Hidupkan Sunnah Yang Terasingkan


al-Ghuroba
al-Ghuroba

HIDUPKAN SUNNAH YANG TERASINGKAN![1]

Hidup pada zaman yang akhir adalah sebuah tantangan bagi seorang muslim. Bagaimana tidak, kaum muslimin dituntut untuk selalu konsisten dengan ajaran agama yang asli. Namun, di sisi lain, mereka harus menghadapi kenyataan yang sangat tidak enak, yaitu zaman terasingnya sunnah persis seperti yang telah disabdakan Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam semenjak lima belas abad yang lalu.

Hampir di setiap tempat, kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran agamanya merasa tertekan akibat keterasingan sunnah ini. Label, cap, atau julukan yang jelek seakan sudah biasa disematkan pada mereka oleh orang umum. Bagi mereka yang tidak tahan dengan tantangan ini mungkin akan putus di tengah jalan dan kembali kepada kesesatan. Oleh karena itu, kami mencoba mengetengahkan pembahasan ini di hadapan sidang pembaca sebagai motivator (pendorong) dalam berpegang teguh di atas sunnah yang kian terasing ini. Wallohul Muwaffiq.

Kabar dari Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam

Seorang muslim hendaklah tenang dan tidak kaget menghadapi ujian ini karena pada hakikatnya ia hanya sedang menjalani sunnatulloh yang sedang berlaku. Lima belas abad yang lalu Sahabat Abu Huroiroh radliyallahu’anhu menceritakan bahwa Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan kelak ia akan kembali asing,maka beruntunglah orangorang yang asing.(H.R. Muslim: 145)

Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengatakan: “Akan datang suatu zaman(yang pada saat itu) orang yang sabar di atas agamanya semisal orang memegangbara.” (H.R. Tirmidzi: 2260, dishohihkan oleh Syaikh alAlbani dalam SilsilatulAhadits ashShohihah: 957)

Siapa “Orang Asing” yang Dimaksudkan?

Setelah kita tahu bahwa di antara sifat orangorang yang beruntung adalah asing dan berjumlah sedikit, lantas apakah setiap ada orang yang asing atau tampil beda langsung kita masukkan ke dalam kategori hadits di atas? Tidak, namun orang yang dimaksud dalam hadits ini adalah seperti apa yang telah shohih diriwayatkan dari Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam :

“Kaum sholih yang berjumlah sedikit, di tengahtengah komunitas (kumpulan) jelek yang mayoritas (banyak). Yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang patuh.”[2]

Merekalah para penggenggam bara. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Lihat Kasyful Kurbah: 1/316 dan Basho‘ir Dzawi Syarof kar. Syaikh Salim bin Id alHilali: 125)

MacamMacam Keterasingan

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Keterasingan terbagi menjadi tiga macam:

1. Keterasingan Ahlussunnah di antara semua manusia.

Inilah keterasingan yang dipuji oleh Alloh subhanahu wa ta’la dan RosulNya sebab Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam telah mengabarkan hal ini dalam hadits beliau.

2. Keterasingan yang tercela.

Yaitu asingnya kebatilan di antara pengikut kebenaran, walaupun mereka mempunyai banyak pengikut namun mereka asing, tidak dikenal oleh penduduk langit.

3.  Keterasingan yang masuk di dalamnya muslim dan kafir, tidak terpuji juga tak tercela.

Semisal asingnya seseorang yang jauh dari kampungnya. Semua orang yang hidup di dunia ini adalah asing. Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam sendiri pernah mengatakan di dalam hadits yang shohih[3]: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing (pengembara)’.” (Madarijus Salikin: 3/203209—dengan ringkas).

Sebab itu, bergembiralah wahai saudaraku yang asing. Anda semua mungkin asing di dunia … namun ketahuilah, hakikatnya anda adalah orang yang terkenal di langit!

Bukti Keterasingan

Dewasa ini, khususnya di negara kita, fenomena keterasingan sunnah sangat tampak di mana-mana. Ada banyak contoh yang bisa kita dapati. Akan tetapi, dalam lembar buletin yang terbatas ini kami cantumkan dua saja.

1. Masalah pakaian

Kaum wanita pada umumnya sudah tidak mengenal pakaian syar’i model apakah yang seharusnya mereka gunakan. Ada yang keterlaluan membuka bagian tubuh yang seharusnya tertutup kain. Tetapi anehnya, bila ada wanita yang menutup seluruh tubuh dan wajahnya maka ia akan menjadi sasaran gunjingan dan bahan obrolan. Pria juga tak mau kalah. Mereka kebablasan mengulurkan celana hingga menutupi mata kaki sehingga apabila ada yang meninggikan celananya di atas mata kaki saja langsung dicemooh sebagai orang yang kurang kain saja. Keadaan yang serba terbalik ini sudah kita ketahui bersama.

2. Masalah jenggot bagi kaum lelaki

Banyak orang yang mengatakan bahwa orang yang berjenggot identik dengan kejahatan, terorisme, atau seperti kambing. Tetapi tahukah kita bahwa memelihara jenggot itu sendiri adalah perintah dan sunnah Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam?[4]

Jangan Bersedih, Ternyata Kita Tidak Sendiri!

