Perayaan Hari Kelahiran Nabi [Maulid Nabi]


gambar042.jpg

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : Apa hukum perayaan hari kelahiran Nabi Shlallhu’alaihi wa sallam?


Jawaban
Pertama: Malam kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ulama kontemporer memastikan bahwa itu pada malam kesembilan Rabi’ul Awal, bukan malam kedua belasnya. Kalau demikian, perayaan pada malam kedua belas tidak benar menurut sejarah.
Kedua: Dipandang dari segi syari’at, perayaan itu tidak ada asalnya. Seandainya itu termasuk syari’at Allah, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya dan telah menyampaikan kepada umatnya, dan seandainya beliau melakukannya dan menyampaikannya, tentulah syari’at ini akan terpelihara, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
“Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr : 9].


Karena tidak demikian, maka diketahui bahwa perayaan itu bukan dari agama Allah, dan jika bukan dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dengannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan diri kepadaNya dengan itu. Untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, Allah telah menetapkan cara tertentu untuk mencapainya, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana mungkin kita, sebagai hamba biasa, mesti membuat cara sendiri yang berasal dari diri kita untuk mengantarkan kita mencapainya? Sungguh perbuatan ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita melaksanakan sesuatu dalam agamaNya yang tidak berasal dariNya, lain dari itu, perbuatan ini berarti mendustakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan tela hKucukupkan kepadamu nikmatKu” [Al-Ma’idah : 3]


Kami katakan: Perayaan ini, jika memang termasuk kesempurnaan agama, mestinya telah ada semenjak sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jika tidak termasuk kesempurnaan agama, maka tidak mungkin termasuk agama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,.
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” [Al-Ma’idah :3]

Orang yang mengklaim bahwa ini termasuk kesempurnaan agama dan diadakan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapannya mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia tadi. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hendak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menunjukkan kecintaan terhadap beliau serta membangkitkan semangat yang ada pada mereka. Semua ini termasuk ibadah, mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan ibadah, bahkan tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintai daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan manusia lainnya.

Mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk ibadah. Demikian juga kecenderungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bagian dari agama karena mengandung kecenderungan terhadap syari’atnya. Jadi, perayaan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan RasulNya merupakan ibadah. Karena ini merupakan ibadah, sementara ibadah itu sama sekali tidak boleh dilakukan sesuatu yang baru dalam agama Allah yang tidak berasal darinya, maka perayaan hari kelahiran ini bid’ah dan haram.

Kemudian dari itu, kami juga mendengar, bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diakui syari’at, naluri dan akal, di mana para pelakunya mendendangkan qasidah-qasidah yang mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai memposisikan beliau lebih utama daripada Allah. Na’udzu billah. Di antaranya pula, kami mendengar dari kebodohan para pelakunya, ketika dibacakan kisah kelahiran beliau, lalu bacaannya itu sampai pada kalimat ‘wulida al-musthafa, mereka semuanya berdiri dengan satu kaki, mereka berujar bahwa ruh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir di situ maka kami berdiri untuk memuliakannya. Sungguh ini suatu kebodohan.

Kemudian dari itu, berdirinya mereka itu tidak termasuk adab, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak menyukai orang berdiri untuknya. Para sahabat beliau merupakan orang-orang yang paling mencintai dan memuliakan beliau, tidak pernah berdiri untuk beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya, padahal saat itu beliau masih hidup. Bagaimana bisa kini khayalan-khalayan mereka seperti itu?

[Majalah Al-Mujahid, edisi 22, Syaikh Ibnu Utsaimin]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masaail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1441/slash/0

Iklan

14 thoughts on “Perayaan Hari Kelahiran Nabi [Maulid Nabi]”

  1. Assalamu’alaikum…

    admin: waalaikumsalam wa rohmatullohi wa barokaatuh

    1. Selama saya mengaji mulai dari kecil sampai sekarang,,belum pernah saya menjumpai para habaib dan para kyai (rahmatullah),,yang mengatakan bahwa peringatan maulud adalah wujud kesempurnaan agama Islam.

    admin: Mas….mustofa, kesempurnaan Islam itu maksudnya adalah kesempurnaan syariat Allah yang telah Allah turunkan kepada ummat ini, baik berupa halal-haram segala sesuatu dan juga segala perbuatan-perbuatan yang di tetapkan sebagai ibadah kepada Allah dan dengan perbuatan tersebut kita bertujuan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Dan Maulud Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam adalah perbuatan yang diposisikan sebagai ibadah, sehingga perlu adanya dalil untuk melaksanakannya.

    Sekarang silahkan mas mustofa menjawab, apakah Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pernah merayakan kelahirannya? Apakah setelah sepeninggal Beliau Shallahu’alaihi wa sallam para Sahabat beliau terlebih lagi KhulafaurRasyidin Radhiyallahu’anhum pernah merayakannya?
    Kalau ada tolong mas Mustofa menuliskan Hadist atau Atsar dari para Sahabat tentang dirayakannya maulud beliau, Demi Allah saya akan rujuk kepada kebenaran tersebut jika benar adanya. Karena Allah berfirman,

    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab 36)

    Sekarang jika mas mustofa meyakini bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam atau Sahabatnya Radliyallahu’anhum memang tidak pernah melakukannya sampai turunnya ayat al-Maidah ayat 3 tadi dan juga hingga para Sabahat dan KhulafaurRasyidin Radliyallahu’anhum tidak merayakannya sepeninggal Nabi Shallahu’alaihi wa sallam, maka orang-orang yang melakukan perbuatan2 tersebut termasuk Maulud Nabi Shallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang minimal termasuk dalam 3 golongan:

    1.Menuduh bahwa Islam belum sempurna sehingga perlu adanya tambahan-tambahan ibadah yang dibuat-buat, yang belum pernah ada contohnya dari Rasul Shallahu’alahi wa sallam dan para Sahabat beliau terlebih Khulafaur Rasyidin.

    2.Menuduh Nabi Kita Shalallahu’alaihi wa sallam tidak amanah dalam menyampaikan risalah dan menuduh beliau menyembunyikan syariat Allah sehingga tidak menyampaikan syariat misalnya tentang Maulud Nabi Shallahu’alaihi wa sallam. Buktinya tidak adanya hadist atau atsar yang menyatakan adanya syariat maulud. Padahal Rasulullah Shallahu’alahi wa sallam meinggalkan Islam dalam keadaan terang benderang, sempurna, tidak ada cacat sedikitpun, sebagaimana sabda beliau,

    ”Aku tinggalkan kalian di atas (jalan) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, tidak ada seorang pun sepeninggalku yang berpaling darinya melainkan ia (akan) binasa….” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah (1/16 no. 43) dan lain-lain, dari hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu..Ini lafazh dalam Sunan Ibnu Majah)

    ,apa itu bukan hanya alasan2 anda u/ menghujat orang yang merayakan maulud.

    admin: Artikel ini adalah wujud kita sesama kaum muslimin untuk saling menasehati di atas kebenaran sebagaimana Firman Allah subahanahu wa ta’ala tentang orang-orang yang tidak merugi:

    ”…dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran” (QS Al-Ashr 3)

    Dan juga wujud kecintaan kepada kaum muslimin, bahwa kita cinta kepada orang lain untuk berada di atas kebenaran sebagaimana kita cinta kepada diri kita sendiri tentang adanya kebenaran pada diri kita, seperti sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam,

    “Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai apa yang ada pada dirinya sendiri”. [Bukhari no. 13, Muslim no. 45]

    .Semua termasuk saya sendiri merasakan rasa kecintaan yang begitu besar pada saat melaksanakan peringatan maulud,,,beda dengan orang yang tidak pernah melaksanakan…

    admin: Mas Mustofa…….Betapa banyak orang yang mengaku cinta kepada seseorang tetapi ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Sebagaimana kisah Laila Majnun sehingga dikatakan oleh penyair,

    Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila
    Namun Laila memungkiri pengakuan-pengakuan mereka tersebut

    Bukankah betapa banyak orang yang mencintai seseorang, tetapi ternyata seseorang yang dicintainya tidak mencintainya, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana supaya kita itu dicintai oleh orang yang kita cintai.

