Adzan Jum’at Dua Kali ?!


Adzan jumat

Soal

Assalamu’alaikum. Mengenai adzan shalat jum’at, ada yang membuat dua kali, apa ada dasar(sunnah)nya? Jazakumullah khairan. [081275435XXX]

Jawab

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barokatuh.

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa ba’du.

Adzan jum’at dua kali memang ada dasarnya, yakni sebuah atsar Utsman bin Affan -radhiallohu anhu-. Berikut ini kami bawakan secara lengkap atsar tersebut, sebagaimana yang telah dibawakan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- pada kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami’ah, hlm. 8-9.

HADITS ADZAN JUM’AT DUA KALI

Imam az-Zuhri -rahimahullah- berkata: as-Sa`ib bin Yazid mengabarkan kepadaku:

أَنَّ الأَذَانَ [ الَّذِيْ ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ ] كَانَ أَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ [ وَإِذَا قَامَتِ الصَّلاَةُ ] يَوْمَ الْجُمُعَةِ [ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ ] فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَلَمَّا كَانَ خِلاَفَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ [ وَتَبَاعَدَتِ الْمَنَازِلُ ] أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الْجُمُعَة بِالأَذَانِ الثَّالِثِ ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ: الأَوَّلِ، وَ فِي أُخْرَى: بِأَذَانٍ ثَانٍ ) [ عَلَى دَارٍ [ لَهُ ] فِي السُّوْقِ يُقَالُ لَهَا الزَّوْرَاءُ ] فَأُذِّنَ عَلَى الزَّوْرَاءِ [ قَبْلَ خُرُوْجِهِ لِيُعْلِمَ النَّاسَ أَنَّ الْجُمُعَةَ قَدْ حَضَرَتْ ]، فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ، [ فَلَمْ يَعِبِ النَّاسُ ذَلِكَ عَلَيْهِ، وَقَدْ عَابُوْا عَلَيْهِ حِيْنَ أَتَمَّ الصَّلاَةَ بِمِنَى

Bahwasanya adzan yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur`an pada mulanya dikumandangan ketika imam duduk di atas mimbar dan ketika sholat akan ditegakkan pada hari jum’at di depan pintu masjid pada masa Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Kemudian ketika tiba khilafah Utsman dan orang-orang semakin bertambah banyak serta rumah-rumah saling berjauhan, Utsman memerintahkan pada hari jum’at untuk dikumandangkan adzan yang ketiga (pada sebuah riwayat disebutkan: pertama. Dan di riwayat lainnya disebutkan: adzan kedua) di atas sebuah rumah miliknya di sebuah pasar yang bernama az-Zaura`. Lalu adzan dikumandangkan di az-Zaura` sebelum beliau keluar untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa waktu jum’at telah tiba. Maka demikianlah seterusnya hal tersebut berlangsung, dan orang-orang tidak mencela beliau atas hal itu, akan tetapi mereka pernah mencela beliau lantaran menyempurkana shalat (tidak mengqasharnya) ketika berada di Mina. [HR. al-Bukhari, jilid 2, hlm. 314, 316, 317, Abu Dawud, jilid 1, hlm. 171, an-Nasa`i, jilid 1, hlm. 297, at-Tirmidzi, jilid 2, hlm. 392 dan Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 228. Juga diriwayatkan oleh asy-Syafi’i, Ibnul Jarud, al-Baihaqi, Ahmad, Ishaq, Ibnu Khuzaimah, ath-Thabrani, Ibnul Munzdir, dll.]

Dengan demikian jelaslah bahwa adzan dua kali yang rutin dikerjakan masyarakat umum sekarang ini berdasarkan dalil yang shahih.

DUA POIN PENTING

[1]. Dua Alasan Utsman -radhiallohu anhu- Adzan Dua Kali.

Dapat kita ketahui bersama dari hadits di atas bahwa Utsman -radhiallohu anhu- menambahkan adzan yang pertama karena dua alasan yang sangat masuk akal:

1). Semakin banyaknya manusia, dan

2). Rumah-rumah mereka yang saling berjauhan.

Barang siapa memalingkan pandangan dari dua alasan ini dan berpegang teguh dengan adzan Ustman -radhiallohu anhu- secara mutlak, maka dia tidak mengikuti petunjuk beliau -radhoallohu anhu-, bahkan ia menyalahi beliau, sebab dia tidak mau mengambil pelajaran dari dua alasan tersebut, yang mana jika keduanya tidak ada niscaya Ustman -radhiallohu anhu- tidak akan menambah Sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan dua khalifah sebelumnya Abu Bakar dan Umar radhiallohu anhuma.

