Barjanji

Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam


Fenomena perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menjadi ritual yang sudah melekat pada sebagian –atau mungkin bahkan sebagian besar- kaum muslimin khususnya di Indonesia. Polemik bagaimana hukum perayaan maulid yang semakin terkesan sebagai hari raya kaum muslimin tambahan selain dua ‘Ied ini telah sering muncul ke permukaan. Namun jika kita berfikir dengan pikiran yang jernih tanpa fanatik kepada golongan manapun, niscaya kita akan mendapati persetujuan kita sendiri bahwa memang benar bahwa perayaan ini tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim. Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang kita pegang dalam masalah ini, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak (Riwayat Muslim).

Rasulullah yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
”Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rhosyidin al-Mahdiyyin (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Maka dari sinilah muncul suatu kaidah yang agung, sebagaimana juga yang dikatakan Ibnu Katsir rahimahullah, “Lau kaana khoiron lasa baquuna ilaihi” yang artinya “Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para pendahulu kita (Shahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabiin) telah melakukannya”. Dan kita tahu semua bahwa perayaan ini tidak pernah kita dapati terdapat dalam hadist Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ataupun atsar dari para shahabat radliyallahu’anhum sekalipun. Maka dengan penjelasan sederhana diatas seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita semua atas amal-amal yang telah kita lakukan termasuk amal kita merayakan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, apakah telah ada contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya?.

Adapun kali ini kita tidak akan membahas panjang masalah hukum maulid ini, tetapi mari kita menelaah salah satu kitab yang sering dibacakan dalam perayaan maulid Nabi ini yaitu kitab Barzanji yang ternyata berisi berbagai penyelewengan agama yang mana sebagian besar kaum muslimin yang mengamalkannya masih memiliki pemahaman makna atau terjemah atas syair-syair tersebut yang dangkal. Artikel ini kami ambil dari pembahasan majalah as-Sunnah edisi 12 th XII Rabiul awwal 1439/Maret 2009. Semoga Bermanfaat.

“Ya Allah jauhkanlah aku dan kaum muslimin di Indonesia dari kesyirikan kepada-Mu baik yang nampak atau tidak, dan lindungilah kami dari amalan yang tertolak yang tidak ada syariatnya dari Mu dan dari Rasul-Mu shallahu’alaihi wa sallam.”

Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi shallallahu’alayhi wa sallam

Oleh. Ust. Zainal Abidin, Lc

SEPUTAR KITAB BARZANJI

Secara umum peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam selalu disemarakkan dengan sholawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji maupun Daiba’, ada kalanya ditambah dengan senandung Qasidah Burdah.Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba’, Barzanji dan Qasidah Burdah dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang diawali dengan dengan membaca kitab Daiba’, lalu Barzanji, kemudian ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab induk peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak diantara mereka yang lebih hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba’ lebih parah daripada kitab Barzanji. Berikut uraiannya:

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga:

  1. Cerita tentang perjalanan hidup Nabi  shallallahu’alaihi wa sallam dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah.
  2. Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan)
  3. Sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI

Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barzanji al-Madani, dia adalah khatib di Masjidil Haram dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah. Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan diatara karyanya adalah Kisah Maulid Nabi Shalallahu’alahi wa sallam (Al-Munjid fii al A’laam, 125)

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermahzab Syiah tentu Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Ini dibuktikan dalam do’anya “Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man”. (Majmuatul Mawalid, hal. 132)

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI

Kesalahan kitab Barzanji tidak separah yang ada pada kitab Daiba’ dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Quran. Bahkan, dianggap lebih mulia daripada al-Quran. Padahal, tidak ada nash syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji, Daiba’ atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Quran yang jelas pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Quran apalagi pada saat perayaan maulid Nabi. Padahal Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa membaca 1 huruf dari al-Quran maka dia akan mendapatkan 1 kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. Tetapi, Alif 1 huruf, Laam 1 huruf, Miim 1 huruf .” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam shahihul jam’i hadist ke 6468)

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI

Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain :

Pertama : Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.


وَقَدْ أَسْبَحَاوَاللهِ مِنْ أَهْلِ اْلإِ يْمَانِ
وَجَاءَلِهَذَا فِي اْلحَدِيْثِ شَوَا هِدُ
وَمَالَ إِلَيْهِ الْجَمُّ مِنْ أَهْلِ الْعِرْفَانِ
فَسَلَّمْ فَإِنََّ اللهَ جَلَّ جَلاَلُهُ
وَإِنَّ اْلإِمَامَ اْلأَ شْعَرِيَ لَمُثْبِتُ
نَجَاتَهُمَانَصَّابِمُحْكَمِ تِبْيَانِ

“Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Ta’ala termasuk ahli iman

Dan telah datang dalil dari hadist sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini

Maka ucapkanlah salam, karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesugguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Quran).” (Lihat Majmuatul Mawalid Barzanji, hal 101)

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadist dari Anas radliyallahu’ahu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))

Imam Nawawi berkata : “Makna hadits ini adalah bahwa, barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan kedekatan kerabat tidak berguna baginya. Begitu juga orang Arab penyembah berhala yang mati pada masa fatrah (jahiliyah), maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyimpangan dakwah mereka, kaena sudah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ‘alahissalam dan yang lainnya.” (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi. 3/74)

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Nabi Shalallahu’alahisasalam dan keduanya beriman dan selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat akan kedhaifannya seperti Daruquthni, al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, al-Khatib, Ibnu Asaki, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili, al-Qurtubi, ath-Tabhari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi beriman, harus dibuktikan kebenarannya. Memang benar, Imam Suyuthi berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu’alahi wa sallam beriman dan selamat dari Neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para ulama peneliti hadist. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))

Kedua : Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka meyakini bahwa Rasulullah hadir pada saat membaca shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) mambaca ;


مَرْحَبًَايَامَرْحَبًَا يَامَرْحَبًَا
مَرْ حَبًَايَاجَدَّ الْحُسَيْنِ مَرْحَبًَا

“Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang”

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang pembela perayaan Maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Ta’ala di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini yang hadir adalah ruhnya.


يَانَبِنيْ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ
يَارَسُوْل سَلَمٌُ عَلَيْكَ
يَاحَبِبُ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ
صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

“Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu.

Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.”

Para pembela Barzanji seperti penulis “Fikih Tradisional” berkilah, bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketiak bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati Nabi lebih layak dilakukan, sebagai ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau. Bukankah Nabi Muhammad Shalallahu’alahisasalam adalah manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain? (Lihat Fikh Tradisional, Muhyiddin Abdusshamad (277-278))

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin menghormati Rasul Shallallahu’alahi wa sallam disamakan dengan hormat bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shalallahu’alahisasalam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin kembali dan hadir ke dunia lagi. Di samping itu, kehadiran Rasul Shalallahu’alahisasalam ke dunia merupakan keyakinan bathil karena termasuk perkara gaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan wahyu Allah Ta’ala, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan, pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan mencintainya.

Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Demikian juga dengan cara perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam adalah para shahabat, sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy : “Wahai kaumku, demi Allah, aku pernah menjadi utusan kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada Kaisar, aku pernah menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah melihat seorang Raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana pengikut Muhammad. Tidaklah Muhammad meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera melaksanakannya. Apabila beliau berwudhu, mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata, mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka.” (HR. Bukhari : 3/187, no. 2731, 2732, al-Fath 5/388)

Bentuk pengagungan para shahabat kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul Shallallahu’alahi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi Shalallahu’alahisasalam, “Berdirilah kalian untuk tuan atau orang yang paling baik di antara kalian” (Shahih HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya), maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi berpendapat bahwa pada hadits di atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan orang yang mempunyai keutamaan, (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313). Namun, tidak dilakukan kepada orang yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan perintah Rasul kepada orang-orang Anshar agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Mu’adz radliyallahu’anhu turun dari keledainya, karena ia sedang terluka parah, bukan menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya secara berlebihan. (Lihat Ikmalil Mu’lim bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi ‘Iyadh, 6/105).

Ketiga : Penulis Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.


فِيكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ
يَابَشِيْرُ يَانَذِيْرُ
فَأَغِثْنِيْ وَ أَجِن
يَامُجِيْرُمِنَ السَّعِيْرِ
يَاغَيَاثِيْ يَامِلاَذِيْ
فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُوْرِ

“Padamu sungguh aku telah berbaik sangka.

Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan

Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku.

Wahai pelindung dari neraka sa’ir.

Wahai penolongku dan pelindungku.

Dalam perkara-pErkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi Allah Ta’ala dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau dan bersumpah dengan nama beliau merupakan sikap yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk dan manhaj dakwah beliau Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu Tauhid. Nabi telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut., sehingga beliau Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. AKu hanyalah seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Bukhari dalam shahihnya 3445)

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa ‘alahissalam sebagai sekutu bagi Allah dalam peribadatan mereka. Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Ta’ala, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam telah memberi peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya : “Janganlah kalian jadikan kuburanku tempat berkumpul, bacalah shalawat atasku, sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku dimanapun kaum berada”. (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih (2042) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram : 125)

Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan beliau. Bahkan, ketika ada orang yang berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shalallahu’alahisasalam, mereka berkata : “Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engakau adalah orang terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami”, maka Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda kepada mereka : “Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan syaitan mengelincirkanmu.” (Shahih, disahhihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram 127, lihat takhrij beliau di dalamnya).

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampaui batas terhadap Nabi adalah bersumpah dengan anma beliau, karena adalah bentuk pengagungan yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, jikalau tidak bisa hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya 2679 dan 1646)

Cukuplah dengan hadist tentang larangan bersikap berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam menjadi dalil yang tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan hadist tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Keempat : Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggap bahwa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam merupakan ibadah yang sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini yang mereka jadikan dalil untuk membaca kitab tersebut pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bershalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu’alahi wa sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan shalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, ia akan terhalang dari melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan akhirat, karena :

1) Terkena doa Nabi Shallallahu’alahi wa sallam yaitu sabda beliau : “Sungguh celaka bagi seseorang yang disebutkan namaku disisnya, namun ia tidak  bershalawat atasku.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 2/254, At-Tirmidzi dalam Sunannya 3545 dan dishahihkanoleh al-Albani dal ‘Irwa : 6)

2) Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, beliau bersabda : “Orang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku disisinya, ia tidak bershalawat atasku”. (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya 3546, Ahmad dalam Musnadnya 1/201, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ‘Irwa : 5)

3) Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Ta’ala, karena meninggalkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Nabi bersabda : “Barangsiapa membaca shalawat atasku skali, maka Allah Ta’ala bershalawat atasku 10 kali”. (HR. Imam Muslim dalam Shahinya 284)

4) Tidak mendapatkan keutamaan shalawat dari Allah Ta’ala dan para malaikat. Allah Ta’ala berfirman : “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang teramg dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”(QS. Al Ahzab 33:34)

Bahkan membaca shalawat menyebabkan hati menjadi lembut, karena membaca shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi tentram dan damai sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dangan mengingat Allah Ta’ala. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.(QS. Ar-Ra’du 13:28). Tetapi dengan syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Ta’ala semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khurafat serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, sehingga bukan mendapat ketentraman di dunia dan pahala di akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah Ta’ala. Siksaan tersebut bukan karena mambaca shalawat, namun karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada malam peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam saja, yang jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap syariat.

Kelima : Penulis kitab Barzanji juga meyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya :


وَمَازَالَ نُوْرُالْمُسْطَفَى مُتَنَقِّلاًَ
مِنَ الطَّيِّبِ اْلأَتْقَي لِطَاهِرِأَرْدَانٍِ

“Nur musthafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni”

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj yang berkata : “Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memilik cahaya yang kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi sebelum Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam menimba ilmu dari cahaya tersebut”.

Demikian juga perkataan Ibnu Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi Adam ‘alahissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya kenabian Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam yaitu penutup para Nabi. (Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullah oleh Abdur Rauf Utsman (169-192))

Perlu diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya. Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan merek seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa ‘alahissalam, seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip Trinitas mereka. Bahkan mereka adalah kepunyaan Allah Ta’ala dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun, mereka menyembah Tuhan-Tuhan mereka dengan keyakinan bahwa Tuhan-Tuhan mereka itu mempu memberi syafaat dan menolong mereka. Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalah kitab Barzanji, semoga bermanfaat.

