Wadi’ah Bank Syariah, Sudah Sesuaikah Dengan Syariah ?


wadiah/ tabungan

Oleh Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri

Transformasi sistem konvensional ke sistem “Islam” di dunia perbankan membuat bank syariah memaksakan beberapa istilah syariah yang jauh dari makna syariah sebenarnya. Di antaranya istilah wadi’ah. Konsep wadi’ah bank syariah 100 persen berbeda dengan konsep yang disebutkan di buku-buku fikih muamalah.

Bila memiliki dana dalam jumlah banyak, Anda biasanya berpikir untuk menyimpannya di tempat yang aman. Dan tempat yang biasanya diangggap paling aman adalah perbankan perbankan konvensional atau syariah. Di perbankan konvensional, Anda memiliki beberapa pilihan. Yang paling diminati tabungan, yang biasa disebut dengan istilah account. Di perbankan syariah, pilihan yang paling banyak diminati wadi’ah, yang secara bahasa dan syariat wadi’ah berarti titipan.

Apa perbedaan antara tabungan (account) di perbankan konvensional dan wadi’ah di perbankan syariah? Menurut saya, pertanyaan ini wajar Anda kemukakan, karena selama ini perbankan syariah mengklaim produk wadi’ah mereka halal, sedangkan tabungan konvensional statusnya haram alias riba.

ANTARA TABUNGAN DAN WADI’AH.

Untuk memudahkan Anda mengenali keduanya, saya nukilkan dua undang-undang yang menjelaskan arti tabungan (account) dan wadi’ah. Dalam penjelasan UU No 21 /2008 tentang Perbankan Syariah, pasal 19 Ayat 1 huruf a dinyatakan, “Yang dimaksud dengan ‘akad wadi’ah’ adalah akad penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang dan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang.” Definisi ini selaras dengan definisi wadi’ah dalam ilmu fikih.

Dalam kitab I’anatut Thalibin karya Ad- Dimyathy dijelaskan, wadi’ah adalah “Suatu akad yang bertujuan menjaga suatu harta.” (3/284)

Imam As- Syairazy berkata, “Wadi’ah selama berada di tangan penerima wadi’ah (titipan), berstatus sebagai amanah. Konsekuensinya, bila terjadi kerusakan tanpa ada kesengajaan, maka ia tidak wajib menggantinya.” (Al-Muhazzab oleh As -Syairazy 1/359)

Penegasan As-Syairazy selaras dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
“Barang siapa yang dititipi suatu barang, maka ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi padanya.” (Ibnu Majah dan lainnya)

Secara logika pun, dalam transaksi penitipan barang (wadi’ah), pemilik barang mendapatkan keuntungan dari akad wadi’ah. Sedangkan penerima titipan, yakni pihak yang memberi jasa titipan barang, karena itu, tidak pantas diwajibkan menanggung kerusakan.

Lebih jauh As-Syairazy menekankan, andai pun terjadi kesepakatan yang mengharuskan penerima titipan menanggung kerusakan, kesepakatan itu batil dan tidak mengikat.
Namun dalam prakteknya, perbankan syariah tidak sepenuhnya menjalankan hukum-hukum wadi’ah yang telah digariskan oleh syariat Islam. Karena tidak diragukan bahwa dana nasabah pasti aman, dan perbankan syariah wajib menanggung segala risiko yang terjadi pada dana nasabah.

Bukan hanya menjamin, namun lebih jauh lagi, perbankan syariah memberi untung yang disebutnya “bagi hasil” atau “bonus”. Sementara itu, tabungan di bank konvensional, oleh Undang-undang No. 10/1998 tentang Perbankan diartikan “Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.”

Dengan menabung di perbankan konvensional, paling sedikit Anda mendapatkan dua “keuntungan”: dana Anda aman dan mendapatkan bunga tabungan setiap bulan. Besar bunga tabungan bisa diketahui dari jumlah saldo terendah pada bulan laporan dikalikan suku bunga per tahun, lalu dikalikan jumlah hari pada bulan laporan dan dibagi jumlah hari dalam satu tahun.

Contoh, saldo terendah tabungan Anda Rp 30.000.000. Bank Anda menetapkan suku bunga 3 persen per tahun. Jumlah hari pada bulan laporan adalah 31. Maka bunga yang akan Anda dapatkan:
3/100 x 31/365 x Rp 30.000.000 = Rp 76.438

Untuk lebih mengenal perbedaan antara wadi’ah (titipan) syariat danwadi’ah menurut perbankan syariah, saya mengajak Anda mencermati tabel berikut.

 
perbandingan

Dengan mencermati tabel wadi’ah tersebut, dapat diketahui dengan jelas, wadi’ah di perbankan syariah bukanlah wadi’ah yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih. Wadi’ah perbankan syariah yang saat ini dipraktekkan lebih relevan dengan hukum dayn (piutang), karena pihak bank memanfaatkan uang nasabah dalam berbagai proyekannya. Sebagaimana nasabah terbebas dari segala risiko yang terjadi pada dananya. Karena alasan ini, banyak ulama kontemporer mengkritisi penamaannya dengan wadi’ah. Dan sebagai gantinya, mereka mengusulkan menggunakan istilah lain, semisal al-hisab al-jari atau yang secara bahasa bermakna account.

Dengan segala konsekuensinya, berbagai hukum utang-piutang berlaku pada praktek wadi’ah di perbankan syariah di negeri kita. Semoga tulisan ini membuka wawasan mengenai hakikat akad wadi’ah yang dibenarkan dalam syariat, dan Anda tidak terkecoh oleh peminjaman nama wadi’ah pada praktek akad utang-piutang. Wallahu Ta’ala ‘aalam bisshawab.

sumber: Majalah Pengusaha Muslim edisi 24, Februari 2012

Artikel https://maramissetiawan.wordpress.com

Iklan

2 thoughts on “Wadi’ah Bank Syariah, Sudah Sesuaikah Dengan Syariah ?”

  1. assalamualaikum,,
    mohon maaf sebelumnya, saya jadi bingung nih,, soalnya saya pernah baca juga artikel lain tentang akad wadi’ah. nah di artikel itu klo tdk salah terdapat dua jenis wadi’ah,yaitu 1 wadi’ah yad al amanah dan 2 wadi’ah yad dhamanah.
    katanya tabungan wadiah di bank syariah itu memakai akad wadiah yang kedua,,
    mohon penjelasannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s