Halalkah Bermain Catur ??


skak mat....
skak mat….

Catur merupakan permainan strategi yang telah populer di tegah masyarakat Indonesia, baik golongan pemuda atau orang tua telah banyak yang mengetahui bagaimana cara permainannya atau aturan langkah pada bidak catur. Permainan yang dilangsungkan di atas papan yang terdiri dari 8 lajur dan 8 baris kotak/petak berwarna hitam dan putih secara berselang seling ini menjadi pengisi waktu luang bagi sebagian orang untuk menghilangkan kepenatan atau sekedar bermalasan-malasan. Bahkan permainan ini terkesan menjadi salah satu bentuk lomba ”wajib” yang harus disertakan dalam pekan-pekan lomba yang diadakan baik dalam kalangan siswa, mahasiswa atau pekan lomba di tingkat RT-RW. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang permainan ini ?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya tentang kebolehan bermain catur dengan syarat tidak kontinyu (hanya pada waktu luang saja) dan tidak melalaikan shalat. Maka beliau menjawab bahwa menurut pendapat yang kuat bahwa permainan catur hukumnya adalah haram dengan beberapa alasan.

Pertama.
Buah catur tidak ubahnya seperti patung yang memiliki bentuk. Sebagaimana diketahui bahwa memiliki gambar atau patung hukumnya adalah haram, karena Nabi Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda.
”Malaikat enggan memasuki rumah yang didalamnya ada gambaran” (HR. Al-bukhari dalam bab Bab Al-Khalqi 2336 ; Muslim dalam bab Al-Libas 85-2106)
Kedua.
Permainan tersebut telah condong membuat lalai dari mengingat Allah, maka segala sesuatu yang dapat membuat lalai dari mengingat Allah adalah haram hukumnya, karena Allah telah menerangkan tentang hikmah dilarangnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan firmannya.
”Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Al-maidah : 91) [1]
Alasan lain yang membuatnya haram adalah bahwa permainan itu berpotensi menimbulkan permusuhan sesama pemain, dimana seseorang bisa saja mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya ia ucapkan kepada saudaranya sesama muslim. Selain itu, permainan catur dapat membatasi kecerdasan seseorang hanya pada satu bidang saja (hanya dalam permainan catur saja) dan dapat melemahkan akal sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas.
Konon dikatakan bahwa orang yang tekun dalam permainan catur, jika mereka terjun ke bidang lain yang membutuhkan kecerdikan dan kecerdasan, maka kita mendapatkan mereka (justru) sebagai orang yang paling lemah akalnya. Untuk alasan itulah maka permainan catur diharamkan.
Jika permainan catur tanpa menggunakan uang atau tanpa berjudi saja hukumnya haram, apalagi bila permainan itu disertai dengan perjudian.
Ada juga beberapa orang yang menganggap halal permainan ini karena berpegang terhadap apa yang menjadi pendapat Dr. Yusuf Qordhowi dalam kitabnya ”Al-Halal wal Haram. Penulis (Yusuf Al-Qardhawi) dalam kitabnya tersebut pada halaman 217 menjelaskan tentang perselisihan ulama mengenai hukum permainan catur. Lalu penulis memilih pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah (boleh). Penulis juga mengomentari : “Menurut pengatahuan kami bahwa catur itu menurut asalnya adalah mubah, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan keharaman catur melebihi dari perbuatan lahwun dan hiburan yang ada. Catur merupakan olah raga pikiran dan melatih berfikir”. Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat kebolehan main catur antara lain.

(1). Tidak mengundur-ngundur waktu shalat

(2). Tidak disertai dengan judi

(3). Hendaknya pemain dapat menjaga lisannya dari omongan kotor
Maka hal ini telah di jawab oleh Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan [2] sebagai berikut,
”Kami jawab, bahwa persyaratan itu jarang ditaati oleh pemain catur. Misalnya kita terima mereka dapat memenuhi persyaratan tersebut. Maka dengan dibolehkan permainan catur itu, akan menuju hal yang haram dan akhirnya akan dia ingkari persyaratan tersebut, karena itu kita harus berpegang kepada qaul (pendapat) yang mengatakan bahwa catur hukumnya haram. Banyak sekali para ulama mengharamkan permainan catur. Antara lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau berbicara panjang di dalam masalah ini, mulai halaman 216 sampai halaman 245 jilid XXXII dari kitab Majmu Fatawa. Perlu kami petikkan sebagian, diantaranya:

