Ketika Racun Dakhanun Melanda


lemongrass_1600.jpg

Saturday, 08 September 2007

Suatu kali Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah di tanya tentang dakhanun. Beliapun menjawab, “… Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku (Hudzaifah Ibnul Yaman) bertanya, ‘ Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda, ‘Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.” (Riwayat Bukhari, Muslim Baghawi, Ibnu Majah, Hakim, Abu Dawud, Ahmad hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman)

Ibnu Hajar mengartikan dakhanun dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (penghianatan dan makar), atau kerusakan hati, semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh (Fathul Bari XIII/36)
Imam Nawawi mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain,”Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya.” (syarh Shahih Muslim XII/236-237)
Sodaraku, manhaj lurus Rabbbaniyyah tak hanya memberi pengajaran yang benar kepada hamba yang pengin mengikuti titian orang-orang beriman(Sabilul mukminin), namun juga membeberkan dan membongkar kedok kebatilan orang-orang yang demen berbuat dosa(sabilul mujrimin). Allah menyatakan, “Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa”. (Al-An’am : 55)
Hal ini karena kejelasan jalan orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) secara langsung menjelaskan sabilul mu’minin. Karenanya istibanah (kejelasan) sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran ayat-ayat Qurani. Makanya menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan, dan kemaslahatan.
Inilah juga yang dimengerti oleh generasi pertama umat -Hudzaifah Ibnul Yaman a “Manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya”.
Hancur dari Dalam
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits,
” Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah)
Dari sini, tahulah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah pada kuantitas dan perbekalannya, atau terfokus pada artileri dan logistik. Namun kekuatan hakiki ada pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab,”Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air”.
Kemudian apa pasal kita yang jumlahnya sedemikian banyak namun, hanya laksanan buih yang mengambang di atas air ?
Yang pasti bukan senjata dan perlengkapan perang kaum kafir yang menjadi penyebabnya. Namun, yang meluruhkan kekuatan dan gerak kaum muslimin serta merenggut barakahnya adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai “Dakhanun”
Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari tubuh sendiri. Seperti sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam, “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Mereka mempunyai sifat seperti yang diungkap dalam hadits,”Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia”. (Riwayat Muslim)
Mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih (pembangunan), kepemimpinan dan istiqlal (kemerdekaan) .. dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Guna kepentingan tersebut, mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Karenanya, mereka diberi predikat sebagai da’i atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jama’ dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (‘Aunul Ma’bud XI/317).
Bukan Jama’ah Muslimin
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan da’wah ilallah. Seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya.
Persoalan ini terus berkembang, hingga ada sebagian yang menda’wahkan bahwa merekalah Jama’ah Muslimin/Jama’ah ‘Umm (Jama’ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, hingga mewajibkan berba’iat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sebagian besar muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka.
Mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jama’atul Muslimin. Kalaulah Jama’atul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan.
Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jama’ah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jama’atul Muslimin atau Jama’atul ‘Umm (Jama’ah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jama’ah ataupun Imam.
Yang disebut sebagi Jama’ah Muslimin adalah yang tergabung didalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jama’ah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah jama’ah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada diantara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.
Al-Hafidz Ibnu Hajar v menukil perkataan Imam Thabari v yang menyatakan, “(Para ulama)berkata, ‘Bahwa Jama’ah adalah Sawadul A’dzam(golongan besar umat ini). (Fathul Bari XII/37)
Mejauhi Semua Firqah
Semua firqah yang ada kecuali ‘Al jama’ah’ pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar, perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau ketamakan.Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasisme. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemadzhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam kesengsaraan, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah dirubah …!
Jalan Keluar
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahannam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon hingga ajal menjemput.
Dari pernyataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan;
– Bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman SalafuShalih.
– Di sini ditunjukkan bahwa kita diperintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat.
– Kaum Muslimin mesti mengulurkan tangannya kepada kelompok yang bersikukuh dengan ajaran yang benar untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok iniah seperti yang disabdakan beliau shallallahu alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh dajjal. Apakah kita masuk didalamnya?(Abu Azzam, Majalah_Elfata.com)

Iklan

3 thoughts on “Ketika Racun Dakhanun Melanda”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s