    Sama halnya cinta kepada Rasul Shallahu’alaihi wa sallam, yang harus kita tempatkan pada posisi yang benar. Cinta kepada Rasul Shallahu’alaihi wa sallam bisa di wujudkan menjadi:

    1.Membenarkan semua ucapannya, setiap hadist Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam yang shahih, karena kita yakin apa yang diucapkan oleh beliau Shalallahu’alaihi wa sallam bukanlah berdasarkan hawa nafsunya atau akalnya, melainkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah:

    “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. AnNajm 2-4)

    Maka sudah menjadi kewajiban seorang muslim dan muslimah jika telah datang hadist dari Rasulullah Shallahu’alahi wa sallam kita membenarkannya secara mutlak tanpa dipertentangkan dengan akal kita meskipun perkataan beliau tidak masuk akal atau mustahil
    2.Dengan mengamalkan perintahnya dan menjauhi larangannya, sebagaimana firman Allah azza wajalla,

    Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarang, maka jauhilah …” [Al-Hasyr : 7]

    3.Tidak beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:

    “Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [Riwayat Bukhari, Hadits ini disepakati keshahihannya, dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha]

    4.Membela hadist beliau Shalallahu’alaihi wa sallam dari pengingkaran sebagian kelompok tertentu yang menolak hadist shahih dengan akal mereka, atau beralasan tidak sesuai dengan ilmu kedokteran, ilmu astronomi, atau ilmu-ilmu yang lainnya.

    5.Bershalawat kepada beliau shallahu’alaihi wa sallam

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

    Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda,
    “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan memberikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali…(HR Muslim N0.384);

    Bahkan termasuk orang-orang yang bakhil/ pelit jika disebut nama beliau Shallahu’alaihi wa sallam, dia tidak mnyebutkan shalawat kepada beliau, sebagaimana sabda beliau shallahu’alaihi wa sallam:

    “Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku disebut, dia tidak mengucapkan shlawat kepadaku (HR At-Tarmidzi No.3546)

    Dan termasuk orang yang pelit itu adalah yang suka menyingkat shalawat kepada nabi dengan Shod, ‘ain, mim. Atau kalau dalam bahasa Indonesia SAW.

    Namun Shalawat itu juga harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam.

    Bentuk-bentuk shalawat dan salam yang paling ringkas : shallallahu ‘alaihi wa sallam; ‘alaihishalatu wassalam; Allahumma shalli wa sallim ‘alayh, atau yang paling panjang seperti Shalawat yang biasa kita baca saat duduk tahiyyat yang disebut sebagai Shalawat Ibrahimiyyah yang merupakan seutama-utama shalawat,

    Imam Bukhari (no 3370) dan Muslim (no 406) meriwayatkan dari Ka’b bin ‘Ujrah radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar menemui kami, lalu kamipun berkata:”Kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana mengucapkan shalawat untukmu?’ Beliau berkata:

    “Ucapkanlah:”Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

    Shalawat yang bid’ah

    Salah satu shalawat yang bid’ah adalah Shalawat NARIYAH yang telah dikenal banyak orang. Mereka beranggapan , barangsiapa membacanya 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan ,
    atau hajat dikabulkan , niscaya akan terpenuhi.

    Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika
    kita mengetahui lafadz bacaannya serta kandungan SYIRIK di dalamnya. Secara
    lengkap , lafadz shalawat NARIYAH itu adalah sebagai berikut :

    ALLAHUMA SHOLLI SHOLATAN KAAMILATAN ,
    wa SALLIM SALAAMAN TAA-MMAAN
    ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN,
    ALLADZI TANHALLU BIHI AL UQODU
    Wa TANFARIJU BIHI ALKUROBU ,
    wa TUQDHOO BIHI AL HawaA-IJI
    wa TUNAALU BIHI AR-ROGHOIBU
    wa HUSNU AL KHAwaTIIMI waYUSTASQOO AL GHOMAAMU BIwaJHIHI AL KARIIMI
    w ‘ALAA AALIHI Wa SHOHBIHI
    ‘ADADA KULLI MU’LUUMIN LAKA

    “Ya Allah , limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna
    dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna
    untuk penghulu kami Muhammad
    yang DENGAN beliau TERURAI segala ikatan
    dan HILANG segala kesedihan
    dan DIPENUHI segala kebutuhan
    dan DICAPAI segala keinginan
    dan kesudahan yang baik serta DIMINTA hujan dengan wajahnya yang mulia
    dan semoga dilimpahkan pula untuk segenap keluarga dan shahabatnya
    sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui

    Bagaimana mungkin Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam akan rela ,
    jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan
    menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al Qur’an menyeru kepada beliau
    untuk memaklumkan ;

    “Katakanlah :’Aku tidak kuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak
    (pula) menolak kemudharatan KECUALI yang dikehendaki Allah. Dan
    sekiranya aku MENGETAHUI yang ghaib , niscaya aku membuat kebajikan
    sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
    lain hanyalah PEMBERI peringatan , dan pembawa berita gembira bagi
    orang-orang yang beriman.” (Al A’raff: 188)

    Tidak diragukan lagi shalawat tersebut mengandung kesyirikan terhadap Allah subahanu wa ta’ala, dan masih banyak lagi shalawat-shalawat yang kandungannya serupa.

    2. Agama Islam merupakan rahmat bagi setiap yang ada di langit dan
    seisinya..Kalau hanya dg perbedaan masalah peringatan saja,,anda mengatakan
    saudara se-agama bodoh,,bukannya lebih bodoh anda,,yang tau saudaranya
    belum faham (padahal pada kenyataannya belum tentu pengetahuan anda
    tentang agama melebihi mereka) malah tidak membenarkan..

    admin: Wahai mas Mustofa…..kita menilai dengan kenyataan yang ada, bahwa banyak orang muslim yang jahil/ bodoh dalam agamanya. Sebagaimana prediksi rasulullah shallahu’alaihi wa sallam,

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan Abdullah dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya kejahilan dan dihilangkannya ilmu (Ad-Din)”. [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuri Al-Fitan 13:13].

    Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Jangka waktu akan semakin dekat, ilmu (tentang Ad-Din) akan dihilangkan, fitnah akan merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan (dalam hati), dan peperangan akan banyak terjadi”. [Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf’i Al-Ilm 16 : 222-223].

    Dan kita sebagai seorang muslim wajib melakukan amar ma’ruf nahyi munkar atas adanya kebodohan tersebut semampu kita, sebagaimana sabda beliau shallahu’alaihi wa sallam:

    “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”.(Riwayat Muslim)

    Bahkan orang-orang kafir dahulu dilaknat oleh Allah karena mereka tidak saling melarang atas perbuatan mungkar. Allah berfirman,

    Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”[Al-Ma’idah: 78-79]

    3. Memang,,kalau dipandang dari segi syari’at, perayaan itu tidak ada
    asalnya. Bagaimana dengan pengumpulan Al-QURAN yang jg tidak ada….
    dasarnya,,sampai2 Sayyidina Umar dan Abu Bakar bersitengang,,gara2 Nabi
    tidak pernah menyuruh..Bagaimana dg tindakan Sayyidina Usman yang memberi
    tanda huruf pada Al-Quran sehingga orang di luar Arab bisa
    membacanya???Bukankah itu benar2 kesesatan,,karena Nabi tidak pernah memfatwakan..

    admin:
    Pengumpulan Al-Quran menjadi dibagi menjadi 3 tahap,
    1. Tahap pertama,
    Zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada jenjang ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Qur’an sangat banyak
    2. Tahap kedua
    Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu tahun dua belas Hijriyah. Penyebabnya adalah : Pada perang Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra’ yang terbunuh, di antaranya Salim bekas budak Abu Hudzaifah ; salah seorang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil pelajaran Al-Qur’an darinya.

