Prophet-Muhammad

Mengaku Keturunan Rasul


Dikalangan kaum muslimin, khususnya di negeri kita ini sering kita mendengar bahwa ada seorang tokoh yang merupakan keturunan Nabi. Dan dipanggil lah tokoh tersebut dengan sebutan Habib. Bahkan gelar ini mereka buktikan dengan skema nasab yang mereka miliki yang bertemu dengan nasab Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, atau dibuktikan dengan semacam ijazah atau sertifikat. Ironisnya, gelar nasab ini seolah-olah menjadi kartu truf yang akhirnya menjadi dalil halalnya segala perbuatan yang mereka lakukan, baik perbuatan yang telah jelas merupakan kemaksiatan, perbuatan bid’ah dalam agama, bahkan sampai kesyirikan. Lalu bagaimanakah sebenarnya sikap Ahlussunnah terhadap tokoh keturunan Nabi atau yang disebut dengan golongan Ahlul Bait ? Berikut ini pembahasannya oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah.[1]

AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH TERHADAP AHLUL BAIT SECARA GLOBAL

Akidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah pertengahan antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri, antara berlebihan dan meremehkan dalam segala perkara akidah. Diantaranya adalah akidah mereka terhadap ahlu bait Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, mereka berloyalitas terhadap setiap muslim dan muslimah dari keturunan Abdul Muththalib, dan juga kepada para istri Rasul shallallahu’alaihi wa sallam semuanya. Ahlus Sunnah mencintai mereka semua, memuji dan memposisikan mereka sesuai dengan kedudukan mereka secara adil dan objektif, bukan dengan hawa nafsu atau serampangan. Mereka mengakui keutamaan orang-orang yang telah Allah beri kemulian iman dan kemuliaan nasab. Barangsiapa yang termasuk dari ahlul bait dari kalangan sahabat Rasulullah, maka mereka (Ahlussunnah) mencintainya karena keimanan, ketaqwaan serta persahabatannya dengan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam.

Adapun mereka (ahlul bait) selain dari kalangan sahabat, maka mereka mencintainya karena keimanan. Ketaqwaan, dan karena kekerabatannya dengan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berpendapat bahwa kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barangsiapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka Dia telah menggabungkan antara dua kebaikan. Dan barangsiapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikitpun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam akhir hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barangsiapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadits di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barangsiapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi disisi Allah, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan bukan karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

}* وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134}

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61}

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal shalih, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal shalih. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadits ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat) ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang shalih dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan bahwa kedekatan dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal shalih[2]. Barangsiapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal shalihnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau, baik dia punya kekerabatan dengan beliau atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab yang memiliki nasab (yang tinggi).

Hal ini berlainan dengan ahli bid’ah, mereka berlebihan terhadap sebagian ahlul bait. Bersmaaan itu pula mereka berbuat kasar/jahat terhadap mayoritas para sahabat radliyallahu’anhum. Diantara contoh sikap berlebihan mereka terhadap 12 imam ahlul bait, yakni Ali, Hasan, Husain radliyallahu’anhum, dan 9 keturunan Husain adalah apa yang tercantum dalam kitab al-Kafi oleh al-Kulaini[3]…Bab: Bahwasanya Para Imam Tersebut Mengetahui Kapan Mereka Akan Mati dan Tidaklah Mereka Mati Melainkan Dengan Pilihan Mereka Sendiri, Bab: Bahwasanya Imam-Imam ‘alaihimussalam Mengetahui Apa Yang Telah Terjadi dan Apa yang Akan Terjadi, dan Tidak Ada Sesuatupun yang Tersembunyi Bagi Mereka.

Dan sikap berlebihan inipun dikatakan oleh tokoh kontemporer mereka, yaitu Khumaini dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 52 cetakan al-Maktabah al-Islamiyah al-Kubra, Teheran): Sesungguhnya diantara prinsip madzhab kita, bahwasanya imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa digapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah) maupun Nabi yang diutus (oleh Allah).

HARAMNYA MENGAKU-NGAKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT

Semulia-mulia nasab adalah nasab Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Dan semulia-mulia penisbatan adalah kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam dan kepada Ahli Bait, jika penisbatan itu benar. Dan telah banyak di kalangan arab maupun non arab penisbatan kepada nasab ini. Maka barangsiapa yang termasuk ahlul bait dan dia adalah orang yang beriman, maka Allah telah menggabungkan antara kemuliaan iman dan nasab. Barangsiapa mengaku-ngaku termasuk dari nasab yang mulia ini, sedangkan ia bukan darinya, maka dia telah berbuat suatu yang diharamkan, dan dia telah mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang mengaku-ngaku dengan sesuatu yang tidak dia miliki maka dia seperti pemakai dua pakaian kebohongan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, no. 2129 dari Hadits Aisyah radliyallahu’anha)