Disalin dari Majalah AS-SUNNAH Edisi 12 Th. XII Rabiul Awal 1430/Maret 2009 oleh Al-Ustadz Zainal Abidin, Lc

Iklan

113 thoughts on “Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam”

  1. alhamdulillah saya telah tobat…

    ayah dan ibu nabi masuk sorga, ada hadisnya!
    http://salafytobat.wordpress.com/category/ayah-dan-ibu-nabi-muhammad-saw-masuk-sorga/

    Nabi adalah di beri haq untuk memberi syafaat
    lihat hadis dan ayat al-qur’an…jangan takid dgn zainal abidin…
    ia hafalan hadisnya sedikit
    ————-
    Sebenarnya persoalan ini telah pun dijawab oleh para ulama besar ahl al-Sunnah wa al-Jamaah seperti Imam as-Sayuthi didalam kitabnya al-Ta’zim wa al-Minnah fi Anna Abawayy al-Rasul fi al-Jannah dan Masalik al-Hunafa’ fi Walidayy al-Mustafa, Abu Hafs Umar Ibn Syahin, Imam al-Qurtubi di dalam al-Tazkirah, Syaikh Ibrahim al-Baijuri didalam Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatit Tauhid, Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah di dalam al-Bayan Lima Yusygilu al-Adzhan, Dr Abdul Malik bin Abdurrahman al-Sa’adi didalam al-Bid’ah al-Mafhum al-Islamiy al-Daqiiq dan lain-lain.

    Selain itu, ulama kita juga telah menjawab persoalan ini seperti Syaikh Nawawi al-Banteni didalam Nuruz Zholam Syarah Mandzumah ‘Aqidah al-‘Awaam, Sayyid Yusuf bin ‘Ali aL-Zawawi, Mufti Terengganu didalam fatwanya yang dikeluarkan pada tahun 1971, Syaikh Muhammad Fuad Kamaluddin al-Maliki al-Rembawi didalam bukunya Wahabisma dari Neraca Syara’, Ustaz Mujahid bin Abdul Wahab didalam bukunya Keislaman Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.
    ———-
    Imam al-Baijuri menyebut didalam kitab Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatut Tauhid:

    Tanbih: Apabila engkau telah mengetahui bahwa ahli fatrah adalah golongan yang terselamat di akhirat menurut qaul yang raajih, maka mengetahuilah engkau bahwa kedua ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم juga terselamat, disebabkan keduanya tergolong daripada ahlul fatrah. Bahkan semua nenek moyang Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم terselamat dan dihukumkan sebagai generasi yang beriman dan tiada seorang pun di antara mereka yang (terjatuh) didalam kekufuran, kekotoran, keaiban (yang menjatuhkan maruah) dan tidak pula oleh sesuatu diantara apa-apa yang pernah dilakukan oleh kaum arab jahiliah, berdasarkan dalil naqliah, seperti firman Allah Ta’ala:

    وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّاجِدِينَ
    Artinya: Dan (melihat) gerak-gerimu di antara orang-orang yang sujud (asy-Syu’ara: 219)

    Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

    لم أزل انتقل من الاصلاب الصاهرات إلى الأرحام الزكيات

    Artinya: Sentiasa aku berpindah dari sulbi generasi-generasi yang suci kepada rahim-rahim yang bersih.

    Dan selain yang demikian itu daripada hadits-hadits yang telah mencapai darjat mutawatir. – sekian petikan dari Tuhfatul Murid, halaman 68 –

    ————
    Mengenai firman Allah Ta’ala dalam ayat 219 surah asy-Syu’ara diatas – وتقلبك في الساجدين Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa dia berkata: “Yakni diantara tulang-tulang sulbi nenek moyang Nabi Adam عليه السلام, Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام, sampai Allah Ta’ala mengeluarkan baginda صلى الله عليه وآله وسلم sebagai seorang Nabi.” [lihat tafsir Qurthubi dan Thabari]

    Diriwayatkan dari Watsilah bin Asqa’ bahawa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya):

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih Nabi Ismail عليه السلام dari anak-anak Nabi Ibrahim عليه السلام, memilih Bani Kinanah dan anak cucu Nabi Ismail عليه السلام, memilih Quraisy dari Bani Kinanah; memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilih diriku dari Bani Hasyim.” [hadits riwayat Ahmad dan Muslim. Hadits ini adalah riwayat Ahmad]

    Dari Sayyidina Abbas رضي الله عنه diriwayatkan bahawa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikan aku yang terbaik di antara mereka dan dari generasi terbaik mereka. Kemudian Allah Ta’ala memilih kabilah-kabilah, lalu menjadikan aku dari kabilah terbaik. Kemudian Dia memilih keluarga-keluarga, lalu menjadikan aku dari keluarga terbaik. Maka, aku adalah (makhluk) terbaik peribadinya dan terbaik keluarganya.” [hadits riwayat Ahmad dan at-Turmidhi
    ————
    Al-Faqir mulai dengan memetik apa yang tersebut didalam kitab Nur al-Dzolam karangan asy-Syaikh al-‘Alim al-‘Allamah Abi ‘Abd al-Mu’thi Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Nawawi al-Banten (Syaikh Nawawi Banten) رحمه الله تعالى (maksudnya):

    Far’un (cabang): Telah berkata Syaikh al-Baajuriy: Adapun yang benar, semoga Allah memperkenankan kami atasnya, sesungguhnya kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah orang selamat menurut pendapat yang mengatakan [qil]: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menghidupkan kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم hingga keduanya beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduannya kembali – berdasarkan hadits yang telah datang mengenai hal itu, iaitu hadits yang diriwayatkan oleh Urwah daripada ‘Aisyah bahwa sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan [kembali] kedua ibubapa baginda, lalu Allah menghidupkan keduanya lalu mereka berdua beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduanya.

    Syaikh as-Suhailiy berkata: Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu untuk mengkhususkan NabiNya dengan apa yang Dia kehendaki dari anugerahnya dan memberikan nikmat padanya dengan apa yang Dia kehendaki dari kemuliaanNya – [Nur adz-Dzolam Syarh Mandzumah ‘Aqidah al-Awwam; cetakan Dar al-Hawi; halaman 114 – 115]
    ———-
    zainal abidin itu berfatwa sesuai dgn nafsunya
    tanpa merujuk kitab imam -imam ahlusunnah

    SOALAN: Adakah ibu bapa Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] termasuk dalam mereka yang terselamat di akhirat nanti sedangkan ada hadis yang mengatakan bahawa Baginda pernah bersabda: “Bapa kamu dan bapaku dalam neraka” ?
    JAWAPAN: Menurut pendapat ahlul haq, mereka yang berada di antara dua masa para rasul itu (mereka yang dikenali sebagai ahlul fatrah) atau mereka yang tidak diutuskan rasul kepada mereka itu, mereka dikira terselamat dan tidak diazabkan di akhirat nanti. Ini termasuklah ibu bapa Nabi kita. Ia berdasarkan firman-Nya yang bermaksud “Kami tidak menyeksa (sesiapa) sehingga Kami utuskan Rasul dan utusan (untuk menerangkan yang benar dan salah)” (Maksud Surah al Israa’ ayat 15).

    Adapun sabda Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] tadi yang mengatakan “Bapamu dan bapaku dalam neraka” itu dikatakan hadis ahad yang tidak dapat menolak dalil qat’ai dari al-Quran. Justeru itu para ulama kita mengatakan maksud dengan perkataan bapaku dalam hadisnya tadi boleh difahami sebagai bapa keturunan (seperti datuk neneknya, bapa saudara seperti Abu Talib dan Abu Lahab dan lainnya. Ini kerana Abu Talib adalah bapa angkat yang memelihara dan menjaganya sejak kecil lagi dan bagaimana hubungan kasih sayang yang terjalin antara anak saudara dengan bapa saudaranya itu. Menurut pendapat yang terkuat, ibu bapanya (ibu bapa nabi) adalah terselamat, malah kata para ulama lagi, seluruh datuk nenek dari keturunannya dikira dari ahlul fatrah lagi bersih dari sebarang keaiban. Ini berdasarkan sabdanya yang bermaksud: “Aku sentiasa berpindah-pindah dari benih yang suci dari satu generasi ke satu generasi yang baik-baik (tidak bercampur) bukan dari benih yang kotor dan jahat” (Riwayat Abu Nu’aim)

    Malahan dikatakan ada hadis riwayat dari Urwah dari Aisyah: “Bahawa kedua ibu bapa Nabi pernah dihidupkan kerana permohonannya lalu hiduplah keduanya dan beriman dengannya lalu terus meninggal” (Riwayat Ibnu Syahin).

    Kesimpulannya, akidah yang perlu dipegang ialah kedua ibu bapa Baginda adalah selamat sejahtera. Wallahualam

  2. Sudahlah…. masing masing kita punya perbedaan… daripada habis magrib, malam jumat nonton tivi yang bikin rusak anak anak kita mendingan baca sholawat kepada rasulullah… maka jangan heran kalau masa yang akan datang banyak diantara anak kita yang lebih paham dan lebih hapal pemain sinetron dari pada nama rasulullah saw, mendingan berdakwah kepada yang belum beragama islam dari pada ngucek-ngucek ummat islam sendiri ,….. soal diterima dan tidak diterima amalan manusia hanya allagh yang tahu, banyak pelacur masuk sorga tapi banyak orang cerdik yang maasuk neraka….
    Lihat sajalah dengan semakin lunturnya budaya santri saat ini banyak anak-anak muslim yang terjerumus narkoba, tidak hormat pada orang tua dan banyak anak muslim yang tidak mengenal akan nabinya.

    allahumma sholli ‘ala muhammad waala alaihi wasalaam.

    mask sih kita ini jadi orang yang selalu sering banyak berkomentar tetapi kenyataannya anak-anak kita dirusak budaya barat…. mana yang lebih baik baca sholawat lewat untaian kalimat al-barzaanji dibanding dengan nongkrongg berjam-jam didepan televisi ynag sudah menjadi berhala saat ini….

    Innallaha wamalaikathu yushoilluna alannabi … yaaa ayyuhalladzina amanu shollu alaihi wasallimu taslimaaa.

    ikuti sjalah perintah allah diatas. Allah dan malaikat saja selalu baca sholawat atas nabi , masa kita yang diperintah baca sholawat malah berpolemik…. apapun sholawatnya insya allah akan diterima allah … ….

    Allah maha tahu apa yang kita kerjakan dan allah maha rahman dan rohiim kepada semua mahluqnya,,,,.

    semoga kita termasuk orang yang senantiasa mengagungkan asma rasullullah dan termasuk ummat beliau yang diberinya syafaat di yaumil akhir.

    aminnn. allahumma sholli ‘ala muhammad waala ‘ali washohbihi wasallam….

  3. mantab bro … jadi teringat waktu di pondok pesantren dulu ikut maulidan,,, pas mahalul qiyam di bentak sama ustadnya karena rame becanda ama temen2 … harus khusyuk!!! kata si ustad… karena nabi hadir di tengah2 kita…

    semoga si ustad itu sekarang di beri petunjuk oleh Alloh, dan meninggalkan amalan2 bid’ahnya… amin

  4. Assalamu’alaikum,
    Ahsan..
    Tiba-tiba saja, ada email masuk yang kebetulan membahas masalah artikel yang di tulis oleh Ustadz Zainal ini. Kebetulan saya tidak bisa merespon email ini [kalau ada kesematan mohon bantuannya].

    Berikut potongan emailnya:

    Ini adalah risalah membantah kedustaan wahaby terhadap kitab Barzanji….
    dimana wahaby mengatakan :
    – Ayah – bunda nabi di neraka (na’udzubillah)
    – Mendustakan adanya Nur muhammad dan yang mempercainya disebut musyrik
    – melarang bershalwat pada hari maulid dsb.
    – Membid’ahkan amalan pada Hari maulid Nabi dsb.
    (artikel yang dimuat dalam majalah Assunah -Edisi 12 Th. XII rabiul awwal 1430/maret 2009 oleh ustadz Zainal Abidin Lc (hamba dinar saudi)).

    Wassalamu’alaikum,
    Abu Luthfi

  5. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Maaf sebelumnya, saya hanya orang awam yang masih terus belajar dan belajar. Setau saya, kami melaksanakan maulidan sebagaimana orang tua kami, ulama2/ajengan2 di berbagai bangsa juga melaksanakannya. Dan pastinya mereka juga melaksanakan atas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadist. Jadi jangan merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain, atau berperan sebagai ulama. Kalau kita merasa ingin menjadi yang paling benar, jangan terlalu merasa benar. Karena tetap itu bukan merupakan kepastian, tapi keputusan. Kita semua ini awam/bodoh. Jangan sok tau dan mengargumentasikannya. Karena yang jadi permasalahan adalah kita ini bodoh, dan susah atau tidak ada yang mengungkapkan kebodohan itu.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


    maramis:

    Wa’alaykumussalam wa rohmatullohi wa barokaatuh

    Anda mengatakan: kami melaksanakan maulidan sebagaimana orang tua kami, ulama2/ajengan2 di berbagai bangsa juga melaksanakannya. Dan pastinya mereka juga melaksanakan atas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadist.