Dan dua sebab tersebut hampir tidak tidak terwujudkan pada masa sekarang. Apalagi hampir seluruh masjid yang ada sudah menggunakan speaker untuk mengumandangkan adzan, sehingga semuanya dapat mendengarkan adzan jum’at baik yang dekat maupun yang jauh.

[2]. Adzan Sekali atau Dua Kali?

Pendapat yang tepat dan benar dalam masalah ini adalah, bahwa adzan jum’at sekarang ini cukup dikumandangkan sekali saja. Berikut alasannya:

1. Tidak adanya sebab yang mendorong untuk mengumandangkan adzan dua kali sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan -radhiallohu anhu- lantaran adanya dua asalan yang masuk akal di atas.

2. Mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar -radhiallohu anhuma-. Dan tentu saja sunnah beliau jauh lebih kita cintai dari pada sunnah yang lainnya.

Imam as-Syafi’i -rahimahullah- berkata di kitab al-Umm, jilid 1, hlm. 172-173:

“Dan saya menyukai adzan pada hari jum’at dikumandangkan ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar. Apabila imam telah melakukan hal itu, maka muadzdzin memuali adzan. Bila telah usai, maka imam berdiri dan menyampaikan khutbahnya, dan tidak boleh ditambah-tambahi (adzan lain) lagi.”

Lalu beliau menyebutkan hadits as-Sa`ib di atas dan berkata: “Dahulu Atho` mengingkari bahwa Utsman yang memulainya dan berkata: ‘Yang membuatnya adalah Mu’awiyah.’ Siapapun yang memulainya, (kata Imam asy-Syafi’i) maka perkara yang telah ada pada masa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- tentu lebih aku cintai.” [Disimpulkan dari kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami’ah, karya Syaikh al-Albani, cetakan al-Maktab al-Islami]

KESIMPULAN

Dari pembahasan ringkas ini dapat kita simpulkan, bahwa adzan dua kali berdasar kepada atsar Utsman, dan bahwasanya yang benar untuk masa sekarang ini adalah mencukupkan adzan jum’at sekali saja. Wallahu a’lam.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 6-8

sumber: http://dzakhirah.co.cc

Iklan

18 thoughts on “Adzan Jum’at Dua Kali ?!”

  1. alhamdulillah,jelas sudah permasalahan ini,smoga umat bisa mengambil hikmah dr penjelasan ini,sepantasnyalah kita mencintai apa yg yg telah ada pd zaman rasulullah

  2. yo ko lucu wae, ane punya usul…gimana kalo di antara penggiat dunia maya bikin situs bersama, klo ada yang nanya tentang suatu masalah bisa di jawab bersama di sertai dengan dalil2 yang menjadi landasan suatu hukum, ntar tinggal yang nanya yang milih, mana yang di anggapnya benar ( bukan yang paling benar, karena benar hanya 1.)…..Biar kalo atu aliran liat aliran lainnya ga otomatis menyalahkan ataupun membenarkan suatu putusan dari masing pihak…gimana??

  3. yaa lucu klu yang nanya yang milih,krna masih ad subhat…,makanya yang baik di ambil dari pendapat yang paling kuat..,wallahua’lam

  4. kalau melaksanakan ibadah dasarnya bagus atau tidak bagus, bukannya mengikuti sunnah rasul. bagaimana kalau adzan jum’at dibuat lima kali sekalian. kan lebih bagus lagi drpd yg dua kali. bukankah sehari semalam muadzin mengumandangkan adzan lima kali, jadi alasannya kan logis kalau pada saat jum’at dijadikan ajang untuk mengingatkan jamaah bahwa sholat itu lima kali sehari sepertim diingatkan pada adzan jum’at yang saya usulkan lima kali. gmn?

  5. Kalau saya pribadi cocok yg adzan 2 kali (alasan masuk akalnya…. biar jamaah shaf nya rapi).. tapi kalau di masjid hanya adzan 1 kali… ngikut aja, wong cuma jamaah ini.
    Dilihat sisi baiknya dan dasarnya sudah diuraikan di atas.
    Kalau adzan 2 kali… jamaah yg fahamnya adzan 1 kali, ter akomodasi.
    Tapi kalau adzan hanya 1 kali. Jamaah yg fahamnya 2 kali jadi tdk terakomodasi… akhirnya khatib sudah khutbah, masih sholat sunat (ya kalau gak rame2/mayoritas yg sholat sunah… terkadang yg didepan khatib masih sholat sunah)
    Wallahu a’lam