    Maka Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak hilang. Dalam kitab Shahih Bukahri disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, di samping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemrerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah!”, Zaid berkata : “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Bukhari secara panjang lebar.

    Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai nilai positif dan keutamaan bagi Abu Bakar, sampai Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    3. tahap ketiga
    Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu pada tahun dua puluh lima Hijriyah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur’an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Utsman Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhirnya berpecah belah.

    Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu datang menghadap Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Qur’an, dia katakan : “Wahai Amirul Mukminin, selamatakanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah Radhiyallahu ‘anhuma : “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.

    Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam Radhiyallahu ‘anhum untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.

    Dari ketiga tahap di atas dapat disimpulkan bahwa pengumpulan Al-Quran adalah sunnah Khulafaur Rasyidin, dan sunnah ini bukan bid’ah karena diperintahkan oleh Rasululllah shallahu’alaihi wa sallam sendiri untuk mengikuti mereka, sabda beliau:

    “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

    4. Mestinya,,mending anda lebih memikirkan bagaimana agar umat Islam
    lebih jaya saja dech,,daripada hanya memikirkan masalah maulud! Selain
    itu merupakan hak yang tiidak termasuk kekufuran (sebagai bentuk
    kecintaan kepada Nabi),,masih banyak hal yang harus dibenahi..masalah maulud
    hanya masalah kecil,,banyak masalah besar pada umat Islam yang memerlukan
    penanganan..Atau jangan2,,ilmu anda hanya sebatas membahas
    maulud..Atau,,jangan2 anda tidak mempunyai cukup ilmu u/ memperbaiki dan
    menjayakan umat islam,,sehingga bisanya hanya membahas hal yang sepele,,yang
    sebenarnya itu merupakan perbedaan dan tidak perlu diperdebatkan..Kalau
    anda menganggap itu salah,,ya sudah,,ngapain anda pusing..

    admin: Menurut mas, Islam itu jaya kalau apa? Apa mungkin Islam akan jaya kalau masalah bid’ah aja anda sepelekan? Mas harus ingat bahwa Allah pernah berfirman,

    ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,”(Al-Baqarah 208)

    Tidak ada dalam Islam itu bagian yang sepele, apalagi adanya pembagian bahwa agama Islam itu terbagi menjadi dua, masalah Inti dan masalah kulit (yang sepele), bahkan semuanya inti sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk measuk islam secara keseluruhan tanpa memilih-milah mana yang kulit mana yang inti sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tadi. sehingga ada beberapa orang yang salah mengatakan bahwa mengamalkan Islam dengan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam seperti memakai siwak, memanjangkan jenggot, celana di atas mata kaki, sutrah dalam sholat, dan laiinya sebagai masalah kulit yang sepele.

    Bahkan diantara mereka ada yang megolok-oloknya, seperti mengatakan orang yang memakai celana di atas mata kaki ”kebanjiran”, yang memanjangkan jenggot sebagai ”seperti kambing di desa”, yang memakai jilbab panjang sebagai ”tenda berjalan”, yang memakai cadar dikatakan sebagai ”ninja” dan olok-olokan lainnya, wallahul musta’an
    Allah subahanahu wa ta’ala berfirman:
    ”Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka ; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” [Al-Kahfi : 5]

    Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita tentang memperolok-olok agama dengan firmanNya

    ”Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. “(at-taubah 65-66)

    Kewajiban utama dakwah Islam adalah dakwah tauhid, peribadatan kepada Allah, membimbing umat di atas manhaj Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan mengarahkan mereka agar memperhatikan sunnah beliau yang telah dijauhi manusia dan menghidupkannya. Semua itu merupakan bagian dari program dan manhaj dakwah ahlussunnah.

    Hanya sebatas membahas maulud?

    Barangkali mas Mustofa belum melihat isi blog ini semuanya, apa memang isinya hanya mengkritik perayaan maulud atau perayaan2 bid’ah saja?

    Bahkan salah satu kunci meraih kemulian Islam adalah dengan cara Tasfiyah dan Tarbiyah, Tasfiyah adalah pemurnian, Pemurnian aqidah Islam dari sesuatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk kedalamnya, seperti kesyirikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah Jalla Jalaluhu, atau penakwilannya, bid’ah, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan aqidah dan lain sebagainya. Pemurnian fiqh Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme. Pemurnian kitab-kitab tafsir al-Qur’an, fiqh, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqa’iq (kelembutan hati), dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng israiliyyat dan kemunkaran-kemunkaran lainnya.

    Dan artikel-artikel yang bertema seperti di atas adalah wujud dari Tasfiyah.

    Adapun Tarbiyah adalah pembinaan generasi baru muslim, diatas Islam yang telah dibersihkan dari hal-hal yang telah kami sebutkan, dengan sebuah pembinaan secara Islami yang benar sejak usia dini tanpa pengaruh oleh pendidikan ala barat dan kafir.

    Dan dengan izin Allah ada juga beberapa artikel yang saya posting di blog ini sebagai wujud dari Tarbiyah, menunjukkan bagaimana aqidah yang benar, ibadah yang benar, dan lainnya.

    Semoga Allah menghendaki kebaikan pada diri kita dengan dipahamkan tentang agamanya, dan ilmu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri juga untuk ummat kaum muslimin pada umumnya untuk mewujudkan kejayaan Islam.
    Amin

    5. Gitu aja koq repot..orang belum pernah melaksanakan pembacaaan
    sholawat nabi ja,,koq kasih komentar yang macem…Tu namanya ilmu tanpa
    praktek..benar2 ciri orang yang ndak konsisten..

    admin: Bagaimana mungkin kita tidak pernah membaca shalawat nabi padahal setiap duduk tahiyyat kita selalu membacanya? Bagaimana mungkin kita tidak membaca shalawat padahal kita meyakini keutamaanya yang banyak? Bagaimana mungkin kita tidak membaca shalawat padahal kita meyakini jika seseorang disebut nama Muhammad shallahu’alaihi wa sallam dan tidak diucapkan shalawat kepadanya adalah orang yang bakhil. Sungguh cukuplah perkataan Allah subhanah wa ta’ala,

    Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.”(An-Naml: 64)

    Apa yang dimaksud mas mustofa itu shalawat-shalawat yang bid’ah dan mengandung kesyirikan kepada Allah?

    Semoga Allah selalu memberi kita hidayah dan petunjuk-Nya sehingga ilmu yang kita miliki selalu kita amalkan. Amin

    Satu hal terakhir untuk mas mustofa dan untuk kita semua, kita berdiskusi (berdebat) untuk mencari kebenaran bukan untuk menang-menangan, dan kebenaran itu datangnya dari Allah dan Rasulnya. Sudahlah jangan fanatik golongan, sekalipun sudah jelas apa yang ada pada diri kita salah bagaikan matahari di siang bolong tetap aja di bela-belain. Ingat lah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda tentang definisi sombong,

    ”Al Kibru (Sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (Riwayat Muslim)

    Allah berfirman
    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS Al-Ahzab 36)

    Semoga kita berdua dan kaum muslimin pada umumnya di jauhkan dari sifat sombong, dan diberi kekuatan oleh Allah untuk memegang erat aturan dan ketetapan-Nya dan Rasul-Nya, sekalipun berat dan pahit rasanya . Amin

    Wassalamualaikum wa rohmatullohi wa barokaatuh

    Ref. bacaan
    http://www.Almanhaj.or.id
    Arbain an-Nawawiyah
    Artikel-artikel An-Najiyah

  2. Saya merupakan pencinta perayaan majlis maulid selepas terkesan dengan keihklasan guru di sebuah madrasah di Malaysia dalam mendukung usaha menghidupkan sunnah sunnah rasulullah SAW.