    Maramis: Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, silahkan dipastikan bahwa ulama-ulama dan anjengan-anjengan yang saudara maksud, telah diatas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadits, pembahasan tentang hukum maulid Nabi -dengan hujjah yang kuat- banyak tersebar di Internet, semisal link dibawah…..rasanya sudah cukup untuk mewakili
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html

    Anda mengatakan: Jadi jangan merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain, atau berperan sebagai ulama. Kalau kita merasa ingin menjadi yang paling benar, jangan terlalu merasa benar.

    Maramis: perkataan ”jangan merasa benar sendiri” adalah perkataan yang memang selalu didegung-dengungkan oleh orang yang memang merasa ”kalah” dalam mendatangkan sebuah hujjah. Dan secara tidak sadar mereka melupakan bahwa sesuatu itu dinilai benar dan salah jika telah ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah yang shahih. Dengan demikian, jika telah ”benar” ketika telah ditimbang dalam al-Quran dan as-Sunnah yang shahih, maka itulah kebenaran….dan itulah ”yang paling benar sendiri”. Dan perkataan ”menyalahkan orang lain” jika perkataan ini lebih diperhalus menjadi ”menasehati orang lain”…dan inilah yang namanya dakwah wahai saudaraku….jika memang sesuatu tersebut ketika telah ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah yang shahih adalah ”salah”….maka memang itu salah,dan sebagai wujud cinta kita kepada kaum muslimin adalah memperingatkannya an menasehatinya agar menjauh dari kesalahan tersebut. Adapun perkataan saudara ”berperan sebagai ulama”, apakah dari tulisan di atas terkesan demikian? Bukanlah kami berperan sebagai ulama…tetapi kami mendatangkan hujjah-hujjah al-Quran, hadits dan perkataan-perkataan ulama.

    Anda mengatakan: Karena tetap itu bukan merupakan kepastian, tapi keputusan. Kita semua ini awam/bodoh. Jangan sok tau dan mengargumentasikannya. Karena yang jadi permasalahan adalah kita ini bodoh, dan susah atau tidak ada yang mengungkapkan kebodohan itu.


    Maramis:
    Saudaraku yang semoga dirahmati Allah….perkataan Anda jika dicermati penuh dengan permainan kata-kata yang terkesan hikmah (saya khawatir jika ini adalah muncul dari ”ilmu kalam/ filsafat” yang banyak dicela oleh para ulama) , tetapi ini semua sebenarnya adalah sikap yang ”bingung” dalam meninti jalan beragama yang haq ini. Apakah jika telah datang dalil dari al-Quran dan as-Sunnah yang shahih serta telah dijelaskan penafsirannya oleh para shalafus sholih adalah suatu yang belum merupakan kepastian??? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita memang bodoh, tetapi apakah kita tidak bisa berilmu ??….tentu saja bisa, dan ilmu itu adalah firman Allah azza wa jalla, sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, dan perkataan sahabat radliyallahu’anhum. Dan dengan ilmu itulah kita melakukan suatu amalan dan menjauhi suatu larangan. Mari kita sibukkan diri dengan ilmu wahai saudaraku….semoga saya dan Anda dipahamkan Islam dengan pemahaman yang benar oleh Allah.

      1. Ngaji jangan diinternet pak ustadz.Ngaji itu ya sama guru yang jelas. kita gk perlu berijtihad, karena kita ini terlalu bodoh utk berijtihad. ane stuju ma kang abufeiran. jempol buat anda kang abu.

  6. Dah cape belum bahas maulidnya?jadi ane mau ngundang nh,untuk maulid nabi Muhammad saw.tgl 24 april di Tipar. maaf ya ane habisnya cinta bangat sama Rosul jadi kayanya ga bisa untuk menghilangkan tradisi maulid tuh.ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.Semoga yang meryakan maulid dapat pahala & Berkah dari ALLAH SWT amin……….

    maramis:
    Wa’alaykumussalam wa rohmatullohi wa barokaatuh

    Saudaraku yang semoga Allah selalu memberi hidayah kepada saya dan Anda, saya masih berharap dari Anda agar diberikan hidayah oleh Allah agar meninggalakan segala bentuk bid’ah termasuk perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (ini adalah sholawat kepada Nabi kita dan inilah salah satu bentuk kecintaan kita kepada beliau, tidak seperti yang didengung-dengungkan bahwa yang membid’ahkan maulidan atau sholawatan (Nariyah, Badr, dsb yg bid’ah) adalah yang tidak pernah bersholawat dan tidak cinta kepada Rasul, bahkan kami menganggap bahwa penyingkatan sholawat dengan SAW adalah salah satu bentuk kebakhilan/ kikir kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam sholawat dan salam kepadanya).

    Di atas Anda mengatakan ” habisnya cinta bangat sama Rosul”,


    Maramis:
    Untuk menjawab perkataan Anda ini saya nukilkan sebuah dialog dari sumber disini

    ””Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.):
    Syaikh: “Assalaamu ‘alaikum…”
    Dr. Said: “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh…”
    Syaikh: “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”
    Dr. Said: “Ya, benar.”
    Syaikh: “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul…!”
    (kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):
    Dr. Said: “Lho, mengapa bisa demikian?”
    Syaikh: “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
    Dr. Said: “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”
    Syaikh: “Bagaimana bisa begitu??”
    Dr. Said: “Anda bersedia diajak diskusi…?”
    Syaikh: “Ya, silakan saja..”
    Dr. Said: “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”
    Syaikh: “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).
    Dr. Said: “Baik… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak?”
    Syaikh: “Tentu beliau tahu akan hal ini!”
    Dr. Said: “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”
    (…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan “ya”, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )
    Syaikh: “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya…”
    Dr. Said: “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”
    (Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)
    Syaikh: “Maaf, tidak bisa…”
    Dr. Said: “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.”
    Syaikh: “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.”
    Dr. Said: “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat??”

    Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.

    Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.

    Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ’sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.””

    Wahai saudaraku…..ini semuanya adalah bentuk upaya menasehati untuk diri pribadi dan kaum muslimin, karena seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa Agama adalah nasehat. Seperti sabda beliau….

    ”Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” (HR. Muslim)

    Silahkan simak bagaimana sebenarnya cinta kepada Rasul itu pada link berikut:
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html

    Anda juga mengatakan :”ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.”

    Maramis: Wahai saudaraku semoga saya dan Anda diberi hidayah oleh Allah, biarlah memang saya adalah anak kemarin, tetapi tidaklah kami mengambil ilmu kecuali dari ulama-ulama dan ustadz-ustadz yang ilmunya luas…..bahasa arab, hadits, tafsir, ushul, dsb….lagipula seperti artikel diatas ustadz kami, Ust. Zainal Abidin, Lc hafidzahullah telah menyertainya dengan hujjah-hujjah dari al-Quran ataupun Hadits. Jika memang demikian, sekarang saya balik….bukankah Anda taunya bahwa maulid itu sunnah juga tau dari temen-temen ente sendiri????

    Anda juga mengatakan: ”Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.”

    Maramis: Saudaraku…..apakah Anda menulis perkataan diatas telah dipikir dahulu atau hanya dengan hawa nafsu belaka?????? Apakah yang anda maksud dengan ”temen” adalah temen-temen saya yang Islam bahkan ustadz-ustadz yang membid’ahkan maulid ???? Ini adalah sejelek-jeleknya tuduhan tanpa dilandasi bukti-bukti terlebih lagi ini merupakan tuduhan KAFIR….karena Yahudi adalah orang kafir!!. Mana mungkin kami melupakan nabinya sedangkan kami selalu menyibukkan diri dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, selalu menjadikan sabda-sabda beliau dalam berhujjah, dan membela dan menjaga syariat yang dibawa oleh beliau dari segala bentuk penyelewengan agama seperti kesyirikan dan bid’ah. Coba lihatlah konten lain blog ini….mana yang menunjukkan bahwa kami adalah ”orang-orang yang melupakan Nabinya”, jika memang ada khilaf demikian, laporkan kepada kami dan kami tidak segan-segan untuk menghapus postingan tersebut. Atau mungkin memang yang Anda maksud sebagai ”melupakan Nabinya” adalah hanya karena tidak merayakan maulid Nabi ?? Dan tentunya Anda tau sendiri bahwa Abu Bakar, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib dan para shahabat yang lain radliyallahu’anhum tidak pernah merayakan maulid Nabi sepeninggalnya beliau shollallahu’alaihi wa sallam, lalu apakah dikatakan mereka melupakan Nabinya?!!

    Anda mengatakan: ” Semoga yang meryakan maulid dapat pahala & Berkah dari ALLAH SWT amin”

    Maramis: Cukuplah sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban perkataan Anda di atas:

    “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” (HR. Muslim)

    Wahai saudaraku…..ini semuanya adalah bentuk upaya menasehati untuk diri pribadi dan kaum muslimin, karena seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa Agama adalah nasehat. Seperti sabda beliau….

    ”Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” (HR. Muslim)

    Ini adalah nasehat saudaraku…bukan paksaan, Allah berfirman:

    ”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (QS. Al-Ghaasyiyah: 21-22)

    Nabi kita saja yang berusaha mengajak paman beliau Abu Tholib untuk masuk Islam tidak bisa, Istri Nabi Nuh dan Luth ’alaihissalam juga tidak terbuka hatinya untuk masuk Islam sekalipun mereka adalah Istrinya Nabi. Benarlah firman Allah azza wa jalla:

    ”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qoshosh: 56)

    Saudaraku…..jika memang Anda masih suka merayakan maulid Nabi setelah apa yang sampai kepada Anda berupa hujjah seperti artikel di atas atau artikel lain selain di blog ini, maka renungkanlah firman Allah ta’ala:

    ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

    Akhirnya…Semoga saya dan Anda dipahamkan Islam dengan pemahaman yang benar oleh Allah. Barokallahufikum

    1. MAaf ya akhi… saya jadi mau ikut baur pendapat
      saya hanya dari kalangan awam saja yang selalu ingin berharap selalu walau dengan air mata ,untuk mendapat syafaa’t Nabi mUhammad S.a.W di yaumil qiya..mah nanti selain ta’at kepada Allah.S.Wt dan dengan mengikuti ajaran Rasulullah yang menurut kami kami selalu dan akan selalu ikut penyampai lisan nya Rasulullah S.A.W yaitu para Ulama dan Para Habaib saja yang kebenaranya dapat di rasakan pada diri yang awam ini,oleh jarena merekalah titik darah Generasi penerus perjuangan Rasulullah.S.W.T,sekali lagi saya mohon maaf jika saya berkoment agak sok tau dan menyulut pada nafsu amarah”sungguh ini saya sampaikan Berdasar hati nurani yang sangat dalam dan semua yang dilakukan hanya lah untuk ber tujuan Maslahat dan Hasanah “dan berbagai kajian keIlmuan Para waliyullah,alim Ulama Pondok Pesantren (tradisional Indonesia)dan para Habaib yang sudah banyak bersumbangsih besar pada negara dan bangsa ini dan mungkin sudah banyak yang mendahului kita semua(Wanafa’aana wabiulu..mihi Fi daraini A…min)…..bukan dari muballigh asal afganist,atau yang lainya dan semua benar di hadapan Allah S.wt bukan jg kami tidak mendengarnya akan tetapi tawadhu’nya kita kepada orang tua kita yaitu para(mereka di atas)…..kurang lebihnya mohon maaf Semoga bermanfaat amin…. Fattaqulla,,ha mastatho’tum

  7. Alhamdulillah……………….. artikelnya bagus amat, sebetulnya sy belum bisa bhs Arab, trus mo tanya apakah betul dlm kitab Barjanji salah satu terjemahannya ada kalimat yg ditujukan kepd Nabi seperti ” wahai pelindung dari neraka sya’ir, wahai pelindung dan penolongku”, yang sy tau dan sering kita ucapkan dalam shalat adalah firman Allah yg berbunyi ” iyya kana budu wa iyya kanas tain ” ( kepadamu ya Allah aku menyembah dan kepadamu aku meminta pertolongan ) jadi disini jelas bahwa Allah adalah yang kita sembah dan Allah adalah penolong kita dunia dan akhirat, tak ada satupun yang bisa menolong kecuali dengan ijinNya. demikian Wassalam

  8. semoga penjelasan ini membawa kejernihan hati untuk saudara-saudaraku semuanya.

    saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa
    syar’an, (logika dan syariah).

    Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira,
    apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka
    merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang,
    lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat
    istiadat diseluruh dunia.

    Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

    Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
    • Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam
    sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari
    aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
    • Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari
    kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam
    15)
    • Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala
    shahihain hadits no.4177)
    • Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi
    pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat
    saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat
    hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya
    terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang
    benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
    • Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
    • Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat
    melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga
    pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari
    Almasyhur juz 6 hal 583)
    • Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan
    runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di
    Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari
    Almasyhur juz 6 hal 583)

    Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian
    kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt
    telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini,
    sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran
    Nabi nabi sebelumnya.

    Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
    Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw
    menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan”
    (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita
    mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.

    Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda
    dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah
    hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya :
    “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau
    bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw
    hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya,
    contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita
    berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari
    kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa
    1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?,
    dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari
    kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada
    hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka
    pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari
    kelahirannya,

    dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan
    kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban
    beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana
    contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu
    adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh
    merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya
    pemahaman terhadap ilmu bahasa.

    Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?,
    Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari
    kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw,
    sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.
    Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari
    kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah
    bangkitnya islam.

    Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai
    Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan
    membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang,
    diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu
    maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit
    bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan
    dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”
    (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

    Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
    Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam
    mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu
    lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin
    karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas
    kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam
    Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari
    Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di
    alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau
    menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya
    setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan
    membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum
    syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah
    dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw,
    maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka
    Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi
    kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan
    mereka tak mengingkarinya.

    Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
    Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur
    oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah
    disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu
    Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata :
    “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah
    bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul”
    (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

    Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram,
    sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di
    masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa
    pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan
    Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan
    didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak
    riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar
    khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk
    melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058,
    sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada
    beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra
    berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu
    membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).

    Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
    sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah
    mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum
    matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000
    hadits dengan sanad dan hukum matannya.

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa
    Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari
    asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :
    “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa,
    maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda
    Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka
    diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada
    suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa
    didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah,
    membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi
    ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN
    ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI
    MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw
    ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi
    (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam
    Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber
    Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun,
    dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah
    beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau
    saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai
    Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya
    bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw
    dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg
    makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah
    dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus
    mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii
    ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg
    diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak
    bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan
    hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau
    saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah
    dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa
    keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan
    setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah
    demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah
    menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg
    Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia
    gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat
    Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku,
    sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan
    dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
    dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
    Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu
    menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga,
    tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di
    seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam
    sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap
    mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu
    bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata
    tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu,
    dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa
    yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
    dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab
    al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg
    menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad
    yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
    dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
    dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
    yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
    dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
    telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al
    mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud
    asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy
    dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
    dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As
    syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
    dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami
    dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri
    mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
    maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’
    dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
    dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
    dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
    dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
    dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
    dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani
    dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
    dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy
    dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi
    dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

    Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang
    hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg
    menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid,
    maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam
    itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris
    dalam menghancurkan Islam.

    Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
    Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada
    Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa
    risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana
    penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana
    diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata
    kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari
    hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula
    berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

    Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama,
    sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa
    berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk
    kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg
    semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg
    dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg
    berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana
    Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang,
    namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk
    penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam
    Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

    Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk
    menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila
    Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman
    bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia
    tetap duduk dg santai..

    Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam
    membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan
    itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas
    dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan
    pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa
    disyarahkan dengan hukum dhohir,
    semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri
    penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri
    untuk memuliakan beliau saw.

    Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau
    saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita
    adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam
    pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

    Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah,
    seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama
    para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg
    padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair
    syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh
    Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan
    cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan,
    dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah
    hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg
    sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd
    Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan
    tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu
    Bid’ah hasanah,

    Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga
    hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan
    agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg
    mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

    Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin
    untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah
    islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji
    pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw,
    dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua
    maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam
    ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya
    karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan
    muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin
    aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini
    merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah
    bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi
    penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

    contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam
    shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu
    waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju
    penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya
    berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat
    yg wajib .

    contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong
    baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa
    siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat
    kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian
    kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg
    hukumnya sunnah.

    Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah,
    dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam
    kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula
    perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau
    saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi
    saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara
    Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta
    silaturahmi.

    Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman
    nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena
    sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi
    wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena
    ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah
    menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

    Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para
    khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin,
    para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya
    sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk
    menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan
    kejernihan, amiin.

    Sumber : kenalilah akidahmu (Hb. Munzir)

  9. Kalau yg kami namakan maulid itu namanya bukan maulid… itu bid’ah atau tidak?

    @Fahruroji: bisa ngebedain antara hakikat sama sebab?

  10. Menurut artikel ini orang tua nabi termasuk ahli neraka? Ya ampun (mode: istigfar)

    Ini artikel dari orang yg bodoh, sok tau, sok pinter, yg karena itu disebarkan lah faham bodohnya… Ya ampun (mode: istigfar)…

    Coba ngaji dong, ngaji ke para ulama yg jelas sanadnya…

    Ya ampun (mode: istigfar)….

  11. Maulid Nabi: mengagungkan, memuliakan, menjunjung tinggi, mengenang, mengingat, mengenal akan keagungan maulid/kelahiran Nabi Besar Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

    Kalau dilihat judul “Maulid Nabi”, dicari di Qur’an & Hadits perasaan tidak akan ditemukan. Mana Qur’an-nya, mana Hadits-nya maulidan itu? Kalau kata judul, memang seperti itu. Biar saja, jangan ketipu sama judul, jangan meributkan nama. Kalau kita mau ngawinin seorang wanita, ga penting namanya mau Rini, atau namanya Roni, yang penting yg mau dikawin itu wanita itu.

    Jangan diributin namanya antara wudhu, antara wulu, antara abdas, atau apapun, asal jgn beda isinya. Ga perlu diperbincangkan lagi namanya, antara sholat, sembahyang, netepan… ini ga penting.
    A:”Mau kemana bang?”
    B:”Mau sembahyang.”
    A:”Sembahyang apa?”
    B:”Sembahyang Dhuhur.”
    A:”Ga ada di Qur’an & Hadits yg namanya sembahyang.”
    Jangan terlalu dipermasalahkan, yg penting gimana sembahyang itu. Ternyata sembahyang si B itu ya sholat itu. Selama isinya sama, bahasa/judul/nama bukan masalah, tidak usah diperbincangkan judulnya.

    Mau dinamakan maulid itu dengan kumpulan arisan… boleh. Dinamakan syukuran khitanan… boleh. Dinamakan syukuran kawinan… boleh. Apapun boleh lah, asal adab namanya. Terus liat dalamnya, ternyata penuh sama amal2 sholeh. Ada silaturhmi, jelas Qur’an & Haditsnya. Ada tolabul ilmi, karena itu didatangkan ajengan juga untuk nyari ilmu. Ada pembacaan Qur’an, jelas Qur’an & Haditsnya. Yang mendengarkan pembacaan Qur’an, jelas Qur’an & Haditsnya. Ada sholawat, jelas Qur’an & Haditsnya.

    Perkara sholawatnya bagaimana, yg penting pemahaman kalau itu namanya sholawat. Yang penting di acara itu tidak ada kemungkaran, maksiat. Walaupun namanya tabligh akbar, tapi tidak sedikit ternyata di dalamnya ada menjelek2an orang lain. Yang ini namanya tabligh akbar atau dosa akbar? Jadi dosa akbar kan. Tidak sedikit namanya pengajian tapi isinya kemaksiatan. Tidak sedikit namanya arisan, tapi di dalamnya ada shodaqoh, ada silaturahmi, ada bacaan Qur’an, ada nasehat, ada ilmu. Yang jelas, pahala itu dari apa yg dikerjakannya. Apa yg dikerjakannya? Silaturahmi, shodaqoh, dll. Di dalamnya, apa yg dikerjakan yang dilihat. Tidak dilihat judulnya apa.

    Sekarang judulnya “Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam”, judulnya maulidan. Sekarang perhatikan saja, di dalam maulidan itu ada kemungkaran atau tidak. Kalau misalnya di maulidan itu ada kemungkaran & maksiat, maka kemungkaran & maksiat itu yg harus dibersihkan. Selama itu tidak ada kemungkaran & maksiat, walaupun tidak ada kewajiban dari ALLAH, tidak ada perintah dari Rasul, asal tidak ada larangan dari ALLAH & Rasul, maka masuknya adalah kepada hukum adat. Karena dosa lahir daripada menyalahi aturan2 ALLAH, atau melakukan larangan2 ALLAH. Kita melakukan sesuatu yg tidak dilarang oleh ALLAH & Rasul, apakah jadi dosa? Oh tidak. Walaupun tidak wajib. alaupun tanpa ada perintah. Rasul sudah menjelaskan, halal sudah jelas, haram sudah jelas. Tinggal nanti yg belum jelas keterangannya, disebut perkara yg subhat, yang mungkin jadi haram, atau mungkin jadi halal, mungkin bisa lahir pahala, atau mungkin bisa lahir siksa. Kita beli kendaraan. Diperintah sama agama? Tidak. Hukumnya masuk ke adat. Boleh beli motor? Boleh. Kata Qur’an boleh itu? Diperintah? Tidak. Dapat pahala? Ga niatin dapat pahala juga. Disiksa? Tidak. Kenapa sebab? Kan tidak dilarang. Walaupun tidak diperintah, tapi tidak dilarang. Ga bisa disebut haram, karena ga ada haramnya, nanti bisa disebut bikin hukum haram/halal. Kalau ada suatu perkara yang tidak ada label haram dari ALLAH & Rasul, terus kita bilang itu haram, siapa yg bikin hukum? Kita. Berarti kita jadi Tuhan dong? Jadi ada 2 dong Tuhan itu?

    Jadi, yang jelas nash larangannya itu berarti haram, jauhi. Makruh? Berusaha jauhi. Kalau makruh masih dikerjakan, dosa sih engga, tapi ga bagus. Yang jelas perintah dari ALLAH, yg wajib, kita jalani. Sunnah? Berusaha kita jalani. Kalau yg sunnah ini ga bisa kita jalani, biar aja, karena tidak ada ancaman ALLAH. Bisa dimengerti engga? Jadi yg pokoknya, yg dikhawatirkan, adalah satu diantara dua, yaitu (1) Larangan ALLAH yg haram dan (2) Perintah ALLAH yg wajib. Kalau kita ga bisa ngelakuin yg sunnah, jgn khawatir, yang penting jangan dosa, yg penting lakuin yg wajib. Yang makruh masih dikerjain, terserah saja, asal jgn dosa, sudah untung kalau kita selamat juga. Yang wajib kita bilang wajib, yg haram kita tegaskan haram, yang makruh kita katakan makruh, yang sunnah kita katakan sunnah. Diluar ini, jangan berani2 mengatakan haram, atau wajib, atau sunnah, atau makruh, kecuali hanyalah pelantara & pelantara.

    Lalu lahirlah ilmu fikih. Dalam kaidah ilmu fikih, satu perkara yg tidak ada perintah dan tidak ada larangan, tapi jadi sarana pelantara menjadi haram, ini pelantara jadi haram. Jadi sarana pelantara menjadi wajib, ini pelantara jadi wajib. Kalau tidak ada lagi selain pelantara tsb. Apa saja pelantara itu. Dijelaskan dalam usul fikih, hukumnya sarana pelantara, hukumnya pelantara, persis seperti hukum yg dimaksud, tujuannya untuk apa. Analogi, makan minum hukumnya tidak wajib, tidak haram, tidak sunnah, tidak makruh, ini namanya barang boleh2 saja. Tapi, kalau orang makan minum niatnya untuk ibadah, supaya dia kuat, kuat ini dijadikan pelantara untuk mengaji, sholat, dlsb, dia akan mendapat pahala yg diniatinya atas makannya dia. Karena makan menjadi sarana pelantara dia dalam beribadah. Kebalikannya misalnya makan buat nonton dangdut, bisa narik kesimpulannya lah. Jadi, kalau kita menghukumi sesuatu langsung, padahal tidak ada nash yg jelas terhadap hukum2, terhadap perkara2, baik hal yg haram, wajib, makruh, ataupun sunnah, terus sama kita dihukumi menjadi wajib, atau menjadi haram, atau menjadi sunnah, atau menjadi makruh, atau menjadi bid’ah, maka hati2, berarti kita bikin hukum sendiri. Siapa manusia yg menghalalkan barang yg haram, itu manusia jadi kafir. Dan siapa manusia yg mengharamkan barang yg halal, itu manusia jadi kafir. Jadi murtad, yg halal jadi haram, yg haram jadi halal. Jadi murtad, soalnya membuat hukum sendiri. Jadi kita mesti hati2, berbicara dalam ilmu fikih. Harus apik, kalau ga apik, hati2, bisa2 kita termasuk bikim hukum sendiri. Dalam hadits shohih, Rasulullah sudah menjelaskan dengan tegas, sangat tegas sekali, bahwa manusia yg sok tau bikin hukum sendiri, sok tau, tinggal pilih mau sel yg mana di neraka. Siapa orang yg menafsirkan Qur’an & Hadits hanya dengan otaknya sendiri (tanpa ilmu), pilih, pengen jurang yg mana di neraka. Ini ancaman dari ALLAH dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Belum punya alat2nya, baru punya obeng saja, sudah pengen buka bengkel motor. Kayak gitu kurang lebih.