Disebutkan dalam hadits-hadits shahih tentang keharaman seseorang menisbatkan dirinya kepada selain nasabnya. Diantara hadits Abu Dzar radliyallahu’anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya sedang dia mengetahui melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.[4] (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)

Dan dalam Shahih al-Bukhori, No. 3509 dari hadits Watsilah bin al-Asqa’zia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Seungguhnya sebesar-besar kedustaan adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya atau mengaku bermimpi sesuatu yang tidak dia lihat, atau dia berkata atas nama Rasulullah apa yang tidak beliau katakan”.[5]

Footnote:


[1] Diterjemahkan dan disarikan dari kitab Fadhl Ahli al-Bait wa ‘Uluww Makaanatihim ‘Inda Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah oleh Abdurrahman bin Thayyib as-Salafi. Sumber: Majalah Adz-Dzakiroh Vol. 8 No. 1 Edisi 43 Ramadhan-Syawal 1429 H. Kami hanya mengambil dua poin pembahasan dari tiga yang dibahas di sumber tersebut.

[2] Jadi, mereka yang mengaku sebagai keturunan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam tapi gemar berbuat kesyirikan, mengkultuskan kuburan-kuburan wali yang tekah mati, mengadukan shalawat-shalawat bid’ah plus syirik (Burdah, Nariyah, Diba’, dll), rajin berbuat bid’ah (perayaan maulid, haul, tahlilan), maka tidak bermanfaat pengakuan tersebut dan tidak perlu dihormati ataupun disegani, pen.

[3] Tokoh ulama Syi’ah yang binasa pada tahun 329 H, yang dianggap seperti imam Bukhorinya Ahlussunnah, pen.

[4] Maka berhati-hatilah mereka yang memakan harta kaum muslimin dengan cara batil dengan mengaku-ngaku sebagai keturunan rasul shallallahu’alaihi wa sallam dan menjual akidah serta agama mereka. Na’udzubillahi mindzalik. pen

[5] Diringkaskan dari halaman 84-95

25 thoughts on “Mengaku Keturunan Rasul”

  1. Kasihan sekali para habib.

    Mengaku keturunan (cucu) Rasulullah, supaya dipuji-puji orang demi popularitas semata.

    Yg bukan keturunan Rasulullah saja selalu mengikuti semua petunjuknya dengan baik berdasarkan dalil/hadits2 yg shahih (Ahlus Sunnah).

    Kok para cucunya (Habib) seenaknya saja tidak mengikuti sunnahnya dan selalu membuat perkara2 baru dalam agama (bid’ah) dan itu dianggap sunnah kakeknya.

    Kasihan . . . . .

    Bukankah itu termasuk orang2 yg dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya hingga Hari Kiamat nanti dan mendapat Adzab yg pedih???

  2. alhamdulillah semakin kuat keyakinan ana,bahwa kedudukan seseorang itu tidak dilhat dr nasabnya,tetapi d lihat dr kualitas ketaqwaannya,sprt percontohan antara salman alfarisi & abu lahab….tp,ana mw nanya,apakah keturunan ahlillbait itu msh ada,seperti klaim bnyak orang ?

    Ada…..dan akan ada terus sampai menjelang hari kiamat yang salah satu tandanya adalah munculnya Imam Mahdi yang beliau merupakan keturunan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan di hadits2.

  3. Assalaamu’alaykum
    Akhiy, antum tahu ga ‘ulama kontemporer dari kalangan salafiy yang masih keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? kalau ada tolong sebutkan. biografinya dan di kitab apa, Insyaa Allah ana mau baca biografinya dan ana terjemahkan ke bahasa Indo serta ana publish di FB [kalau ada waktu] buat iseng2 aja untuk membuktikan kalau ‘ulama salafiy juga ada yang “habib” seperti istilah di kalangan mereka. Walau tulisan/kajian mengenai hal ini juga bukan merupakan prioritas…tapi insyaa Allah tetap bermanfaat…untuk menarik/membuka mata orang2 yang benci “wahabi”…Jazaakallahu khair…

    Wa’alaykumussalam…..wallahua’lam

  4. Pembahasan yang bermanfaat. Jika Nabi saja tidak ingin dikultuskan mk alangkah anehnya manusia mengkultuskan orang yg “mengaku” keturunan Nabi. Padahal para ahlul bait yg sejati tidak menyombongkan silsilah mereka krn silsilah ini tidaklah menjadi jaminan masuk surga sbgmn Nabi berkata kpd Fatimah bhw beliau tidak bisa menolongnya kecuali dirinya sendiri.
    Bagaimana bisa mereka para pengaku-ngaku itu membodohi ummat agar ditaati dan dikultuskan sekedar dg sebuah gelar didepan nama????

  5. subhanalloh, penjelasan yang sungguh bermanfaat bagi ana.
    dan membuka wawasan saya. terus terang ana 6 tahun mondok di pesantren yang menyanjungkan para habib.

    sukron. semoga alloh merahmati kita semua.

