Ketika Ingat “Teman Lama” (Bag. 2)


Solusi...Ingat Teman Lama

Ingat Teman Lama, Bagaimana Solusinya?

Alhamdulillah, berkembangnya dakwah as-Sunnah yang disebarkan oleh para da’i Ahlussunnah khususnya di Indonesia, melalui majelis ta’lim terbuka, CD atau kitab dan majalah pembela as-Sunnah, telah membawa manfaat yang besar. Terutama bagi para pemuda dan pemudi yang haus akan pemahaman din (agama) yang benar, adanya kajian-kajian Islam Kaffah (menyeluruh) yang membahas semua problem hidup manusia termasuk pergaulan bebas muda-mudi masa kini yang sangat terasa banyak madhorotnya, mereka menjadi terbuka hatinya dan menyadari atas dosa dirinya pada saat hidup dalam ’kegelapan’ di bangku sekolah yang bercampur pria dan wanita atau di tempat kerja. Sehingga dalam benak mereka timbul pertanyan, bagaimana cara melupakan ”teman lama” yang masih tersimpan di hatinya.

Yang dimaksud dengan ”teman lama” di sini ialah teman pergaulan bebas antara muda mudi atau ”pacar”. Mulanya karena bertatapan muka di jalan, di sekolah, di kantor/tempat kerja, di kendaraan, di warung, di toko, tempat hiburan, dan lainnya, atau lewat surat kabar, majalah, internet, lalu berlanjut menjalin hubungan lewat surat menyurat atau SMS, berbicara lewat telepon atau internet dan media lainnya. Bahkan terlanjut dengan duduk berduaan saling memandang dan melakukan tindakan lain yang pasti membahayakan din (agama) dan kehormatan diri. Lebih parah lagi bila hal itu menimpa wanita. Bahkan tidak sedikit yang harus menikah setelah hamil beberapa bulan, Na’udzubillahi min dzalik.

Bahaya Ingat ”Teman Lama”

Ingat teman lama sungguh sangat berbahaya bila tidak segera diselesaikan, berbahaya bagi Din, akal, harta, fisik, dan keluarga.

Adapun bahaya bagi Din; berakibat malas beribadah, mengurangi kekhusyukan beribadah, bahkan boleh jadi meninggalkan ibadah. Adapun bahaya bagi akal; mengganggu pikiran kapan saja dan dimana saja berada termasuk pada saat menunaikan sholat dan menjelang tidur. Bahaya bagi harta; berapa banyak uang yang digunakan tanpa faedah. Bahaya bagi fisik karena boleh jadi jatuh kepada zina lisan, mata, telinga, tangan, bahkan boleh jadi zina yang merengggut kehormatan wanita, atau zina dengan tangannya wal ’iyyadzu billah. Bahaya bagi keluarga, karena merusak nama baik keluarga dan malu bila harus kawin paksa.

Agar Tidak Ingat Teman Lama

Ingat teman lama tentu ada sebabnya. Di bawah ini akan dijelaskan penyebab dan cara membendungnya.

1. Wanita sering keluar dari rumah.

Untuk menghidari fitnah hendaklah wanita betah di rumah, karena dengan di rumah aman dari fitnah. Allah ta’ala memerintahkan:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

”…Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu..” (QS. Al-Ahzab: 33)

2. Wanita pergi tanpa mahrom.

Apabila wanita pergi dengan mahromnya, dia selamat dari gangguan jin dan manusia, karena mahrom menjadi penghalang fitnah dan orang menjadi malu bila ingin berbuat jahat kepadanya. Abu Hurairoh radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Tidak halal bagi wanita muslimah pergi dalam perjalanan semalam melainkan dia bersama laki-laki mahromnya” (HR. Bukhori: 2/975)

3. Wanita keluar menampakkan keindahan diri, perhiasan, dan pakaiannya.

Inilah penyebab laki-laki ingin menggodanya. Untuk mencegahnya, bila wanita hendak keluar hendaklah menutup semua anggota badannya, tidak memperlihatkan keindahan wajahnya, perhiasannya, tidak mengenakan baju tipis atau sempit, tidak membuka sebagian auratnya, tidak memakai parfum. Jika hal ini diabaikan akan mengudang fitnah. Allah ta’ala berfirman:

وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى

”…Dan janganlah kamu (wahai wanita) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)

4. Memandang wanita yang bukan mahromnya, sehingga berlanjut dengan saling berkenalan yang akibatnya merusak pikiran dan agamanya.