    Maka kalau kita orang awam, kita ga perlu menjatuhkan hukum. Kenapa sebab? Karena malah bikin ngaco. Bahan untuk menjatuhkan hukum itu ada 2, Qur’an & Sunah Rasul. Lha kita? Qur’an ga hafal & ga ngerti. Tafsir ga tau. Maknanya juga. Udah pasti mengamalkannya juga engga bisa. Hadits, ga tau bin ga hapal. Mau gimana? Belum lagi cerita hal untuk menentukan hadits itu shohih atau hasan atau dhoif. Belum lg cerita ttg perawi hadits itu. Mau gimana? Shohih kata orang lain, dhoif kata orang lain. Gimana mau ijtihad, semuanya juga kata orang lain. Imam Bukhori, beliau bilang shohih itu kata beliau sendiri. Kalau kita nyebut shohih itu kata siapa? Kata orang lain kan? Makanya kita jangan sok tau, sebab kita bukan ahlinya. Dimana suatu perkara diberikan kepada yg tidak ahli, tunggu aja qiamat. Sekarang kalau kita yakin menurut kita benar, yakinkan saja kalau itu benar, asal jangan berani menyalahkan orang lain. Kalau kita punya ego, terus berani2 menyalahkan orang lain, kita ngaca dulu, kita ini siapa? Sudah bisa apa? Sudah hafal belum Qur’an & Hadits? Sudah ngerti belum Qur’an & Hadits? Ga langsung teriak, ga ada di Qur’an & Hadits, padahal belum hapal & ngerti Qur’an & Hadits tsb. Nah, sekarang bandingkan orang lain, orang yg ahli, yg bilang tidak menemukan di Qur’an & Hadits, sedangkan orang itu hafal & ngerti Qur’an & Hadits. Beda kan? Karena orang itu adab & sopan. Bilang tidak menemukan di Qur’an & Hadits, sedangkan dia itu ahli. Badingkan lg dengan kita? Ngaco yah?

    Makanya ada perintah dari ALLAH, maka harus nanya kamu semua ke ahli ilmu kalau kalian semua terbukti tidak berilmu. Kalau kalian tidak tau, tanyalah orang yg tau. Kalau kalian tidak berlimu, tanyalah orang yg berlimu. Kalau kalian belum ahli, tanyalah orang yg sudah ahli. Tinggal meraba diri kita, sudah ahli kah kita? Kalau sudah ahli, ya tidak usah nanya2 ke ahli yg lain. Kalau sudah ahli bengkel, ada motor rusak langsung aja benerin motor itu. Tapi kalau kita belum ahli bengkel, terus buka bengkel, terus benerin motor… bisa bongkarnya, tapi ga bisa masangnya. Ga akan maju sampai hari qiamat juga.

    Segini aja lah, ini cuma menyampaikan apa yg pernah saya dengar dari tausiyahnya seorang ulama. Kalau ada yg salah, berarti saya nya yg khilap. Mohon maaf aja. Astagfirullah.

  12. kenapa ya akh sudah jelas-jelas barzanji itu bid’ah tapi kenapa mereka merasa itu cara mencintai rasul….?

    maramis: Demikianlah pada kenyataannya…..Mereka hanya taqlid buta saja kepada kiyainya. Justru mereka malas melakukan amalan-amalan yang sudah JELAS sunnahnya. Karena tidaklah kita mengamalkan suatu bid’ah kecuali ada amalan sunnah yang kita tinggalkan.

  13. tiap2 perbuatan akan di pertanggungjawabkan di akherat kelak, apakah anda yakin dengan kebenaran tulisan anda ?!!

    maramis: memang tiap2 perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak….dan tulisan diatas demikianlah adanya, dalil-dalil sudah dijelaskan.

    1. dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun ini terus yang dperbincangkan tiada akhir, inikah kemajuan islam yang disebut kalau berbeda itu rahmah? ane orang awam tapi yg bener menurut pandangan ane adalah coba kumpul ulama2 Muhammadiyah, NU, Salafy, apalgi nanamnya aliran ini saya gak begitu hapal kemdian coba bahas permasalahan tersebut ditingkat nasional bila perlu internasional dengan dalil-dalil mereka lalu hasilnya publikasikan pada kite2 nah itu baru ane terima. sekarang ini kan yg ngomong ente2 yg baru lepas sebagi santri jadi akibatnya hujat kiri hujat kanan dengan nada sesat seolah-olah orang pade masuk neraka semua, lalu ente pada masuk surga……….ya belum tentulah para santriiiiiiiiii …..paling ente yang nomong disini cuma berani diinternet aja coba sekali-kali enete ngomong di TV tuh baru namanya jago, biar kita tahu juga sampe dimana ilmu lo….apa sebatas kopi paste atau memang ilmu ente di dalam dada. saya lebih tertarik jika ente mengeluti ilmu pengetahuan biar orang islam disegani oarang kafir….misalnya giman muslim indonesia menemukan ilmu-ilmu yg menjadi acuan penelitian orang seduania kayak al-Farobi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain jadi itu saya rasa amat bermanfaat bagi umat islam dan manusia di muka bumi ini…..ok wassalam

      1. Akhina fillah coba jg tolong beri pemberitaan yang berimbang jangan berat sebelah seolah2 akhi membenarkan pendapatnya sendiri dan mengkultuskan pendapat yang lain tanpa akhi berusaha pada pembenaran di hadapan Allah dan rasulullah SAW,dengan cara coba akhi cari dalilnya jg ,toh kenapa sangatlah kuat pada bid’ah hasanah nya melakukan pengamalan berjanji dsb….coba deh ,menyeimbangi dan cari sumber yang mengi’tikadkan kedua paham benar tersebut, antra yang pro dan yang kontra akan lebih ayem kesana …itulah tandanya sulit mencari pemimpin yang a’dil di zaman sekarang sementara mereka saling selalu menganggap dirinyalah yang paling benar tidak melihat Yang benar itu datangnya hanya milik Allah ……..

  14. Banyak sekali komentar yang tidak suka mengenai hal ini ya akh, tetap semangat akhi.. Tetap menasehati dalam kebenaran dan kesabaran..

    Jazakallah khairan

    Amiin, InsyaAllah akh…doakan supaya tetap istiqomah

    1. ASSALAMUALAIKUM………….
      AKHI & UKHTI YANG SAHA HORMATI DAN SAYA BANGGAKAN….. SEMOGA ALLAH SELALU MELINDUNGI KEIMANAN KALIAN…… AMIEN………
      SUBHANAALLAH……….
      jangan pernah merasa benar dengan perkataan sendiri…..
      jangan pernah menjazz perbuatan orang lain….
      jangan pernah mengatakan tidak benar dan benar terhadap segala sesuatu yang nyata dalam kehidupan ini.
      DIAM dan tetap berdoa bahwa ALLAH akan selalu memberikan HIDAYAH kepada hambanya yang tersesat didalam menuju keridhaannya..
      tujuan da’wah bukan untuk menjelek-jelekan antara satu sama lain, tetapi untuk mendapatkan sebuah kepastian terhadap segala sesuatu.
      bagi anda yang dikritik janganlah merasa bahwa semua HUJJAH yang kau keluarkan untuk ummat adalah yang terbaik untuk merubah kehidupannya, belum tentu perkataanmu dibenarkan disisi ALLAH SWT.
      ALLAH memiliki sifat yang maha mengetahui atas apa2 yang tersirat dan tersurat,
      dan bagi anda yang mengkritik jangan pula menyalahkan atas argumen apa yang telah ia keluarkan,
      tetaplah anda berada pada keyakinan anda masing-masing, dan tetap selalu berusaha memperoleh ridho ILLAHI dengan memperbaiki diri tanpa memponis tindakan dan perkataan orang lain,
      yang PENTING kita sebagai ummat MUSLIM janganlah saling mengganggu kepercayaan yang mungkin menjadi keyakinannya, kita hidup di negara DEMOKRATIS, tidak ada larangan terhadap tradisi yang telah diperkenalkan oleh para ulama dan leluhur kita, semua ini disah kan didalam negara kita.
      DIMOHONKAN UNTUK SALING MENGHARGAI ANTARA SATU SAMA LAIN……….
      jangan pernah mengusik ajaran-ajaran ISLAM yang telah diperkenalkan sebelum kau lahir, bahkan sebelum nenek moyang kalian ada dimuka bumi……
      SEMOGA ALLAH SELALU MELINDUNGI HAMBANYA DELAM KETETAPAN IMAM YANG MENJADI PONDASI KETEGUHAN BERAGAMANYA,,,,
      DAN SELALU MELURUSKAN HAMBANYA YANG TERSESAT DIJALANNYA BAIK BERBEDA AJARAN MAUPUN SAMA””
      janganlah saling menjatuhkan sesama umat beragama, yang harus kita lurusi hindari adalah kesalahpahaman agama lain terhadap agama ISLAM, masih banyak masalah-masalah lain diluar agama islam yang harus kita luruskan.. jangan mengkoreksi kesalahan agama sendiri itu hanya bisa menjatuhkan islam dimata dunia….
      TERIMA KASIH…….
      WASSALAMUALAIKUM WR.WB……….

  15. komentar ini : “ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.” wrote by Syukron.

    Komentar yg udh umum dan paling sering keluar dari org2 yg tidak suka diperingatkan akan bid’ah dan bahayanya. Wahai akhi dan yg lain yg sudah membaca artikel ini dan tidak suka dinasehati bid’ah, hendaknya kau jaga prasangkamu, jgnlah sembarangan menuduh saudaramu berkomplot dengan Yahudi!! Ingatlah! kau akan dimintai pertanggungjawaban atas tuduhanmu itu nanti! Klo memang tidak suka mbok ya tinggalkan saja artikelnya, gitu aja kok repot sih?

    Kepada pemilik blog : mohon maaf saya jadi emosi, karena saya paling tidak suka ada org yg ketika dinasehati malah menuduh dengan tuduhan yg sangat hina. Tetap semangat dalam menyerukan kebenaran akh, tetaplah sabar dan berlemah lembut, mereka kasar karena blm tau dan tidak punya hujjah untuk membantah.

    Salam ukhuwah.

    Maramis: Barokallahufik akhiy

  16. Subhanallah… terima kasih atas artikelnya dan juga penjelasan tambahan yang panjang lebar itu.. Insya Allah tetap semangat dalam berdakwah..

  17. wahai, orang2 yang hatinya keras seperti batu janganlah kalian me_Bid’ah kan, KECINTAAN kami kepada Nabi kami, biralah HATI kami menjadi saksi BESARNYA CINTA kami kepada Sayyidina MUHAMMAD sholawlohu alaih wa alih wasalam DI AKHIR KELAK amien, ALLAHU AKBAR

  18. TOLOL . . . !! DAH TAU BARZANJI ITU SYAIR, DAN SYAIR BANYAK MENGANDUNG MAKNA KIASAN MSH BERANI AJA LO NULIS “KESALAHAN BARZANJI”. OTAK LO TU YANG SALAH. PIKIR DONG KLO NULIS SESUATU. KLO GA TAU SYAIR MENDING DIAM AJA, ITU LEBIH BAIK DARIPADA NULIS TENTANG SYAIR YANG LO GA NGERTI APA ITU SYAIR. PAKE DALIL DAN HADIST LG ITU. EMANG BARZANJI SEPERTI YANG LO PIKIR DENGAN DENGKULMU ITU. OTAK LO AJA DAH SALAH APALAGI TULISAN LO.

