibah yang menimpa barang pembelian tersebut. “Suatu barokah bagi kita jika menghindari Perbankan dan leasing”

  20. sedikit saran, jika mas amir meyakini Nabi Muhammad SAW, maka sebaiknya ikutilah warisannya, yaitu berdagang, entrepreneurship, dan jika meyakini Allah SWT maka yakinlah bahwa Allah SWT tidak mnciptakan makhluknya dan membiarkan sendiri dan miskin, jika mngikuti Al Quran dan sunnah, PAsti, usaha mas akan berhasil……ini hanya sekedar saran mas, tp saya yakin jika kita mencari ridho Allah SWT maka kita PAsti aakan mendapatkannya….jangn pernah menyerah, tirulah Nabi, untuk menjadi pengusaha yg berhasil beliau mngandalkan kemampuannya, alih2 meminta mukjizat dan keajaiban beliau bekerja keras dan mejaga mutu dan kualitas dagangannya, utuk menjadi panglima perang yg dashyat ,alih2 meminta tongkat ajaib atau mukjizat tahan api dri Allah SWT, beliau mengasah kemampuan berpedang,berkuda dan mnyusun strategi…..

  21. ngomong ngomong inisial bank syariahnya apa…pertama murni syariah apa bank syariah terbesa…dan mungkin itu cabang bapak aja kali…ke cabang saya aja pak…dijamin syariah…ngaji kitab al bidayah wan nihayah…kalo yang aneh aneh tentang udah saya minta KP untuk pindah cabang atau resign :-)…dakwah emang susah pak…kalo enak mah tidur aja di rumah…

  22. sip betul, lebih baik kita berhati-hati dalam masalah riba, karena dosa riba itu lebih besar dari ZINA.

    yang penting kita udah berusaha menjauhi riba, menghindari kerja di bank, karena tanpa sadar kita udah ikut andil tolong menolong dalam maksiat (RIBA)

    adapun jika kita menabung di bank, itu udah dibahas oleh para ulama. dan memang idealnya kita sebagai umat islam haruslah menggunakan dinar (emas) dan ini butuh orang2 ahli gimana teknis dan sistemnya agar mudah dan praktis dgiunakan untuk transaksi.

  23. Membaca postingan ini sy mrasa sangat miris. Sy jg kluar dari lembaga keuangan syariah karna 2 hal, sistem keuangannya yg tdk syariah (saat itu masih masa percobaan, jadi belum ada tim syariah yg periksa laporan keuangan,utk pinjaman LKS (Lembaga Keuangan Syariah) mengambil 0,3 % per bulan dari peminjam, ditambah uang administrasi 20ribu, padahal warga meminjam kisaran 200 hingga 1 jt rupiah) yg kedua adalah karena iklim kerja (sy malu mengkisahkannya) tp intinya bukan hanya makruh tp sudah haram. Sy berfikir, kenapa begitu mudahnya keluar izin utk mendirikan LKS? Apakah ada tindak tegas utk LKS yg menyimpang?
    Sy keluar, alhamdulillah rezeki sy berkalilipat lebih baik dari sebelumnya.

    Oya, sy jg pernah melihat langsung oknum karyawan di perbankan syariah nasional yg mencolek pinggul karyawatinya (kebetulan sy mengenal keduanya) Sy hanya bisa beristigfar… Miris melihatnya.

  24. Yang komen diatas,juara, dakwah emang susah kalo enak mah tidur aja di rumah, sepertimya kita juga di institusi yang sama…satu hal yang saya pegang sampai sekarang…perputaran dana yang jadi gaji sya sekarang bebas dari apapun bentuk riba nya, dakwah memag sulit mas bro…ga ada yang gampang dengan itu, sekarang gimana kitanya istikomah buat dakwah,bukan lari dari tempat yang gak support buat kita dakwah..🙂

  25. Namanya sistem perbankan, meskipun pake embel2 syariah, barokah, jaminan akhirat, berdakwah, atau kata2 religi lainya yg diselewengkan demi tujuan komersil, itu pasti riba, jangan terlalu naif.