  6. Sebaiknya berhati2lah dlm berpendapat. Ahlul bait nabi bersambung secara nasab dan keilmuan dgn mata rantai yang tertulis secara ilmiah. Amalan mereka pun, termasuk didalamnya. 8 Dari 9 walisongo adlh keturunan nabi,Dari mereka tercermin dakwah bilhikmah yg terbukti bs diterima oleh bangsa indonesia. Hormati mereka,lihat secara keseluruhan, jangan sempit melihat berbagai kasus, mereka mmang tdk maksum, tapi tolong lihat Dan analisislah secara proportional.

  7. Ping-balik: Mess of a dreamer
  8. trims info nya, sangat bermanfaat uintuk menambah pengetahuan, cuma saya menyarankan…. laman ini berbicara tentang agama islam namun sponsor nya ko minuman keras yang jelas2 diproduksi kaum kafir, mohon kiranya sponsor dihilangkan, trims wassalam

  9. seharusnya sikap kita dalam mencintai keluarga dan keturunan Rasulullah SAW adalah ekstrim…namun karena iman kita yang tipis …jangan mencintai..bahkan kita termasuk yang menyeru untuk meragukan dan bahkan membenci mereka dengan beragam celah yang ada…

    Padahal Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk lebih mencintainya dan keluarganya dibandingkan dengan mencintai diri-diri kita sendiri bahkan……

    Sebenarnya …… salah satu bukti kebenaran ucapan Rasulullah adalah dengan eksisnya keturunan beliau bahkan sampai hari kiamat…dan bahkan keturunan beliau akan tetap terjalin sampai di akhirat kelak…… demikian karunia yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang dikehendakinya…..

    untuk ikwah/akhwat yang ingin mengetahui statistik dan catatan nasab dzuriah Rasulullah SAW yang ada di Indonesia misalnya dapat mendatangi Kantor Pusat Maktab Addaimiyah Rabithah Al-Alawiyah di Plaza Alawiyah Lantai 4, Jl. TB Simatupang Jakarta.

    semoga bermanfaat

  10. Bagi ikhwah yang berbahagia……

    janganlah kita menyakiti hati Rasulullah dengan menganggu keturunan beliau..

    Padahal silsilah kita…. walaupun sealim-alimnya kita saat ini , belum tentu generasi-generasi sebelumnya kita ketahui secara pasti nama dan silsilahnya demikian juga agama/kepercayaan mereka.

    Apalagi kebanyakan kita yang lahir di Indonesia, bisa saja saat ini kita sudah alim dengan titel Lc, Dr, KH, Ustadz, Syaikh, dll , namun siapa tahu kakek-kakek kita ke atas dulunya adalah penganut agama Hindu Budha atau Anisme/Polytheism….

    Sedangkan mereka keturunan Rasulullah SAW…tentunya akan bernuara pada Rasulullah SAW, sedangkan Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa berasal dari keturunan keturunan yang selalu menyembah Allah rabbul Jalil.

    Sedangkan janji Allah SWT,,,, orang yang beriman akan disambungkan dan dikumpulkan dengan ayah kakek moyang nya yang beriman…………….

    bukankah keturunan rasulullah SAW…. jauh lebih merasakan karunia ini…?????

    Jangan sampai karena mengagumi amalan kita , lalu melecehkan keturunan Rasulullah SAW….. sedangkan IBLIS yang denga kehebatan ibadahnya mampu meraih maqam Malakut…akhirnya terusir dan dilaknat Allah SWT..ketika diseru bersujud pada Adam a.s. yang baru diciptakan……..

    sebagai bahan kontemplasi…………..

  11. informasi bagi yang belum MENGETAHUI EKSISTENSI KETURUNAN RASULULLAH SAW.

    Keturunan Rasulullah Saw,Adakah…??

    keturunan Rasulullah, adakah…..?

    oleh Muhammad Bin Alwy Alhaddad

    KETURUNAN RASULULLAH ADAKAH … ?

    1. Orang yang pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW putus keturunannya bernama Al ‘Ash bin Al Wail Assahmy. Ketika wafat putra Nabi Muhammad SAW yang bernama Qasim (dalam riwayat lain Ibrohim), Al ‘Ash berkata “Muhammad putus keturunannya”. Perlakuan/perkataan Al ‘Ash tersebut membuat sakit hati Pimpinan Para Rasul tersebut. Dalam kesedihannya Rasulullah SAW tertidur, kemudian Allah SWT menghibur beliau dengan turunnya Surat Al Kautsar sekaligus sebagai bantahan terhadap ucapan Al ‘Ash tersebut dengan Firman Nya :

    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus. (Al-Kautsar)

    Lihatlah betapa Allah murka terhadap orang yang telah membuat sedih kekasihnya tersebut, hingga Allah menyebutnya “musuhmu”. Hal ini karena Al ‘Ash telah lancang dengan berkata bahwa “Muhammad putus keturunannya”. Semoga kita tidak mengikuti jejak Al ‘Ash. Amin ….