    Mungkin bapak mempunyai pandangan peribadi yang bersumberkan Al-Quran dan Al-Hadith untuk menyokong hujah bapak.

    Saya sekadar ingin berkongsi pengalaman saya sepanjang penyertaan saya didalam majlis-majlis maulid. Dan untuk pengetahuan saudara moderator, sambutan maulid yang saya ikuti di sebuah madrasah di Malaysia, bukan sahaja merayakan maulid setahun sekali tetapi hampir setiap minggu demi menzahirkan rasa kesyukuran kehadrat Allah SWT di atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang membawa rahmat (sesungguhnya Allah jualah yang mengurniakan rahmat tersebut melalui kekasihnya ini) ke seluruh alam. Malah saya lihat para jemaah madrasah tersebut sgt terkesan dgn majlis tersebut sehingga bersungguh-sungguh menghidupkan sunnah sunnah rasulullah setiap masa seperti :
    1) Mendirikan perkampungan yang bersuasana Islam yakni jauh daripada maksiat dan saling tegur menegur diantara satu sama lain demi kebaikan.
    2)Mengusahakan rumah anak yatim
    3)Menyediakan rumah warga tua untuk kemudahan mereka beribadah kepada Allah di dalam usia2 akhir dikala usia muda mereka lalai atau tidak berpeluang berbuat demikian.
    4) Membina rangkaian perniagaan yang halal seperti kilang roti, pakaian-pakaian menutup aurat, bekalan daging kambing, syarikat pelancongan,pertanian dan pelbagai lagi yang didalam perancangan
    5) Sekolah pondok
    6) Kelas pengajian untuk orang dewasa yang diberikan secara percuma tanpa bayaran. Datang sajalah bila ada kelapangan waktu.
    7) Dan lain-lain aktivit yang kesemuanya berjumlah lebih 70 jenis.

    Manakala mereka yang tidak menetap diperkampungan itu pula, mengamalkan apa yang di sampaikan oleh tuan guru di kawasan kediaman mereka sendiri terutamanya menghidupkan masjid-masjid sebagai medan dakwah.

    Disitu, saya berpeluang untuk mengikuti majlis-majlis maulid yang dikunjungi oleh para habib(ahlul bait) dan alim ulama yang banyak memberi nasihat kepada para jemaah agar mencontohi akhlak rasulullah SAW dalam kehidupan sehari hari. Diantara para habib yang pernah hadir ialah:
    1) Habib Umar Al Hafiz – Hadramaut
    2) Habib Hassan Al Attas – Singapura
    3) Habib Ali Zainal Abidin – Jakarta
    4) Habib Sheikh Afifuddin Al Jailani – Bagdad
    5) Habib Umar Idrus – Malaysia
    6) Habib Ali Al Juffri – Hadramaut
    7) Banyak lagi yang saya tidak ingat nama

    Saya pasti walau apapun hukum yang dijatuhkan keatas sambutan maulid, para-para habib yang merupakan waris rasulullah pasti akan tetap hadir dan tanpa jemu memberi nasihat-nasihat berguna terutamanya kisah-kisah ketinggian akhlak rasulullah dan para sahabat dalam kehidupan mereka.Saya juga yakin mereka tahu akan kewujudan mereka yang berfahaman seperti saudara mioderator tetapi yakin dengan apa yang mereka lakukan kerana mereka ialah waris rasulullah dan tidak nampak cacat celanya aktivit sambutan maulid tersebut.

    Saya berpeluang untuk mendengar kisah-kisah ketinggian akhlak rasulullah SAW yang memberi kesan tinggi terhadap tingkah laku saya sehari-hari terhadap ibu bapa, adik beradik, saudara semuslim dan juga kenalan bukan islam. Lebih penting lagi,majlis-majlis ini telah mendekatkan diri saya kepada Allah bukan sahaja semasa majlis berlangsung tetapi ketika saya seorang diri, berbicara bersama teman, memandu kereta, tidur, bilik mandi , menonton TV (saya sudah berusaha untuk tidak menonton siaran sukan yang memang merupakan agenda yahudi untuk melalaikan umat islam dan manusia serta rancangan -rancangan nyanyian yang hampir semuanya dipenuhi maksiat (cara berpakaian sudah cukup untuk saya berpendapat demikian) dan dimana-mana sahaja saya berada.

    Semua ini adalah kesan saya menghadirkan diri ke majlis-majlis maulid dan majlis-majlis ilmu yang dianjurkan. Alhamdulillah, saya bersyukur kehadrat Allah dan mudah mudahan saya dapat pula berdakwah dengan cara mencontohi perbuatan rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

    Walau apa pun hukum yang saudara moderator putuskan ke atas majlis-majlis maulid yang dipenuhi dengan bacaan kitab maulid , membaca selawat membesarkan rasulullah, bacaan qasidah, penyampaian ilmu dan jauh sekali terdapat unsur2 maksiat, telah menaikkan semangat saya untuk mepertahankan Islam dan turut berdakwah setakat termampu kepada mereka yang hampir.

    Ayuh saudara moderator, perhatikan kesan-kesan yang dialami oleh saya dan ramai lagi. Kalaupun terdapat kecacatan didalam cara majil maulid itu diadakan, semua itu boleh diubah kepda yang bailk tetapi bukan menghapuskan sama sekali ibadah yang sangat dituntut ini.

    Jikalau saya berkesempatan, saya akan melampirkan hujah-hujah bersandarkan Al-Quran dan Hadith tentang kepentingan peristiwa kelahiran Nabi Muhamad SAW yang dikupas oleh para alim ulama kepada saudara moderator.

    Saya juga berpendapat daripada saudara memperuntukan masa yang banyak untuk mempertahankan pendirian saudara, adalah lebih baik saudara memikirkan bagaimana cara yang berkesan untuk mengatasi masalah sosial yang melanda anak-anak muda Islam di Indonesia dan Malaysia serta berusaha untuk melaksanakannya (maaf jika saudara telah melakukan perkara ini).

    Admin:
    Bapak hamba Allah yang semoga selalu di jaga oleh Allah, jazakallahu khoir atas saran, masukkan, dan informasinya di atas. Semoga Allah membalas amal-amal kita yang kita lakukan di dunia ini demi mengharap ridlonya. Mendirikan perkampungan yang Islami, mengusahakan rumah anak yatim, menyediakan rumah warga tua, perniagaan yang halal, membangun sekolah-sekolah pondok, mengadakan kelas pengajian dan kegiatan-kegiatan serupa adalah kegiatan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia. Semua ibadah tersebut, termasuk ibadah-ibadah yang lain akan diterima di sisi Allah jika terdapat paling tidak 2 syarat –semoga kita semua termasuk orang-orang yang diterima amalannya dengan kedua syarat ini-, kedua syarat tersebut adalah:
    1.Ikhlas, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Bayyinah ayat 5
    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan ketaatan kepada-Nya) dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
    Dan juga sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam
    “Segala amal itu tergantung niatnya….”. (riwayat Bukhori dan Muslim)
    2.Ittiba’ , Yaitu meneladani dan mencontoh Nabi shallahu’alaihi wa sallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Dan disertai dengan niat dan kehendak padanya.
    Sebagaimana Rasulullah shalalluhu ‘alaihi salam bersabda tentang tata cara sholat, صلوا كما رأيتموني أصلي yang artinya “Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat.” Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahih-nya. Haji pun juga telah baku kaifiyatnya dari syariat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : خذوا عني مناسككم yang artinya : “Ambillah dariku manasik hajimu.”
    Dan juga sebagaimana sabda beliau tentang amalan yang tertolak jika tidak mencontoh beliau yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radliyallahu’anha. Beliau shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.(Riwayat Bukhori Muslim)
    Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita tahu bahwa suatu perbuatan tersebut pernah dilakukan, diyakini, dikatakan, diperintah oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ? jawabannya adalah dengan dalil karena agama Islam ini dibangun berdasarkan dalil, dan dalil itu adalah al-Quran dan as-Sunnah (Hadist) ditambah lagi dengan penafsiran yang benar yaitu pemahaman para sahabat ridwanallahu’alayhim ‘ajma’in, tabi’in dan tabi’ut tabi’in rahimahumullah yang dapat diketahui dari atsar-atsar mereka.