  26. Kenyataannya memang semua bank syariah di Indonesia tidak 100% syariah. Di samping itu, bank syariah merupakan bank yang menawarkan produk2 syariah – tidak riba, akan tetapi belum tentu manajemen perusahaannya menggunakan prinsip syariah. Harap dicermati hal ini karena ini hal yang sangat berbeda. Perbankan syariah di Indonesia baru saja mulai berkembang, jadi memang masih butuh banyak perbaikan. Kebanyakan adalah bank konvensional yang membuka cabang syariah. Selain itu, memang ahli dalam perbankan syariah masih sangat jarang, sehingga bumbu2 sistem konvensional masih sangat terasa.
    Sy menghargai anda yg bercita2 mulia untuk berdakwah. Saya juga setuju dengan beberapa komentar di atas yg menyebutkan bahwa dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Maaf kalau mungkin anda tidak setuju dengan komentar saya. Tapi, Indonesia itu beragam, dilihat dari sisi agama dan budaya. Walaupun sama2 muslim, sudut pandangnya pun bisa berbeda-beda. Di era seperti sekarang yg serba free dan global, Anda tidak bisa memaksakan kehendak Anda supaya orang2 sefaham dengan Anda. Perlu pendekatan2 khusus. Wali songo, misalnya, melalui gending jawa. Apakah Nabi Muhammad SAW mencontohkan demikian? Tidak, tetapi, kita juga harus lebih fleksibel, kita timbang dengan baik sikap kita lebih banyak mana manfaat dan mudharat-nya. Maaf kalau kurang berkenan, tapi menurut saya Anda sebaiknya lebih fleksibel dan memperluas sudut pandang anda dalam melihat situasi. Bukan Islamnya yang fleksibel, tapi bagaimana anda menyikapi situasinya. Saya masalah toilet sangat setuju, tapi kalau meja makan mungkin tidak. Ketika Anda menyampaikan kepada atasan juga sebaiknya jangan langsung dikritik, kecuali lingkungan kerja anda mendukung anda untuk berpikir kritis dan menyampaikan ide dengan bebas. Mungkin lebih baik bila mengatakan bahwa ada hadist yang lebih sahih lagi seperti yg anda baca. Untuk outbound, memang itu sudah jadi hal yang umum, sejak di bangku sd-perkuliahan, hal seperti itu pasti ada. Jika Anda tidak setuju, Anda sebaiknya bicara pelan2 dengan trainer dan tidak mengikuti kegiatan tersebut. Mungkin saja trainer akan memahami Anda.
    Indonesia juga bukan negara Islam, dan banyak juga nasabah bank syariah yang tidak Islam. Sy tidak tahu tapi mungkin juga ada beberapa karyawan bank syariah yang bukan islam. Konsepnya perbankan syariah itu tidak hanya untuk umat Islam, karena itu berbasis pada etik dan moral. Itulah sebabnya bank syariah banyak didirikan di negara2 barat, seperti inggris, yang bahkan umat muslimnya sedikit. Mengenai bank syariah ini, menurut saya, daripada kita ke bank konvensional yang sama sekali tidak ada syariah2 nya, bukankah lebih baik kita ke bank syariah, yang walaupun tidak benar2 syariah tapi sudah lebih condong ke hal yang benar?  Kita survive selama puluhan tahun ini menggunakan bank konvensional dan tidak banyak orang yang komplain mengenai itu walaupun tahu hartanya riba. Jadi, kita tidak harus menjadi totally anti konvensional juga karena secara keseluran sistem kita masih konvensional. Allah Maha Tahu. Bismillahirrahmanirrahim. Jika kita bekerja atau menggunakan uang, berdoa saja supaya rezeki kita semua halal. Sekian. Mohon maaf apabila beberapa hal kurang berkenan bagi Anda. Wassalamualaikum wr.wb.

  27. Ceritanya ga masuk akal, bahkan untk ukuran sebuah perusahaan asing yg tdk berurusan dgn urusan agama pun, kl outbond training selalu “menjaga” hal2 yg terkait interaksi antar gender. Mudah aja, secara ga cuma abege yg baru lulus yg bs kerja d bank, yg ud merit jg byk, so g mngkin kl seolah2 cuma dia yg protes, pasti cewe2 terutama yg ud merit, plus ibu2, udh bakal protes duluan. Apalagi secara norma ketimuran hal ini jg g sesuai. Dgn banyaknya peserta yg diklaim cerita tsb (traning ini diikuti beberapa kantor cabang) membuat cerita jd semakin ga masuk akal krn seolah2 dr seluruh peserta karyawan/ti bank syariah, cuma dia yg ceritanya keberatan. Kesimpulan so far : 100% hoax

