Berdasarkan Hisab ataukah Ru’yah ?


Oleh Ust. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Ru'yah atau Hisab ?
Ru'yah atau Hisab ?

Sungguh kaum muslimin sangat resah ketika mereka harus mengawali ibadah puasa Romadhon atau berhari raya di hari yang berbeda dengan saudaranya. Terlebih bulan Romadhon dan Syawal adalah saat yang tepat bagi kaum muslimin untuk menyatukan hati. Sholat Tarawih berjama’ah, zakat fitrah, halaqoh-halaqoh kajian, sholat Idul Fithri di lapangan akan semakin bermakna jika dikerjakan secara bersamaan.

Perbedaan penentuan tanggal satu hijriah adalah polemik yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sekalipun sudah banyak tokoh mencoba menghibur kaum muslimin bahwa perbedaan ini merupakan rohmat[1], namun kenyataannya di lapangan timbul kepiluan massal yang mengarah pada perpecahan[2].

Bila kita telusuri, ternyata salah satu sumbernya adalah perbedaan cara penentuan awal bulan di kalangan ormas-ormas Islam. Sebagian bersandarkan ru’yah (melihat hilal) dan sebagian lagi bersandarkan hisab (ilmu hitung posisi bulan).

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami akan membahas masalah ini secara ringkas sebagai sumbangsih yang bersahaja. Untuk lebih detailnya, silahkan merujuk kitab-kitab yang kami isyaratkan. Semoga Allah melapangkan hati kita semua untuk menerima kebenaran dan meninggalkan kesombongan dan fanatik golongan yang itu merupakan penyakit jahiliyah. Amiin.

Definisi Ru’yah dan Hisab

Ru’yah adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali ketika terjadi ijtima’ (bulan baru). Ru’yah dapat dilakukan dengan mata telanjang atau alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka sejak petang hati waktu setempat telah memasuki bulan baru hijriah.

Sedangkan hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam dimulainya awal bulah hijriyah[3].

Cara Islam Menentukan Awal Bulan

Tatkala Allah azza wa jalla mensyariatkan kepada para hamba-Nya untuk melakukan ibadah puasa dan hari raya, maka sudah pasti Allah juga menjelaskan cara menentukan waktunya juga. Melalui lisan Rosul-Nya, Allah menjelaskan hal ini secara gamblang. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berhari rayalah. Dan apabila kalian terhalang maka sempurnakanlah tiga puluh hari”. (HR. Bukhori 4/106 dan Muslim 1081)

Hadits ini dan hadits-hadits semisalnya yang banyak menunjukkan bahwa syariat Islam hanya menggunakan dua cara dalam mengetahui masuk dan berakhirnya bulan Romadhon yaitu ru’yah (melihat hilal) atau ikmal (menyempurnakan 30 hari apabila tidak kelihatan bulan sabit). Cara ini lebih mudah dan lebih meyakinkan.

Bolehkah Penentuan Puasa dan Hari Raya Dengan Hisab ?

Bilan kita mencermati dalil-dalil tentang masalah ini, niscaya kita akan dapati bahwa penentuan awal dan akhir bulan Romadhon dengan ilmu hisab adalah pendapat yang lemah dan tidak dibangun atas kekuatan dalil. Berikut sebagian dalil tentang tidak bolehnya penggunaan hisab:

1. Dalil al-Qur’an

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“…barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, …” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Makna syahadah dalam ayat ini adalah melihat.[4]

2. Dalil Hadits

Hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang memerintahkan melihat hilal sangat banyak sekali[5]. Beliau tidak pernah menganjurkan menetapkannya dengan ilmu hisab.

“Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berhari rayalah, dan apabila kalian terhalang maka takdirkanlah.” (HR. Bukhori 4/106 dan Muslim 1081).