    Saudara berkata: Jikalau saya berkesempatan, saya akan melampirkan hujah-hujah bersandarkan Al-Quran dan Hadith tentang kepentingan peristiwa kelahiran Nabi Muhamad SAW yang dikupas oleh para alim ulama kepada saudara moderator.

    Saya Jawab: Ya saudaraku, hujah-hujah bersandarkan Al-Quran dan Hadist lah yang seharuskan pada komentar ini anda tuliskan, jawab semua pendapat-pendapat kami di atas yang berdiri di atas al-Quran dan as-Sunnah. Bukan sekedar pengalaman yang mengesankan yang anda katakan saat ikut maulid ini. Karena diatas telah kami sampaikan hujjah-hujjah al-Quran dan Hadist berkenaan tentang perayaan maulid dan anda balas dengan pengalaman anda. Apakah anda mempertahankan argumen anda (yaitu merayakan maulid) dengan pengalaman-pengalaman anda dan mengesampingkan dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah ? demi Allah kita semua sangat bersyukur jika ada seorang muslim seperti anda menunjukkan perubahan yang sangat drastis dalam kehidupan anda sehingga menjadi semangat dalam beramal sholeh dan juga semangat mendakwahkannya, hanya saja yang menjadi tanda tanya di benak kita adalah apakah amal sholeh yang kita lakukan sesuai dengan dalil al-Quran dan as-Sunnah?
    Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, perkataan anda di atas terkesan bahwa anda mendahulukan beramal sebelum berilmu, karena saudara terkesan belum mengetahui hukumnya secara syar’i yang berdalil al-Quran dan as-Sunnah sehingga saudara mengatakan “Jikalau saya berkesempatan…..”, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, mengapa tidak langsung saat anda menuliskan komentar di sini anda menuliskan dalil-dalil anda? Saudaraku, coba kita cermati apa yang ditulis oleh Imam Bukhori rahimahullah dalam shahihnya, “Bab ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.” Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,”Maka ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.”(Muhammad: 19).
    Beliau berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan wajibnya mempunyai ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Dalil ini menunjukkan bahwa manusia hendaknya mengetahui dahulu, baru kemudian mengamalkannya. Dan ilmu yang dimaksud disini adalah al-Quran dan as-Sunnah. Yang menjadi pertanyaan, apakah saudara melakukan ibadah perayaan maulid diatas berdasarkan dengan ilmu? Ataukah hanya karena kekhusyukan semata? Atau karena simpatik dengan kegiatan amal sholehnya? Jika 2 pertanyaan jawabannya iya, maka kita tidak jauh beda dengan Nasrani yang mereka tersesat karena beramal tanpa ’ilmu, sebagaiman tafsiran para ulama salaf tentang ayat terakhir dalam surat al-Fatihah,”waladldlooolliin” (dan orang-orang yang tersesat), yang dimaksud orang tersesat adalah Nasrani.
    Dan satu hal lagi, bahwa ikut sertanya para habib-habib atau ahlul bait yang anda sebutkan bukan menjadi dalil bagi pembolehan perayaan maulid Nabi shallahu’alaihi wa sallam. Dan saya katakan lagi bahwa dalil itu adalam al-Quran, as-Sunnah (sesuai dengan pemahaman para Shalafus Sholeh) dan ditambah dengan Ijma’ dan Qiyas (dalam beberapa hal). Sekarang tentang Habib…..apa yang dimaksud tentang Habib? Kalau jawabannya adalah keturunan Nabi shallahu’alaihi wa sallam atau ahlul bait, maka apa yang disebut dengan ahlul bait ?
    Ahlul Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik dari kalangan laki-laki (yang sering disebut dengan syarif) atau wanita (yang sering disebut syarifah), yang beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. Diantara Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
    1. Para istri Rasul, berdasarkan konteks surat Al-Ahzab:33
    2. Putra-putri Rasulullah (tidak dikhususkan pada Fathimah saja)
    3. Abbas bin Abdul Muththalib dan keturunannya
    4. Al-Harits bin Abdul Muththalib dan keturunannya
    5. Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak dikhususkan pada Al-Hasan dan Al-Husain saja)
    6. Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya
    7. Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya
    (Untuk lebih rincinya, silahkan lihat kitab “Syi’ah dan Ahlul Bait” dan “Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah”.)
    Baiklah katakanlah kita percaya dengan mereka bahwa mereka adalah keturunan Nabi shallahu’alaihi wa sallam walaupun sebenarnya pengakuan ini perlu bukti (apalagi di zaman sekarang banyak yang mengaku-ngaku sebagai ahlul bait tetapi berbuat maksiat sesuka mereka dengan beralasan dia adalah ahlul bait yang terlepas dari segala dosa dan sudah jaminan syurga).
    Maka yang perlu diperhatikan disini bahwa pada pokoknya ahlul bait itu terbagi menjadi dua: yang sholeh dan yang durhaka. Maka pada poin inilah yang perlu kita cermati sehingga tidak menyamaratakan antara yang sholeh dan durhaka atau ahlul maksiat. Maka hendaknya kita mencintai Ahlul Bait yang sholeh, dan kita meyakini bahwa mereka mempunyai keutamaan dan kemuliaan dibanding dengan orang sholeh yang bukan dari kalangan ahlul bait. Salah satu keutamaan tersebut adalah bahwa Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
    “Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (Al-Ahzab:33)
    Bahkan Abu Bakar radliyallahu’anhu mengatakan, ”Demi (Allah) Yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya aku lebih suka menyambung kerabat Rasulullah daripada kerabatku (sendiri).”(riwayat Bukhari Muslim).
    Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”
    Ingat…..yang dimaksud disini adalah ahlul bait yang sholeh senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah, menjalankan sunnah-sunnah Nabi shallahu’alaihi wa sallam, menjalankan ibadah sesuai dengan dalil al-Quran ataupun al-Hadist, menjauhi syirik dan memperingatkan ummat atasnya, menjauhi bid’ah dan mendakwahkan agar ummat menjauhinya, dsb. Sedangkan jika ada ahlul bait yang justru sebaliknya, maka seorang yang bukan ahlul bait tetapi sholeh adalah lebih utama, karena Allah sendiri berfirman bahwa yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa diantara kita. Allah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 13,
    ”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”
    Bahkan nasab seseorang itu tidak bermanfaat jika amalnya kurang karena perbuatan buruknya, tidak meninggikan derajatnya, dan tidak mendahulukannya sekalipun orang yang mengaku ahlul bait. Sebagaimana rasulullah shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,
    “Barang siapa yang amalnya kurang, maka nasabnya tidak mengantarkannya (kepada derajat yang shalih)” (Riwayat Muslim)
    Maka kalau memang saudara atau habib saudara mempunyai dalil membolehkan atau adanya syari’at perayaan maulid Nabi shallahu’alaihi wa sallam maka tunjukkanlah kepada kami, karena Allah berfirman, dalam surat al-Baqarah 111:
    …Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”

    Lalu saudara juga berkata: Saya juga berpendapat daripada saudara memperuntukan masa yang banyak untuk mempertahankan pendirian saudara, adalah lebih baik saudara memikirkan bagaimana cara yang berkesan untuk mengatasi masalah sosial yang melanda anak-anak muda Islam di Indonesia dan Malaysia serta berusaha untuk melaksanakannya (maaf jika saudara telah melakukan perkara ini).