    2. Di Malam pernikahan Al Imam Ali bin Abi Tholib dengan Sayidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW, beliau (Rasulullah SAW) memanjatkan do’a untuk mereka berdua, diantara do’a-do’a tersebut sebagai berikut :

    “Ya Allah, berkahilah keturunan mereka berdua” (H.R. An Nasai), “ Semoga Allah mengeluarkan dari mereka berdua keturunan yang banyak dan baik”. (H.R. Ahmad), dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW berdo’a “ Semoga Allah merukunkan mereka berdua dan memperbaiki kualitas keturunannya dan menjadikan keturunan mereka berdua pembuka pintu rahmat, sumber-sumber hikmah dan pemberi rasa aman bagi umat”. Hadits-hadits tersebut disebutkan dalam kitab Ash Shawaiq karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamy.

    Apakah Allah Yang Maha Pemurah berkenan mengecewakan kekasihnya yang diutus sebagai Rahmat bagi seluruh umat itu ????

    3. Dari semua Putra dan Putri Nabi Muhammad SAW, hanya Sayidah Fatimah lah yang keturunannya berkesinambungan, karena dari pernikahan Imam Ali dengan sayidah Fatimah tersebut, Allah menganugrahi Kekasih Nya (Rasulullah) beberapa orang cucu yang lucu dan sangat mirip dengan kakeknya yang sangat mulia. Cucu-cucu beliau adalah : Al Hasan, Al Husein, Zaenab dan Muhsin. Namun yang memiliki keturunan hingga sekarang hanya dari Al Hasan dan Al Husein. Jadi, dari Al Hasan dan Al Husen lah keturunan Nabi Muhammad SAW berkelanjutan hingga banyak dan berkah. Sebahagian orang ada juga yang beranggapan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus pada saat peristiwa Karbala, tetapi sesungguhnya orang-orang yang beranggapan hal tersebut belum tahu sejarah yang sebenarnya. Coba telaah kembali, jangan cepat puas hanya dengan mendengar “katanya” ……

    4. Sebahagian orang ada juga yang berpendapat bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus, mereka beranggapan bahwa keturunan yang sekarang ini bukanlah keturunan dari anak laki-laki melainkan dari anak perempuan Rasulullah SAW yaitu Sayidah Fatimah.

    Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah :

    a. Bila seseorang mempunyai seorang putri (anak perempuan), dan ketika beranjak dewasa dinikahkan, kemudian dari pernikahan tersebut mempunyai keturunan (anak), apakah anak yang lahir tersebut bukan cucunya?[1]

    ذَ لِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْ تِيْهِ مَن ْ يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (المـــائدة : )

    “ Itu adalah Anugrah dari Allah, Ia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (pemberiannya), lagi Maha Mengetahui”.Q.S. Al Maidah : 54

    b. Kalaupun hal tersebut tidak berlaku[2], maka sesungguhnya hal tersebut adalah khususiah (anugrah semata) dari Allah yang tidak berlaku untuk umum melainkan khususiah untuk Nabi Muhammad SAW, sebagaimana Beliau mendapat banyak khususiah lain yang tidak berlaku kecuali untuk beliau, seperti beristri lebih dari 4 (empat) wanita sekaligus. Allah SWT berfirman :

    khususiah ini disampaikan oleh lisan Baginda Rasululloh dalam sabdanya : “setiap anak bernisbah kepada ayahnya kecuali anak-anak Fathimah, akulah wali dan nisbahnya” (H.R. Hakim).

    – “Setiap sebab (penyebab pertalian keturunan) mahupun nasab (pengikat garis keturunan) akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku, dan setiap keturunan dinisbatkan kepada pengikat keturunannya yakni ayah mereka, kecuali putera-putera Fatimah, maka sesungguhnya akulah ayah mereka dan tali pengikat keturunan mereka” (Riwayat Al-Baihaqi, Al-Tabrani & lain-lain)

    c. Al Imam Musa Al Kadzim bin Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Baghir bin Ali Assajjad bin Al Husen putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW, pernah ditanya oleh Harun Ar Rasyid “Kalian mengaku keturunan Nabi Muhammad, bukankah seseorang bernisbah kepada kakek dari ayah bukan kakek dari ibu?” Al Imam Musa membaca Surat Al An’am, ayat 84-85 yang berbunyi “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. – Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh”. Lalu Beliau berkata “Bukankah Nabi Isa tidak mempunyai ayah?” tetapi dalam ayat ini Nabi Isa dikelompokan dalam cucu keturunan Nabi Nuh AS, begitu pula yang terjadi pada kami”.