3. Dalil Ijma’

Ijma’ tentang tidak bolehnya penggunaan hisab dalam penentuan ini telah dinukil oleh sejumlah ulama seperti al-Jashosh dalam Ahkamul Qur’an 1/280, al-Baqi dalam al-Muntaqo Syarh Muwatho’ 2/38, Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid 1/283-284, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 25/132-207, as-Subuki dalam al-Ilmu al-Mantsur hlm. 6, Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya 2/387 dan lain sebagainya.

4. Dalil Akal

Penentuan awal puasa dengan ru’yah sesuai dengan pokok-pokok syariat Islam yang dibangun di atas kemudahan. Ru’yah bisa dilakukan oleh semua manusia. Cara ini dapat mempersatukan umat, berbeda dengan ilmu hisab yang masing-masing akan mempertahankan pendapat dan penelitiannya masing-masing.

5. Mengurai Beberapa Syubhat

Sebagian kalangan berpendapat bahwa penentuan awal dan akhir Romadhon boleh ditentukan dengan ilmu hisab. Mereka membawakan beberapa argumen yang bila diteliti ternyata argumen tersebut adalah lemah[6]. Berikut penjelasan secara ringkasnya:

A. Dalil Al-Qur’an

Mereka berdalil dengan ayat berikut,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَاخَلَقَ اللهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

”Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.” (QS. Yunus: 5)

JAWAB:

  • Adakah konteks ayat tersebut yang menunjukkan ketentuan masuknya bulan puasa dan hari raya dengn ilmu hisab ? Apakah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya memahami ayat di atas dengan pemahaman tersebut ? lantas, kenapa mereka tidak menerapkannya ? Ataukah ini cara untuk mencari-cari dalil untuk mendukung suatu pendapat yang menyimpang ?
  • Ayat di atas hanyalah menjelaskan tentang fungsi manzilah-manzilah bulan dalam mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

B. Dalil Hadits

Mereka berdalil dengan hadits:

”Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dab apabila kalian melihatnya maka berhari rayalah, dan apabila terhalang oleh kalian maka takdirkanlah” (HR. Bukhori 4/106 dan Muslim 1081).

Mereka mengartikan ”takdirkanlah” dengan ilmu hisab.

JAWAB:

  • Makna hadits ini telah ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits-hadits lainnya dengan lafazh ”menyempurnakan”. Tentu saja, penafsiran Nabi harus didahulukan karena hadits itu saling menjelaskan antara satu dengan yang lainnya. Dan inilah yang dipahami oleh para ulama ahli hadits dan fiqih bahwa makna hadits tersebut adalah ”sempurnakanlah” bulan ”perkirakanlah”.
  • Dalam riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrok 1/423 dan al-Baihaqi dalam Sunan Kubro 4/204 dengan sanad shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggabung penafsiran tersebut dengan ”sempurnakanlah”. Lalu adakah yang lebuh jelas lagi dari penafsiran Nabi ?

C. Dalil Ucapan Ulama

Mereka mengatakan bahwa penggunaan hisab telah diperbolehkan oleh ulama-ulama sejak dahulu seperti Muthorrif bin Abdillah, Ibnu Qutaibah, dll.

JAWAB:

  • Ucapan dan pendapat tersebut tidak shahih penisbatannya sampai kepada mereka
  • Anggaplah shahih, tetap ucapan ulama bukanlah dalil bila bertentangan dengan nash yang jelas.
  • Maksud ucapan mereka adalah khusus ketika cuaca tanggal 30 sya’ban/Romadhon mendung, bukan jauh-jauh hari telah ditetapkan bahwa hari awal puasa atau hari raya akan jatuh pada hari ini atau itu, sebagaimana dilakukan oleh sebagian organisasi yang menggunakan hisab.

D. Dalil Qiyas

Menggunakan dalil qiyas (analogi) waktu puasa dengan waktu sholat. Sebagaimana boleh menggunakan hisan untuk waktu sholat demikian juga boleh untuk puasa.

