Mengapa mengkritik kelompok-kelompok Islam


 waitingforspring_1152x864.jpg

“Jamaah X tidak begitu peduli masalah aqidah. Mereka memperlemah anti-loyalitas gara-gara terjun ke parlemen…..”

“Fulan bukanlah ulama. Ia hanya da’i, dan banyak kesalahannya dalam akidah, misalnya tafwidh….”

Kalimat-kalimat semacam di atas lazim kita dengar, jika kita sedang mengikuti pembahasan tentang aliran, kelompok, jamaah bid’ah, sesat atau menyimpang dalam Islam. Adalah hal yang lumrah jika pembahasan tentang hal tersebut mengemuka karena mereka memang telah terbukti meresahkan umat. Walaupun demikian, tidak semua orang ternyata setuju dengan acara pembahasan semacam di atas.

“Sudahlah, jangan mencela saudara sendiri. Ini kan memecah belah umat…”

“Jamaah X toh juga berperang melawan Yahudi. Mengapa harus dikritik?”

Sebagian respon berbunyi demikian. Acara kritik mengkritik memang rawan menimbulkan sentimen, sakit hati, dab bisa berlanjut perpecahan, di sisi lain, kritik suatu saat toh juga perlu. Bagaimana menyikapi fenomena di atas.

Bagian Dari Dakwah

Dakwah secara umum terdiri atas amar ma’ruf nahi mungkar, memerintahkan kebaikan dan melarang dari keburukan. Selain memerintahkan anak kita untuk shalat, kita juga mencegah mereka dari aktivitas lain jika waktu sholat datang. Mengajak kepada kebaikan lebih manis didengar oleh yang diajak. Berbeda dengan mencegah mereka dari keburukan. Keburukan itu bisa jadi sudah mendarah daging, menjadi kebiasaan –bahkan hobi- mereka. Begitu keburukan itu disentil, seakan ada yang berusaha merenggut apa yang mereka sukai. Bisa jadi mereka yang dilarang jadi benci kepada yang melarang.

Mengkritisi jamaah, aliran, kelompok, menyimpang tidak jauh beda. Ini juga berkaitan dengan mencegah dari keburukan. Umat yang diperingatkan, diharapkan tidak ikut-ikutan jadi sesat. Mereka yang terlanjur ikut diharapkan jadi sadar dan bertaubat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron:104)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Memerintahkan kepada sunnah dan melarang bid’ah merupakan bentuk amar ma’ruf nahi mungkar. Dan itu adalah seutama-utamanya amal shalih.” (Minhajus sunnah, 253)

Berbuat bid’ah merupakan kezhaliman terhadap syariat Allah, dan terhadap kewajiban ittiba’ Rasul. Memperingatkan umat dari bid’ah adalah mencegah mereka agar tak berbuat zhalim. Ini merupakan tolong-menolong antar sesama muslim.

Rasulullah shallahu alahi wa sallam berbeda,

“Tolonglah sudaramu yang zhalim atau dizhalimi.” Ada sahabat yang berkata,”Ya Rasulullah, kami bisa menolongnya ketika ia sedang dizhalimi, tapi bagaimana kami menolongnya ketika ia berbuat zhalim?” Beliau bersabda, “Engkau halangi dia atau engkau cegah dia dari berbuat zhalim.” (Riwayat Bukhari)

Sabda Nabi shallahu alaihi wa sallam di bawah ini lebih jelas menggambarkan akan adanya pelaku bid’ah dan keutamaan orang yang memerangi mereka. Begini arti sabda beliau,

“Tiada seorang nabi yang diutus Allah kepada umatnya sebelumku, melainkan ada di antara umatnya yang menjadi hawari (pembela baginya) dan sahabat yang mengambil sunnahnya, mengikuti perintahnya. Kemudian datang setelah mereka generasi yang megucapkan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, ia seorang mukmin, siapa yang memerangi mereka dengan lisannya ia seorang mukmin, dan siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, ia seorang mukmin. Dan selain itu tidak memiliki keimanan sebiji sawi pun.” (Riwayat Muslim)

Bagian Dari Jihad

Mayoritas kaum muslimin mengetahui bahwa jihad tidak hanya berbentuk jihad fisik dan senjata. Memperingatkan umat dari kelompok bid’ah termasuk juga jihad. Jihad yang ini adalah jihad dengan ilmu, hujjah, dan keterangan.