“Misalnya kita tetapkan bahwa permainan catur itu bebas dari itu semua –maksudnya tidak melalaikan kewajiban dan tidak akan melakukan hal yang haram- maka larangan perbuatan itu ditetapkan oleh sahabat. Sebagaimana yang shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah menjumpai kaum yang sedang bermain catur. Lalu beliau mengatakan “Mengapa kamu beri’tikaf berdiam merenungi patung-patung ini”. Sahabat Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu menyamakan mereka itu seperti orang yang beriti’kaf kepada patung, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.“Peminum khamer itu seperti penyembah patung”
Padahal khamer dan judi itu selalu bergandengan disebut di dalam Al-Qur’an. Demikian juga larangan itu dinyatakan oleh Ibnu Umar dan yang lain, Imam Hanafi serta shabatnya mengharamkan permainan catur.
Adapun Imam Syafi’i rahimahullah beliau pernah berkata : “Permainan yang paling aku benci yaitu obrolan, permainan catur dan permainan burung dara sekalipun tanpa perjudian. Sekalipun kebencian kami kepada permainan itu lebih ringan dari pada permainan dadu …” Sampai kepada perkataan Syaikhul Islam, “Demikianlah kami nukil dari Imam Asy-Syafi’i.
Dan ada lagi lafadz semakna tadi bahwa beliau membenci atau menganggap makruh hukum permainan catur dan nilainya dibawah daripada permainan dadu adalah hukumnya haram muthlaq sekalipun tidak disertai taruhan uang. Karena itu Imam Asy-Syafi’i menegaskan, kabar yang paling aku benci …”Maka jelaslah sandaran beliau adalah kepada kabar (khabar), beliau sendiri menolak qiyas. Inilah yang menjadi alasan jumhur, kalau beliau mengharamkan dadu sekalipun tanpa taruhan apa-apa.
Maka catur –sekalipun tidak seperti dadu- tapi bukan berarti tidak termasuk dadu. Hal ini dapat diketahui dari makna sebenarnya permainan itu. Sebab permainan –termasuk dadu- tetap menghalang-halangi untuk mengingat kepada Allah dan shalat, serta pemusuhan dan kemarahan yang diakibatkan catur banyak sekali. Disamping itu permainan ini selalu membuat jiwa untuk meraih piala, lagi membendung akal dan hati untuk ingat kepada Allah dan shalat. Bahkan minum khamer dan ganja, awalnya sedikit tetapi akan menimbulkan ketagihan.
Maka keharaman dadu yang tidak disertai taruhan dan dibolehkannya permainan catur seperti keharaman setetes khamer dari anggur tapi dihalalkan satu ciduk arak yang terbuat dari gandum. Perkataan itu juga sangat bertentangan bila ditinjau dari segi ungkapan, qiyas dan keadilan. Demikian juga masalah catur..”. Sampai perkataan Syaikh Ibnu Taimiyah : “Dadu, catur dan semisalnya pada umumnya mengandung kerusakan yang tidak terhitung banyaknya, tidak ada maslahahnya. Lebih-lebih maslahah untuk melawan kelalaian jiwa dan keresahan, sebagaimana yang menimpa kepada peminum khamer. Sebenarnya untuk mencari ketenangan jiwa dengan perkara mubah yang tidak membendung perkara yang baik dan tidak mendatangkan kerusakan banyak sekali.
Orang mukmin sudah dicukupi oleh Allah yaitu dengan memilih yang halal dari yang haram dan dimuliakan oleh Allah dari pada yang lain. FirmanNya