  28. subhanallah.. membaca posting’an ini saya teringat beberapa kali saya keluar masuk perusahaan karena masalah halal & haram. sebelum saya menikah kurang lebih 10x saya keluar masuk perusahaan. Akhirnya sekarang saya bekerja di perusahaan BUMN dan masih aktif sampai sekarang.
    sepengetahuan saya selama bekerja di beberapa bidang perusahaan, DEMI ALLAH kalau anda tahu proses dari atas sampai bawah, dari 0-100%, dari mentah sampai jadi, tidak akan ada perusahaan yang benar2 lurus dan benar 100% secara syariat islam. Karena ada banyak orang didalam proses tersebut. setiap departement / setiap bagian, ada karyawan yang baik dan jujur, tetapi ada juga yang curang, baik individu maupun kelompok.
    jadi kita harus bagaimana?? sedangkan kita merasa mengerti dalam hal agama..
    apakah harus berdagang dan menyimpan uang dirumah sendiri?? ga mungkin juga kan??
    cobalah berfikir..
    dari hal yang sederhana saja..Saya tidak akan membahas hadist dan ayat suci alQuran. mari kita berfikir secara manusiawi.
    -Allah itu maha bijaksana & islam itu adalah agama yang logis( sesuai dengan logika manusia)
    bila kamu bekerja di sebuah perusahaan, niat kan dalam hati saya bekerja untuk beribadah.(untuk memberi nafkah keluarga, untuk keperluan sehari-hari), karena kalau tidak bekerja, anak istri mo makan apa? untuk keperluan sehari2 dari mana?
    sedangkan beribadah perlu pakaian, perlu makan, DLL. Apakah harus meminta2 sama saudara / Ortu, sampai kita dapat pekerjaan yang sesuai dengan sudut pandang kita (hina sekali kalau jadi benalu dalam keluarga).
    -setiap karyawan punya tugas & tanggung jawab masing2, maka jalankanlah tugas tersbut secara benar ,jujur, ikhlas & amanah. bila ada hal yang menurut kita tidak sesuai dengan sudut pandang kita. cobalah pelan2 untuk mengubah nya.
    sekedar mengeluarkan pendapat ada yang PRO & Kontra. kadang ada juga yang mengejek. seandainya tidak bisa mengubah keadaan, berdoalah kepada ALLAH.
    -Jika kita bekerja secara benar, tidak melakukan penyimpangan, insya’allah suatu saat allah akan angkat derajat kmu dimata manusia, misalnya menjadi pemimpin di tempat kmu bekerja. kalau sudah begitu kan lebih mudah lg kita berda’wah, sedikit nya untuk area kerja kita sendiri bisa kita benahi.
    -Seandai nya kmu sudah berusaha menjadi karyawan yang baik dan sudah berusaha tidak melenceng dari agamamu, tetapi dipekerjaan tersebut ternyata tidak baik untuk kmu & agamamu, InsyaAllah Allah akan membelokkan kmu dari pekerjaan tersebut (misal nya dipindah tugas k cabang yang lain, atau ke departement/bagian yang lain) yang lebih baik untuk kmu. karena Allah maha suci, Allah maha menjaga, Allah maha besar, Allah maha mengetahui apa yang baik buat kmu.
    Yang terpenting adalah bekerjalah dengan baik, jujur, jangan lupa ibadah, inshaAllah Allah akan menjaga kmu. Aamin..

  29. tinggalkanlah RIBA…jangan pernah berurusan dengan RIBA…!! ana jamin berapa % pun…psati nyesel dunia akherat….

    Serasa takjub bahwa aktifitas perniagaan ternyata menjadi urat nadi dalam pertumbuhan perekonomian suatu bangsa. Dan lebih takjub lagi bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berasal dari kegiatan perniagaan. Hal ini menunjukkan bahwa 90% pintu rezeki dikuasai oleh para pedagang. Tak bisa dipungkiri bahwa para pedagang dan pengusaha adalah orang-orang yang kaya yang tentunya berhasil dari usaha perniagaan yang digelutinya dimana hasil yang diraihnya tersebut tentu saja diawali dari titik nol. Bukankah Nabi Muhammad juga memberikan contoh untuk mencari rezeki melalui aktifitas perniagaan, tentu saja hal tersebut sudah dicontohkan oleh Beliau beribu-ribu tahun silam.

