Nasab Mulia Bukan Jaminan Selamat di Akhirat


Nasab Mulia Bukan Jaminan Selamat di Akhirat 1

Oleh: Syaikh Nabil al-‘Audli (الشيخ نبيل العوضي)

Keturunan mulia tidak bisa menolong sedikitnya amal

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad

صلّى الله عليه و سلّم adalah hamba dan utusan Allah.

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلّى الله عليه و سلّم, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.

Kalaulah anda katakan –wahai hamba Alloh–, saya akan kembali pada asal-usul saya yaitu fulan bin fulan. Apalah ini wahai hamba Alloh? Anda diukur dengan amal-amal saleh anda, anda diukur dengan solat-solat anda, dan anda diukur dengan dzikir anda kepada Alloh. Anda diukur dengan ujung (akhir) bacaan al-Qur’an anda, dan anda diukur dengan yang anda terapkan dari syari’at-syari’at Alloh. Oleh karenanya Rosululloh صلّى الله عليه و سلّم bersabda:

2(…مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ …)

“Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya”

Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, kurang atau sedikit amalan ketaatan dan kewajiban, nasabnya tidak meninggikannya di hadapan Alloh. Dan nasabnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun.

Dan jika diletakkan ash-Shiraat saat hari kiamat, lalu manusia akan datang untuk berjalan melewatinya. Maka ada orang yang berjalan secepat angin, ada yang berjalan seperti kuda yang cepat larinya. Ada yang melewati dengan berlari, dan ada yang melewati dengan berjalan. Ada yang melewatinya dengan merangkak, dan ada yang melewatinya dengan berguling-guling di atas perutnya (merayap).

Maka ada seseorang yang berkata, ”Yaa Rob, yaa rob, janganlah memperlambat diriku.” Maka Alloh

جَلَّ وَ عَلا menjawabnya dan mengatakan, “Sungguh aku tidak memperlambatmu hai fulan, tidak ada yang memperlambatmu melainkan amalmu sendiri.”

Sungguh engkau telah meninggalkan sholat-sholatmu, sungguh engkau telah meninggalkan bacaan al-Quran, sungguh engkau tidak memperbagus amalanmu untukKu (Alloh). Di dunia engkau telah berlambat-lambat dari amalan ketaatan. Maka demikian itulah seseorang akan berguling (merayap) di atas perutnya menuju neraka jahanm. Maka kita memohon perlindungan Alloh dari yang demikian itu.

Dan suatu hari datanglah Abu Dzar  رضي الله عنه, —– maka siapakah di antara kita yang mengungguli Abu Dzar رضي الله عنه dalam amalan saleh? Siapakah di antara kita yang mampu menyamai Abu Dzar

رضي الله عنه, seorang sahabat rosululloh صلّى الله عليه و سلّم? —–

Abu Dzar (suatu saat pernah) melihat seseorang dan berkata kepadanya, “Wahai putranya orang yang berkulit hitam.”

Dan apakah warna kulit memberikan madlorot dan manfaat? Ini adalah hikmah Alloh bahwasanya Alloh menjadikan seseorang berkulit merah, seseorang yang lain berkulit kuning, seseorang yang lain berkulit putih, dan seseorang yang lain berkulit hitam. Semuanya adalah nikmat Alloh, dan apakah Alloh menjadikan seseorang berasal negeri yang sedemikian rupa? Apakah anda dipilih berasal dari negeri yang sedemikian rupa sebelum dilahirkan? Apakah bahwasanya dengan kedudukan, keberanian, dan kecerdasan anda, anda dipilih dari warna kulit atau jenis tertentu? Atau apakah anda memilih ayahanda dan ibunda anda wahai fulan? Semuanya adalah dengan takdir Alloh.

Dan Abu Dzar berkata, “Wahai putranya orang yang berkulit hitam.” Dan rosululloh صلّى عليه و سلّم mendengarnya.