JAWAB:

  • Ini adalah qiyas batil, karena bertentangan dengan nash/dalil yang jelas. Perlu diingat bahwa qiyas harus terpenuhi syarat-syaratnya, apakah hal ini telah terpenuhi pada masalah ini ?
  • Dalam hal sholat pun apabila jadwal sholat bertentangan dengan waktu sholat yang benar, maka yang menjadi patokan adalah waktu sholat yang benar, jadwal sholat yang salah tidak boleh digunakan.
  • Allah membedakan antara cara penentuan waktu sholat dan puasa. Allah menjadikan tergelincirnya matahari merupakan sebab wajibnya sholat dzuhur, demikian juga waktu-waktu sholat yang lain. Barangsiapa yang mengetahui sebab tersebut dengan cara apapun, maka dia terkait dengan hukumnya. Oleh karena itu, maka hisab yang yakin bisa dijadkan pegangan dalam waktu sholat. Adapun dalam puasa, Islam tidak menggantungkannya dengan hisab, tetapi dengan salah satu diantara dua perkara: pertama melihat hilal, kedua: menyempurnakan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari apabila tidak terlihat hilal. Untuk bisa menentukan tanggal dua puluh sembilan Sya’ban kita harus melihat hilal tanggal satu Sya’ban Wallahua’lam.

E. Dalil Akal

Mereka mengatakan bahwa Islam mendukung perkembangan modern, dan dengan hisab akan terwujud persatuan kaum muslimin dalam puasa dan hari raya.

JAWAB:

  • Benar, Islam mendukung perkembangan modern, tetapi bukan berarti dengan melanggar rambu-rambu syari’at.
  • Persatuan dengan hisab menyelisihi fakta, bahkan inilah salah satu faktor utama perbedaan yang ada. Bukankah sesala ahli hisab juga kadang berbeda !? Seandainya ormas-ormas Islam mau bersepakat bersama pemerintah dalam puasa dan hari raya niscaya perbedaan bisa diminimalkan. Apalagi pemerintah dalam hal ini memilih ru’yah yang disepakati bersama bolehnya dan kebenarannya. Kenapa dalam hal ini kita tidak bersama pemerintah untuk meninggalkan pendapat kita untuk kemaslahatan persatuan bersama ? ataukah ini adalah kesombongan dan fanatik golongan yang membutakan pandangan ?!

HISAB BUKANLAH SUATU YANG YAKIN

Sebagian orang yang menyangka bahwa alat-alat modern untuk ilmu hisab sekarang bisa dikatakan pasti dan yakin. Namun pada kenyataannya di lapangan, ternyata itu hanyalah prasangka belaka[7]. Berikut beberapa buktinya:

(1). Banyak fakta dilapangan membuktikan terjadinya kesalahan dalam perhitungan ilmu hisab. Diberitakan di media bahwa ahli hisab mengatakan tidak mungkin terlihat bulan, tetapi ternyata bulan dapat dilihat dengan jelas oleh beberapa saksi yang terpercaya[8].

(2). Adanya perbedaan kalender antara sesama ahli hisab sendiri dalam satu negara.

(3). Ilmu hisab dibangun di atas alat-alat modern yang seperti halnya alat-alat lainnya terkadang terjadi kesalahan, baik penggunanya merasakan atau tidak.

HISAB BERTENTANGAN DENGAN SYARI’AT

Tatkala hisab keluar dari jalur syariat maka menimbulkan beberapa hal yang bertentangan dengan syariat, diantaranya:

(1). Ada perbedaan dalam penetapan bulan antara cara perhitungan syariat dan ilmu hisab. Bilangan  bulan dalam pandangan syariat mungkin 29 hari atau 39 hari, sedangkan dalam pandangan ilmu hisab satu bulan itu 29 hari, 12 jam ditambah 44 detik.

(2). Dalam pandangan syariat bahwa saat langit tertutup awan maka disempurnakan 30 hari, sedangkan dalam ilmu hisab mungkin ditetapkan 29 hari.

(3). Dalam pandangan ilmu hisab, awal bulan dimulai sejak hilangnya matahari sore itu, sedangkan dalam pandangan syariat awal bulan dimulai dengan terlihatnya hilal.