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan Allah akan memberi rizki yang tak terhitung banyaknya” (Ath-Tholaq: 2)
Selanjutnya, Ibnu Taimiyah menjelaskan didalam pembahasan yang lain, yaitu ketika beliau menyebutkan hukum permainan dadu dan catur tanpa taruhan dan tidak melalaikan kewajiban serta tidak mengerjakan larangan Allah. Jika memang benar-benar demikian, maka Manhaj Salaf, Jumhur Ulama seperti Imam Malik dan para sahabatnya, Abu Hanifah dan para sahabatnya, Imam Ahmad bin Hambal dan sahabatnya dan kebanyakan pengikut madzhab Syafi’i tidak memastikannya halal tetapi beliau memakruhkannya.
Adalagi yang mengatakan, bahwa Imam Syafi’i berkata, “Saya belum tahu jelas keharamnnya”. Sedangkan Imam Baihaqi orang paling tahu diantara sahabat Syafi’i, menjelaskan Ijma sahabat akan keharaman permainan tadi, berdasarkan riwayat dari Ali bin Abu Thalib, Abu Said, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Musa dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhum. Dan tidak diriwayatkan dari seorang sahabatpun tentang masalah tersebut pertentangan. Dan barang siapa menukil dari salah seorang diantara sahabat bahwa dia meringankan masalah itu, maka tidak benar. Karena Imam Baihaqi dan lainnya dari kalangan Ahli Hadits labih tahu tentang ucapan sahabat daripada manusia-manusia yang menukil fatwa tanpa sanad.
Wahai pembaca, coba perhatikan fatwa Ibnu Taimiyah tentang hukum catur, beliau menjelaskan, “Permainan itu tidak ada manfaatnya, apabila untuk mencapai ketenangan jiwa sebagaimana yang diharapkan oleh peminum khamer. Padahal perkara lain yang mubah untuk menenangkan jiwa tanpa menghambat ibadah dan mendatangkan kerusakan tidak sedikit”. Lalu bandingkanlah wahai pembaca dengan fatwanya penulis (Syaikh Yusuf Qardhawy), beliau mengatakan : “Bahwa permainan catur itu bukan termasuk lahwun tetapi hiburan untuk melatih berfikir dan kecerdasan otak”. Coba anda bisa menimbang dua perkataan diatas, mana yang lebih benar.
Selanjutnya perhatikan lagi fatwa Ibnu Taimiyah : “Imam Baihaqi paling tahu tentang hadits diantara pengikut Syafi’i. Beliau menjelaskan bahwa sahabat telah sepakat mengharamkan permainan catur itu. Tidak ada seorangpun yang menentang pendapatnya dalam hal ini. Siapa yang mengatakan bahwa ada salah seorang shahabat membolehkan permainan ini maka itu adalah salah”. Lalu bandingkan dengan fatwa penulis yang mengatakan “Adapun para shahabat, mereka berbeda pendapat dalam hukum catur ini”. Kemudian penulis menjelaskan bahwa Ibnu Abbas dan Abu Hurairah membolehkannya. Wahai pembaca, siapa yang lebih layak mengetahui qaul shahabat, Syaikh Ibnu Taimiyah dan Imam Baihaqi ataukah penulis ??! Wallahu Al-Muata’an.
Imam Qurthuby didalam tafsirnya VII/339 menjelaskan : Ibnul Araby berkata : Mereka itu beralasan dengan perkataan shahabat dan tabi’in, bahwa mereka itu bermain catur. Padahal sama sekali tidak. Demi Allah tidak akan bermain catur orang yang betaqwa kepada Allah. Memang mereka juga mengatakan bahwa permainan catur itu dapat mengasah otak, padahal menurut kenyataan tidak demikian. Sama sekali tidak menambah kecerdasan seseorang. Ingat wahai pembaca, bahwa Ibnul Araby menolak adanya para shahabat dan tabi’in bermain catur, bahkan diapun berani bersumpah. Imam Qurthuby-pun mengambil fatwanya sebagai pegangan [3].
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Majmu Fatawa XXXII/241 menjelaskan : Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Ja’far bin Muhammad dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan : “Catur itu perjudian orang asing”. Beliaupun meriwayatkan lagi dengan sanadnya dari Ali, bahwa ia pernah melewati kaum yang sedang bermain catur, lalu beliau menegurnya : “Mengapa kamu menekuni patung ini? Sungguh jika salah satu diantara kamu menggenggam bara api sampai padam itu lebih baik daripada memegang catur”. Dan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu pula, bahwa ia pernah melewati salah satu majlis, mereka bermain-main catur lalu dia berkata : ”Demi Allah bukanlah kalian diciptakan untuk ini, ingatlah demi Allah, jikalau catur ini bukan menjadi tradisi, tentu aku akan lempar wajahmu dengan catur itu”. Dari Malik ia berkata :”Telah sampai kepada kami suatu berita bahwa Ibnu Abbas mengurusi harta anak yatim itu, lalu membakarnya.[4]
Dari Ibnu Umar, dia pernah ditanya tentang catur, lalu ia menjawab : “Catur itu lebih jahat daripada dadu”. Dari Abu Musa Al-Asy’ary berkata : “Tidak akan bermain catur kecuali orang yang keliru”. Adalagi riwayat dari Aisyah bahwa dia membenci perkara yang melelahkan sekalipun tidak memakai taruhan. Abu Sa’id Al-Khudriy juga membenci permainan itu.
Inilah qaul dari para shahabat, dan tidak ada satupun dari mereka yang berselisih pendapat tentangnnya. Selanjutnya Imam Baihaqy meriwayatkan tentang kebencian bermain catur dari Yazid bin Abu Habib dan Muhammad bin Sirin. Ibrahim dan Malik bin Anas, kami mengatakan : “Istilah karohah (dibenci) banyak dipakai ulama Salaf, dan umumnya mempunyai arti haram. Merekapun sudah menjelaskan bahwa catur itu hukumnya haram. Bahkan mereka menambahkan bahwa catur itu lebih jelek daripada dadu, sedangkan dadu itu hukumnya haram sekalipun tidak memakai taruhan.””
Demikianlah fatwa-fatwa Ulama kita tentang bagaimana hukumnya catur, dengan demikian dapat kita petik beberapa poin dari pembahasan diatas,

1.Catur bukan barang yang asing lagi di telinga kita, hampir semua masyarakat Indonesia telah mengenal permainan catur baik aturan langkah bidaknya sampai bagaimana strateginya.

2.Hukum bermain catur adalah mutlak haram, dengan beberapa alasan yang telah disebutkan diatas.

3.Bermain catur tetap haram sekalipun tanpa taruhan, apalagi dengan taruhan.