Oleh karena itu, Islam melarang wanita dan laki-laki saling memandang yang bukan mahromnya (Lihat surat an-Nur: 30-31) dan apabila melihat wanita tanpa sengaja memalingkan pandangan.

Jarir radliyallahu’anhu: ”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang hukum memandang wanita dengan tiba-tiba, beliau menjawab: ’Palingkan pandangan matamu’”. (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani: 5/148)

5. Hendaklah tidak belajar dan mengajar serta bekerja di tempat yang bercampur antara laki-laki dan wanita.

Karena inilah penyebab fitnah dan perusak pikiran, bahkan kadang kala terjadi seorang laki-laki mencintai teman wanita di tempat kerjanya padahal dia sudah menikah, begitu pula sebaliknya.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi bercampur dengan seorang wanita melainkan bersama mahromnya”. Lalu bangunlah seorang laki-laki berkata: ”Yaa Rasulullah! Istriku akan pergi menunaikan haji, sedangkan aku diwajibkan mengikuti perang ini dan ini”. Lalu beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Kembalilah kamu dan berhajilah bersama istrimu”. (HR. Bukhori: 4832, 16/258)

Yang perlu kita perhatikan di dalam hadits ini, jika wanita menunaikan haji saja hendaklah di dampingi oleh mahromnya –padahal haji itu ibadah dan hukumnya wajib bagi yang mampu- maka bagaimana dengan wanita dan pria yang bercampur ketika mnegajar, bekerja, dan bekerja? Semoga dalil ini membuka hati kita untuk kembali kepada yang benar dan berhenti dari perbuatan yang hina.

6. Jika melihat wanita yang bukan mahromnya lalu merusak ketenangan jiwanya sedangkan dia sudah menikah, segeralah istighfar dan mendatangi istrinya. Jabir bin Abdullah radliyallahu’anhuma berkata: Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya wanita bila datang, dia datang dalam bentuk setan. Oleh karena itu, bila salah satu di antara kamu melihat wanita dan tertarik dengan kecantikannya, hendaklah segera mendatangi istrinya”. (Shohih, HR. At-Tirmidzi, lihat ash-Shohihah: 235)

7. Jika belum menikah hendaklah istighfar, bersabar, dan sering puasa sunnah. Firman Allah:

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

”…dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal: 46)

8. Tidak menjalin hubungan dengan wanita yang bukan mahromnya

Demikian juga sebaliknya, baik lewat telepon, surat menyurat dan hubungan lainnya, karena perkara ini pasti menyita waktu dan tidak berfaedah, membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya bagi agama bahkan merusak pikiran, ibadah, dan perbuatan baik lainnya.

وَلاَتَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ

”…Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun tersembunyi…” (QS. Al-An’am: 151)

9. Jika terlanjur sudah berkenalan dengan si fulan atau fulanah dan ada keinginan untuk menikahi, sedangkan si laki-laki sudah siap menafkahi istri dan keluarga maka hendaknya segera menyelesaikan perkaranya dengan orang tua dan orang tua si wanita, karena dengan cepat menikah akan tersalurkan keinginan keduanya; jika tidak, akan merusak pikiran dan ibadah serta akan timbul perbuatan maksiat.

فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

”…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….”. (QS. An-Nisaa’: 3)

10. Bila terlanjur menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sudah menikah atau orang tuanya menolak, hendaklah ridlo dengan taqdir Allah azza wa jalla dan memohon kepada Allah ta’ala gantinya, perbanyaklah istighfar dan beramal shalih, karena boleh jadi yang engkau senangi itu jelek bagimu. Allah berfirman:

وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

”….dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

11. Hendaklah tidak menjalin hubungan dengan wanita yang sudah menikah, tuna susila, atau yang beberda agama walaupun kecantikan, harta, dan kedudukannya menarik hati. Jika hal ini terjadi maka akan lebih parah akibatnya.

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَآءِ

”Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami…” (QS. An-Nasaa’: 24)

”…dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3)

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia mencintaimu…”. (QS. Al-Baqoroh: 221)

BERSAMBUNG DI BAG. 3……

Ditulis oleh Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, disalin dari Majalah al-Mawaddah, Edisi 11, tahun ke-1 Jumadil ‘Ula 1429 H/ Juni 2008, hlm. 21-23

Diposting di https://maramissetiawan.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s