Menentukan Qiblat dengan Google Earth


Kiblat Kaum Muslimin
Kiblat Kaum Muslimin

Salah satu rukun dalam Sholat baik yang bersifat fardhu maupun yang sunnah adalah menghadap kiblat. Dan kiblat-nya kaum muslimin adalah ka’bah yang terletak di Masjidil Haram di Mekkah. Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shifat Sholat Nabi Shallahu’alaihi wa sallam berpendapat bahwa wajib bagi yang melihat Ka’bah untuk menghadap langsung ke porosnya, bagi yang tidak melihatnya maka ia menghadap ke arah Ka’bah.

Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, Bila engkau berdiri untuk melakukan sholat maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah (HR. Bukhari dan Muslim).

Mayoritas umat muslim di Indonesia menjadikan arah ka’bah adalah arah barat, dan ini memang tidak mutlak salah, karena mengingat kita tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri lokasi ka’bah dan memang arah mendekati arah ka’bah dan yang paling mudah bagi kita untuk menjadi patokan adalah arah barat. Dan Allah tidaklah membebani suatu kaum yang kaum tersebut tidak sanggup menganggungnya dan kita bertaqwa kepada Allah semampu kita. Sebagaimana firman-Nya,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”(Al-Baqarah 286)

Di sisi lain yang menarik adalah bahwa sekarang kita bisa dengan mudah menentukan arah kibat yang presisi dan tepat ke arah kiblat yaitu ka’bah. Yaitu menggunakan google earth. Dalam user guide-nya disebutkan , “Welcome to Google Earth! Once you download and install Google Earth, your computer becomes a window to anywhere on the planet, allowing you to view highresolution aerial and satellite imagery, elevation terrain, road and street labels, business listings, and more.”

Singkatnya dengan menggunakan google earth kita bisa melihat berbagai tempat dibelahan bumi dengan pencitraan satelit dan bisa melakukan beberapa penambahan-penambahan berupa garis, area, titik lokasi dan sebagainya. Nah…hal inilah yang menjadikan google earth juga bisa menjadi tools untuk menentukan arah kiblat yaitu ka’bah dari mana saja lokasi yang ingin kita ketahui arah kiblatnya berada.

Sebelum kita melakukan penentuan kiblat, tentu saja kita harus mendownload dan install dulu google earth melalui link ‘download and install’ di penjelasan singkat user guide google earth di atas. Selanjutnya untuk mengaksesnya pertama kali memerlukan koneksi internet, jika sudah sering menggunakannya maka bisa juga digunakan secara offline.

Langkah-langkah untuk menentukan arah kiblat sebagai berikut:

1. Cari lokasi yang ingin diketahui arah kiblatnya, bisa rumah, masjid, atau tempat yang lain. Disini saya contohkan masjid Manarul Ilmu ITS. Lokasi yang diinginkan bisa dicari melalui fasilitas search, misalnya dengan memasukkan kota dan negaranya. Selanjutnya bisa dicari titik lokasi bangunan tepatnya, agak sulit memang, tetapi insyaAllah menyenangkan karena kita bagaikan melakukan penjelajahan dunia :). Dengan cara yang lebih advance bisa dengan GPS dan memasukkan koordinatnya di google earth. Setelah itu, dengan cara yang sama cari juga lokasi Ka’bah di Masjidil Haram. Jadikan kedua tempat ini disimpan placemark, sehingga mudah untuk ‘terbang’ dari lokasi yang akan dibuat arah kiblat dengan ka’bah sendiri.

Masjid Manarul Ilmi ITS
Masjid Manarul Ilmi ITS

2. Centang lokasi ka’bah di placemark dan hilangkan centang untuk selainnya, lalu Klik Add path yang ada di kiri atas tampilan google earth, lalu klik satu kali dilokasi yang akan dibuat arah kiblatnya. Beri nama di kolom nama, dan jangan klik OK dulu.

klik ka'bah satu kali
klik ka'bah satu kali

3. Selanjutnya klik play di placemark (nikmati penerbangan Anda 🙂 ), klik ka’bah satu kali. Jadi lah garis lurus yang menghubungkan lokasi masjid atau rumah Anda tadi dengan ka’bah, dan inilah arah kiblat masjid atau rumah Anda.

arah kiblat masjid ITS dan kemiringannya
arah kiblat masjid ITS dan kemiringannya

Dari sini anda dapat melihat kemiringan arah kiblat Anda selama ini dengan ka’bah, lalu bagaimana dengan sholat kita selama ini jika arah kiblat tersebut tidak persis ke arah ka’bah ? jangan khawatir, hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, ”…Namun perlu kita ketahui bahwa miring sedikit dari arah qiblat adalah tidak membahayakan, seperti jika ia miring ke arah kanan sedikit, atau ke kiri, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penduduk Madinah : “Antara timur dan barat adalah qiblah” (HR.Tirmidi, Ibnu Majah dan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi).”

