Download ebook: Hukum Cadar: Antara Yang Mewajibkan dan Tidak


Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini –insya Allah– akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.

(klik sampul disamping untuk download)

Iklan

2 thoughts on “Download ebook: Hukum Cadar: Antara Yang Mewajibkan dan Tidak”

  1. kata-kata ‘tidak wajib’ sangatlah politis sekali, bahkan bahasa yang bisa diartikan banyak arti, bisa berarti makruh, harom, sunnah, mubah ato yang laennya….bro…
    Mending diganti dengan ‘sunnah mustahab’, karena selain memang pendapat sebagian ulama yang mengatakan wajib dan sebagian yang lain menyebutkan sebatas ‘sunnah mustahab’, jauh sekali dari istilah ‘tidak wajib’.
    Sehingga terlepas dari perbedaan itu, maka sebagai ahlussunnah harusnya mencintai sunnah rosullulloh, apalagi bila hukumnya sunnah mustahab (bagi yang berpendapat demikian, walaupun tidak lebih rojih).

    maramis: Sekarang saya balik tanya mas, apakah harom mengatakan suatu hukum yang memang tidak wajib (artinya bisa sunnah, makruh, mubah) dengan sebutan “tidak wajib” ? Memang judul diatas ada kata “tidak wajib”…tetapi bukan berarti ini adalah kata yang “tidak syar’i” untuk menghukumi sesuatu…Namun insyaAllah jika pembaca membaca ebook tersebut menjadi jelas apakah yang dimaksud “tidak wajib” itu…yaitu sunnah.

    Barokallahufiykum

  2. Maaf, mau bertanya, sebenarnya yang menyimpulkan hukum sunnah-nya itu ‘ulama ataukah rasulullah saw. dan para shahabat?
    Soalnya setahu saya, tidak ada satu keterangan pun dari Rasulullah saw. (yang sharih atau jelas), tentang dianjurkannya menutup wajah oleh beliau. Terus jika wajah menimbulkan fitnah ya, laki-laki tampan pun begitu, kan? Yah, contohnya Rasulullah sendiri, beliau tidak pernah pakai penutup wajah ketika di luar rumah, padahal beliau kan setahu saya yang paling tampan di antara para nabi. Nah, kenapa ya tidak ada ijtihad tentang laki-laki, padahal kenyataannya banyak lho laki2 yang menjadi fitnah bagi kaum hawa. Tidak usah disebutkan juga sudah bisa tahu sendiri. Kalau saya mau ambil contoh riil, indikasi fitnah laki-laki ada di dalam kisahnya Nabi Yusuf AS. Masa’ sih kita mau mengabaikan kisah tersebut.
    Soalnya juga di Mesir saya lihat, fatwanya hukumnya mubah dan bisa jadi sunnah. Kalau menghidari fitnah memang tidak ada perbedaan pendapat, ya artinya wajib.
    Kalau di Saudi, saya lebih setuju ke Sunnah Muakkad bahkan Wajib. Fitnah dan kulturnya cukup berpengaruh di sana. Kalau tidak salah, di madzhab Maliki ada pendapat tentang alasan disunnahkannya menutup wajah bagi perempuan yang didasarkan atas ‘urf/pun budaya setempat. Hukum asalnya menutup wajah adalah makruh di madzhab Maliki baik ketika shalat maupun di luar shalat. Lalu juga, ada kan beberapa hadits yang memberikan keterangan pasti bahwa di masjid tempat Rasulullah dan para sahabat shalat, tidak terdapat hijab atau tabir, artinya beda shaf laki2 dan perempuan itu depan dan belakang yang diberi jarak. Adapun keterangan bahwa ada laki2 yang dapat melihat wajah para perempuan di belakangnya. Trus hadits yang memberikan keterangan tentang nadzor dalam melamar, tidak pasti bisa dijadikan hujjah kan untuk menyatakan wajibnya atau sunnahnya cadar? Soalnya itu kan menunjukkan kebiasaan yang kalau tidak ada keterangan dari Rasulullah ya jadi bukan tidak boleh alias mubah dan satu-satunya rekomendasi atau anjuran Rasulullah di sini adalah untuk melihat wajah calon mempelai wanitanya, bisa jadi juga anjuran ini perintah yang mengindikasikan wajibnya melihatnya dalam konteks pra nikah atau ta’aruf dan khitbah. Jadinya tidak sunnah ya hukum asalnya? Mubah kan ya?
    Mohon maaf, saya masih miskin ilmu dan butuh banyak masukan atau asupan.
    Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s