Dan beliau adalah seorang nabi yang agung, yang mendasarkan daulahnya di atas ketakwaan kepada Alloh جَلَّ وَ عَلا, maka tidaklah membedakan di antara manusia kecuali dengan takwa. Maka beliau

صلّى عليه و سلّم berkata kepada Abu Dzar, “Apakah engkau mencela dia dan ibunya wahai Abu Dzar? – maka dia (Abu Dzar) diam — Apakah engkau mencela dia dan ibunya wahai Abu Dzar? Sesungguhnya engkau adalah seorang yang dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.”3

Meskipun anda termasuk ahli ibadah dan orang yang zuhud, meskipun anda termasuk orang yang melakukan qiyamul lail, berpuasa pada siang harinya, dan memberi makan orang-orang miskin, Sesungguhnya engkau adalah seorang yang dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah. Ya, dialah jahiliyah yang menjadikan seseorang menilai orang lain dengan warna kulit, jasmaniyah, negeri, dan asal-usul mereka. Sehingga meremehkan orang lain, karena dia berasal dari qobilah dan negeri tertentu.

4(أربع في أمتي لا يتركونهن من الجاهلية)

“Ada empat perkara jahiliyah yang melekat dalam umatku, yang mereka belum meninggalkannya.” Maka sampai datangnya hari kiamat, perkara jahiliyah ini akan ada dalam umat Rosululloh

صلى الله عليه و سلّم. Yaitu dari mereka, orang-orang yang lemah iman, maka masuklah perkara jahiliyah ini ke dalam hati mereka. Maka perhatikanlah apa yang telah beliau صلى الله عليه و سلّم , “Berbangga dengan nasab atau kedudukan.”

Suatu saat para sahabat sedang berkumpul dan mereka sedang berbangga-bangga dengan nasab-nasab mereka. Setiap orang dari mereka berbangga dengan kedudukan, qobilah, dan asal-usulnya. Dan di antara mereka ada Salman رضي الله عنه, maka ada seorang yang berkata, “Saya bin ini, dan saya bin ini.” Lalu dikatakan, “Wahai Salman, sebutkanlah nasabmu!” Maka Salman رضي الله عنه berkata, “Aku tidak mengenal bagiku ayah (asal-usulku –pent–) dalam Islam, akan tetapi aku adalah Salman bin al-Islam.”

Dan benarlah perkataan seorang penyair,

دعي القوم ينصر مدعيه      ويلحقه بذي الحسب الصميم

أبي الإسلام لا أبَ لي سواه      إن افتخروا بقيس أو تميم

Diseru suatu kaum untuk menolong penyerunya

Dan menyematkan padanya (kaum) sebagai pemilik kemuliaan leluhur dan kemurnian

Ayahandaku adalah islam, dan aku tidak ada ayah bagiku selainnya

Meskipun  mereka berbangga dengan qobilah  Qois maupun Tamim

—————————–

Sumber: audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=27058

DIterjemahkan oleh Ibnu ‘Abdil ‘Aziz

————————————————–

Footnote:

1-      Artikel ini merupakan bagian dari ceramah Syaikh Nabil al-‘Audli yang berjudul “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh adalah orang yang paling bertakwa”. Kemudian kami terjemahkan dan kami beri tambahan sebagian dari khutbah hajah. Mohon kritik dan saran. Jika ada yang benar, maka berasal dari Alloh جلّ جلاله, jika ada yang salah maka berasal dari kami dan syetan yang terkutuk.

2-      Shahih Muslim No 4587, Arba’in Nawawi No 36

3-      Shahih Bukhari No 29, Shahih Muslim No 3139 dan 3140, Musnad Ahmad 20461

4-      Shahih Muslim No 1550, Sunan Tirmidzi No 922, Musnad Ahmad No 7567, 9494, 10451, 21829, 21830, dan 21837

https://maramissetiawan.wordpress.com


Iklan

One thought on “Nasab Mulia Bukan Jaminan Selamat di Akhirat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s