(4). Dalam pandangan syariat, awal bulan dapat diketahui dengan panca indera mata dan secara tabiat, tidak menyesatkan seorang dari agamanya, tidak menyibukkannya dari kemaslahatan, serta semua kau muslimin dapat ikut serta di dalamnya. Adapun dalam ilmu hisab, semua kebaikan tersebut tidak ada.

Sebagai kalimat penutup, cukuplah sebagai bukti tidak bolehnya penggunaan hisab dalam hal ini adalah kesalahan ilmu hisab tidak dimaafkan, berbeda halnya dengan kesalahan dalam ru’yah, hal itu dimaafkan. Bahkan sekalipun mereka salah, mereka mendapatkan pahala karena mereka mengikuti perintah syariat yaitu menggunakan ru’yah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh as-Suyuthi rahimahullah: ”Ketahuilah bahwa termasuk kaidah fiqih adalah bahwa lupa dan bodoh menggugurkan dosa…Adapun apabila kesalahan dikarenakan ilmu hisab maka hal itu tidak dianggap karena mereka meremehkan”.[9]

SEBUAH HIMBAUAN

Tulisan ini sengaja kami paparkan untuk mengajak seluruh umat Islam untuk kembali pada pedoman dasar beragama kita, sebagaimana firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Tinggalkanlah segala fanatik golongan karena akan menjauhkan kita dari menerima kebenaran. Munculkan dalam hati kita rasa ingin mencari kebenaran walaupun harus bertentangan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini[10], karena tidak ada yang ma’shum kecuali para Nabi dan Rosul. Semua orang bisa menolak dan ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Hendaknya kita selalu bertaqwa kepada Allah dan ingat bahwa masalah ini bukan masalah pribadi dan golongan tetapi masalah syi’ar Islam yang membutuhkan persatuan dan kebersamaan. Semoga semua itu segera terwujudkan. Amin.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 1 th ke-9 Sya’ban 1430/ Agustus 2009 hlm. 37-41 dengan mengurangi beberapa footnote.

Footnote


[1] Namun hadits “perbedaan ummatku adalah rohmat” adalah hadits yang tidak ada asalnya dari Nabi. Lihat kembali tulisan kami “Perbedaan adalah rahmat?”dalam majalah al-Furqon edisi 9/Th. 8, hlm. 12-14

[2] Lihat buku “Pilih Hisab Atau Ru’yah?” hlm. 11-12 oleh akhuna Ust. Abu Yusuf al-Atsari

[3] “Pilih hisab atau Ru’yah?” Hal. 29

[4] Lihat al-Qomus al-Muhith oleh Fairuz Abadi hlm. 372 dan at-Tahmid Ibnu Abdil Barr 7/149

[5] Bahkan berderajat mutawattir sebagaimana dalam Nadhmul Mutanatsir oleh al-Kattani hlm. 139.

[6] Lihat Manhaj Tarjih Muhammadiyah hlm. 218-225. Dan lihat bantahannya secara luas dalam “Fiqih Nawazil” 201-215 oleh syaikh Bakr Abu Zaid, “Ahkamul Ahillah” hlm. 128-143 oleh Ahmad al-Furoih, “Pilih Ru’yah atau Hisab” hlm. 71-116 oleh Abu Yusuf al-Atsari.

[7] Sebagian ahli falak juga mengakui bahwa mustahil membuat kalender yang paten untuk tahun qomariyah karena bulan silih berganti antara tahun ke tahun berikutnya. (Lihat ta’liq Ibrohim al-Hazimi terhadap risalah Ru’yatul Hilal wal Hisab al-Falaki hlm. 43-44 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

[8] Di Indonesia, organisasi Muhammadiyah terpaksa merubah penetapan tanggal 1 syawal dari hari minggu tanggal 27 Maret 1991. Organisasi Muhammadiyah juga merevisi keputusan tanggal 1 syawal yang semula jatuh pada hari Sabtu menjadi hari Ahad tahun 1992. Kasus yang sama terulang lagi pada tahun 1994, sekalipun kasus terakhir tidak terjadi dalam lingkungan Muhammadiyah (Majalah Qiblati Vol.02/No.01/10-1006M/09-1427H)