  6. http://miftahululumjejeran.blogspot.com/2009/12/adzan-jumat-2-kali.html
    Adzan Jum’at 2 kali

    Kamis, 17 Desember 2009
    Diposkan oleh Ajib Elwatsi
    Dulu dii zaman Rasulullah SAW, adzan pada shalat Jumat hanya dikerjakan sekali saja, yaitu saat khatib naik mimbar. Kemudian pada zaman khilafah rasyidah, karena pertimbangan tertentu, maka sebelum khatib naik mimbar, jumlah adzan ditambah sebelumnya, dilakukan sebelum khatib naik mimbar dan pada saat khatib naik mimbar.

    Dari As-Saib bin Yazid ra berkata, “Dahulu panggilan adzan hari Jumat awalnya pada saat imam duduk di atas mimbar, dimasa Rasulullah SAW, Abu Bakar ra dan Umar ra. Ketika masuk masa Utsman dan manusia bertambah banyak, ditambahkan adzan yang ketiga di atas Zaura.Tidak ada di zaman nabi SAW muazzin selain satu orang. (HR Bukhari)

    Zaura” adalah sebuah tempat yang terletak di pasar kota Madinah saat itu. Al-Qurthubi mengatakan bahwa Utsman ra memerinahkan untuk dikumandangkan adzan di suatu rumah yang disebut Zaura”.

    Saat itu khalifah memandang bahwa perlu dilakukan pemanggilan kepada kaum muslimin sesaat sebelum shalat atau khutbah Jumat dilaksanakan.

    Menurut para ulama yang mendukung tetap dilaksanakannya dua kali adzan ini, tindakan ini tidak bisa disalahkan dari segi hukum. Karena apa yang dilakukan oleh para shahabat nabi secara formal itu tetap masih berada dalam koridor syariah. Apa yang para shahabat nabi kerjakan secara ijma” merupakan bagian dari syariah, karena mereka sendiri juga bagian dari sumber syariah.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana dikutip oleh Asy-Syaukani di dala kitab Nailul Authar mengatakan bahwa praktek adzan 2 kali ini dilakukan bukan hanya oleh Khalifah Utsman rasaat itu, melainkan oleh semua umat Islam di mana pun. Bukan hanya di Madinah, melainkan di seluruh penjuru dunia Islam, semua masjid melakukan 2 kali adzan shalat Jumat.

    Dan meski tidak pernah dilaksanakan di zaman Rasulullah SAW, namun apa yang dipraktekkan oleh para shahabat secara kompak ini tidak bisa dikatakan sebagai bid”ah yang mendatangkan dosa dan siksa. Lantaran tidak semua perkara yang tidak terjadi di zaman nabi termasuk sesuatu yang buruk. (Lihat Nailul Authar jilid III halaman 278-279).

    Sebab Khalifah Utsman adalah bagian dari sumber syariah dengan dalil berikut ini:

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya siapa yang hidup setelah ini, maka dia akan menyaksikan perbedaan pendapat (ikhtilaf) yang besar. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafa” ar-rasyidin setelahkku yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gerahammu.” (HR Abu Daud, At-Tirmizy, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

    Maka tindakan seperti itu tidak bisa dikategorikan sebagai bid”ah, karena dikerjakan oleh semua shahabat nabi SAW secara sadar dan bersama-sama sepanjang masa.

    Kalau tindakan itu dikatakan bid”ah, berarti para shahabat nabi yang mulia itu pelaku bid”ah. Kalau mereka pelaku bid”ah, maka haram hukumnya bagi kita untuk meriwayatkan semua hadits. Padahal tidak ada satu pun hadits nabi yang sampai kepada kita, kecuali lewat para shahabat.

    Maka seluruh ajaran Islam ini menjadi batal dengan sendirinya kalau demikian. Sebab semua dalil, baik ayat Quran maupun semua hadits nabi SAW, ternyata tidak ada yang sampai kepada kita, kecuali lewat para shahabat yang dituduh tela melakukan tindakan bid”ah itu.

    Maka mengatakan bahwa adzan 2 kali sebagai bid”ah sama saja dengan mengatakan bahwa para shahabat nabi SAW seluruhnya sebagai pelaku bid”ah. Dan kalau semuanya pelaku bid”ah, maka agama Islam ini sudah selesai sampai di sini.

    Yang benar, praktek adzan Jumat 2 kali ini bagian dari sunnah yang utuh dalam syariah Islam, bukan bid”ah yang melahirkan dosa dan adzab. Karena telah dilakukan secara sadar oleh semua shahabat nabi SAW radhiyallahu ”anhum.