Banyak orang yang konsisten di atas jalan sunnah merasa amat tertekan oleh keterasingan ini. Pada akhirnya, mereka yang tidak kuat lantas kembali lagi kepada keadaannya semula (jelek). Padahal kalau kita menengok sejarah, sungguh akan dijumpai orang yang senasib sepenanggungan dengan kita. Lihatlah diri Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana awalnya beliau mendapat wahyu untuk mendakwahkan agama Islam ini. Seperti apa reaksi kaumnya? Tidak lain, mereka langsung berpaling, mengucilkan dan meninggalkan beliau sendiri serta menghinanya dengan katakata yang sangat kasar. Tahukah Anda tentang penderitaan Khobbab bin al-Arot dan Bilal bin Robbah radliyallahu’anhuma, dua orang mantan budak yang harus rela mendapatkan berbagai siksaan dari majikannya yang masih musyrik demi mempertahankan agama yang mereka berdua yakini kebenarannya? Dan ingatlah kembali akhir kisah keluarga Yasir radliyallahu’anhum yang syahid bersama istri demi memperjuangkan agama ini.

Saudaraku, sungguh demi Alloh, jika kita melihat perjalanan orang semisal mereka maka kita akan malu dan tahu bahwa masih ada orang yang lebih tertekan, lebih menderita dan tersiksa daripada apa yang telah kita alami!

Bersabarlah, Ini Hanya Sementara

Saudaraku yang asing, bersabarlah atas keterasingan ini. Genggam erat terus bara sunnah ini hingga dirimu tidak merasakan panasnya lagi. Mengapa demikian? Ingatlah, kita hidup di dunia ini hanya sementara tidak selamanya. Oleh karena itu, mari perhatikan bersamaku janji Alloh azza wa jalla bagi mereka yang memegang bara sunnah ini dengan sangat erat dan mengacuhkan pandangan miring manusia terhadapnya.

Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menggadaikan keridhoan manusia demi keridhoan Alloh, Alloh azza wa jalla akan meridhoinya dan membuat manusia ridho kepadanya. Namun, barang siapa yang menggadaikan keridhoan Alloh dengan keridhoan manusia maka Alloh azza wa jalla akan murka kepadanya dan membuat manusia murka atasnya.” (H.R. Ibnu Hibban: 276, dishohihkan oleh alAlbani dalam Syarah Aqidah Thohawiyyah: 268).

Seorang penyair pernah bersenandung:

Kesabaran memang pahit, seperti namanya.

Namun hasil akhirnya lebih manis dari madu[5]

Wasiat dari Mereka yang Telah Pergi

Al Imam al Fudhoil bin ’Iyadh rahimahullah -salah seorang tabi’in—berkata:

“Tempuhlah jalan petunjuk dan jangan terpengaruh dengan sedikitnya pengikut! Jauhi jalan kehinaan dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang celaka (di dalamnya)!”[6]

Setelah kita mengetahui rasa keterasingan yang kita hadapi, yang harus dilakukan adalah saling menyayangi. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh al Imam al Hasan al Bashri rahimahullah:

“Wahai Ahlussunnah, berlemahlembutlah antara kalian. Sungguh saya melihat kalian ini adalah orang yang sangat sedikit.”[7]

Rasa keterasingan ini jangan malah ditambah dengan sikap yang kurang atau bahkan tidak akrab terhadap saudara-saudara kita. Ingat, mereka butuh teman.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menasihatkan: “Wajib atas seluruh kaum muslimin dan muslimat di setiap tempat untuk selalu berpegang teguh dengan agama Alloh subhanahu wa ta’ala, bersabar di atasnya, serta tetap berusaha menggigitnya dengan gigi geraham. Apalagi di zaman ini, zaman keterasingan Islam dan banyaknya musuh.”[8]

Saudaraku, sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan menyampaikan kabar gembira untuk Anda semua yang berpegang teguh dengan sunnah ini. Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda[9]: “Sesungguhnya seseorang itu (kelak di akhirat) bersama orang yang ia cintai.” Maka pilihlah kepada siapa hati Anda akan condong dan cinta! Wallohu A’lam.

Oleh. Abu Usamah alKadiriy hafizhahullah

Sumber: buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 4 Bulan Muharram 1430 H

Silahkan mendownload buletin ini dan buletin lainnya disini


Footnote


[1] Untuk keterangan lebih lanjut bisa Anda lihat risalah al Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah yang berjudul Kasyful Kurbah An Hali Ahlil Ghurbah, telah tercetak dalam kumpulan risalah beliau. Edisi terjemah Indonesianya bisa Anda lihat pada buku yang ditulis oleh al Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah berjudul Temui Aku … di Telaga!

[2] AlImam alLalika‘i meriwayatkan dalam Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah: 1/126 no. 173 dan 174 dengan sanad yang dho’if (lemah) namun hadits ini dikuatkan oleh riwayat alImam Ahmad dalam Musnad no. 1604 dari jalan Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqosh a dengan derajat shohih. (Lihat Basho‘ir Dzawi Syarof: 125)

[3] H.R. alBukhori: 6416 dari Sahabat Ibnu Umar

[4] Lihat H.R. alBukhori: 5892 dan Muslim: 259.

[5] Lihat Madarijus Salikin: 2/165.

[6] Lihat dalam Ma’alim Fid Dakwah asSalafiyyah: 98 kar. Dr. Musa an Nashr hafizhahullah

[7] Kasyful Kurbah An Hali Ahlil Ghurbah dalam Majmu’ Rosa‘il Ibnu Rojab: 1/319

[8] Lihat alAqolliyat alMuslimah: 14 kar. Dr. Muhammad bin Abdulloh athThoyyar hafizhahullah

[9] H.R. alBukhori: 6171 dari Sahabat Anas bin Malik radliyallahu’anhum

Iklan

6 thoughts on “Hidupkan Sunnah Yang Terasingkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s