Jihad yang kedua ini, yaitu mengkritisi kelompok bid’ah dan memperingatkan umat dari mereka, adalah lebih utama daripada jihad senjata melawan orang kafir. Sebab, bahaya bid’ah meracuni dan merusak hati umat Islam sejak awal, sedangkan bahaya musuh perang hanya merusak sarana fisik kaum muslimin. Juga, umat lebih paham akan bahaya perang fisik sehingga mereka secara serentak bergerak bersama untuk melawan musuh. Berbeda dengan bid’ah, tidak semua orang bisa memahami bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya. Disamping itu, banyak orang yang siap untuk berperang secara fisik dengan musuh, sedangkan untuk melawan ahli bid’ah tidak demikian. Melawan ahli bid’ah hanya bisa dilakukan oleh ulama yang istiqomah di atas As-Sunnah. Inilah tiga sebab yang menjadikan jihad ilmu melawan ahli atau kelompok bid’ah lebih utama daripada jihad dengan senjata.

Al-Humaidi, guru Imam Bukhari berkata, “Demi Allah, saya lebih mencintai berperang melawan orang-orang yang menolak hadist Rasulullah shallahu alaihi wa sallam .Berkata di usianya yang telah lanjut dengan tangan beliau yang sudah gemetar, “Memerangi mereka (kaum khawarij) lebih tinggi kemuliannya menurutku daripada memerangi seberapa pun banyaknya tentara Turki.”

Sehubungan dengan perkataan Abu Sa’id Al-Khudri ini, Ibnu Hubairah berkomentar, “Ucapan beliau radlhiyallahuanhu ini juga menunjukkan bahwa memerangi orang-orang khawarij adalah lebih utama daripada memerangi orang-orang musyrik. Hikmah yang terkandung adalah memerangi mereka sama halnya dengan menjaga modal utama Islam, sedangkan memerangi orang-orang musyrik berarti mencari untung, padahal menjaga modal adalah lebih utama.”

Harus Dan Biasa

Perlu diketahui, sebenarnya kritik mengkritik untuk menjaga kemurnian Islam adalah hal yang biasa dan sudah lama terjadi. Agama yang kita yakini dan amalkan hari ini terjaga lewat suatu proses mengkritik orang lain. Jika kritik mengkritik ini tidak dijalankan oleh para ulama dahulu, entahlah apa yang terjadi dengan agama Islam. Agama-agama wahyu yang dulu menjadi rusak, karena orang yang mengubahnya dibiarkan begitu saja.

Sekian banyak perkara agama terbentuk dari hadist-hadist yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam oleh para sahabat. Kemudian dari para sahabat Rasulullah, hadist-hadist itu diriwayatkan oleh para tabi’in, kemudian diambil oleh tabi’ut-tabi’in, kemudian diambil oleh murid-muridnya dan seterusnya.

Sejak bid’ah mulai muncul, orang tidak sembarangan begitu saja mempercayai sebuah hadist berasal dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Perlu diteliti siapa yang meriwayatkan, jika dari orang yang berpegang teguh kepada sunnah, maka hadistnya diambil, jika dari orang yang berbuat bid’ah maka riwayatnya ditinggalkan. Efek yang kemudian mengikuti adalah sebagian orang lantas mendapat sebutan sebagai ahli bid’ah, dajjal, pendusta, sesat, agar umat tidak mengambil hadist dari mereka.