4.Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai syarat bolehnya bermain catur (oleh Dr. Qordhowi) sangat jarang dipenuhi oleh pemain catur jika kita melihat realita yang ada.

5.Permainan catur tetap dilarang –sekalipun syarat-syarat kebolehannya oleh Dr. Qordhowi terpenuhi- karena para sahabat radliyallahu’anhum telah sepakat akan keharamannya. Dan kesepakatan (ijma’) sahabat adalah dalil dalam menetapkan hukum.

6.Perkataan bahwa bermain catur dapat mengasah otak, padahal kenyataannya tidak demikian kecuali memang otaknya hanya terasah pada permainan catur itu sendiri, bukan pada bidang lain yang penting. Misalnya militer, sains, teknik, kedokteran, dan lainnya.

Semoga kita semua diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah dalam melaksanakan setiap ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya.

Referensi:

1. Kritik terhadap buku: Halal dan Haram dalam Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerbit Pustaka Istiqamah Solo

2. Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq)

3. http://www.almanhaj.or.id/content/1563/slash/0

4. http://www.almanhaj.or.id/content/1931/slash/0

5. http://id.wikipedia.org/wiki/Catur

 Footnote

[1] Al-Muhimmah, hal. 17, Syaikh Ibn Utsaimin

[2] Dalam kitab beliau “Al-I’lam Bi Naqdi Kitab Al-Halal wa Al-Haram” pada pasal koreksi 9 : Permainan Catur

[3] Berkata Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Fruusiyah, “Telah shahih dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa keduanya melarang permainan catu. Dan tidak seorangpun dari shahabat yang mengatakan berbeda tentang hal itu. Allah melindungi mereka dari perbuatan tersebut. Dan barangsiapa yang menyatakan bahwa salah seorang diantara mereka bermain dengannya, seperti Abi Hurairah, maka hal itu merupakan perkataan mengada-ada dan dusta atas mereka. Dimana orang-orang yang mengerti keadaan shahabat dan atsar maka akan mengingkarinya. Bagaimana mungkin sebaik-baik qurun dan makhluk setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan sesuatu yang dapat menghalang-halangi dari mengingat kepada Allah dan Shalat ?!?

[4] Yakni permainan catur yang terdapat pada harta anak yatim itu. Demikianlah keadaan Ibnu Abbas yang dikatakan oleh Qardhawi menyatakan bolehnya bermain catur, membuangnya dari harta anak yatim tersebut.

Iklan

25 thoughts on “Halalkah Bermain Catur ??”

  1. kalau sekedar bermain tentu saja halal, yang haram kan kalau bermain dengan taruhan, soalnya itu berjudi…

    maramis: Mas joe yang semoga dirahmati oleh Allah….., telah dijelaskan diatas bahwa hukum catur haram karena telah dinukil ijma’ (kesepakatan) para sahabat Radliyallahu’anhum, dan ‘ijma sahabat adalah dalil dalam berhukum. Oleh karena itu telah disebutkan bahwa sekalipun tanpa berjudi tetap haram. Hal ini sama saja jika kita main aduan ayam jantan sekalipun tanpa taruhan, karena dasarnya memang pada aduannya itulah yang haram bukan pada taruhannya atau tidak (terlebih lagi dengan taruhan, maka semakin jelas keharamannya). Wallahu a’lam

  2. Kalo lari maraton haram gak ya?
    Kalo bola voli haram gak ya?
    Kalo Sepakbola haram gak ya?
    Bridge, Biliard, Bowling, kayaknya haram semua tuh.
    Kan nabi gak pernah lari maraton, gak pernah voli, gak pernah sepakbola

    maramis: mas gatotkaca, semoga Allah merahmati mas. Semua olahraga pada asalnya adalah halal, karena memang kaidahnya bahwa segala sesuatu yang bukan ibadah selama tidak ada larangan dalam Islam maka hukumnya halal, tetapi sebaliknya bahwa segala Ibadah (bentuk pendekatan diri kepada Allah) harus membutuhkan dalil untuk dikerjakan. Tanpa kaidah ini, maka akan banyak orang yang akan bertanya seperti mas, kalo pizza halal ato haram?, kebab halal ato haram? burger? dan semua jenis makanan yang belum pernah dimakan dan belum ada pada zaman Rasulullah akan ditanya. Maka Islam datang dengan kaidah-kaidah….dan dalam hal ini catur termasuk suatu yang “bukan ibadah” (sama halnya dengan makan seperti contoh sebelumnya) yang hukumnya halal jika tidak ada dalil larangannya. Tetapi karena telah dinukil ada ijma’ (kesepakatan) para sahabat radliyallahu’anhum (dan ijma sahabat adalah dalil dalam berhukum) seperti penjelasan di atas maka haramlah permainan catur. Maka olahraga apapun yang mas sebutkan jika memang tidak ada larangan secara khusus dalam al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’, juga tidak menyalahi syariat yang lain (misalnya: memudharatkan orang lain, dengan berjudi, terbuka aurotnya, melalaikan sholat, dsb) maka halal.
    Semoga mas paham, dan dipahamkan oleh Allah atas agama ini.
    Wallahu a’lam

  3. Yang mengharamkan catur..udah pasti tidak tau main catur…

    Catur itu olah raga otak ….