    5. Di dalam Shohih Bukhori diriwayatkan ketika seseorang bertanya cara bersholawat, maka Rasulullah SAW mengajarkan :

    اللهم صل على محمد وازواجه وذريته

    “Ya Allah Bersholawatlah atas Muhammad dan Istri-istrinya danketurunannya” shohih Bukhori hadits ke 6360.

    6. Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW bersabda “Akan datang seseorang dengan membawa keadilan, namanya seperti namaku, nama ayahnya seperti nama ayahku (dialah) Al Mahdi keturunanku dari Fathimah”. HR. Aththobaroni

    7. Rasulallah saw.bersabda :

    إنَّي تَارِكٌ فِيْكُمْ خَلِيْفَتَيْنِ : كِتَابَ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالاَرْضِ

    وَعِتْرَتِي أهْلَ بَيْتِي وَإنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحِوْضَ

    Rasulallah saw. bersabda :

    “Kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan: Kitabullah sebagai tali yang terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku ahlulbaitku. Sesungguh- nya kedua-duanya itu tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Haudh (telaga di surga)”. (dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari hadits Zaid bin Tsabit dan dari dua shohih Bukhori-Muslim. Yang pertama pada halaman 182 dan yang kedua pada akhir halaman 189 jilid V. Dikeluarkan juga oleh Abu Syaibah, Abu Ya’la dan Ibnu Sa’ad. ‘Kanzul Ummal’ jilid 1, halaman 47 hadits no.945).

    Juga hadits yang serupa diatas hanya berbeda versinya tapi sama makna- nya, bisa kita rujuk juga dalam Ad-Durrul Mantsur oleh As-Suyyuthi Asy-Sayfi’i jilid 2, hal.60 ; Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qundusi Al-Hanafi hal.38 dan 183, cet.Istanbul; cet.Al-Haidariyah hal.42 dan 217.; Dalam Majma’uz Zawaid oleh Al-Haitsmi jilid 9, hal. 162 ; ‘Abaqat Al-Anwar jilid 1, hal.16 cet.pertama Ishfahan; Al-jami’ Ash Shaqhir oleh As-Suyuthi jilid 1, hal. 353 cet. Mesir ; Al-Fathul Kabir oleh An-Nabhani, jilid 1 hal. 451 dan kitab-kitab rujukan lainnya.

    Dalam Shohih Muslim dimana Beliau berwasiat kepada umat dalam sebuah khutbahnya untuk berpegang teguh pada dua hal, Al Qur’an dan (ulama) dari keturunan beliau (tidak akan sesat). Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berpegang teguh pada keduanya maka ia tidak akan sesat dan keduanya tidak akan hilang hingga kiamat”. HR. Muslim, Hadits ke 4425.

    Keturunan yang dijuluki Syarif/Sayyid atau Syarifah/Sayyidah:

    Sehubungan dengan masalah-masalah mengenai siapakah ahlul-bait dan nasab keturunan Rasulallah saw. yang telah dikemukakan tadi pada dasar- nya semua keturunan Ahlul Bait Rasulallah saw. ialah yang diharamkan terima sedekah/zakat. Mereka itu khususnya adalah yang dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallah-‘anhuma bukan orang yang berasal dari keturunan dua orang saudara perempuan mereka berdua walau pun semuanya ini adalah putri-putri Siti Fathimah binti Rasulallah saw..

    Ketentuan seperti ini juga berdasarkan pada hadits berasal dari Jabir ra. yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dan oleh Abu Ya’la dalamMusnad-nya. Menurut hadits tersebut Siti Fathimah ra. menuturkan bahwa ayahndanya (Rasulallah saw.) pernah berkata: “Setiap orang dari anak Adam(yang dilahirkan oleh seorang ibu) termasuk didalam suatu ‘ashbah (kelompok dari satu keturun- an), kecuali dua orang putra (Siti) Fathimah. Akulah wali dan ‘ashbah mereka berdua’. Yang dimaksud dua orang putra Siti Fathimah disini yaitu Al-Hasan dan Al-Husain.

    Juga dalam hadits Rasulallah saw. pernah bersabda: “Semua anak Adambernasab kepada orangtua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah(Al-Hasan dan Al-Husain). Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”.

    Dua hadits diatas itu diperkuat dengan sabda Rasulallah saw. yang diriwayat kan oleh Imam Bukhori dalam kitabnya Al-Ahkam dan Imam Muslim dalam kitabnyaAl-Imarah yang mana beliau saw. menyatakan dengan tegas bahwa Al-Hasan dan Al-Husain sebagai putra beliau, bunyi hadits sebagai berikut: “Dua orangputeraku ini (beliau sambil menunjuk pada Al-Hasan dan Al-Husain) adalah Imam-Imam, baik disaat mereka sedang duduk atau pun sedang berdiri ”.

    Begitu juga Allah swt. sendiri berfirman dalam surat Aal-Imran ayat 61: “Maka katakanlah (Hai Muhammad kepada mereka), Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita kami dan wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita ber- mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.