Sebagian orang berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, “Sesungguhnya berat bagi saya untuk mengatakan si fulan begini dan si fulan begitu.” Maksudnya adalah mengulas kesalahan dan keadaan perawi. Maka beliau berkata, “Apabila engkau diam dan saya diam, maka kapan orang yang jahil mengetahui dan dapat membedakan riwayat yang shahih dan yang ada cacatnya?”

Jadi, entah Anda setuju atau tidak setuju dengan aktivitas mengkritisi kelompok bid’ah, Anda pun sebenarnya sudah mengambil agama Islam sebagai hasil aktivitas kritik mengkritik. Seharusnya sikap kita adalah berterima kasih dan mendoakan kebaikan bagi para ulama yang telah mengkritik ahli bid’ah habis-habisan, sehingga kita tinggal enaknya saja mengambil agama yang sudah terjaga kemurniannya ini.

Risih dan Khawatir?

Merasa risih dengan aktivitas mengkritisi kelompok bid’ah bisa dipahami, toh zaman Imam Ahmad bin Hambal ada juga orang yang merasa risih mengkritik para periwayat hadist. Namun, renungkanlah kembali manfaatnya yang ,lebih besar. Dengan mengkritik periwayat hadist, umat bisa tahu mana hadist yang selamat dan mana yang cacat. Dengan mengkritik kelompok bid’ah, umat tahu bid’ah sehingga tak melakukannya, dan Islam pun terjaga kemurniannya.

Masalah khawatir akan menyebabkan permusuhan dan perpecahan, itu pun sudah dikhawatirkan sejak dulu. Imam Asy-Syatibi berkata, “Tidak boleh membicarakan ahli bid’ah secara khusus kecuali dalam dua keadaan, dan saya cukup menyebutkan yang kedua saja: jika kelompok itu mengajak kepada kesesatan dan membuat orang awam dan orang yang tidak berilmu tergiur dan terpedaya dengan bid’ah mereka. Bahaya mereka terhadap umat seperti bahayanya iblis, mereka termasuk setan dari kalangan manusia. Oleh karena itu, harus disampaikan secara tegas, bahwa mereka ahli bid’ah penebar kesesatan. Mereka perlu secara khusus menjelaskan bahaya mereka kepada masyarakat, mengingat bahaya mendiamkan mereka lebih besar daripada membicarakan mereka. Kendati pun dikhawatirkan menciptakan permusuhan dan perpecahan.” Jadi, tetap saja yang utama adalah mengkritisi mereka dan memperingatkan umat untuk menjauh dari bid’ah mereka.

Aktivitas menjaga agama dari penyimpangan dengan menyampaikan kritik terhadap kelompok bid’ah adalah amalan yang umurnya setua agama ini sendiri. Amalan ini tak akan pernah surut dan habis walau ada saja orang yang meresa tidak cocok. Sebab amalan ini merupakan manifestasi penjagaan Allah terhadap agama ini. Para ulama yang komitmen terhadap sunnah akan terus melakukannya sampai Allah mencabut nyawa-nyawa mereka, sehingga tinggallah kaum yang bodoh menjelang hari kiamat (Abu Okasha)

Majalah Nikah, Vol 6, September 2007, hal 36.

 

 

 

Iklan

One thought on “Mengapa mengkritik kelompok-kelompok Islam”

  1. assalamu’alikum
    sulit memang merubah paham atau praktik-praktik bid’ah yang ada dimasyarakat, karena amalan-amalan yang mereka lakukan sudah turun temurun dari orang tua mereka dan para guru mereka. satu pesan dari orang shaleh : “berdebat dengan pecundang bisa mematikan hati”.
    dakwah yang lebih utama adalah kepada diri sendiri dahulu, kemudian keluarga, sahabat, tetangga, baru masyarakat luas. metode inilah yang dicontohkan oleh baginda Rasul. MULAILAH DARI DIRIMU
    Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s