[9] Al-Asybah wa Nadhoir hlm. 1989-1990

[10] Dan diantara pokok-pokok manhaj Tarjih Muhammadiyah adalah prinsip terbuka dan toleran, tidak beranggapan hanya majlis Tarjih yang paling benar..Dan koreksi dari siapapun akan diterima, sepanjang dapat diberikan dalil-dalil yang lebih kuat. Dengan demikian, majelis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan . (Manhaj Tarjih Muhammadiyah Metodologi dan Aplikasi hlm. 13 oleh Prof. Drs. H. Asmuni Abdurrahman)

Iklan

19 thoughts on “Berdasarkan Hisab ataukah Ru’yah ?”

  1. Saya meng­ucapkan SELAMAT men­jalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pen­dapat yang telah menying­gung atau melukai per­asaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini men­jadi momen­tum yang baik dalam melang­kah dan meng­ham­piriNYA.. dan men­jadikan kita manusia seutuh­nya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku ter­chayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  2. assalamu’alaikum
    ustadz mau tanya nih? setelah mengcopy artikel tersebut ke dalam word kok tulisan arabnya terbalik ya. terimakasih sebelumnya.
    wassalamu’alaikum

    wa’alaykumussalam…
    iya…saya juga biasanya mengalami hal yang sama, dan belum tahu bagaimana mensiasatinya.

  3. Sangat setuju dengan tulisan diatas, yang terbaik bagi kita ummat Islam dan Omas ormas Islam mengikuti keputusan pemerintah dalam penetapan awal puasa dan hari raya.
    Karena di dalam mengambil keputusan diikuti oleh seluruh perwakilan Organisasi Islam dan perwakilan negara2 sahabat , sehingga apabila semua ormas Islam mengikutinya akan tercermin persatuan dan kesatuan Ummat.

    Belum pernah mendengar di negara-negara Islam semacam Arab Saudi, UEA penentuan awal ramadhan dan 1 sayawal ditetapkan oleh Ormas Islam , tetapi semua Ormas dan Ummat di Negara2 Muslim tersebut menganut penetapan pemerintanya.
    wallahu a’lam bissowab.

  4. I love you full juga, jika semua orang mengakui Indonesia sebagai negara islam, pasti tidak ada yang menentang keputusan pemerintah. kecuali hururiyun.

  5. tapi di kalender2 di Indonesia hari raya telah tercantum bahkan untuk sepuluh tahun kedepan,dan tidak pernah meleset,pasti nah gimana tuh ya?

    Pernah mas….seperti beberapa penjelasannya di beberapa footnote.

  6. saya hanya bingung kalo misalnya janjian ama temen,ketemuan tanggal 1 syawal, maka saya belum bisa memastikan kapan ketemuannya karena bulannya belum kelihatan, kalo dengan hisab bukankah akan lebih pasti. setahu saya pergerakan bumi,bulan,matahari sudah mengikuti sunatullah yang pasti tidak akan bergeser sedetikpun. sebaiknya pemerintah juga hanya memfasilitasi,biarkanlah apabila ada perbedaan,yang penting tidak saling memaksakan pendapat, nanti takutnya pemerintah memutuskan tarawih 23 rakaat

    1. imam Syafi’i tarawih 23 rakaat, Imam Maliki tarawih 36 rakaat, Imam Abu Hanifah 11 rakaat, ahmad bin hambal saya lupa.

      sekarang apakah mereka saling menjelek2kan??

      tidak. mereka tidak saling menuduh ulama yang berbeda pendapatnya dalam hal ini sebagai ahlul bid’ah

      jadi gak perlu bingung

      Mereka tidak saling menjelekkan atau mengkritik, karena memang pendapat mereka dalam masalah jumlah rakaat terawih berdasarkan dalil yang memang sesuai dengan kaidah-kaidah para Ulama. Dan memang dalam masalah ini ada khilaf yang tidak perlu diperpanjang, yang ada hanya pendapat yang lebih kuat atau yang lebih lemah, sedangkan kita tidak boleh mencela dengan yang menyelisihi kita. Sedangkan masalah hisab atau rukyah, adakah ulama2 Ahlussunnah khususnya ulama yang Anda sebutkan itu berselisih pendapat ??