    Jangan mencari dalil-dalil untuk mengharamkan segala sesuatu..

    Lebih haram buat blog dari pada main catur…

    maramis: Mas Abdul Syair yang semoga dirahmati oleh Allah…..seperti telah disebutkan diatas, salah satu kesalahan berfikir bahwa catur itu olahraga otak sehingga orang yang bermain catur bener-bener jenius perlu dikaji ulang. Apakah benar sejenius itukah orang yang bermain catur ?? benarkah mampu jika suatu ketika disuruh mengaplikasikan kejeniusannya itu dalam kasus nyata?? (kecuali hanya jenius pada permainan catur itu sendiri). Yang benar bukan mencari-cari dalil untuk mengharamkan sesuatu, tetapi mencari dalil untuk menghukumi sesuatu apakah halal atau haram, dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, selalu berusaha untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Telah dijelaskan beserta dalil-dalilnya larangan bermain catur diatas….lalu sekarang mas mengatakan bahwa lebih haram buat blog daripada catur (tanpa menyertakan dalil…vonis dengan hawa nafsu), padahal mas sendiri punya blog…apakah mas melakukan sesuatu yang mas sendiri menganggapnya haram !!??? Padahal saya menanggap blog bukanlah suatu yang haram.

    1. kalau main catur

      -tidak disertakan judi
      -mengisi waktu luang
      -tidak melupakan sholat

      halal kan

      kalo mengucapkan kata kasar berarti permainan sepak bola haram dong semua bidang olah raga dan permainan haram dong, kan bisa saja kita melupakan sholat karena olahraga dan bermain, islam meng haramkan kita jika hal tersebut merusak tapi islam menghalalkan kita jika hal tersebut menyehatkan, jadi kalo maen bola trus pelanggaran pasti kan berkata-kata kasar trus juga bisa aja lupa waktu sholat karena keasikan, trus taruhan kalo yang kalah harus bayar lapangan, padahal sepak bola menyehatkan tapi diharamkan dong, sama seperti halnya catur

  4. Assalamu’alaykum.
    Ana ijin copy boleh g?

    Sdh 5 thn ana mnjadi atlet catur smp skarang. namun stlh an tahu hukum catur beberapa bulan yg lalu, alhamdulillah Alloh memberi petunjuk dan ana memutuskan ini adl tahun terakhir utk bermain catur. Sbab ana blm bs saklek berhenti bermain catur karena pemahaman orang tua an masih kurang. Memang benar spt yg telah dkatakn penulis bahwa catur tak lepas dr judi, perkataan kotor dan saling menjelekkan ssm pemain catur yg mnjadi lawannya dlm bermain.. Yg ingin ana tanyakan, bagaimana dg uang hadiah dari perlombaan catur. Sbab sy mendapat hadiah uang juara dn beasiswa karena permainan catur sy.. Apakah uang tsb haram? Lalu uangnya mau d apakan kalau bgni? Ana tunggu saran dan bantuannya. Tolong dikirim ke email ana sj. Jazakallohu khoir katsir.

  5. Assalamualikum Wr. Wb.

    Terus terang saya termasuk hobi catur dan kaget juga kalo olahraga ini termasuk haram.

    1. Bisa tolong dijelaskan haramnya catur di jabarkan pada ayat berapa dan surat apa dalam Al Qur’an.

    2. Kenapa MUI tidak pernah menyebarluaskan informasi ini kepada masyarakt.

    Saya tunggu jawabannya.

    Wassalam,
    Husen (26/04/09)

    maramis:
    Wa’alaykumussalam warohmatulloh wa barokaatuh.
    1. Dalil al-Quran adalah seperti di dalam tulisan di atas…bahwa permainan ini telah condong membuat lalai dari mengingat Allah, dan segala sesuatu yang dapat membuat lalai dari mengingat Allah adalah haram hukumnya, karena Allah telah menerangkan tentang hikmah dilarangnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan firmannya.

    ”Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (Al-maidah : 91)

    Disamping itu, dalam menentukan hukum dalam Islam tidak hanya al-Quran yang dijadikan landasan, tetapi juga Hadits Rasulullah dan Atsar para Sahabat….dan diatas telah dilengkapi dengan hal ini.