    “9 dari 10 pintu rezeki adalah berasal dari kegiatan perniagaan” belum sepenuhnya memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia karena masih sedikit sekali yang terjun di dunia perniagaan. Setelah ditelaah lebih lanjut ternyata faktor lingkungan dan pendidikan sangat mempengaruhi kondisi tersebut.

    sebenarnya, akar dari kemiskinan Indonesia bukan semata karena minimnya akses pendidikan, melainkan karena sistem pendidikan di negara ini tidak mengajarkan dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dengan baik. Pendidikan tinggi Indonesia lebih banyak menciptakan sarana pencari kerja dibanding pencipta lapangan kerja. Sistem pendidikan Indonesia yang banyak mengandalkan sistem belajar pasif (guru menerangkan dan murid mendengarkan) memberikan dampak yang cukup signifikan untuk membuat masyarakat Indonesia menjadi tidak kreatif dan produktif, dan hanya terbiasa mengandalkan makan gaji. Negara ini banyak mencetak begitu banyak sarjana yang handal dengan kemampuan akademisnya, namun tidak handal menjadikan mereka lulusan yang kreatif yang dapat menciptakan lapangan kerja. Akibatnya, pengangguran terdidik di Indonesia semakin besar setiap tahunnya.

  30. Assalamualaikum….
    saya salud akan pendirian anda untuk menjauhi riba, jaman sekarang semua bank mainan ribb, cuma bahasa yg disampaikan lain sehingga org tau nya bkn riba, apa lg dilandasi alquranul’adhim dan gadist ahirnya org percaya bkn riba, nyatanya emang riba, jgn takut atau ragu akan janji alloh ta’ala, sesungguhnya tidak diragukan lagi janji alloh, klu sudah berkekad teguh maka bertawakalah kepada alloh…

  31. Assalamualaikum….
    saya salud akan pendirian anda untuk menjauhi riba, jaman sekarang semua bank mainan riba, cuma bahasa yg disampaikan lain sehingga org tau nya bkn riba, apa lg dilandasi alquranul’adhim dan gadist ahirnya org percaya bkn riba, nyatanya emang riba, jgn takut atau ragu akan janji alloh ta’ala, sesungguhnya tidak diragukan lagi janji alloh, klu sudah berkekad teguh maka bertawakalah kepada alloh…

  32. Usaha (solusi) untuk keluar dari semua bentuk riba di Indonesia mana?Tidak hanya teori tapi mohon dikoordinasi untuk mendirikan lembaga keuangan yang benar-benar syariah

  33. Allahumma shalli wa sallim ‘ala muhammad wa alih.

    Bukan bermaksud menggurui atau pun sejenisnya. Ini hanya yang terbesit di benak.

    Mungkin kita akan lelah dan serasa ingin berhenti berdakwah, menganjurkan kebaikan dengan kondisi yang demikian. Tapi, Rasul Saws bukanlah pribadi yang seperti itu. Konidisi objek dakwah (dalam kerangka ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa) pada zaman Rasul Saws tentu tidaklah sesempurna sewaktu Islam sudah jaya atau saat periode keberhasilan dakwahnya. Namun demikian, ‘ketak-sempurnaan’ keadaan objek dakwah (baca: situasi politik-sosial masyarakat) Rasul Saws tidak membuat ia putus asa.

    Jika dipersamakan dengan kondisi yang dialami Mas/Bapak, kurang lebih sama. Kita tidak harus menuntut semuanya sesuai dengan apa yang dinamakan syari’ah. Dan, di situlah seni berdakwah. Kualitas berdakwah di lingkungan prostitusional lebih tinggi nilainya dibandingkan berdakwah di lingkungan pesantren. Jadi, berdakwah itu melibatkan proses.

    Jika ingin diperdalam, Allah pun berdakwah kepada manusia secara bertahap. Ia tidak memerintahkan hal-hal yang sulit dipenuhi ketika manusia memang tidak sedang mampu.

    Itu singkatnya, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.

    Allahummaghfirlana min ar-riya’i wa ar-riba’i wa kulli khizb ad-dunya wa al-akhirati.
    Akhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘arsyil ‘amma yashifuun.

    1. Kalau menurut saya sih, jika pada akhirnya kita yang ikut terjerumus, misal dalam contoh diatas ketika outbond harus ikut peluk2an seperti yang diperintahkan trainer. dan mungkin banyak lagi kewajiban yang tidak diceritakan diatas, maka lebih baik kita keluar saja…
      Bukankah Rasulullah juga mengajarkan untuk berhijrah??