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Oleh karena itu mereka yang berada sebelah utara qiblah, kita katakan kepada mereka : bahwa antara timur dan barat adalah qiblat, begitu juga mereka yang berada di sebelah selatan qiblah, dan bagi mereka yang berada di sebelah timur atau barat qiblah, kami katakan bahwa antara utara dan selatan adalah qiblat, maka miring sedikit tidak berpengaruh dan tidak membahayakan.”

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Dan di sini ada suatu masalah yang saya perlu ingatkan yaitu : Barang siapa berada di Masjid Haram dan ia menyaksikan Ka’bah, maka wajib baginya untuk menghadap Ka’bah tersebut bukan ke arahnya, karena jika ia miring dari Ka’bah, maka dia tidak akan menghadap qiblah, dan saya melihat banyak dari kaum muslimin di Masjid Haram tidak menghadap Ka’bah, kamu mendapatkan barisan mereka memanjang, dan kamu dapat mengetahui dengan yakin bahwa kebanyakan dari mereka tidak menghadap Ka’bah, dan ini adalah suatu kesalahan yang besar yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin, dan tidak boleh terulang, karena jika mereka shalat dalam keadaan demikian, berarti mereka telah shalat tidak menghadap qiblah.” (Fatwa, 28 dzulhijjah ,Majmu’ Fatawa, Syaikh ‘Utsaimin, Jilid 12, hal, 415 )

Dengan adanya cara baru dan mudah ini diharapkan kaum muslimin yang ingin mendirikan masjid bisa menentukan arah kiblat masjidnya semampu mungkin menghadap ka’bah persis. Sebagai tambahan, dengan langkah yang hampir serupa, kita juga bisa menggunakan google maps, dan tidak perlu install, cukup kunjungi di http://maps.google.com. Wallahu’alam dan semoga bermanfaat.

Arah Kiblat Masjid Baitul Muttaqin-Keputih,Surabaya
Arah Kiblat Masjid Baitul Muttaqin-Keputih,Surabaya

Arah kiblat masjid ma'had Thoybah....shofnya memang sudah dibuat miring
Arah kiblat masjid ma'had Thoybah....shofnya memang sudah dibuat miring

garis-kiblat4

Iklan

13 thoughts on “Menentukan Qiblat dengan Google Earth”

  1. Akhi,semoga Allah merahmatimu.
    Ana tidak setuju dgn perktn antm terakhir. Bg masjid yg sudah ke arah ka’bah tidak perlu dimiring2 kan. Lihat pnjelasan ana di blog ana dari fatwa syaikh ibnu utsaimin juga. Tlng hargailah ikhtilaf. Jadi menurut ana, masjid yg sudah hadap ke arah ka’bah tidaklah perlu dimiringkan supaya pas dgn ka’bah. Jgnlah menyusah-nyusahkn diri. Blm tentu semua org melakukn cr di atas. Jadi cukup masjid yg sudah mghadap ke arah barat tetap spt itu.
    Coba antm lht skali lg pnjlasan ana dr fatwa syaikh ibnu utsaimin. InsyaALLAH antm akn lbh jelas.

  2. Jadi hargailah khilaf, perbdan pendapat dalam masalah ijtihadiyah.
    Janganlah menyusah-nyusahkn diri.
    Ana tinggal di desa, tidak ada google di sini. Gmana mau praktekan cara di atas?

    Maramis: Jazakallah akh dua komentarnya, semoga kita berdua terus diberi petunjuk dan dimudahkan Allah dalam berdakwah melalui blog….

    Perkataan anta benar sekali, oleh karena itu kalau ditinjau ulang tulisan ana di atas, ana menyebutkan,

    Mayoritas umat muslim di Indonesia menjadikan arah ka’bah adalah arah barat, dan ini memang tidak mutlak salah, karena mengingat kita tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri lokasi ka’bah dan memang arah mendekati arah ka’bah dan yang paling mudah bagi kita untuk menjadi patokan adalah arah barat. Dan Allah tidaklah membebani suatu kaum yang kaum tersebut tidak sanggup menganggungnya dan kita bertaqwa kepada Allah semampu kita. Sebagaimana firman-Nya,

    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”(Al-Baqarah 286)

    Ana juga telah menjelasakan dengan fatwa syaikh Utsaimin di tulisan di atas….