    2. Adapun MUI bukanlah hujjah atau dalil dalam kita meninggalkan suatu larangan atau mengerjakan suatu ibadah, MUI bukanlah Islam itu sendiri. Lembaga ini adalah lembaga yang pada beberapa permasalahan sangat membantu kaum muslimin terutama yang awam dalam mengetahui halal dan haramnya sesuatu, tetapi bukan berarti semua permasalahan telah diakomodasi oleh mereka (semoga Allah menjaga mereka). Kita doakan saja agar MUI segera memberikan fatwa-fatwa yang bijak dengan tetap menggunakan kaidah-kaidah syar’i yang benar tanpa ada kepentingan-kepentingan politis atau kelompok tertentu atau yang lain dalam memutuskan fatwanya. Terkadang kita juga repot…MUI memutuskan bahwa rokok haram aja sudah disebut bahwa fatwa MUI “meresahkan ummat”….dan sekarang kita melihat bahwa fatwa tersebut terkesannya terpengaruh oleh unsur2 politis atau kelompok Islam tertentu. Ya memang beginilah jika ummat langsung di “cekoki” hukum-hukum yang mereka belum siap menerimanya…oleh karena itu solusinya adalah dengan terus mendakwahkan Tauhid dan Aqidah yang shahih…jika dia telah memiliki Aqidah lurus dan ikhlas insyaAllah mereka lebih mudah dalam menerima halal atau haram kelak. Wallahua’lam.

  6. iya nih masa mas kita ini perlu belajar ilmu agama dulu , setelah itu baru bisa paham dan mengerti apa yg dimaksud dalam penjelasan tadi, kalau tidak mas mas akan merasa apa yg tadi dijelaskan tidak masuk akal.saran saya cobalah pahami ilmu agama yg benar! ok

  7. “sami’na wa atha’na ”
    Cukup lah para Shalafus Sholeh sebagai tauladan bagi saya dalam mengikuti ajaran Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam

  8. yang membikin islam itu tidak maju ya orang2 islam itu sendiri.kolot dan picik.otak tidak dipakai untuk berpikir.jika catur haram,permainan apa yang dihalalkan menurut anda?

    maramis: orang yang kolot itu mas….adalah yang kolot dalam menerima dalil dan perkataan atau nasehat para ahlu ilmi dalam ilmu Islam. Dan kedua hal tersebut telah dipaparkan diatas. Semoga Allah memberi saya dan mas fatwa hidayah.

  9. Assalamu’ alaikum Wr. Wb.

    di kesimpulan poin 5, anda menyebutkan bahwa sahabat sendiri yg melarang permainan catur.
    Tapi di artikel anda saya tidak menemukan pernyataan sahabat yg melarang permainan catur.
    Bisakah anda sebutkan riwayat yang menyatakan sahabat melarang permainan catur tersebut?
    Jzk.

  10. Saya mendapat informasi kalo
    Ibnu Umar menganggap catur sama dengan dadu. Sedang Ali memandangnya sama dengan judi. (Mungkin yang dimaksud, yaitu apabila dibarengi dengan judi). Apakah hal itu benar?
    Di sisi lain, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Ibnu Sirin, Hisyam bin ‘Urwah, Said bin Musayyib dan Said bin Jubair menganggapnya mubah. Apakah hal itu benar?

    Jika kedua pernyataan di atas benar, maka di kalangan sahabat sendiri ada perbedaan, maka ada perbedaan fiqih pula. Kesimpulan : jika anda mengharamkan catur secara universal = anda memaksakan fiqih yg anda anut ! (jika pernyataan alinea 1 benar. Jika anda dpt membuktikan bahwa pernyataan alinea 1 salah, maka pernyataan saya di alinea 2 tdk berlaku)

    After all, semoga Allah mengampuni dosa, kesalahan, juga kelalaian seluruh umat muslim termasuk kita. Semoga Allah senantiasa memalingkan hati kita pada kebenaran.

  11. Saya tidak suka permainan catur, tapi saya hanya ingin kita melihat permainan catur ini secara OBYEKTIF, jangan hanya mengandalkan pengetahuan kita yang sangat sempit dan hanya menafsirkan dari hadist-hadist yang masih menjadi perdebatan…

    Kita tinggal melihat saja, negara tempat LAHIRNYA ISLAM mengharamkan CATUR apa tidak… Saudi Arabia tidak mengharamkan catur… Iran, Irak tidak mengharamkan catur… Brunei juga tidak mengharamkan… Malaysia tidak mengharamkan… Di Dubai setiap tahun selalu diadakan turnamen catur tingkat internasional… Sahabat Nabi Khalid Bin Walid r.a. adalah seorang ahli bermain catur dan strategi perang… Khalifah Harun Al-Rsyid juga adalah ahli bermain catur… Coba saja kita tanyakan alasan mereka (negara-negara Islam itu) tidak mengharamkan catur…

    Mari kita secara obyektif memandan permainan ini. Kalo menurut saya CATUR ini MUBAH. Sesuai dengan hukum Islam bahwa segala sesuatu hukumnya MUBAH, kecuali ada dalil yang SANGAT KUAT dari Al-Quran yang mengharamkannya… Kalo masih hadist, masih menjadi perdebatan dan khilafiah…
    Jumlah ulama yang mengharamkan dan membolehkan catur juga belum dicek…