    1. karna adzan 2 kali aja ga datang2, ya mending sekali aja, lagian ga mubazir…buang2 tenaga n mengikuti sunnah rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

  7. Subhanallah……..apabila masing-masing dari pribadi muslim diberikan pengetahuan yang luas tentang diinul Islam , maka dia akan senatiasa berbesar hati untuk menghormati perbedaan dalam praktek amaliah ibadah, tidak lantas menilai hanya pemahaman dirinyalah yang paling benar, khususnya dalam masalah azan jum’at, apakah adzan dilakukan 1 kali ataukah 2 kali tentu harus dikembalikan kepada situasi dan kondisi obyek jama’ah yang akan kita dakwahi……..saya kira belum cukup alasan hanya karena sudah ada pengeras suara lantas adzan cukup dilakukan 1 kali , yang paling penting adalah bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran kepada jama’ah untuk hadir ke mesjid sebelum khutbah dilakukan, supaya materi khutbah yang disampaikan bisa didengar dan manfa’atnya bisa lebih dirasakan oleh jama’ah jum’at,

    1. Para Ulama sangat berhati-hati ketika membahas fiqih terutama yang memang rawan silang pendapat….mereka tetap berhujjah dengan dalil yang masing2 kuat. Itulah bedanya kita dengan Ulama. Sedangkan sebagian dari kita sukanya debat kusir.

  8. Adzan Jum’at cukup 1 kali, ketika khotib telah naik mimbar, ini shahih sesuai yang Rasulullah SAW kerjakan.
    Rasulullah SAW yang membawa risalah Islam saja mengerjakan adzan jum’at 1 kali, kenapa kita pengikutnya (ummatnya) menambah-nambah buat aturan baru dengan adzan jum’at 2 kali ?
    APA KITA SUDAH LEBIH PINTAR DARI RASULULLAH SAW ???
    .
    Wahai saudaraku yang melakukan adzan jum’at 2 kali, jangan anda mencari-cari alasan/dalil untuk membenarkan pendapat anda ! ini mirip kelakukan kaum Yahudi & Nasrani.
    Bila sudah ada dasar dalil yang shahih dari Rasulullah SAW, maka : sami’na wa’athona, jangan cari-cari alasan.

    Demikian, trmksh.