  34. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Abuya yg terhormat, salam Silaturahmi
    Saya Hartono, buya mohon penjelasan tentang bank syariah yg sekarang sudah hadir di Indonesia, apakah sudah seperti yg diatur oleh islam ?
    Terima kasih

    Wassalamu’alikum Wr. Wb
    HARTONO- 30 TH
    SUMBER – CIREBON
    081320424XXX
    Wa’alaikumsalam wr.wb
    Saudaraku Hartono, yang semoga di muliakan Allah SWT,
    Munculnya banyak Bank yang berlabel syariah adalah sebuah kemajuan kesadaran akan syariat Islam , terlepas dari maksud terpendam di balik hati pengelola Bank.
    Sebab makna yang terbaca di balik itu semua adalah, bahwa didalam BANK KONVENSIONAL ada masalah, yaitu dalam berbagai cara transaksinya termasuk adanya bunga yang tidak lain adalah Riba haram yang dipoles dengan bahasa lembut “ bunga ”. Transaksi dan sistem yang diberlakukan di Bank Syariah yang ada di Indonesia adalah sesuai dengan Syariah. Dan jika ada yang kurang itu adalah tugas para ulama untuk membantu meningkatkan kualitas nilai Syariahnya. Sebab kami aggap Bank Syariah adalah sesuatu yang kita nanti kehadirannya, dan jika ternyata hadir dengan banyak kekurangan maka yang benar bagi kita adalah melengkapi kekurangan tersebut dan bukan memusnahkannya

    Dan memang banyak hal yang harus di luruskan diantaranya adalah para pegawai Bank Syariah yang semula mereka adalah orang-orang yang bekerja di Bank konvensional, tanpa di bekali ilmu Perbangkan Syariah tiba-tiba di pindah ke Bank Syariah maka cara mereka menjelaskan dan menjalankan transaksi Bank Syariah di samakan dengan transaksi Bank Konvensional. Dari sinilah diantaranya muncul sebab banyak orang mengatakan bahwa tidak ada beda antara Bank Syariah dan Bank Konvrensional.

    Semoga kita bisa memperjuangkan wujudnya Bank Syariah yang sesungguhnya agar kaum muslimin terbebas dari taransaksi yang salah dan riba.

    Wallahu a’lam bishshowab.

    Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum’at.

  35. MAJU TERUS!!! jauhi dan tinggalkan riba!
    Biarkanlah perkaktaan2 yg menganggap kita memilih pilihan yg sia2
    Karena sesungguhnya janji Alloh itu nyata!
    Kita bertaqwa kita bahagia,
    Kita berdosa kita sengsara,
    Salamku untuk mu sekeluarga,
    Semoga Alloh senantiasa meneguhkan keimanan mu,
    Amiin

  36. Assalamu’alaikum. Salut buat bapak yg berani membuat keputusan seperti itu.😀
    Baik-buruk penilaian menurut manusia itu relatif,, tapi baik-buruk penilaian menurut Allah itu mutlak. Islam memang tdk mudah,, semakin dipelajari semakin terasa sulitnya. Tapi insya Allah balasan (pahala) dari Allah jauh lebih besar.🙂
    Semoga dilancarkan rejekinya,, diberi lancar barokah untuk semua usahanya d jalan Allah. Amin.

  37. Tidak sengaja sampai di blog ini mencari tau segala sesuatu tentang BSM, ternyata lingkungan kerjanya tidak berbeda dengan kantor lain.
    Subhanallah.. kompleks sekali kalo kita berbicara masalah pekerjaan halal.
    Sekarang saya ada tugas (tugas kuliah kok) untuk merancang bank, sengaja memilih bank yang syar’i supaya mengerjakan tugas lebih semangat.
    Walaupun sempat kaget juga tentang realita bank, walaupun itu bank syariah, yah semoga tugas kuliah kali ini tetap barokah, dan ilmunya nanti bisa saya terapkan pada bangunan yang lebih barokah…aamiin..