    Peristiwa singkat ayat Mubahalah (Aal-Imran :61) diatas ini turun pada tahun ke 10 Hijriyyah berkenaan dengan adanya tantangan dan pendustaan dari beberapa orang utusan kaum Nasrani dari daerah Najran yang datang menghadap Rasulallah saw. untuk mempersoal- kan agama Islam. Maksud mereka menghadap beliau saw. ini untuk menyanggah kebenaran berita-berita Al-Qur’an mengenai Nabi ‘Isa as. Pembicaraan itu tidak menghasilkan persetujuan apa pun selain kesepakatan bersama untuk bermohon kepada Allah swt. untuk menurunkan kutukan dan siksa kepada pihak yang berdusta. Dalam hal itu kedua belah pihak menentukan tempat dan waktu yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.

    Ketika waktu yang ditentukan tersebut tiba, Rasulallah saw. mengajak orang-orang yang terdekat yaitu kerabat beliau saw. yang dipandang paling mulia dan terhormat. Rasulallah saw. berjalan menuju tempat tersebut dengan menggendong Al-Husain ra. yang masih kanak-kanak dan menggandeng Al-Hasan ra. yang sudah agak besar. Dibelakang beliau saw. berjalan Siti Fathimah ra. dengan kain kerudung, sedangkan Imam ‘Ali kw. berjalan di belakangnya.

    Beliau saw. bertemu dengan Kaum Nasrani tersebut sambil bersabda: “Mereka ini adalah anak-anak kami, diri kami, dan wanita kami, maka panggil lah anak-anak kamu (kaum kafir), diri kamu dan wanita-wanita kamu, kemudian mari kita bermubahalah kepada Allah dan minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.

    Menurut ahli tafsir dan hadits yang dimaksud kata-kata anak-anak kami dalam ayat itu ialah Al-Hasan dan Al-Husain [ra] ; yang di maksud wanita-wanita kamiadalah Siti Fathimah ra. dan yang dimaksud diri-diri kami dalam ayat tersebut yaitu Rasulallah saw. dan Imam Ali kw.

    Ummat Islam sepakat bahwa ayat Mubahalah diatas ini turun untuk Nabi saw. , Imam Ali kw., Siti Fathimah ra., Al-Hasan dan Al-Husain (ra). Kita bisa rujuk hal ini diantaranya dalam:

    Shahih Muslim, kitab Al-Fadhail, bab Fadhail Ali bin Abi Thalib, jilid 2 hal.360 cet. Isa Al-Halabi; Syarah An-Nawawi jilid 15 hal. 176 cet.Mesir ; Shahih At- Tirmidzi, jilid 4 hal. 293, hadits ke 3085 ; jilid 5 hal.301 hadits ke 3808 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal. 150 ; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1 hal.185 cet.Al-Maimaniyah, jilid 3 hal. 97 hadits ke 1608, cet.Darul Ma’arif ; Tafsir Ath-Thabari jilid 3, hal. 299, 330, 301 ; jilid 3 hal.192 cet.Al-Maimaniyah Mesir ; Tafsir Ibnu Kathir jilid 1, hal. 370-371 ; Tafsir Al-Qurthubi jilid 4 hal. 104 ; Kifayah Ath-Thalib oleh Al-kanji Asy-Syafi’i hal. 54, 85, 142 cet. Al-Haidariyah ; hal.13, 28, 29, 55, 56 cet. Al-Ghira ; Ahkamul Qur’an oleh Ibnu Al-‘Arabi jilid 1 hal. 275 cet.kedua Al-Halabi; jilid 1 hal.115, cet. As-Sa’adah Mesir ; Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir, jilid 9 hal. 470. Dan masih banyak lagi lainnya.

    Dengan memperhatikan ayat dan kalimat hadits-hadits diatas, kita dapat mengetahui bagaimana Rasulallah saw. sendiri telah meng- khususkan pengelompokan Al-Hasan dan Al-Husain sebagai keturunan beliau sendiri, meski pun keduanya adalah putra-putra pasangan Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah binti Muhammad saw. Sedangkan dua orang saudara perempuan Al-Hasan dan Al-Husain yaitu Siti Zainab dan Siti Ummu Kaltsum -radhiyallahuma- anak-anak mereka berdua ini, dikecualikan dari pengelompokan nasab dengan Rasulallah saw., karena anak-anak dari dua orang putri Siti Fathimah ra ini akanbernasab kepada ayahnya (suami dua orang putri Siti Fathimah) masing-masing yang bukan dari keluarga Ahlul-Bait.