    Dari sini anda dapat melihat kemiringan arah kiblat Anda selama ini dengan ka’bah, lalu bagaimana dengan sholat kita selama ini jika arah kiblat tersebut tidak persis ke arah ka’bah ? jangan khawatir, hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, ”…Namun perlu kita ketahui bahwa miring sedikit dari arah qiblat adalah tidak membahayakan, ……….dst

    Dengan demikian ana memang sepakat dengan anta….tulisan di atas adalah salah satu upaya kita untuk menentukan arah kiblat yang persis ke arah dengan ka’bah tanpa menafi’kan adanya ketidaksanggupan beberapa lokasi yang tidak mampu menentukannya secara persis dan mengembalikan semuanya kepada kemampuan kita, Fattaqullah mas tatho’tum. Untuk perkataan ana terakhir yang mungkin maksud anta tentang keterangan gambar masjid ma’had thoybah adalah bermaksud untuk menunjukkan keadaan sesungguhnya dari masjid tersebut yang memang shofnya telah dibuat miring sehingga mungkin semakin mendekati garis merah arah dari ka’bah yang ana buat. Sedangkan kalau yang anta maksud dengan tulisan terakhir itu,

    Dengan adanya cara baru dan mudah ini diharapkan kaum muslimin yang ingin mendirikan masjid bisa menentukan arah kiblat masjidnya semampu mungkin menghadap ka’bah persis.

    maksudnya itu berupa harapan dan melakukannya semampunya…tentu saja dengan kita menghadap persis ka’bah dengan cara bantuan teknologi di atas insyaAllah tidak masalah atau bahkan insyaAllah lebih utama.

    Barokallahufik……Wallahu’alam.

  3. Jazakumullah khoiron atas tanggapannya.

    Namun yang jelas bagi yang tidak melihat ka’bah secara langsung, dia cukup menghadap arahnya saja, tidak perlu menghadap persis ke arah ka’bah dan tidak perlu menarik garis merah seperti yang antum maksudkan. Itulah yang dimaksudkan dengan fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin. Kalau antum menukil fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, tentu kesimpulannya tidak seperti yang antum buat.
    Yang lebih tepat kesimpulan Syaikh Ibnu Utsaimin:
    1. Jika orang melihat ka’bah langsung, maka dia wajib menghadap ke arah ka’bah tidak boleh menyimpang sedikit pun juga.
    2. Jika orang tidak melihat ka’bah, maka dia cukup menghadap ke arahnya saja. Seperti di Indonesia cukup menghadap ke arah barat.

    Itulah yang disimpulkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.

    Pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin ini juga dipilih oleh Ash Shon’aniy, penulis kitab Subulus Salam yang merupakan kitab penjelas dari kitab Bulughul Marom yang terkenal. Di dalam kitab tersebut setelah membawakan hadits “arah antara timur dan barat adalah qiblat”, dikatakan bahwa hadits ini merupakan dalil di mana yang wajib adalah menghadap arah ka’bah saja, bukan menghadap persis ke Ka’bah. Hal ini berdasarkan ayat 144, Surat Al Baqarah di atas. Ayat tersebut menunjukkan cukup menghadap arahnya saja walaupun tidak persis ke arah ka’bah.

    Beliau mengatakan pula bahwa jika dikatakan,”Kami akan mencari arah kiblat tersebut sehingga persis menghadap ka’bah”. Jawabannya : “Bersusah-susah seperti ini tidak ada dalil sama sekali dan tidak pernah dilakukan oleh sahabat padahal mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini.”

    Inilah pendapat Ash Shon’aniy dalam Subulus Salam dengan sedikit perubahan redaksi. Pendapat semacam ini juga dipilih oleh ulama Hanafiyyah, juga yang nampak dari Malikiyah dan Hanabilah dan ini juga pendapat Imam Syafi’iy.
    Sedangkan pendapat yang nampak pada ulama Syafi’yyah, pendapat Ibnul Qoshshor yang merupakan ulama Malikiyyah dan pendapat Abul Khoththob dari ulama Hanabilah bahwa wajib menghadap persis ke arah ka’bah (dan tidak cukup menghadap ke arahnya saja, pen)

    Seharusnya jika antum memilih harus menghadap ka’bah persis, jangan pakai fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, pakailah fatwa ulama Syafi’iyah.