  19. TOLOL . . .!! BARZANJI ITU SYAIR BRO, BRANI LO BILANG “Kesalahan Barzanji”. OTAK LO TUH YANG SALAH. SYAIR ITU BANYAK KIASAN BRO, BUKAN SEPERTI YANG LO PIKIR PAKE DENGKUL TUH. PELAJARI ILMUNYA DULU BARU NULIS SESUATU. MENYESATKAN TUH TULISAN LO. KLO LO GA SUKA BARZANJI SIMPAN AJA BUAT LO NIDIRI, JANGAN BUAT TULISAN2 YANG MENYESATKAN. GIMANA MUNGKIN LO NULIS YANG LO NDIRI GA NGERTI. TANYA TUH AMA BAPAK LO, JANGAN SOK TAU. NTAR LAGI KYNYA AL-QU’AN TUH LO BILANG SALAH GARA2 LO CUMA BACA TERJEMAHAN DOANK. TOLOL LO . . . . . .!!

  20. SKEDAR INFO.

    HADIRILAH ACARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW YANG INSYAALLAH AKAN DILKSANKAN PADA :

    – HARI / TANGGAL : KAMIS MALAM JUM’AT / 25 FEB 2010
    – WAKTU : 19:30 S/D SELESAI ( SHALAT ISYA BERJAMAAH )
    – TEMPAT : ( MASJID AL-ABIDIN) JL.MASJID AL-ABIDIN PONDOK BAMBU JAKARTA TIMUR

    PENYELENGGARA : AL HABIB AHYAD BIN ABDULLAH BIN UMAR BANAHSAN

    DATANG LAH DAN SYIARKAN LAH
    TERIMA KASIH

  21. Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
    Thursday, 27 March 2008
    Peringatan Maulid Nabi SAW

    ImageKetika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah). Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia. Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

    Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
    * Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
    * Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
    * Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
    * Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
    * Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
    * Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
    * Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

    Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.

    Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
    Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.

    Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.

    Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

    Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
    Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.

    Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
    Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

    Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
    Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy : Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama “Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya “urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : “maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ‘Iraqy dg maulidnya “maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’ dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

    Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

    Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
    Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

    Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

    Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.

    Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

    Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah, Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

    Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib. contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .

    contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.

    Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.

    Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

    Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
    Walillahittaufiq
    Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 30 March 2008 )

  22. afwan, ana ini orang awam, untuk menjawab argumen antum ane kurang berkompeten, namun ane saranin, kalau memang antum ga suka maulid karena antum punya hujah silahkan saja, dan memang itu bukan masalah ushul, hanya khilafiyah, jadi ga usah dah dibesar-besarkan, sekarang gini, antum kok engga complain mana kala ungu, atau artis lain di jadikan idola sampai hadir di konsernya, dan lain sebagainya atau ada konser dangdut yang dihadiri begitu banyak dan maaf mungkin tidak ada kebaikannya malah ada kemaksiatan, harusnya itu yang antum komentari, ana faham arah dan tujuan antum dan termasuk golongan apa antum, ane bukan sekali/dua kali menemukan artikel seperti ini. marilah jalin ukhuwah, antum datang kepada para habaib dan coba tabayun, ane saranin datang ke habib rizieq syihab. antum coba kupas tuh antum punya argumen.
    Syukron

  23. Bagaimana dengan saudara kita yang keras kepala bahwa orang yang tidak merayakan maulid disebut wahabi….bahkan wahabi dianggap keras kepala….karena meraka merasa kitab yagn dikarang sprt barzanji, daiba, simtud dhuror adalah ulama yang nasabnya samapai ke rasull……mohon penjelasannnya…..

  24. Demi Allah zat yang maha Mulia, Dan Demi Ibu dan Bapakku ketahuilah engkau wahai saudaraku bahwa AKU BEGITU CINTA KEPADA ROSULULLOH, dengan memperinggati Maulid berarti Aku Gembira akan hari kelahiran Nabi KU, tidak demikian dengan engkau yang tidak gembira, engkau hanya gembira jikalau KAMBING/SAPI kamu melahirkan, dasar…..kalo ngak suka jangan cari-cari dalil untuk membid’ahkan, makanya ngaji jgn satu aliran saja, jadi kaku aliran kamu dan keras laksana BATU… wassalam islam sunni ALLAHU AKBAR, ALLLAHU AKBAR, ALLAHUAKBAR

  25. Jangan pikirin kitab barzaji karangan Ulama kami, tolong fikirkan AKHLAK BANGSA INI, Fikirkan Bagaimana meluruskan kesesatan aliran-aliran yang bermunculan di Negri ini, emang ente selalu cari gesekan antar umat tidak difikirkan bagamana prostitusi, judi, dan kemaksiatan lain di negeri ini jang jelas-jelas ALLAH Melaknat dan Mengharamkannya, Fikirkan Ya….bakhlul

  26. assalamua’alaikum….Akhi…
    Dg Asma Alloh yang Maha Agung dan Kemuliaan RosulNya SAW.Smga dlm karunia dan Rohmat-Nya.Amin,,,
    ktahuilah setiap orang bleh beragumen……..
    artikel anda memang bnar adanya tapi hal itu hanya memecah belah umat…….dan tdaklah kami laksanakan yang kami tahu melainkan dari sumber yang baik ( Ulama Shalih ),,kami yakin kami laksanakan…..a’maluna amalukum….biarlah Alloh Yang Maha Berbelas Kasih,,,memberikan penilaian pada akhirnya…..
    Afwan wa Syukron…..

  27. Jangan terlalu menentang orang yang sama2 Sholat bos.. Kalo ada orang minum2an, berzina, itu yang perlu ditentang bos… Sama2 Sholat, sama2 dzikir, sama2 sholawat, biar Allah yang menilai bos.. Urusan ibadah manusia tidak usah ikut2 bos membenarkan dan menyalahkan… Oke…

  28. MA’AF … sudah tidak jaman lagi membahas ini. Mari kita bahas yang lebih penting, misalnya :
    1. Orang yang mengaku nabi setelah Rosululloh Muhammad SAW.
    2. Mengaku-ngaku sebagai Malaikat Jibril
    3. Ajaran yang tidak mewajibkan sholat, malah sholat bisa ditebus dengan uang.

    Karena jelas bertentangan dengan Qur’an, Hadits.

  29. Antum mungkin lupa. Assalaamu’alaiKA ayyuhan-nabiyy waraohmatulloohi wabarokaatuh… itu bacaan antum saat shalat kan?. Bacaan yang ditetapkan langsung oleh Allah.
    Tanya para ahli bahasa Arab, ALAIKA, KA di situ itu maknanya orang kedua atau orang ketiga. Pasti orang kedua. Kalau orang kedua, apakah orang tersebut hadir di depan Anda atau tidak? Pasti Hadir! Minimal “merasakan kehadirannya”. Sama seperti kita katakan IYYAKA NA’BUDU… Allah hadir di hadapan Anda…
    Apa salahnya mengucapkan Marhaban/Selamat datang kepada Rosul yang harus kita anggap hadir saat kita bersalam shalawat kepadanya. bahkan tidak hanya hadir, tetapi juga membalas shalawat
    kita, seperti diterangkan dalam banyak hadits shahih ???

    Kitab Maulid tidak lebih sebuah kumpulan puisi indah tentang ungkapan cinta kepada Rasul Saw. Dan saya yakin sehormat-hormatnya kepada Nabinya, seseorang TIDAK AKAN PERNAH sampai kepada mengkultuskan atau menuhankannya. Ia membantu kita melaksanakan satu dari empat kewajiban kita kepada Rasul Saw (Al-A’raf 157); beriman kepadanya, MENGHORMATI atau MEMULIAKANNYA, membela ajarannya dan mengikuti cahaya ajaran yang dibawanya. Antum mungkin lupa ayat ini !!! Ayat ini secara jelas membedakan antara MEMULIAKAN dan Mengikuti cahaya/ ajarannya yang dibawanya

    Jadi daripada menyibukkan diri mengurusi orang-orang yang menyenandungkan lagu cinta kepada Nabinya, mending kita didik anak-anak kita sendiri yang mulai tidak mengenal Nabinya. Menyanyikan lagu cinta bukan kepada Tuhan atau Nabinya, dan memuja Idolanya sedemikian rupa mengatasi puijian dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

  30. Assalamu’alaikum..
    (Ana harap bgai yg baca komen ana,, baca dgn senyum)

    Bca2 kok jd agak trasa panas yah….

    Urusan maulid mmang sllu hangat klo di bahas & bs jd panas,,
    Ayo kita sm2 bljar biar dingin , ukhuwah terjaga.. Bwt yg gak terima tradisinya ditolak orang dgn hadits,yaa jgn mnuduh mreka tman yahudi,, mreka adalh saudara kita..!!
    Bukankah stiap muslim itu bersaudara??

    Nabi kita shalallohu ‘alaihi wa salam adlah manusia yg cinta dgn kdamaian wlopun ada prbedaan,,
    Nabi suka dgn prbuatan yg sdang2/wajar adanya yg tdk brlebihan(mksudnya sesuai porsinya/aturannya) tidak dikurangin aplgi ditmbah2in,,
    & Nabi mnyuruh kita utk mninggalkan perdebatan skalipun dlm posisi yg benar,,(bwt penulis smoga smakin bijak lg & sabar ) ^_^

    Bwt pecinta tradisi maulid smoga kita tdk mnjdikan tradisi sbagai ibadah & teruskan dakwah islam,,
    &smoga kita smua di mudahkan Allah subhanahu wa ta’ala dlm menggenggam erat Al-qur’an & Sunnah, & bnar2 hnya mnjadikan 2 wasiat itu sbagai pedoman,,agr slamat dunia akhirat….

    & Smoga hiti kita dijaga oleh Allah ta’ala,, agar snantiasa mencintai-Nya tanpa mnyekutukan-Nya dgn suatu apapun,, mencintai NabiNya dgn diringankan mengamalkan Sunnah2 beliau yg datang dari Beliau,, mencintai Al-qur’an & di mudahkan memahaminya dgn benar,, mencintai saudara seiman dgn senantiasa menjaga ukhwah islam….

    Salam ukhuwa smua saudaraku sekalian…
    Barokallohu fiikum….

  31. assalamu’alaikum Warah matullahi barakatuh

    buat seluruh saudara qu yang smoga kita selalu diberkahi ALLAH.

    ana gak begitu paham dgn hadist dan ilmu usulluddin….

    tp yang mau ana pertanyakan buat yang memuat artikel

    – klu memang maulid nabi itu (memperingatinya) tdk ada dalam ajaran agama kita, mengapa masih tetap ada tradisi itu?(knp mentri agaama tdk mengeluarkan fatwa untuk hal ini)
    – di tambah lagi dalam kelender sudah termuat untuk libur pada hari maulid nabi, bukankah itu berarti maulid ini memang harus di peringati krn dalam penyusunan hari libur atau memperingati hari besar dalam kelender bukankah melibatkan pemimpin kita(salah satunya mentri agama)…..

    demikian yang ana tanyaakan,
    kesempurnaan hanya milik ALLAH,,,,,,,

    wassalam

  32. BERFIKIR , MENCARI KEBENARAN, ITU LEBIH BAIK DARI PADA MENYALAHKAN, BIARKAN ” MEREKA ” MENGGUNAKAN AKAL FIKIRANNYA . ATAU RASA GENGSI YANG MEMBUAT MEREKA MENOLAK KEBENARAN…

    1. assalamu alaikum…saudara ku….sebelum saya bahas bid’ah…klu albarjanji itu bid’ah,emang bid’ah ada berapa bagian sih pak pemilik blog…??emang anda slama ini tidak pernah melakukan pekerjaan bid’ah,anda naik mobil,sepeda motor,pa itu juga bukan bid’ah,pa nabi pernah naik sepeda motor….dan anda sekarang melakukan nya yang nabi kita tidak pernah melakukannya…seharusnya anda naiknya unta,bkn mobil biar g bid’ah…..contoh lagi al-qur’an,dijaman nabi emang al-qur’an bentuknya kaya sekarang…..????penyusunan seperti itu apa nama bkn bid’ah….masih perlu anda banyak belajar supaya tidak sedikit-sedikit bid’ah….tolong dijawab….wa alaika salam…