    Itulah sebabnya kaum salaf (kaum dahulu) dan khalaf (kaum belakangan) memandang anak lelaki seseorang syarifah (wanita dari keturunan Rasulallah saw.) tidak dapat disebut syarif atau sayyid jika ayahnya bukan dari golongan Ahlul-Bait (keturunan) Rasulallah saw.. Karena itulah Rasulallah saw. menetapkan kekhususan tersebut hanya berlaku bagi dua orang putra Siti Fathimah ra dan tidak berlaku bagi anak-anak yang dilahirkan oleh putri-putri Rasulallah saw. selain Siti Fathimah ra.

    Seperti Siti Zainab binti Muhammad saw., ia tidak mempunyai anak lelaki hanya mempunyai anak perempuan dari seorang ayah yang bukan Ahlul Bait, Abul-‘Ash bin Rabi’, sehingga dengan sendirinya anak tersebut tidak termasuk kelompok Ahlul-Bait. Ketentuan Rasulallah saw. itu ditetapkan oleh beliau semasa hidupnya. Atas dasar itu maka anak-anak Amamah binti Abul-‘Ash binar-Rabi’tidak dinasabkan kepada Rasulallah saw, karena ayah Amamah bukan lelaki dari kalangan Ahlul Bait. Seandainya Zainab binti Muhammad saw. melahirkan anak lelaki dari seorang suami dari kalangan Ahlul Bait, tentu bagi anak lelakinya itu berlaku ketentuan yang berlaku juga pada Al-Hasan dan Al-Husain ra yaitudinasabkan kepada Muhammad saw.

    Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad saw. berupa surat Al-Kautsar ini menunjukkan bahwa Allah swt. sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayyidah Fatimah ra. tersebut. Bahwa Rasulallah saw. tidaklah “Abtar” bahkan dari rahim Siti Fatimah ra. akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya dalam ayat tersebut Rasulallah diperintahkan untukbersholat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya). Dan pada ayat yang ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulallah yang mengejek itulah yang kemudian diejek oleh Al-Qur’an sebagai “Abtar” (terputus).

    Surat ini dimulai dengan kata “Inna/Sesungguhnya” yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita yang besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. Ustadz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata “kepadamu” pada ayat ketiga menunjukkan bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad saw. yang dikasihi-Nya.

    Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang men- dukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah saw. memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah ra. dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya dalam surat Al-An’am 84-85 bahwa Al-Qur’an menganggap nabi Isa as. sebagai dzurriyah Ibrahimmeski pun beliau as. lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadits yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai “anakku”.

    Sejarah juga membuktikan bahwa dari rahim Siti Fatimah, Rasulallah saw. memperoleh dua orang cucu (putera) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain ra. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Awsath yang bergelar “Zainal Abidin” atau “Assajad” (ahli sujud) kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi saw. dari Imam Husain. Demikian juga keturun- an dari Imam Hasan.

    Imam Husain sendiri memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala . Sedangkan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini Alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi saw. dari Siti Fatimah ra terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [ra] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut Ustadz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan) Nabi saw. ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustadz Quraish Shihab.

    Pendapat Syeikh Abdul ‘Aziz Bin Baz

    Seorang Mufti resmi kerajaan Saudi Arabia salah satu ulama dari golongan Wahabi Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya oleh saudara kita dari Iraq mengenai anak cucu Rasulallah saw. yang memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tidak semestinya mereka lakukan. Jawaban Syeikh terhadap pertanyaan saudara dari Iraq ini dimuat dalam majalah ‘AL-MADINAH’halaman 9 nomer 5692 tanggal 07- Muharram 1402 H bertepatan tanggal 24 oktober 1982 sebagai berikut:

    “Orang-orang seperti mereka (cucu Nabi saw.) itu terdapat diberbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelar ‘Syarif ’. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulallah saw. Diantara mereka itu ada yang silsilahnya berasal dari Al-Hasan ra. dan ada pula yang berasal dari Al-Husain ra. Ada yang dikenal dengan gelar‘Sayyid’ dan ada juga yang dikenal dengan gelar ‘Syarif’. Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan di negeri-negeri lain. Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan.

    Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalah gunakan oleh orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Baitul-Mal itu memang telah menjadi hak yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Pem- berian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya kalau mereka itu mau menerimanya. Akan tetapi kalau silsilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu ia beranggapan bahwa orang yang mempunyai silsilah itu dapat mewajib kan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan per buatan yang tidak patut. Keturunan Rasulallah saw. adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal/utama dikalangan orang-orang Arab. Karenanya tidak patut kalau mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan ataupun perilaku yang rendah.

    Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan mem- berikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah hadits Rasulallah saw. berulang-ulang mewanti-wanti: ‘Kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku…kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku’. Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaaf kan kekeliruan mereka yang bersifat pribadi, menghargai mereka sesuai dengan derajatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan, semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka.”. Demikianlah pengakuan Syeikh Abdul Aziz bin Baz tentang masih wujudnya cucu nabi saw.

    Pendapat Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

    H.Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan,‘Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah saw.’ ?, dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.