  38. Alhamdulillah saya juga resign dr bank riba, niat saya kluar karena Allah, padahal dilhat dari materi gaji yang diterima sangat menggiurkan…tapi itu sifatnya sementara., walaupun sekarang bkerja buka usaha dagang kecil-kecilan tapi mampu memberi ketenangan jiwa, terbebas dari riba yang sangat dikecam oleh Allah kelak di akhirat nanti… Allahu akbar. mari kita tinggalkan riba atau sisa riba yang blum dipungut sebelum maut mendatangi kita.

  39. Assalamualaikum, Kenapa hrs keluar klo emang niat mau menegakkan syariat islam kenapa hrs mengundurkan diri malah seharusnya id terangkan yg sebenarnya saya cukup kecewa klo anda malah mengundurkan diri karena anda cukup memahami tentang syariat agama, coba tegakkan islam, apa Rosululloh mudur saat mensiarkan agama Alloh??? Klo memang ingin mencontoh Rosululloh contohlah semua, sekali lagi saya kecewa atas pengunduran diri saudara, sama aja saudara membiarkan penyimpangan terhadap islam, mohon maaf lahir bathin

    1. wa’alaykumussalam…

      tentu setiap orang memiliki kemampuan masing-masing dan kekuatan iman masing2, dan terkadang seorang individu lebih lemah kekuatannya dengan sebuah sistem dan lingkaran didalamnya…boleh jadi ingin bermaksud memperbaiki malahan diri sendiri yang menyimpang. baarokallahufiykum

  40. Ah cemelah, buat apa ngerti agama tapi tdk di tegakkan??? Justru saudara sedang diuji sama Alloh sampai mana saudara kuat menghadapi orang2 yg menyimpang dari jalur islam, malah mudur cemen banget.

    1. tentu setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, dan terkadang seorang individu lebih lemah kekuatannya dengan sebuah sistem dan lingkaran setan didalamnya…boleh jadi yang Anda maksud “Kuat Menghadapi” orang-orang yg menyimpang, justru maksudnya adalah “Ikut2an” menyimpang. baarokallahufiykum

  41. Umat islam sekarang dikepung dengan berbagai macam fitnah, riba salah satunya, Yang masuk ke tubuh haram, jadi daging, jadi darah, jadi pikiran jadi anggota tubuh, do’a tidak makbul lagi.
    yang dimakan haram yg dilihat haram, yang didengar haram, yg dipikir haram jadilah manusia yang doyan pada yang haram, dan menghalalkan yang haram, naudzubillah
    benarlah yg diisyaratkan Baginda Nabi s.a.w yang mulia, akan datang suatu masa, umat ini banyak tapi seperti buih dilautan, lemaah, persis seperti sekarang ini. apalagi di indonesia.
    semoga Allah memberikan jalan keluar bagi umatnya yang ingin selalu menjaga diri dan tetap bisa berkreasi. aamiin

  42. di zaman akhir spt sekarang ini ,membedakan yg halal dan haram bukanlah hak yg mudah ..dimanapun khta bekerja ,kebanyakan uang yg dpt tdak seratus perseo halal ,hingga yg khta makan adlh bbrang subhat ,artinya mski kita bkerja di bank syariah /knnvensiaonal bahlkan di tmpt krj la4n skalipun kehalalan yg murni sulit kkita dptkan (krn dikondisikan ) bhkan aku pesnah dengar seorang ulsama sakaf yg wira’i (sdh almarhum saat ini ) pernah berkata bhwa bank adll haram (mgkn krn sistemmya ) menyebut itu bank syari’ah /bukan,

  43. lebih gampang coment daripada ngejalaninnya sendiri. Cemen lah., pengecutlah, gampang menyerah lah…tsnya dibaca dulu gan baru comentar biar ga kelihatan bodohnya. Si penulis dah ngomong kalo dah mulai melakukan hal2 kecil tapi ternyata belum berhasil. Berdakwah itu bukan untuk mengajak orang untuk mengikuti kita, tapi menyampaikan mana yang haq dan mana yang bathil. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan, hidayah milik Allah ta’ala
    barokallahu fiikum