    Ana dulu pernah menghadapi kasus masalah kiblat di masjid Siswa Graha di Pogung Kidul, Utara Fak Teknik UGM. Para takmir bingung, mereka ingin merenovasi masjid. Ada sebagian warga yang ngotot untuk tetap arahnya harus menghadap ka’bah persis. Sebagian takmir tidak setuju karena ini harus mengubah posisi shaf. Dan shaf masjid harus miring agak ke utara. Sehingga kemungkinannya shaf akan berkurang, daya tampung masjid juga akan semakin berkurang. Ini merepotkan. Lalu mereka mengadu ke saya. Lalu saya katakan:
    Pak, ini ada khilaf. Sekarang terserah keputusan takmir maunya ngadap ke ka’bah persis atau tetap seperti sekarang. Kalau kita tidak melihat ka’bah secara langsung, cukup bagi kita menghadap arahnya saja yaitu ke arah barat. Tidak perlu sulit-sulit seperti itu.
    Sampai sekarang masjid tersebut tidak dimiringkan tetap saja seperti posisi semula. Begitu juga antum dapat lihat di masjid-masjid sekitar pogung, semua menghadap ke barat saja, tidak miring ke utara.

    Itulah akhi. Jadi maksud ana, jika memang masjidnya sudah menghadap ke arah barat tidak perlu shafnya dimiring-miringkan lagi. Lihatlah perkataan Shon’ani di atas. Kalau memang masjidnya baru dibangun, itu baru kita tentukan sejak awal arahnya persis ke ka’bah.
    Wallahu a’lam

    Semoga Allah mengumpulkann kita berdua di surga-Nya kelak bersama para nabi, shidiqin, syuhada dan sholihin

    Maramis: Jazakallah atas keterangannya dan dalilnya yang lebih detail….

    Semoga Allah mengumpulkann kita berdua di surga-Nya kelak bersama para nabi, shidiqin, syuhada dan sholihin

    Amin…..

  4. Memang bisa dipakai cara seperti itu, tapi memang agak merepotkan bagi yg belum punya akses internet cepat karena google earth membutuhkan akses internet high speed supaya optimum. Tapi sebenarnya sudah ada yang membuat software online nya cara menentukan arah kiblat presisi yang berbasis Google Map yang bisa diakses di http://rukyatulhilal.org/qiblalocator/

    Terima kasih

  5. hukum yang berkaitan dengan kiblat bukan hanya shalat bukan?

    Kita mau buang air besar maupun kecil pun hukum-hukumnya berkaitan dengan kiblat. Nah, kalau semuanya dibebani dengan keharusan menghadap persis, bukan dengan keumuman dalil bahwa diantara “Antara timur dan barat adalah kiblat” (kecuali yang melihat ka’bah) maka bukankah kita juga harus memastikan tidak miring2 ketika buang air besar dan kecil?

    Lhah jadi lebih merepotkan bukan?

    Kalimat fatwa Syaikh Utsaimin sepertinya sangat-sangat jelas bahwa menghadap ka’bah adalah kewajiban bagi yang melihatnya, sedangkan yang tidak melihatnya maka kembali ke dalil yang diriwayatkan Tirmidzi dan lain-lainnya, dan demikianlah adanya, wallahu a’lam.

    Andy Abu Thalib

  6. kenapa mekah dilihat dari google earth terlihat putih sedang kawasan lain hitam? siapa yg bs jawab hayo…………
    subhanalloh

    maramis: iya…siapa yang bisa jawab hayo…subhanallah

  7. Ass wr wb.
    Menurut QS.2-144: “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.”
    Usaha harus diupayakan semaksimal mungkin, kalau jadul cukup dengan kearah Barat karena keterbatasan informasi/ pengetahuan, namun tidak utk zaman sekarang.
    Dulu berhaji dengan naik kapal, sekarangpun juga naik kapal tetapi kapal terbang, memanfaatkan kemajuan teknologi.
    Demikian juga menentukan arah kiblat, bagi yang mempunyai fasilitas sangatlah mudah. Dan ini menjadi tugasnya utk mensosialisasikan ke yang tidak berfasilitas.
    Cukup ketik : http://www.qiblalokator.com ,semuanya akan beres.
    Semoga bermanfaat.
    Wass wr wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s