    Terima kasih. Wassalamualaikum…

  12. saya pernah menjadi atlet catur untuk kelas yunior (usia < 20 tahun) selama 6 tahun (kelas 7 SMP sampai kelas 12 SMA) tingkat kota dan provinsi di salah satu daerah di pulau jawa.
    saya menikmati permainan tersebut karena posisi saya sebagai atlet sangat menguntungkan bagi saya, sebab:
    1. Dapat beasiswa perstasi
    2. nama jadi keren
    3. Dapat uang saku tiap ikut kejuaraan
    4. dapat bonus yang "lumayan" kalau mendapat juara..

    saya tahu hukum permainan catur saat awal kelas 11 SMA.. saya binggug dan saya cari2 dalil dan dalih yang bisa saya jadikan alasan agar tetap bisa bermain catur..
    dan akhirnya saya dapatkan pendapat yusuf Qordhowi yang menghalalkan permainan catur, asalkan tidak sampai melalaikan waktu..
    setelah itu, saya jadi lebih tenang dan tetap melanjutkn aktivitas bermain catur..

    namun seirang berjalannya waktu, saya mengamati keadaan lapangan dalam turnament2 dan kejuaraan yang saya ikuti.. bahwa:

    -Terdapat perjudian dalam permainan catur.
    yang paling sering terdapat pada round terakhir. para pemain bisa membeli kemenangan lawan dengan sejumlah uangsesuai kesepakatan.

    -melalaikan waktu..
    catur standar berjalan 2×90 menit yang berarti 3 jam lama permainan. saya sangat binggung jika permainan mulai jam 2 siang dan berakhir jam 5 sore. alhasil saya sholat asharnya telat. bahkan ada beberapa pemain yang tidak melaksanakan sholat ashar dan menggabungnya dengan sholat magrib..

    -membuat pintar???
    pintar dibidang apa? untk ke mata pelajaran saya rasa nggak ada pengaruhnya..

    -menimbulkan permusuhan
    saya pernah memendam dendam karena kalah, dan akhrnya gagal mendapat gelar juara. saya sangat benci dan kesal,. dan ini juga terjadi pada temen2 saya.. mereka saling benci terhadap satu pemain dengan pemain yang lain..

    -ikhtilat
    ini terjadi disetiap open turnament.. saya seorang wanita namun bermain catur hingga larut malam dan lawan saya adalah bapak2, laki2, para pemuda.

    -dan masih banyak kemungkaran yang terjadi dilapangan

    akhirnya sebagai seorang muslim yang tat,saya beranikan diri untuk mundur dari dunia catur.. masalah beasiswa,bonus juara dan lain sebagainya,bukankah Alloh yang mengatur rejeki tiap manusia?? saya berpikir lebih baik sedikit namun jelas kehalalannya daripada banyak namun syubhat atau menyimpan keraguan ats kehalalannya..
    saya tak ingin nafsu saya mengalahkan hukum dari Alloh.. saya percaya pada janji Alloh bahwa Dia akan memberikan rizki dari arah yang tak disangka2 bagi hambanya yang taat… saya juga tidak mau menjadi budak2 dunia.. saya cuma pengen slamet..

    alhamdulillah setelah rutin mengaji,dan bergaul dengan orang2 sholeh sholehah saya semakin mantap bahwa keputusan saya benar..

    saya setuju bahwa solusi mengatasi kebinggungan adalah dengan terus mendakwahkan Tauhid dan Aqidah yang shahih…jika dia telah memiliki Aqidah lurus dan ikhlas insyaAllah mereka lebih mudah dalam menerima halal atau haram kelak.

    Wallahua’lam.

    Nice share akhi….Barokallahufik

  13. wah…….jadi berantakkan nih…….menurut saya……catur bukan haram atau halal….yang membuat halal dan haram permainanan catur itu adalah pemainyaitu sendiri…
    klo kita bermain hanya untuk menambah ilmu saja ya dak papa….
    tapi klo bermainnya dengan taruhan….ya pasti diharamkan…jangankan main catur tanding baca alqur”an aja di haram kan kalau pakai taruhan…….karna apa diharamkan…….
    kara di salah satu pihak pasti ada rasa timbul iri hati pada pemenangnya…..jadi pak ustad klo menerangkan yang jelas dan singkat….jadi yang di jelaskan pun tidak menerima dengan emosi…….Gitu aja kok repot…….wasalam

  14. selama catur tidak dimainkan dengan taruhan dan tidak meninggalkan ibadah….masa dosa ??? kayaknya pemilik blog ini kalah terus maen catur…makannya catur haram menurut dia

    1. silahkan ditelaah kembali tulisan diatas….
      diharamkannya bukan hanya karena taruhan atao tidak dan meninggalkan ibadah atau tidak…tetapi adalah bentuk permainannya itu sendiri, sebagaimana pendapat imam2 diatas

      1. Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat kebolehan main catur antara lain.