  44. berdirinya NKRI ini betul2 dilandaskan dengan syariah islam yang kaffah. awalnya rencana pembentukan Republik Indonesia yang berdaulat ini adalah dalam koridor negara sekuler (islam saja), akan tetapi bagian-bagian Nusantara lainnya (bagian timur) yang mayoritas non-muslim mengancam memisahkan diri, sehingga Presiden kala itu bermufakat dengan para Ulama untuk tidak menjadikan negara ini menjadi negara Islam, karena mempertimbangkan keutuhan dan tidak terlalu PD untuk menantang keadidayaan kaum 3G (gold, glory, gospel) yang cenderung memusuhi Islam. akibatnya kemudahan beribadahpun telah kita rasakan di negeri tercinta ini tanpa adanya ancaman.
    kembali pada Bank (Perbankan) ; pada prinsipnya semuaha hal yang berbau bank adalah riba tidak terkecuali dengan pewarnaan islami. akan tetapi keberadaan Bank ini adalah Vital adanya untuk kemudahan dalam era masa kini, dalam artian gunakanlah sesuai kebutuhan, misal : menabung untuk keamanan bukan untuk bunga, jasa transver, jasa pengelolaan pensiunan, jasa potong gaji untuk kredit perumahan PNS yang setiap tahn gajinya naik :b . Pegawai bank menurut saya sah-sah saja, selama jujur tidak menikmati bonus-bonus aneh nan menggiurkan setiap tahunnya, mau hidup sederhana walaupun sulit pasti banyak cobaannya, satu yang menurut anomali permasalahan ini adalah : janganlah memicingkan mata terhadap saudara-saudara kita yang berada pada lingkup lingkungan perbankan, karena kita hekekatnya butuh bank, negara ini butuh bank “untuk memperbaiki sistem bukanlah jalan bijak dengan kita menjauhinya, tetapi kita harus terjun didalamnya dan bawalah perubahan itu semampu yang Tuhan berikan kita”. Sembunyikan Keislamanmu untuk membawa kebaikan sistem, dan bersiaplah sistem itu akan mengikutimu meski dirimu tak menyadarinya. Abd. Syahid.

  45. katakanlah: kami beriman kepada ALLAH dan kepada apa yg diturunkanNya kepada kami. memang begini konsekuensi hidup dinegara munafik dan fasik dengan hukum kafirnya yang mereka rasa lebih baik dari hukum ALLAH

  46. set rame banget dah, org muslim nih hobinya perang aja… ya itu kan pilihan masnya gak kuat soalnya banknya menyimpang, kalo yang kuat ya tetep kerja aja di banknya dan mengusahakan pembenahan, kalo perlu gampar tuh bosnya yang nyuruh2 megang lain jenis…

  47. Assalam, memang seru sekali kalo memperdebatkan soal bank. MUI yang mengharamkan riba berakibat pada lahirnya bank2 konvensional yang berlebel syariah. Jika dan hanya jika di indonesia dibuat baitul mal dan semua bank2 itu dihapus, maka yakinlah kita jadi target penghancuran fisik oleh sang pemilik modal terbesar pd PT.NKRI kita ini, akibatnya sangat radikal, beribadahpun jadi sulit. Anggap saja kawan2 kita yang berada di Bank2 itu adalah pejuang jihad, mengapa????, karena bekerja di bank cobaannya besar,selain riba,mereka akan terbiasa hidup boros, membeli apapun yang dianggap mewah (tetapi cepet sekali rusaknya), hati menjadi keras dan tega terhadap saudaranya sendiri, mudah suuzdon, bikin rumah tapi panas banget untuk ditinggali, hubungan dg family lama2kemalaan merenggang, duit seakan easy come easy go, musibahnya besar kadang diuji di kantornya sendiri misal menghilangkan uang berpuluh2 juta dsb, makin lama makin kikir, jika suatu saat berhaji maka greget ibadanya hambar. Satu efek positifnya yaitu makin pintar, dan waspada

  48. Sebagai seorang warga negara yang baik, sepantasnyalan kita mendoakan kebaikan untuk negeri ini, kadang keburukan umum itu cukup menjadi rahasia bersama shg jangan diangkat kepermukaan. Kadang yang kita lihat buruk itu sebetulnya baik, hanya karena pola fikir kita yang sempit. Saya mendukung antum, tetapi saya juga mendukung kawan2 kita yang masih nempel pada Bank, memang mencari kerja itu sulit sob, jika mereka diberikan pilihan pada tempat yang halal lagi baik pasti tidak ada yang mau kerja di Bank karena berat banget kerjanya. Menurut saya bekerja di bank karena terpaksa dan masuk dengan rekruitment sportif masih lebih berkah gaji dan nafkahnya daripada masuk PNS,POLRI,TNI, dengan cara koneksi, suap/bayar. Memang dunia ini penuh ketidakadilan dan surganya orang zolim dan kafir, tetapi hanya didunia ini sajadah bagi ibadah2 kita. Saya jd ingat senior saya “kalijaga” yang jadi rampok demi rakyat2 kadipaten tuban kala itu, merampas yang kaya dan membaginya kpd orang2 fakir, dan akhirnya tobat dan mengakui jalannya salah. Kita tidak mungkin menjadi orang besar tanpa ujian besar sob, memang awalnya keluar itu berat bahkan harus menerima hinaan,cacian,makian,pengucilan dari kawan,bahkan saudara,tetapi yakinlah yang lebih baik menanti pada tempat dan waktu yg tepat. HasbunAllah wanikmalwakil…