    Saya menjawab: sekali lagi, jazakallahu khoir atas masukan anda, untuk sementara ini saya hanya bisa berdakwah semampu saya salah satunya melalui blog ini, bukankah Allah tidak membebani hambanya diluar kemampuannya? Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat terakhir,
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Rasulullah shallahu’alaihi wa sallampun pernah bersabda tentang cara berdakwah sesuai dengan kemampuan, beliau shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
    “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman” (riwayat Muslim).
    Tetapi saudaraku, katakanlah saya telah berdakwah seperti yang saudara sarankan, apakah saya akan mengesampingkan dakwah yang saya sampaikan dengan hujjah al-Quran dan an-Sunnah dengan alasan yang tidak jelas ?. Karena permasalahan ini bukan hanya mempertahankan pendapat saya sendiri, tetapi ini justru merupakan pembelaan terhadap risalah Nabi Muhammad shallahu’alaihi wa sallam yaitu al-Islam. Memperingatkan ummat atas ibadah-ibadah yang sekali-kali tidak pernah dicontohkan, dibolehkan, disetujui oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya radliyallahu’anhum. Sudah saya tuliskan tadi di awal sabda rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.(Riwayat Bukhori Muslim).
    Apalagi Allah subahanahu wa ta’ala telah berfirman bahwa Islam ini telah sempurna jauh hari saat ayat ke 3 surat al-Maidah turun, tidak perlu ada yang ditambah atau dikurangi, barang siapa mengada-adakan perbuatan yang menyerupai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla maka dia menganggap bahwa agama ini belum sempurna dan dia sendiri akan kebingungan jika dihadapkan dengan firman-Nya,
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Al-Maidah:3)
    Sungguh indah apa yang telah di tuliskan oleh ulama-ulama ushul fiqih mengenai kaidah beramal atau beribadah:
    “Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para shalafus sholeh telah mendahului kita melakukannya.”
    Siapa para shalafus sholeh ? dialah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in. mereka adalah tiga generasi yang telah direkomendasikan oleh rasulullah shallahu’alaihi wa sallam sendiri, beliau bersabda:
    “Sebaik-baik manusia ialah generasiku (para sahabat radliyallahu’anhum), kemudian orang yang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang yang sesudah mereka lagi (tabi’ut tabi’in)”. [Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86].
    Merekalah yang paling terdepan dalam menjalankan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sekarang jika mereka melakukan perayaan maulid Nabi sebagai bentuk cinta kepada Allah dan rasul-Nya mana dalilnya? Mana hadist dari rasulullah shallahu’alaihi wa sallam yang shahih? Mana atsar dari para sahabar radliyallahu’anhum?

    “Semoga Saudara, Saya dan kita semua selalu ditunjukkan oleh Allah kepada jalan yang benar dalam memahami agama ini, berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah dan istiqomah di atasnya. Amiin. “

  3. Aminnn,
    assalamualaikum warohmatullohi Wabarokatuh.
    Hamba2 Allah yang selalu di rahmati allah.
    Sungguh menggugah penjelasan dari saudara Admin,
    tapi bagai mana dengan saudara kita yang lebih menyimpang dalam beragama. sharing sedikit
    saya punya banyak krabat yang tergabung dalam satu kelompok yang mengklaim merekalah yang berjalan diatan Al-Quran dan As-Sunnah ysitu NII.mungkin saudara telah mengenalnya dan saya pun sempat mengikutinya. tapi banyak sekali penyimpangan didalam nya .saya ingin meminta pendapat saudara langkah apa yang harus saya tempuh untuk menyadarkan kerabat2 saya dan saudara kit ayang tergabung didalamnya .
    saya berharap sekali mendapat balasannya .
    jaza kumullah ,syukron kasiron.

    Admin:Wa’alaikumussalam wa rohmatullohi wa barokaatuh
    Saya hanya bisa memberikan sedikit saran bahwa kita seharusnya menasehatinya bahwa mereka itu salah dengan bukti-bukti kesalahan mereka yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah yang shahih, bantahlah mereka dengan ilmu dan hujjah yang nyata. Dan debatlah dengan mereka secara hikmah dan lemah lembut sebagaimana firman Allah ta’alaa dalam surat Yusuf ayat 108.
    Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…. “
    Juga dalam firman-Nya yang lain
    “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” An-Nahl 125
    Berdakwah kepada mereka dan kepada umumnya kaum muslimin ringkasnya dengan ketiga hal diatas: Hujjah yang nyata (al-Quran dan as-Sunnah yang shahih), dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik (lemah lembut), dan jika diperlukan membantah bantahlah mereka dengan cara yang baik. Adapun jika kita telah berusaha menempuh ketiga hal di atas dalam berdakwah kepada mereka dan tetap saja mereka dalam kesesatannya maka telah gugur kewajiban kita dalam berdakwah kepadanya, karena sekali-kali kita bukanlah orang yang pemaksa untuk mengikuti kita, kita hanya sebagai pemberi peringatan, penjelasan, atau hidayah al-Bayan, yaitu hidayah penjelasan sesuai dengan dalil-dalil syariat. Hal ini sebagaimana firman Allah kepada nabi Muhammad shallahu’alaihi wa sallam,
    ”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” al-Ghasyiyah 21-22
    Adapun Hidayah at-Taufiq adalah sesuai kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
    “…karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” Ar-Ra’du 40
    Juga dalam firman-Nya
    “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” Al-Hajj 16
    Juga dalam firman-Nya
    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya….” Al-Baqarah 272
    Adapun jika kita memang belum mampu untuk berdakwah kepada mereka dengan hujjah yang nyata karena miskinnya ilmu atau sebab-sebab yang lain maka sesungguhnya Allah tidak membebani suatu kaum yang kaum tersebut tidak sanggup untuk melakukannya, sebagimana firman-Nya
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Al-Baqarah 286
    Oleh karena itu Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam telah mengajari kita berdakwah yang sesuai dengan kemampuan kita, jika sanggup dengan kekuatan/kekuasaan (dan ini bagi yang memang mempunyai kekuatan/ kekuasaan tersebut), jika tidak sanggup dengan lisan (dakwah dengan lisan), jika tidak sanggup dengan hati (mengingkari kemungkaran atau kesesatan tersebut dengan hati), sebagaimana sabdanya
    “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”.Riwayat Muslim
    Wallahu a’lam

  4. Terima kasih di atas doa yang saudara admin ucapkan kepada saya, saudara sendiri dan seluruh muslimin dan muslimat agar ditunjukkan jalan yang benar oleh Allah.

    Ternyata saudara admin seorang yang alim didalam memperkatakan tentang sesuatu perkara (dalam hal ini Sambutan Maulid) berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadith dan saya berasa insaf serta kerdil diatas kekurangan diri ini.

    Saya juga telah berjanji untuk mengutarakan dalil-dalil berdasarkan Al-Quran dan Hadis untuk menegakkan amalan sambutan maulid nabi.Di sini saya ingin mengambil kesempatan untuk memohon maaf kerana saya tidak dapat mengutarakan seperti yang dijanji bukan kerana ketiadaan bahan tetapi lebih kerana khuatir akan diri yang dhaif ini tidak dapat memberikan penjelasan yang tepat lagi benar akan hujah-hujah yang telah dibentangkan oleh para alim ulama tersebut. Maafkan saya diatas kekurangan diri saya ini.

    Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, berilah aku faham agama-Mu Ya Allah.