  33. Maaf ikut nimbrung masalah maulid nabi , Memang waktu mengaji masa kecil dulu maulid diisi pembacaan barzanji dan terasa ada syiar dalam hati bgm perjuangan nabi itu bisa dihayati. Cuma agak lain apa yg diungkapkan penulis, contoh; berdiri waktu “marhaban”menurut uztadz kami dulu memberi gambaran atau pemghayatan atas peristiwa kedatangan nabi setelah perjalanan hijrahnya yang jauh dan berat disambut para sahabat ansyar dan muhajirin yg sudah lebih dahulu tiba di madinah ,rasanya (bagi saya)bukan waktu marhaban itu sosok/ruh nabi datang ikut bersama merayakan maulidmya sendiri. Lalu dikiaskan bahwa rasa hormat itu ditunjukkan dgn “berdiri” dan bukan duduk seperti upacara bendera pd 17 Agustus kan tergantung niatnya kalau memang kita sepakat bahwa penghormatan itu dalam bentuk duduk yah nggak masalah rasanya semua peserta upacara tsb duduk dilapangan rumput yg mungkin becek.Jadi jangan berbelok menganggap bahwa hubungan upacara bendera tidak selevel dgn peringatan maulid. Penghayatan kedatangan nabi bersama sahabat Abubakar ke madina memang dielu elu kan dengan berdiri . Lalu satu lagi ,apa salah atau nggak ya masalah bid’ah yg terbaca oleh saya dlm pembicaraan 2 ulama ,Saudi dgn dan yg bukan, Saya pernah mendapat penjelasan dari seorang ulama{beken lho} bahwa “laku lampah” penghambaan diri manusia didunia ini dalam bentuk perbuatan semua dapat dikatagorikan”ibadah” apabila memenuhi syarat2 tertentu(benar nggak ya) pertama katanya “ibadatul muqoiyat” yaitu laku lampah yg sudah dituntun syarat rukunnya oleh Rasul seperti sholat,puasa,dll yg tidak boleh ditambah atau dikurangi karena akan merusak ibadah itu sendiri atau malah berdosa(bid”atul ibadah). Lalu yg kedua adalah ibadatul mutlak yaitu semua laku lampah penghambaan diri manusia (apa saja) yg paling tidak memenuhi 3(tiga) syarat yaitu 1) Niat 2).Pengetahuan( bahwa perbuatan itu tidak dilarang agama) 3).Tahsin(bahwa perbuatan itu memberikan manfaat dan bukan mudhorat baik bagi pelaku maupun lingkungannya). Jadi menurut saya peingatan maulid nabi Muhammad SAW itu rasanya statunnya bukan bidatul hasanah tapi justru “ibadah” kalau memang niat kita ingin menghayati perjuangan nabi panutan kita dan kita belum pernah baca ada hadist”hai manusia dilarang kamu rame2 memperingati hari kelahiranku(nabi)” dan apakah ada peningkatan kualitas iman dan kecintaan kita kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW? Yang terakhir ini ada saya lihat bgm ceriah dan semangatnya ichwatul muslimin kita setelah memperingati maulid nadi di pelosok2 dusun dan kampung yg pernah saya amati diwilayah Kalsel dan Palembang atau daerah lain yg ada tradisi memperingati maulid ini dgn pembacaan albarzanji dan marhabanan.Maaf mungkin saya salah mohon tanggapan saudaraku

    1. ibadah itu hukumnya terlarang sampai ada perintahnya.
      sedangkan muamalah hukumnya boleh sampai ada larangannya.

      Jika maulid kita melakukannya unt mendekatkan diri kepada Allah, mengharap pahala, dan disertai ritual tertentu ini disebut apa? ibadah atau muamalah? maka tidak perlu adanya dalil larangan untuk mengatakan bahwa maulid atau perbuatan bid’ah lainnya itu dilarang.

      demikian….barokallahufiykum

  34. maulid Nabi dalam rangka memperbanyak bershalawat kepada nabi ,sudah ada sejak Abad ke 7 Masehi,dan hal yang memakjulkan kegiatan itu berrlangsung sejak Abad Ke-12 Jadi,hal yang sudah lebih dulu tidak bisa untuk di persalahkan,memang kegiatan itu Bid’ah,tetapi didalamnya sarat dengan kegiatan ibadah yang menghasilkan kebaikan (Hasanah)untuk bekal kita di akhirat ,adakah yang menjamin tanpa kita bermaulid nabi kita akan masuk syurga?tentu tidak inilah dasar “fastabiqul khairooot fi kastsi..rul hasana..t yazhibussayyia’..t” untuk memperoleh syafaat nabi,dalam sholatpun kita wajib bershalawat sampai kepada keluarganya,tanpa itu nol persen shalat kita di terima…. Disebutkan dalam kitab Ihya , Al-Qirthas dan Al-Maghnam Fil Wirdil A’dham karangan Asy-Syaikh Muhyiddin Ibn An-Nuhhas, sebuah hadist dari Abi Kahil yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda

    “Hai, Abu Kahil ! Ketahuilah bahwa barangsiapa bershalawat karena cinta dan rindu kepadaku sebanyak 3x dalam sehari, maka sudah pasti Allah akan mengampunkan dosa-dosanya pada hari itu dan malam itu”

    Diriwayatkan juga dari Abu Bakar bin Abu ‘Ashim dalam Kitab Ash-Shalah juga disebutkan dalam Kitab Syarhul Washiyah

    Rasulullah bersabda “Siapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi 10x dan petang 10x maka ia mendapat syafaatku di hari kiamat”

    “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.”

    (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)

    1. Yang melarang perayaan maulid, juga memiliki keyakinan dan berusaha mengamalkan memperbanyak sholawat dan memiliki pula keyakinan tentang keutamaan bersholawat kepada Nabi. Dan dalil-dalil tentang keutamaan Sholawat tersebut sama sekali tidak memperkuat keabsahan peringatan maulid Nabi. Karena yang dikritisi tentang maulid bukanlah apa yang dibaca didalamnya, tetapi kaifiyyah-nya, yaitu salah satu cara/ritual dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan itu telah jelas tidak pernah ada riwayatkan bahwa amalan ini dilakukan oleh generasi terbaik ummat ini, yaitu para Sahabat, atau bahkan oleh imam yang 4.

      Yahdikumulloh

  35. Setiap jatuhnya tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam selalu merayakan datangnya maulid Nabi Muhammad SAW. demikian itu tidak lain merupakan sebuah warisan budaya atau peradaban Islam yang diperingati secara turun-temurun oleh umatnya. Jika dikaji dari catatan historis (tarekh), maulid telah dimulai sejak zaman Kekhalifahan Fatimiyah di bawah pimpinan keturunan dari Fatimah az-Zahrah binti Muhammad. Asal muasal pelaksanaan perayaan maulid ini dilaksanakan atas usulan panglima perang bernama Shalahuddin al-Ayyubi (1137M-1193 M), kepada khalifah agar mengadakan peringatan hari kelahiran (mulud) Nabi Muhammad SAW. Ending dari perinagatan itu adalah untuk mengembalikan semangat juang umat Islam dalam perjuangan membebaskan Masjid al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Zionis Yahudi. Yang kemudian, menghasilkan efek besar berupa semangat jihad umat Islam menggelora pada saat itu. Secara subtansial dapat dikatakan perayaan maulid nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengenal akan ketauladanan Nabi Muhammad SAW. atas risalah kerasulan untuk menyiarkan Dinul Islam.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam catatan sepanjang sejarah kehidupan, Nabi Muhammad SAW. adalah pemimipin besar yang sangat luar biasa dalam memberikan tauladan agung bagi umatnya. Dalam konteks ini maulid harus juga diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat Islam. Yaitu sebagai semangat baru (spirit) untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokratisasi seperti adanya sikap toleransi (tasamuh), transparansi (tabligh), anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan hidup, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme. Dalam tatanan sejarah sosiologis antropologis Islam, Nabi Muhammad SAW. dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi satu sama liannya.
    Dimensi pertama, dapat dilihat dan dipahami dari perspektif sosial-politik ke-Islaman (siasyah syariah), bahwa Nabi Muhammad SAW. di samping sebagai nabi dan rasul juga sebagai imamul ummah dari sini beliau sebagai sosok politikus ulung dan handal. Sosok individu beliau yang sangat identik sekali dengan sosok seorang pemimpin yang adil, egaliter, toleransi, humanis, serta non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial bangsa Arab masa itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera, damai dan tentram di bawah ampunan Rabb (baldatun thoibatun warabun ghaffur).
    Dimensi kedua, dapat dilihat dan dipahami dari perspektif teologis-religius, bahwa Nabi Muhammad SAW. sebagai sosok nabi sekaligus juga sebagai rasul akhiruzaman dalam tatanan konsep ke-Islaman. Hal ini beliau diposisikan sebagai sosok manusia sakral yang merupakan wakil Tuhan di dunia yang misi utamanya adalah bertugas membawa, menyampaikan, dan mengaplikasikan segala bentuk pesan suci (kudus) dari Tuhan kepada umat manusia secara universal.
    Nah dalam kesempatan ini rasanya sudah datang saatnya bagi umat Islam untuk kembali memulai (merekonstruksi) memahami arti tanggal 12 Rabiul Awal yang sering disebut maulid secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga tidak hanya memahami dan memperingatinya sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang sarat dengan serangkaian ritual-ritual sakralistik-simbolik ke-Islaman semata, namun jauh dari itu sesungguhnya menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin yang membawa spirit reformasi dan restorasi menuju perubahan dalam tataran kepemimpinan umumnya dan kepemipinan peradilan khususnya dalam rangka menuju peradilan yang agung. Karena bukan menjadi rahasia lagi bila saat ini bangsa ini sedang membutuhkan sosok pemimpin yang mampu merekonstruksikan suatu citra kepemimpinan dan masyarakat sosial yang ideal, egaliter, toleran, humanis dan nondiskriminatif, sebagaimana yang pernah dipraktekan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. untuk seluruh umat manusia (rahmatan linnas). Sehingga kontekstualisasi maulid tidak lagi dipahami dari perspektif ke-Islaman semata, melainkan juga harus dipahami dari berbagai perspektif dan dimensi yang menyangkut segala persoalan dalam kehidupan umat manusia, seperti aspek persoalan penegakkan hukum, politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, maupun agama……

    1. Bisakah yang disampaikan itu tentang dalil bahwa para Sahabat, yaitu ummat Islam terbaik yang paling paham dengan agama yang lurus ini, yang melakukan perayaan maulid Nabi?

      Mohon ketika memberi feedback tentang maulid Nabi jangan memberikan penjelasan manfaat secara substansial atau sekedar warisan turun-temurun, karena seandainya kita menjelaskan manfaat substansial atau makna yang ada di dalam ibadah-ibadah lain yang telah sah datang dari Nabi dan para Sahabat telah cukup, bahkan mungkin tidak sanggup kita merealisasikan semuanya

      Adapun tentang Kekhalifahan Fathimiyyun, maka ini sebenarnya beragama syi’ah yang justri syi’ah inilah kuturunan yahudi.
      Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. (Al Bidayah Wan Nihayah 11/172). Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar 1/490. (Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hal. 43)


      Siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?

      Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”

      Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”

      Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”[14]

      Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.

      Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”[15]

      Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].”[16]

      ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.

      Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).”[17]

      Bagaimana mungkin Shalahuddin menghidupkan perayaan Maulid sedangkan beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun?! Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

      صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ

      “Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”[18]

      Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

      فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ

      “Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Beliau yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Di masa beliau, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[19][20] semakin terbesar luas.”

      Dari penjelasan ini, sangat mustahil jika kita katakan bahwa Shalahuddin Al Ayubi yang menjadi pelopor perayaan Maulid, padahal beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun. Sungguh, jika ada yang menyatakan bahwa Shalahuddin sebagai pelopor Maulid, maka ini sama saja memutar balikkan sejarah. Sejarah yang benar, Shalahuddin itu menumpas ‘Ubaidiyyun sebelum diadakan perang salib karena ‘Ubaidiyyun yang sebenarnya melemahkan kaum muslimin dengan maulid yang mereka ada-adakan. Namun inilah kenyataan sejarah yang direkayasa yang diputarbalik dan disebar di negeri ini. Hanya Allah yang beri taufik.

      Adapun tentang Siapakah sebenarnya Sholahudin al-Ayyubi? apakah beliau pro-maulid?

      berikut kami nukilkan artikal yang ditulis oleh Ust kami, Ust. Ahmad Sabiq, Lc

      Alkisah

      Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.

      Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?

      Kedustaan Kisah Ini

      Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.

      Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah. Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

      Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]

      Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?

      Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.

      Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]

      Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

      Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”

      Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”

      Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”

      Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

      Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]

      Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini. Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.

      Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.

      Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.

      Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.

      Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.

      Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”

      Adz Dzahabi berkata: “Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”

      Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

      Note:

      [1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hokum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”

      [2] Disarikan dari Siyar A’lamin Nubala’: 15/434 no.5301

      Sumber:

      Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 09 Thn.XIII, Robi’uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58

      referensi url: http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2929-benarkah-ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html
      http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/05/benarkah-sholahuddin-al-ayyubi-pencetus-perayaan-maulid-nabi/


      Yahdikalloh

  36. alhamdulilah sampai saat ini masih bisa bersholawat dan ikut merayakan maulidNabi di majlis majlis,,,,,Tiada hari tanpa bersholawat,,,,,,,,

  37. subhanalloh kalian berhujjah seuai dengan ilmu nyang kalian miliki, betapa luas ilmu Alloh, istigfar dan lakukan sesuai alqur’an dan hadist, semoga Alloh subhanahuwata’ala mengampuni kita semua, amin

  38. assalamu’alaikum.
    subhanallah.astagfirullah hujjah sana hujjah sini. memang syaithon halus bangat merusak hati dan pikiran saudaraku.saudaraku pecinta nabi terus bersholawatlah dan bermaulidlah, biarkan mereka yang bilang bid’ah.pake jurus surat al -kafirun ayat terakhir aja buat yang begitu.kan dah di bilang entar terbagi 73 golongan .mudah -mudahan kita satu golongan yang di ridhoi allah. ga pernah ada dosa bgi orang bersholawat ..belajarlah terus dari guru dan ulama, biarkan mereka bilang bid’ah.biasalah klo ga gtu kan mereka ga terkenal dan masuk tivi,ya tentunya ga dapat jatah dah…ceramah bid’ah amplop kaga bid’ah ,kita yang waras doain merka aja biar dapat taufik dan hidayah, karena saat ini kyai dan ulama lah yang bimbing kita.

  39. Sebelum saya berkomentar, sebaiknya penulis konfirmasi dulu kepada yg merayakan apakah saat merayakan telah berbuat syirik apa tidak. Jangan asal menuduh…hati2 klo berpendapat, ingat semua itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Soal beda pendapat soal biasa, tapi menuduh kelompok lain musyrik hendaknya ditimbang2 dlu. Bicara soal peringatan maulud nabi, saya pribadi pny pendapat. Bahwa amalan2 ibadah itu haram dikerjakan kecuali ada dallil yg memerintahkan. Dan amalan2 muamalah/duniawi boleh dikerjakan selama tidak ada dalil yg melarang. Mengenai maulud nabi merupakan amalan yg mengandung unsur amalan ibadah dan sekaligus muamalah. Unsur ibadah smua tau, bahwa tujuan pokok maulud adalah kecintaan terhadap Nabi, kemudian syiar dan ukhuwah islamiah. Bukankah amalan2 itu ada dalilnya. Sedangkan pengkhusan waktunya ataupun teknis peringatanya itu adalah amalan yg sifatnya muamalah, boleh dikerjakan selama tidak ada dalil yg melarang. Kalau memang peringatan maulud itu adalah haram, harusnya shalat tarawih berjamaah dan dilakukan terus~menerus selama bln ramadan adalah haram juga. Bukankah nabi pernah menolak untuk sholat tarawih berjamaah. Tapi kemudian sahabat Umar mengatakan, shalat tarawih berjamaah sebaik2 bidah. Akhirnya saya berkesimpulan, peringatan maulud boleh dan bahkan berpahala, selama tidak menganggap wajib.

  40. assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh,

    jazakallaahu khoiron katsiron ya akhi.
    semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dan kelancaran dalam jalan dakwah akhi.
    saya yakin banyak sekali orang2 yang melakukan suatu perbuatan karena dilandasi perbuatan bapak2nya ato nenek moyangnya yang sering kali belum diketahui kebenarannya.
    Semoga Allah senantiasa memberi pemahaman atas kebenaran-Nya bagi kita semua dan tidak mudah disesatkan oleh syaitan.

    Sekali lagi tetap semangat dalam berdakwah sebab dakwah dijalan Allah tidaklah mudah.
    Dan sering2 berbagi tulisan agar kami2 yang masih awam tentang islam jadi lebih mengerti dan memahami dan yang terpenting adalah mengetahui hujjah dan dalil atas perbuatan yang dilakukan agar kelak dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT.

    Sholawat itu bisa kapan saja! tidak harus mengkhususkan hari! salam ukhuwah dari jepang!

  41. singkat aja deh dari saya orang yg awan…yang pasti dalam peringatan Maulid Nabi MUHAMMAD SAW tidak ada joget2 minum2an keras atau pesta Narkoba ( tidak ada keburukan didalamnya )…jadi yg membid’ah kan sesuatu yg hasanah itu tidak bisa diterima akal sehat…karna dengan memperingati maulid tidak ada yg sampai keluar dari syariat apalagi sampai berganti syahadatnya…
    singkat kata malana ‘amaluna malakum ‘amalukum (klau ga salah kaya gtu dalam al-qur’annya) klw salah semoga Allah mengampuni kesalahan saya…

    1. cukuplah disebut sebagai keburukan jika mengada-adakan suatu perayaan yang para Sahabat-pun tidak pernah merayakan maulid sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Baarokallahufiykum

      1. maramis: cukuplah disebut sebagai keburukan jika mengada-adakan suatu perayaan yang para Sahabat-pun tidak pernah merayakan maulid sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

        berarti internetan, naik mobil, naik motor, pake hp itu buruk semua???

      2. mas Irvan -yg semoga dirahmati Allah-…perlu dibedakan antara ‘ibadah dan non-‘ibadah…bid’ah sendiri didefinisikan oleh Ulama sebagai berikut…

        عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
        Suatu istilah untuk suatu jalan dalam AGAMA yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

        Jadi “mengada-ada” yang dilarang adalah dalam ibadah, yaitu sebuah ritual, tatacara tertentu demi mendekatkan diri kepada Allah. Untuk masalah duniawi maka bukan termasuk dalam pembahasan bid’ah, bahkan Nabi pun pernah berfatwa kurang tepat kepada sahabatnya tentang urusan cocok tanam (kurma), maka Sahabatnya memberi ‘feed back’ kepada Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- kenapa hasilnya kurang memuaskan, maka beliau bersabda,

        أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
        “…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

        Maka mari kita berinovasi urusan dunia kita…tanpa berinovasi dalam urusan agama kita.

        Baarokallahufiykum

  42. Yang pasti orang2 yang demen maulid adalah orang2 demen dan cinta Rosul, yang haus akan Sholawat, Sampai2 langkahnya pun diiringi dg bacaan Sholawat.

    1. Seperti yang Imam Asy-Syafi’i katakan… Al-Ilmu kobla Qoul wal Amal
      Berilmu sebelum berkata dan beramal…
      Telitilah.. bagaimanakah cara Imam Asy-Syafi’i bershalawat… Apakah dengan barjanji?

    2. Bener brooo…boloku nek demen sholawat…nek sing ra demen kon maca Qur’an sing teliti tentang sholawat…Innalloha maalaikatahu yusolluna ngalannabi ya ayyuhalladzina amanu shollu ngalaihi wasallimu tasliima….

  43. Setelah aq baca artikel barjanji aq jadi geli kok masih ada ustad gaok dan goblog. Apalagi seperti aq yang awam
    Belajar anda baca sholawat dengan khikmat yakin anda akan terbuka mata hatinya nanti anda bisa masuk kealam malakut walau anda masih hidup didunia ini
    kamu akan tau bebentuk makhluk Alloh yang ghoib insya alloh
    seperti aq dulu waktu masih mengajara di muhammadiyah aq keras sekarang sudah tidak karena aq sekarang sudah dapat merasakan semua itu
    Ohya Alloh setiap memerintahkan makhluknya Dia tidak pernah ikut didalamnya kecuali Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

    1. Jika dasar Anda adalah khikmat semata dalam ibadah, maka apa beda agama yang mulia ini dengan agama lainnya? saya yakin seorang nasrani, budha, hindu…semuanya ketika beribadah akan merasa ketenangan dan ketentraman hati…namun apakah ini menunjukkan bahwa agama mereka benar?

      Makhluk ghoib memang kita imani bahwa mereka ada, namun dengan kemampuan Anda mampu melihat sosok mereka apakah menandakan bahwa Anda benar? Atau jangan-jangan karena anda punya ajian/ jimat atau jin bawaan? Tidak perlu mengambil contoh Anda…kita bisa melihat banyak orang yang ngaku bisa melihat jin dari kalangan dukun dan paranormal.

      Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah

    2. Mas/mba. Klu ngarasa bodo jangan pada komentar. Malah keliatan bodo bangetnya.
      Ustad sma ulama belajar itu ga sebentar model orang goblog yang pinternya ngehujat. Mereka belajar jga mengamalkan apa yang benar. Baru bisa baca aja udah pada sok tau.

  44. Trus saya harus koprol dan bilang waw gitu.
    Saya tau islam dari ustad dan ulama yg suka baca albarjanji.
    Dan itu terjadi dr jamannya orang2 soleh yang sudah di akui kecerdasan, kepintaran, kesolehan dan ketakwaannya.
    Rasanya ga mungkin mereka ga tau isi barjanji. Merak itu jngankan berjanji baca Al Qur’an aja udah di luar kepala. Masa saya mau percaya sma kmu orang bodo yang baru belajar membaca. Yang ga jelas entah darimana. Mas klu mw ngomong mbo yao sinau sing bener sik. Hati2 sama omongan. Karna bisa memurtadkan diri sendiri….

  45. saya rasa,segala sesuatu yang menuntun terhadap kebaikan,mengapa harus dilarang?
    tinggal bagaimana niatnya saja..
    tidak maulidan tak kan kufur
    orang yang maulidan juga bukan kafir
    oh ya saya mau bertanya: kalau makan sampai kenyang bid’ah bukan?

    1. Sebagaimana telah diketahui bahwa agar sebuah ibadah diterima Allah maka syaratnya tidak hanya ikhlas, namun juga harus ittiba’ (meneladani Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-)

      Allah berfirman: “Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“.(QS : Al Kahfi: 110).

      Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan, ““Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.” Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[Tafsir Ibnu Katsir].

      Orang yang melakukan kebid’ahan memang bukan kafir, karena kebid’ahan berbeda dengan kekufuran. Orang yang melakukan kebid’ahan disebut mubtadi’. Namun kebid’ahan juga bisa menyebabkan pelakunya terjatuh kepada kesyirikan karena bentuk kebid’ahannya tsb seperti yang dibahas dalam artikel ini.

      Makan sampai kenyang bukan bid’ah.

      Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah

  46. Smoga org ini mendapat hidayah. Dan kembali ke jln yg lurus
    آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَبَّلْ عَلَمِيّنْ.

    Kamii umat nabi. Kami cinta nabii. Dan kami beshalawat kpda nabii.

    1. aammiin…semoga Anda pula mendapatkan hidayah Allah
      saya juga ummat Nabi, cinta Nabi, dan bersholawat kepada Nabi…dengan cara meneladaninya dan ittba’ kepadanya, bukan dengan kecintaan dan sholawat yang tidak ada sunnahnya dari beliau shallallahu’alaihi wa sallam, juga bukan kecintaan yang menjadikan beliau memiliki kedudukan yang sama dengan sang Rabb.

  47. APA HANYA DENGAN MEMAHAMI HADIST KITA UDAH CUKUP MENCINTAI ROSULULLOH??& BUKANKAN KAUM KAMU KAFIR ITU SEDARI DULU INGIN MEMBUAT CELAKA ROSULLULLOH??INGIN MEMBUNUH ROSULLULLOH??APAKAH DENGAN KALIMAT BID’AH AKAN PERAYAAN MAULID ITU SAMA SEPERTI KAUM KAUM KAFIR YG INGIN MENGHAPUS AKAN RASA KEAGUNGAN PARA BARZANZI ATAS MAHLUK YG SANGAT MULIA YG TELAH ALLOH CIPTAKAN&HADIRKAN??APAKAH TIDAK BERFIKIR BETAPA SEDIHNYA ROSULLULLOH ATAS PERPECAHAN UMAT ISLAM SEPERTI INI??(LIHAT SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW,BACA SAAT SAAT MENJELANG WAFATNYA NABI MUHAMMAD S.A.W HANYA UMATNYA YG BELIAU BAYANGKAN,BAGAIMANA KESELAMATAN UMATNYA NANTI??) BUKANKAH KITA SADARI BAHWA HAL SEMACAM INI HANYA MEMBUAT PERPECAHAN ANTAR UMAT ISLAM?? BUKANKAH ALLOH SWT ROSULLULLOH SANGAT MEMBECI AKAN PERMUSUHAN?? FIKIRKAN BAIK BAIK, SAYA TAK TAU SIAPA ORANG DIBALIK YG MEMBUAT ARTIKEL & PERNYATAAN INI, TAPI SAYA JUGA MENGINGATKAN DIRI SENDIRI UNTUK TETAP DALAM IMAN SERTA ISLAM. HANYA HATI KALIAN LAH YG ALLOH LIHAT( (HATI SUMBER DARI SEGALA PENYAKIT) KLO MENGAKU ISLAM PASTI TAU PENYAKIT PENYAKIT HATI ITU SEPRTI APA) )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s