  9. HR Bukhary No. 865 : Adzan jum’at dua kali – Masjidil haram, masjid al aqsa & Masjid Nabawi adzan jum’at 2 kali dan tarawih 20 rekaat
    Posted on May 7, 2011 by admin
    Adzan shalat pertama kali disyari’atkan oleh Islam adalah pada tahun pertama Hijriyah. Di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khathab mengumandangkan adzan untuk shalat Jum’at hanya dilakukan sekali saja. Tetapi di zaman Khalifah Utsman bin Affan RA menambah adzan satu kali lagi sebelum khatib naik ke atas mimbar, sehingga adzan Jum’at menjadi dua kali.
    Ijtihad ini beliau lakukan karena melihat manusia sudah mulai banyak dan tempat tinggalnya berjauhan. Sehingga dibutuhkan satu adzan lagi untuk memberi tahu bahwa shalat Jumat hendak dilaksanakan. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dijelaskan :
    Dari Sa’ib ia berkata, “Saya mendengar dari Sa’ib bin Yazid, beliau berkata, “Sesungguhnya adzan di hari Jumat pada asalnya ketika masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar. Namun ketika masa Khalifah Utsman RA dan kaum muslimin sudah banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan adzan yang ketiga. Adzan tersebut dikumandangkan di atas Zaura’ (nama pasar). Maka tetaplah hal tersebut (sampai sekarang)”. (Shahih al-Bukhari: 865)
    Yang dimaksud dengan adzan yang ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum khatib naik ke mimbar. Sementara adzan pertama adalah adzan setelah khathib naik ke mimbar dan adzan kedua adalah iqamah. Dari sinilah, Syaikh Zainuddin al-Malibari, pengarang kitab Fath al-Mu’in, mengatakan bahwa sunnah mengumandangkan adzan dua kali. Pertama sebelum khatib naik ke mimbar dan yang kedua dilakukan setelah khatib naik di atas mimbar :
    “Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat Shubuh, yakni sebelum fajar dan setelahnya. Jika hanya mengumandangkan satu kali, maka yang utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua adzan untuk shalat Jum’at. Salah satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain sebelumnya”. (Fath al-Mu’in: 15)
    Meskipun adzan tersebut tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW, ternyata ijtihad Sayyidina Utsman RA. tersebut tidak diingkari (dibantah) oleh para sahabat Nabi SAW yang lain. Itulah yang disebut dengan “ijma sukuti”, yakni satu kesepakatan para sahabat Nabi SAW terhadap hukum suatu kasus dengan cara tidak mengingkarinya. Diam berarti setuju pada keputusan hukumnya. Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah disebutkan:
    “Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman ra. itu merupakan ijma’ sukuti (kesepakatan tidak langsung) karena para sahabat yang lain tidak menentang kebijakan tersebut” (al-Mawahib al Laduniyah, juz II,: 249)
    Apakah itu tidak mengubah sunah Rasul? Tentu Adzan dua kali tidak mengubah sunnah Rasulullah SAW karena kita mengikuti Utsman bin Affan ra. itu juga berarti ikut Rasulullah SAW. Beliau telah bersabda:
    “Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ al-Rasyidun sesudah aku “. (Musnad Ahmad bin Hanbal)
    Apalagi adzan kedua yang dilakukan sejak zaman Utsman bin Affan RA itu, sama sekali tidak ditentang oleh sahabat atau sebagian dari para sahabat di kala itu. Jadi menurut istilah ushul fiqh, adzan Jum’at dua kali sudah menjadi “ijma’ sukuti”. Sehingga perbuatan itu memiliki landasan yang kuat dari salah satu sumber hukum Islam, yakni ijma’ para sahabat.
    Perbedaan ini adalah perbedaan dalam masalah furu’iyyah yang mungkin akan terus menjadi perbedaan hukum di kalangan umat, tetapi yang terpenting bahwa adzan Jum’at satu kali atau dua kali demi melaksanakan syari’at Islam untuk mendapat ridla Allah SWT. Wallahu a’lam bis-shawab. (dtm)
    Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana dikutip oleh Asy-Syaukani di dala kitab Nailul Authar mengatakan bahwa praktek adzan 2 kali ini dilakukan bukan hanya oleh Khalifah Utsman rasaat itu, melainkan oleh semua umat Islam di mana pun. Bukan hanya di Madinah, melainkan di seluruh penjuru dunia Islam, semua masjid melakukan 2 kali adzan shalat Jumat.
    Dan meski tidak pernah dilaksanakan di zaman Rasulullah SAW, namun apa yang dipraktekkan oleh para shahabat secara kompak ini tidak bisa dikatakan sebagai bid”ah yang mendatangkan dosa dan siksa. Lantaran tidak semua perkara yang tidak terjadi di zaman nabi termasuk sesuatu yang buruk. (Lihat Nailul Authar jilid III halaman 278-279).
    Sebab Khalifah Utsman adalah bagian dari sumber syariah dengan dalil berikut ini:
    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya siapa yang hidup setelah ini, maka dia akan menyaksikan perbedaan pendapat (ikhtilaf) yang besar. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafa” ar-rasyidin setelahkku yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gerahammu.” (HR Abu Daud, At-Tirmizy, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

    1. Adzan Jum’at cukup 1 kali, ketika khotib telah naik mimbar, ini shahih sesuai yang Rasulullah SAW kerjakan.
      Rasulullah SAW yang membawa risalah Islam saja mengerjakan adzan jum’at 1 kali, kenapa kita pengikutnya (ummatnya) menambah-nambah buat aturan baru dengan adzan jum’at 2 kali ?
      APA KITA SUDAH LEBIH PINTAR DARI RASULULLAH SAW ???
      .
      Wahai saudaraku yang melakukan adzan jum’at 2 kali, jangan anda mencari-cari alasan/dalil untuk membenarkan pendapat anda ! ini mirip kelakukan kaum Yahudi & Nasrani.
      Bila sudah ada dasar dalil yang shahih dari Rasulullah SAW, maka : sami’na wa’athona, jangan cari-cari alasan.

      Kalaupun anda mau melakukan adzan sholat jum’at 2 kali sesuai yg pernah dilakukan di jaman khalifah Usman bin Affan RA, lakukanlah di pasar-pasar di sekitar anda, tidak di masjid (tempat sholat jum,at).

      Demikian, terimakasih

      1. Adzan jum’at di masjidil haram dan masjid Nabawi adalah 1 kali, juga adzan jum’at di masjid-masjid yg menjalankan sunnah diseluruh dunia.

        Jadi sdr. ROIS telah berbohong, guna menguatkan alasannya.

        Naudzubillah …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s