    Maafkan saya saudara admin, saya masih dengan pendirian saya berdasarkan hujah-hujah yang telah dibentangkan kepada saya oleh para alim ulama berkenaan sambutan maulid Nabi Muhammad S.A.W.

    Saya berharap perselisihan yang berlaku ini tidak akan mengurangkan perasaan kasih dan sayang kita sesama muslim sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam iaitu setiap muslim adalah bersaudara.

    Saya berdoa kepada Allah agar kita tidak terpesona kepada kehidupan dunia yang fana ini serta sentiasa melakukan amal soleh dalam kehidupan sehari-hari hingga ke akhir hayat kita semua. Sesungguhnya ,saya dhaif ilmu dan sangat kurang amal soleh. Saya memanjatkan doa kepada Allah agar kita semua dikurniakan rahmat-Nya di dunia serta di akhirat kelak. Amin

    Maafkan saya sekali lagi saudara admin kerana cuba berhujah ketika diri saya ini serba kekurangan serta kerdil sekali.

    Admin: Allahlah yang memberi petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki, kami hanyalah berusaha memberikan nasehat, peringatan, hidayah al-Bayan (yaitu penjelasan berdasarkan dalil al-Quran dan as-Sunnah). Seperti yang difirmankan oleh Allah,
    “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzarriyat: 55)
    Selebihnya semuanya serahkan kepada Allah,
    “…karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” Ar-Ra’du 40
    Juga dalam firman-Nya
    “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” Al-Hajj 16
    Juga dalam firman-Nya
    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya….” Al-Baqarah 272
    Namun sekali lagi tidakkah saudara pikirkan ……..renungkan……..dan bermuhasabah atau introspeksi diri atas apa-apa yang kita amalkan.
    Ingatlah ancaman Allah terhadap orang yang menolak kebenaran yaitu orang-orang yang sombong
    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
    “Tidak masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebe-rat atom rasa sombong.”
    Kemudian beliau bersabda,
    “Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

    Hamba Allah berkata: Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, berilah aku faham agama-Mu Ya Allah.

    Amin, semoga Allah mangabulkan do’a anda.

  5. assalamualaikum,
    saya hanya ingin mengutarakan bahwa rasulullah merayakan kelahirannya dengan berpuasa pd hari tsb yaitu 12 rabiul awwal dan rasulullah lahir pd hari senin sehingga rasulullah menetapkan hari senin sebagai puasa sunnah.
    demikian yg saya tau. maaf sebelumnya.
    terimakasih.
    wassalamualaikum


    Admin:
    Wa’alaikumussalam,

    Atas syubhat/ kerancuan di atas maka dapat dijawab dengan beberapa poin berikut:

    -Para Ulama Ahlussunnah menetapkan kesimpulan/ ber-istimbat atas hadist di atas adalah di syariatkannya puasa di hari senin. Coba mbak nia tunjukkan kepada saya syarah/penjelasan hadist di atas dalam kitab-kitab syarah Hadist yang mengatakan bahwa dari dalil di atas didapatkan bahwa di syariatkannya maulid nabi shallahu’alaihi wa sallam ? misalnya saja kitab2 syarh hadist yang populer, “Fathul Baari” oleh Ibnu Hajar al-Asyqolani. Apalagi beliau shallahu’alaihi wa sallam tidak hanya puasa senin saja tetapi juga puasa di hari kamis, sebagaimana sabda beliau shallahu’alaihi wa sallam juga,

    “Amalan-amalan disodorkan setiap hari Senin dan kamis, maka saya senang jika amalan saya disodorkan sedang saya dalam keadaan berpuasa”. (HR. At-Tirmidzy no. 747 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 949).

    -Kita tidak pernah mendapatkan hadist/ atsar lain yang menerangkan bahwa para sahabat, tabi’in atau tabiut tabi’in, juga mengamalkan puasa senin ini sebagai perayaan maulid beliau shallahu’alaihi wa sallam. Katakanlah Nabi shallahu’alaihi wa sallam merayakan kelahiran beliau dengan berpuasa hari senin, tetapi semenjak kita juga tidak mengetahui bahwa hal ini tidak diperintahkan untuk dikerjakan kepada para sahabat dan memang kita belum mendapatkan keterangan bahwa para sahabat merayakannya dengan berpuasa senin, maka boleh jadi ini adalah kekhususan rasul shallahu’alaihi wa sallam sebagai Nabi, yang dikhususkan untuk beliau. sebagaimana sholat malam yang bagi beliau hukumnya wajib tetapi tidak untuk ummatnya, juga seperti haramnya bagi beliau dan keluarganya atas zakat.

    -Kalaupun itu diperintahkan oleh rasulullah shallahu’alaihi wa sallam kepada para sahabatnya untuk merayakannya, maka bentuknya adalah sama seperti yang rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, yaitu puasa di hari senin, bukan dengan perayaan-perayaan yang bathil seperti musik, nasyid, bahkan sholawat syirik.

  6. assalamualikum,
    terlepas itu benar atw tidak baiknya perayaan itu, itu tergantung persepsi masing2 menanggapi!!
    aslkn jangan gara-gara hal ini kita di buat pusing!
    bukan islam itu g pernah membuat umatnya susah!!
    dan setahu saya juga segal perbuatan,tindakan,ucapakn itu harus kita pertanggung jawabkan di hadapan allah swt!!
    jadi setiap org punya hak pribadi untuk menyampaikan hak nya………….
    cayooooooooooooooooo

    maramis:
    Wa’alaykumussalam wa rohmatullah

    Begini mbak….jika kita mengetahui suatu kebenaran dan kita mengetahui buruknya suatu perbuatan yang dilandasi landasan yang benar yaitu al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman yang benar yaitu pemahamannya Shalafus Shalih, maka kewajiban kita sesama muslim adalah saling menasehati sebagaimana dalam surat al-’Ashr ayat 3.

    ”….nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran …”
    Dan inilah Islam….bukanlah seorang muslim yang sempurna keimananya sehingga dia menginginkan kebenaran atau kebaikan pada saudaranya sebagaimana adanya kebenaran dan kebaikan ada pada dirinya….ini seperti sabda rasulullah shallahu’alaihi wa sallam

    ”Seseorang di antara kalian tidak sempurna keimanannya sehingga dia mencintai (kebaikan) saudaranya seperti yang dia cintai (kebaikan tersebut) untuk dirinya” (Riwayat Bukhori Muslim)
    Dan ini tidaklah memusingkan…..karena dakwah adalah menyampaikan dengan hujjah dan inilah kewajiban kita, sedangkan hidayah taufik kita sebagai seorang muslim meyakini bahwa Allah lah yang memberinya bagi hamba-hamba-nya siapa saya yang Dia kehendaki. Maka jika ada yang tidak menerima dakwah kita, terlepaslah tanggung jawab kita, karena memang itulah tugas kita….bukanlah tugas kita memberi hidayah taufik. Allah berfirman:
    “…karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (Ar-Ra’du 40)
    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya….” (Al-Baqarah 272)

    Kesimpulannya ….memang setiap orang punya hak pribadi untuk menyampaikan hak-nya…asal hak pribadi itu bener….ga ngawur….apalagi dikait-kaitkan dengan agama….mana rasa cemburu kita terhadap agama yang haq ini jika di nodai?

    Dan ingat segala perbuatan, tindakan, ucapan itu harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala termasuk sikap kita yang cuek terhadap agama ini, tidak saling menasehati di atas kebenaran (semampu kita).

    Barakallahuhufiyki

  7. Admin nt tahu dari mane?
    kenape ente ngak suka dengan perayaan maulid nabi, nt kudu faham jgn setengah setengah, Resapi makna dari maulid..jg2 nt termasuk golongan Faham WAHABI,

    PERINGATAN MAULID NABI SAW

    ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).

    Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.

    Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

    Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
    • Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
    • Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
    • Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
    • Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
    • Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
    • Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
    • Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

    Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.

    Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
    Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.

    Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya,

    dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.

    Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.
    Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.

    Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

    Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
    Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.

    Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
    Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

    Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).

    Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
    sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
    Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
    dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
    dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
    dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
    yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
    dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
    telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy
    dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
    dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
    dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami
    dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri
    mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’
    dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
    dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
    dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
    dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
    dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
    dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani
    dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
    dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy
    dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi
    dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

    Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

    Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
    Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

    Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

    Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..

    Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir,
    semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.

    Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

    Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan,
    dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,

    Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

    Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

    contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .

    contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.

    Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.

    Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

    Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.

    Walillahittaufiq

    mengenai kejelasan hukum Bid’ah nt beli buku yg Judulnya : “Kenalilah Akidahmu”.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita

  8. mas/bpak maramis maaf boleh numpang nanya, dulu mas maramis gurunya siapa, oya mas maramis pernah gak ngaji ushul fiqh, tarikh tasyri’, alfiyah, manthiq, balaghoh dll. kalau belum, ngaji dulu ya mas biar pinter. Mngkin mas maramis menganggap setiap bid’ah adalah dholalah, soal nya mas maramis hanya ikut sama pendapat2 nya al utsaimin, albani, dan lain yang tidak setuju dg maulid. Coba mas berefernsi pada ulama salaf us sholeh bahkan ibnu taimiyahpun tidak menghujat seperti mas. coba anda buka keterangan ini dalam kitab hujah ahli sunnah wal jamaah. bagaimana orang mau ikut dengan mas wong caranya kasar banget, kalo mas menganggap bahwa pendapat mas benar ya tolong lah mas bahasanya yg halus sedikit, ingat lomas hati itu lembut maka berlembutlah pada hati. Syukron a’la ijabatikum.

    maramis: Jazakallah atas komentarnya…..kami belajar dari ust2 yang berpegang kepada al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush sholeh, tidak hanya akuan di lisan ust2 tersebut, tetapi juga karena buku-buku yang mereka tulis yang menjadi saksi bisu tentang aqidah dan manhaj mereka dalam berhukum dan memahami Islam ini, tidak lepas dari mereka al-Quran dan as-Sunnah dan perkataan sahabat sampai ulama-ulama ahlussunnah yang dengan ihsan mengikutinya. Afwan, ana memang belum belajar semua ilmu-ilmu yang disebutkan oleh Anda, tetapi minimal yang ana bisa lakukan adalah belajar memahami Islam yang sudah sempurna ini dari orang yang sudah belajar ilmu-ilmu ushul tersebut. Ana tidak akan pernah menganggap bahwa setiap bid’ah adalah sesat (dholalah) jika ana tidak pernah mendengar sabda Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam,

    “Amma ba’ad. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, no.867)

    Dan ana mengikuti pendapat ulama-ulama yang Anda sebutkan karena dalil dan keterangan yang mereka bawakan dan bukan kefanatikan belaka, dan perhatikan pula perkataan Syaikh ibnu Taimiyyah tentang maulud Nabi:

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Merayakan hari kelahiran Nabi tidak pernah dilakukan oleh Salaf (yakni para sahabat), meski ada peluang dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Kalaulah perayaan maulid ini murni suatu kebaikan atau lebih besar kebaikannya, pastilah kaum Salaf orang yang lebih berhak merayakannya daripada kita. Karena kecintaan dan pengagungan mereka kepada Rasul lebih besar dari yang kita miliki, demikian pula semangat mereka dalam meraih kebaikan lebih besar daripada kita. (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim: 2/122)

    Kalo memang ada cara penyampaian dari ana yang kurang pas, kasar, dan tidak halus, maka diri saya pribadi minta maaf dan insyaAllah ini menjadi masukan yang diterima…..dan dijadikan bahan untuk perbaikan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan akhlaq yang mulia dalam menyampaikan kebenaran khususnya yang terkesan melawan arus. Amiin

    Semoga Allah memberikan saya, Anda, dan seluruh kaum muslimin hidayah sunnah, memahami al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar, dan berada di atas jalan-jalannya orang yang diberi nikmat, bukan orang yang dimurkai dan tersesat.

    1. Assalamualaikum wr wb. “nanti di akhir jaman banyak anak2 muda yang berbicara tentang hadist & al Qur an padahal keimanan mereka tidaklah sampai ke tenggorokan” , “yang menurut kita benar belum tentu benar menurut ALLAH dan yang menurut kita salah belum tentu salah menurut ALLAH,sekian terima kasih ga pake nariyah ngomong makan nasi baru kenyang aja syirik kok,yang ngenyangin ALLAH, wassalamualaikum wr wb

  9. Assalamualaikum mas admin

    Saya gak tau harus mulai dari mana, tapi saya sangat terkesan dengan semua yang mas uraikan yang berpijak pada Al-Quran dan Hadist.

    Sebagai seorang MUslim yang juga sangat mencintai Rasulullah SAW, saya sangat ingin mengetahui cara agar kita lbh mengenal Ia.

    Maklum ilmu saya masih sangat rendah, dan bukan lulusan Dayah atau pasantren yang alim he he. kalo soal Maulid, dah lama saya gak pernah buat pesta – pesta untuk kelahiran Nabi karena menurut yang saya pelajari itu salah.

  10. guru saya selalu mengatakan : “inama amalu biniat”, segala sesuatu itu tergantung dari niatnya.

    maramis: bener mbak….karena itu memang sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Tapi jangan lupa beliau juga bersabda, “Man ‘amila ‘amalan laysa ‘alayhi amruna fahuwa roddun”

  11. Assalamu’alaikum, Perayaan maulid memang sesuatu yg baru akan tetapi banyak sekali manfaat yg dirasakannya. 1. akan lebih mencintai Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi & Rosul yang Utama, 2. Mengamalkan & meneladani sunah-sunahnya, 3. Mencintai seluruh keluarga Nabi SAW, dan banyak lagi.
    Dalam Hadist : “Apabila melakukan sesuatu yg baru dan dapat bermanfaat dalam ibadahnya maka pahala baginya, apabila melakukan yg baru itu salah dan mengakibatkan madorot bagi yg menjalankannya, maka berdosalah ia”(HR. Muslim)
    setiap yg baru belum tentu bid’ah qobihah (jelek), jadfi kita bagi kategori bidah itu ada 2 : a. Bid’ah hasanah/baik b. Bid’ah yg jelek.
    Contoh Al-qur’an dulu ditulis dalam bentuk mushap/lembaran2 kemudian pada zaman sayyidina Usman ra. dibukukan berupa jilid, kemudian pada zaman sayyidina Ali di beri titik & harkat, bukan kah itu sesuatu yang baru tapi bermanfaat bagi umat Islam di seluruh dunia sehingga bisa membacanya dengan baik dan benar, coba kalau Al-qu’an masih berupa suhuf dan belum ada harkatnya dan belum ada titiknya ini kesulitan besar bagi umat Islam. Maka ini dinamakan bid’ah hasanah, jangan mentang mentang adala dalil yg mengatakan setiap yg baru bid’ah dan yg bid’ah masuk neraka. kalau begitu sahabat yg empat akan masuk neraka? sedangkan dalam keterangan Nabi pernah menjamin bahwa sabahat yg 4 adalah ahli syurga. jelas ini sangat bertentangan dengan hadist. maka oleh karena itu saya menghimbau sadarlah hai kaum yg mengaku ngaku Ahlussunah Wal Jama’ah tetapi kenyataan dilapangan ahli salah dan gegabah. buktikan bahwa Ahlussunnah itu harus seperti apa? jangan mengaku2 ahlussunnah tetapi sebenarnya Mu’tazilah ahlunnar. bagi yg penasaran silahkan hub. Hp 081910698927 atau 081910698929, trimakasih wassalamu’alaikum wr wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s