  49. Salamu’alaikum saudaraku yang seiman dan se tanah air.
    saya sungguh menyayangkan sikap penulis untuk keluar dari pekerjaanya di industri perbankan syariah, karena industri ini sudah kehilangan orang yang akan memberikan kontribusi besar untuk kemajuan bisnis ini.
    pernahkan kita merenung kenapa industri ini masih belum “syariah”, paling tidak itulah pendapat penulis.
    Industri Bank Konvensional merajai market share 95% sedangkan sharia hanya 5% saja. usianya di indonesia pun sudah lebih dari 100 tahun, pucuk pimpinan kebanyakan bank syariah pun didominasi pemain lama konvensional. yang tentunya masih memiliki pemikiran konven ketika menjalankan bisnis syariah.
    tentunya kita menginginkan bahwa industri ini akan lebih syariah secara akad, produk, dan lingkungan kerjanya
    tentunya dengan pemahaman penulis yang sangat mendalam tentang bagaimana seharusnya mengelola bank syariah akan menjadi nilai tambah yang akan menggerakan industri ini ke jalan yang benar. visi itu harus dilakukan dengan sabar dan jangka waktu yang lama, karena industri ini sedang bertumbuh. sehingga diperlukan pemikiran, etos, dan kinerja dari orang-orang yang memahami konsep syariah. sehingga bisnis ini bisa menjawab tantangan finansial di waktu yang akan datang.

    mohon maaf apabila terdapat pemikiran dan penulisan yang kurang tepat.
    jazakumullah khoiran

  50. Anta masuk ke perusahaan industri, memang sesuai syariat juga kah? Dipisah juga laki2-perempuan? Dpt kesempatan shalat tepat waktu? Ada kajiannya? Apakah perusahaan itu menyalurkan manfaat bagi warga sekitar? Apakah perusahaan itu tdk melakukan manipulasi pajak dan atau keuangan?
    Sebenarnya akh, di mana pun kita..pasti akan merasa kecewa..krn kita mengharap makhluk..bkn mengharap Ridho-Nya..sama seperti kalau sy liat perangai anta trs sy akhirnya resign dr perusahaan yg sama, yg salah perusahaannya, anta, atau cara pandang sy,,?
    Sesungguhnya Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..
    Institusi syariat didirikan dengan landasan itu..apakah sdh bertukar pikiran dg dirut/komutnya?? Ke mana arah ini? Kalau ada yg salah dr pelaksanaan di cabang..diluruskan..jika dibiarkan akan tetap bengkok..jika dipaksakan, akan patah..itulah flexibilitas pen da’i..
    Wallahu’alam..smg kita bukan sosok orang yg putus asa dari rahmatNya.

  51. Ana dukung akh, yang penting kita berusaha berbuat benar sesuai tuntunan Allah dan Rosulnya, abaikan komentar-komentar yang bikin shubat.

  52. Ketika antum berharap pujian dari Allah Ta’ala. Antum akan mengabaikan pujian dan cercaan manusia. Karena apapun yang kita lakukan tidak akan lepas dari penilan manusia. Dua hal yang akan menjadi nilai ibadah buat antum. IKHLAS DAN ITTIBA’. Barakallahu
    fiikum

  53. Allah Maha Kaya, lanjutkan saudara.. kita semua sedang belajar menikmati manisnya iman… jangan kalah sama tukang buah di Afrika “bagaimana mungkin aku miskin, sedangkan aku adalah hamba Sang Maha Kaya”… kita mulai dari kita sendiri sebagai ‘market’ bank2 itu.. coba yang masih antipati pelajari baik2 darimana bank itu berdiri, dapat untung dari mana, bagaimana treatment kepada nasabah kalau sedang bermasalah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s