  7. permasalahan lain yang timbul misalnya ketika tanggal 29 sya’ban posisi hilal sudah tinggi misal 10 derajat, akan tetapi karena tertutup mendung tebal sehingga tidak terlihat, lalu sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, dan ramadhan mundur 1 hari, hal seperti ini bisa berimplikasi pada tanggal 28 ramadhan sudah ada orang yang melihat hilal, sehingga tanggal 29 ramadhan sudah masuk bulan syawal, padahal sesuai hadist umur bulan 29 ato 30 hari

    Wallahua’lam…apakah yang demikian pernah dibuktikan ?

  8. Justru tulisan anda terlalu fanatik dengan golongan. tulisan anda terlalu memaksakan pembaca untuk mengikuti caramu (golongan).
    Kurang fear ah…

    Salam

    Jika yang demikian masih dikatakan fanatik golongan, maka manakah sekarang yang tidak fanatik ??? setiap ormas atau partai selalu mengedepankan pendapat ormas atau partainya masing….apakah mereka itu yang tidak fanatik ??
    Allah telah memerintahkan kita ketika ada perselisihan untuk dikembalikan kepada al-Quran dan as-Sunnah, dan artikel di atas adalah wujud salah satunya.

    Okelah, jika memang tetap disebut fanatik…maka ini termasuk fanatik thd al-Quran dan as-Sunnah, dan ini sungguh tidak tercela bahkan merupakan kewajiban seorang muslim.

    1. Sebenarnya saya tidak terlalu pusing mau pake ru’yah atau hisab.
      Dari judulnya pun kan ‘Berdasarkan Hisab atau Ru’yah?”
      maka tulisannya harus berimbang dong..

      ((((((((” Sebagai kalimat penutup, cukuplah sebagai bukti tidak bolehnya penggunaan hisab dalam hal ini adalah kesalahan ilmu hisab tidak dimaafkan, berbeda halnya dengan kesalahan dalam ru’yah, hal itu dimaafkan. Bahkan sekalipun mereka salah, mereka mendapatkan pahala karena mereka mengikuti perintah syariat yaitu menggunakan ru’yah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh as-Suyuthi rahimahullah: ”Ketahuilah bahwa termasuk kaidah fiqih adalah bahwa lupa dan bodoh menggugurkan dosa…Adapun apabila kesalahan dikarenakan ilmu hisab maka hal itu tidak dianggap karena mereka meremehkan”)))))))

      berarti??? Dosa dong?

      Demikianlah perkataan Imam asy-Suyuthi rahimahullah…..

  9. klo ga ga pake cara hisab,konsekuen dong, jangan pake tanggalan,klo mau sholat jangan liat jam tp keluar liat matahari,perlu anda tahu dg ilmu hisab kita bisa tahu 100 tahun lagi gerhana bulan jatuh hari apa jam berapa bahkan detik ke berapa,

  10. Siapa bilang dengan hisab, maka masing-masing akan mempertahankan pendapatnya? Dalam ilmu pasti ada rumusan yang eksak. 1 + 1 = 2. Dalam rukyah, justru di situ banyak perbedaan. Ada yang mengaku sudah melihat, namun ada yang mengaku belum melihat. 1 + 1 = ? jawabnya adalah terserah siapa yang butuh jawaban. Justru hisab dengan rukyah itu harus bisa melengkapi.

  11. Wah komentar yg bagus tuh ?!. Tapi yg menjadi pertanyaannya benarkah indonesia, sedangkan seluruh dunia mufakat waktu hari raya kemarin. Hanya indonesia ini yg berbeda. Lalu katakanlah. Kitalah yg PALING BENAR ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s