        (1). Tidak mengundur-ngundur waktu shalat

        (2). Tidak disertai dengan judi

        (3). Hendaknya pemain dapat menjaga lisannya dari omongan kotor

        Jadi pada intinya semua permainan dan kegiatan yang pada awalnya halal bisa menjadi haram jika dengan permainan atau kegiatan tersebut menyebabkan seseorang/orang yang melakukan permainan atau kegiatan tersebut menjadi lalai terhadap ibadah dan larangan agama

        penulisnya mutar-mutar. Hati-hati dalam berdakwah,, karena setan bisa datang dari mana saja !!!!.

      2. tolong bung, dicermati kembali…..penjabaran tersebut kami bantah dengan pendapat syaikah Fauzan, memang kami tulis disitu….tapi dalam rangka klarifikasi bung!!, bukan menunjukkan bahwa itu yg benar.
        Barokallahufik

  15. Assalamualaikum, sebelumnya saya mohon maap ni atas komennya tapi saya juga apresiasi atas kepeduliannya tentang halal/haram catur, saya harap tidak hanya catur aja tapi cabang olah raga yang lain agar di bahas juga, bukankah permainan catur sekarang bukan sekedar permainan yang biasa di lombakan di tingkat rt/rw aja tapi sudah di tingkat internasional, yang mana sudah banyak atlit catur yang menjadikan catur sebagai profesinya dan bahkan yang juara bisa dapat uang dari lombanya, sederhana saja kalau masalah bidak catur yang menyerupai mahluk kuda katanya yang menyebabkan catur haram, bagaimana kalau kepala kuda diganti aja ama yang lain selain mahluk, apa masih haram? trus masalah lisan yang kadang susah di jaga pada saat main catur kayaknya olah raga yang lain juga kadang banyak saya temukan lisan pemain bahkan penonton gak terkontrol berarti setiap olah raga yang bisa menyebabkan lisan gak terkontrol juga bisa diharamkan dong? trus masalah kecenderungan akan permusuhan setau saya yang penting niatnya baik itu sah2 saja, lagian menurut saya olah raga yang populer kayak sepak bola justru yang paling rawan terjadi permusuhan dan bahkan efeknya sangat luar biasa kalau di banding catur. Mohon mas maramis mencari dalilnya lalu kita diskusikan lagi. saya rasa sekian dulu komen saya walaupun masih banyak yang tersimpan di benak saya berhubung udah magrib jd sy sudahi dulu, di tunggu jawaban bijaknya saya yakin mas maramis sudah siap dengan jawabannya, trims..

  16. waduh susah juga ya catur haram,, klo ada yang ternyata bakatnya dicatur harus siap2 nih melepaskan segala potensinya hehehe ,,, klo ibadah ritual terus juga membatasi potensi disatu bidang sama kyk main catur.. saya ga sepaham sama anggapan main catur mengurangi akal,,, belum lagi anggapan catur itu sama dengan berhala dengan mengaitkan2nya dnegan ilmu gatuk ke hadist yang bicara soal patung,, klo saya main catur pake batu gimana??,, mana dasarnya imam2 itu mengatakan org2 akan lebih cenderung melanggar hukum Allah karena catur membuat melalaikan shalat,, membuat berbicara kotor dll… Aneh semua itu,,, klo cuma di dasarkan pada asumsi subyektif, berdasarkan kesukaan dll ga bisa disamakan setiap orang ga valid,, dan jawaban buat “jika perbuatan itu disukai maka sudah ditetapkan oleh para sahabat”.. memangnya semua pebuatan zaman sekarang sudah ada zaman itu,,?? dan memangnya konsep perbuatan yang ada zaman sekarang sama dengan yang ada zaman itu?? GA USAH MERASA PALING BENAR KLO MASALAH INI MASIH DIPERDEBATKAN..

  17. Assalamualykum Wr.Wb
    Saya begitu hobby and menikmati permainan ini,,al hasil saya mempunyai para teman dari luar daerah bahkan luar negeri dan komunikasi kami bgitu baik..sebelum ????? saya belum tahu bahwa permainan ini di haramkan,,dengan permainan ini saya mempunyai prestasi..jadi ada sedikit pertanyaan apakah selama ne yang belum sya ketahui untuk permainan ini berdosakah saya selama ini yang memainkan permainan ini sedangkan saya belum tahu akan hukum ajaran islam yang mengharamkan ini..?? Dan jika haram kenapa tidak di publikasikan kepda seluruh ????? ,,,,,,???
    Mulai sekarang saya akan meninggalkan permainan ini dan akan menghapus gelar saya sebagai seorang pecatur,,,,!
    Terima kasih atas info yang tertera di blog tersebut…assalamualaykum..wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s