    Oleh Menteri Agama hal ini diserahkan kepada Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.H. HAMKA tentang gelar Sayyid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 sebagai berikut:

    “Rasulallah saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyidjamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

    Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

    Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

    Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

    Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia , pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyyun), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayyid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturun an Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R.Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘Al-Akh’ artinya Saudara.

    Selanjutnya kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”. (Demikianlah nukilan dan susunan secara bebas mengenai penjelasan Prof.Dr.HAMKA tentang gelar Sayyid).

    Bila ada keturunan Rasulullah SAW yang melanggar syariat (bermasksiat) maka tidak boleh ditiru dan tetap bersalah, begitu pula bila ada seseorang yang mengaku keturunan Rasulullah (Habib/Sayyid), kemudian bertingkah laku yang meresahkan atau kurang baik, maka hal tersebut terjadi kemungkinan karena salah satu dari tiga hal yaitu :

    a. Boleh jadi orang tersebut hanyalah mengaku-ngaku saja untuk mencari keuntungan atau manfaat dunia semata, bahkanpula sengaja ingin mencemarkan nama baik keturunan Rasulullah SAW, dan itu sudah banyak terjadi. Hal ini biasanya didasari oleh rasa hasud.

    b. Bisa jadi orang tersebut hanya orang arab biasa yang mengaku-ngaku keturunan Rasulullah SAW yang bertujuan sama. Setiap keturunan Rasulullah SAW (sayid atau Habib) adalah orang Arab, tetapi tidak semua orang Arab itu keturunan Rasulullah SAW.

    c. Bisa jadi orang tersebut benar-benar keturunan Rasulullah SAW yang berakhlaq tidak baik dan mempunyai kebiasaan yang kurang baik, namun satu hal yang perlu diingat bahwa mereka manusia juga, bukan malaikat yang tidak punya nafsu dan tidak tergoda oleh syetan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ahzab, ayat 33 : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Dan ulama berkata : tidak disebut pensucian bila tidak ada kotoran, sesuatu yang disucikan adalah karena sebelumnya ada kotoran. Oleh karena itu kita jangan diam bahkan dianjurkan untuk menasehati atau menegurnya, dan itu merupakan salah satu bentuk cinta dan perhatian kita. Bukankah Rasulullah SAW akan merasa senang jika ada yang memperhatikan keturunannya????

    Bila anda mendapati (bertemu) dengan keturunan Rasulullah yang demikian, maka hal-hal yang dapat anda lakukan adalah :

    a. Tanya Nasabnya, apakah ia benar-benar keturunan Rasulullah SAW

    b. Tanyakan kepadanya, apakah mereka mengenal habaib-habaib yang lain?, adakah habaib yang mereka kenal?, lalu sebutkan nama-nama habaib yang berakhlaq baik agar hal tersebut sekaligus menjadi teguran baginya.

    c. Hubungi habaib yang terdekat, yang anda kenal dengan baik atau hubungi no telp. ……………….. agar habib tersebut menasehatinya.

    9. Hampir setiap tokoh penyebar Islam yang mengayomi umat di berbagai penjuru dunia termasuk di pelosok nusantara adalah keturunan dari Al Hasan dan Al Husen. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan kecuali buah keberkahan d’oa dari Datuk mereka yaitu Rasulullah SAW pada malam pernikahan antara kakek dan nenek mereka yaitu Imam Ali dan Sayidah Fatimah.

    Sekedar bahan untuk direnungkan bahwa Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat penuh kasih sayang, baik terhadap umatnya, sahabat, keluarganya, atau keturunannya. Jika beliau tidak menginginkan seorangpun umatnya masuk ke dalam neraka, apakah beliau rela kerabatnya masuk ke dalamnya????.

    Catatan Kaki :

    [1] Pastilah semua kakek akan mengakui semua cucu-cucunya, walaupun cucunya tersebut dari anak kakek yang perempuan.

    [2] Kalaupun memang tidak berlaku karena bukan dari keturunan laki-laki.

    dikutip dari : https://id-id.facebook.com/abunawasmajdub/posts/251103325035520

  12. KITA HARUS MENGAKUI SIAPA AYAH DAN MOYANG KITA…..

    Kalau kita tidak mau mengakui ayah dan kakek-kakek kita …maka kita bisa disebut anak haram jadah yang tidak tahu asal usul…

    jadi, kalau ada orang merupakan keturunan rasulullah SAW , kemudian mereka mengakuinya …… maka , mereka telah menghargai ayah dan kakek-kakek mereka….

    ADAKAH DI ANTARA PENGUNJUNG BLOK INI YANG BISA MENUNJUKKAN CATATAN GANEOLOGI /SILSILAH SAMPAI GENERASI KE 30 DARI ANDA SAAT INI?

    BANDINGKAN dengan keturunan Rasulullah SAW yang memiliki dan sangat mmemperhatikan catatan silsilah dari generasi ke generasi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s