CBSA dalam Agenda Muslimah


mimg_09.jpgIndah, adalah suatu pernyataan relatif, artinya tidak semua orang berpendapat sama tentang keindahan sesuatu hal. Ada poin-poin pribadi yang melatari sebuah kecintaan. Hal yang tidak menjadi persengketaan adalah masing-masing diri memiliki kecenderungan hati untuk senantiasa mencintai keindahan.

Era kebebasan wanita, yang terkadang (pastinya telah) disalah gunakan pihak yang berkedok perjuangan kesetaraan wanita, secara sengaja ataupun tidak telah membuka ‘kran’ fitnah. Fitnah yang bertopeng keindahan, berwujud kecenderungan, dan bernama cinta.

Adalah hal yang sudah tidak jarang kita lihat, percakapan ikhwan akhwat tanpa hijab, tanpa muhrim dan dibumbui dengan senda gurau yang “dipaksakan”. Bukanlah hal baru, beberapa tahun yang lalu, sebuah majalah dakwah mengungkap adanya fenomena “CBSA” (Cinta Bersemi Saat Aksi) yang menjalari para aktivis dakwah kampus. Menurut majalah itu, trisno jalaran soko kulino (cinta hadir karena terbiasa) lah penyebab “VMJ” (Virus Merah Jambu) tersebut.

Begitulah, memang adanya. Berawal dari niatan yang ikhlas, dakwah, menyelesaikan masalah umat, tetapi saat jiwa lengah, tiba-tiba berubah halauan menjadi pemuja berhala bernama cinta. Bermula dari pertemuan yang ‘terpaksa’ karena tujuan mulia hingga menjadi terbiasa, dan puncaknya ketika tak berjumpa, hati merana, merasakan kehilangan, sendiri pun menjadi hal yang tak biasa.

‘Kesalahan’ ini merupakan tanggungjawab bersama, tidak hanya menjadi PR bagi akhwat saja atau ikhwan saja. Untuk ‘menyembuhkannya’ harus ada pihak yang merasa bersalah, mau ‘berobat’, dan pihak yang menciptakan lingkungan kondusif (untuk menjaga hati). Tak bijak rasanya, bila menyalahkan interaksi antara keduanya. Karena semenjak diutusnya Nabi Adam hingga nabi penghujung, Muhammad Shollahu ‘alaihi wa sallam, telah dikisahkan interaksi antara keduanya (ikhwan akhwat), yang menandakan kebolehan adanya.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan interaksi antara Nabi Musa muda dengan dua akhwat, putri Nabi Syu’aib. Nabi Musa bertanya tentang keperluan mereka, dan mereka menjawab secara wajar, Nabi Musa pun akhirnya membantu mereka dengan sopan. Seperti dikisahkan dalam surat Al-Qashash ayat 23 hingga 26.

Demikian pula dengan kisah Maryam, Al-Qur’an mengkisahkan Nabi Zakaria masuk ke mihrab yang dihuni oleh Maryam, kemudian beliau berinteraksi dengannya.

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran: 37)

Ummu Hani binti Abu Thalib berkata, “Aku pergi menemui Rosululloh Shollahu ‘alaihi wa sallam pada tahun penaklukan kota Makkah, lalu aku ucapkan salam kepada beliau. Beliau menjawab, ‘Selamat datang Ummu Hani.’ Aku berkata , ‘Wahai Rosululloh, saudaraku Ali mengaku bahwa dia sedang memburu laki-laki yang telah aku lindungi keselamatannya, yaitu Fulan bin Hubairah.’ Rosululloh Shollahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akulah yang akan melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah, interaksi antara ikhwan akhwat, bukanlah hal yang tabu di kalangan pendahulu kita. Hanya saja, etika yang di masanya mereka teguhkan dengan kokoh yang telah (mungkin) kita hafal di luar kepala, kini semakin cair hingga hilang tak berbekas dalam amalan nyata. Hal tersebut adalah;

1. Menutup aurat

…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,…” (QS. An-Núr: 31)

Tujuan disyariatkan menutup aurat, pada hakikatnya adalah untuk kepentingan masing-masing pribadi, yakni dalam rangka menjaga diri dari fitnah. Menutup aurat secara sempurna, bukan hanya “sekedar” menutup aurat. Dalam menutup aurat, ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh muslimah.

2. Menjaga pandangan

Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,…‘” (QS. An-Núr: 31)

Dalam kitab Fath Al-Bary, disebutkan Fadhal bin Abbas―seorang pemuda yang tampan―melihat seorang perempuan dari kabilah Khats’am dan mengagumi kecantikannya. Lalu Nabi menoleh kepada Fadhal, sedangkan Fadhal masih melihat perempuan tersebut. Nabi mengulurkan tangannya untuk meraih dagu Fadhal dan memalingkan mukanya dari melihat perempuan itu.

Ibnu Bathal―salah seorang pensyarah kitab Shahih Al-Bukhari―berkata, “Dalam riwayat tersebut terdapat perintah untuk menahan pandangan karena takut terjadi fitnah. Konsekuensinya, apabila aman dari fitnah maka melihat tidak dilarang.”

Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar menambahkan, “Hal ini dipertegas dengan kemungkinan bahwa Nabi Shollahu ‘alaihi wa sallam tidak memalingkan muka Fadhal seandainya dia tidak terus menerus melihat perempuan karena kagumnya sehingga dikhawatirkan dia terjebak ke dalam fitnah.”

3. Tidak mendayu-dayukan suara

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

4. Keseriusan agenda interaksi

Islam tidak menghendaki adanya interaksi yang hanya sekedar iseng atau berada dalam kesia-siaan, tanpa kejelasan agenda. Tidak dikehendaki pula kondisi di mana syarat keseriusan agenda sudah terpenuhi tetapi terbuka peluang untuk agenda-agenda yang tidak teragendakan, di mana agenda ini jauh dari keseriusan bahkan membuka pintu-pintu fitnah.

5. Menghindari jabat tangan dalam situasi umum

Dari Ma’qil bin Yassar, Rosululloh Shollahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ditusuk di kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum besi lebih baik daripada memegang-megang perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)

6. Memisahkan laki-laki dan perempuan serta tidak berdesak-desakan

7. Menghindari khalwat (berdua-duaan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki di tempat yang sepi)

8. Meminta izin suami jika menemui perempuan yang suaminya tidak sedang bepergian

…dan dia (istri) tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izin (suami)nya…” (HR. Bukhari)

Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari rasa kecemburuan suami yang mengetahui istrinya berbincang dengan laki-laki, sementara dia ada di rumah dan tidak meminta izin terlebih dahulu.

Sebagaimana sahabat Amr bin Ash saat datang ke rumah Ali bin Abi Thalib untuk suatu keperluan, tetapi Ali tidak ada di rumah. Ia bolak-balik hingga dua sampai tiga kali, namun Ali tetap tidak di rumah. Setelah itu Ali datang dan berkata kepadanya, “Jika kamu memiliki keperluan kepadanya (istri Ali), apakah kami tidak dapat masuk menemuinya?” Amr menjawab, “Kami dilarang menemui para istri kecuali seizin suaminya.” (HR. Muslim)

9. Menjauhi perbuatan dosa

Hendaknya kaum laki-laki dan perempuan beriman senantiasa menjauhi perbuatan dosa dalam berinteraksi. Perbuatan ini dapat terjadi dalam tujuan pembicaraan, materi pembicaraan, cara dan gaya bicara dan lain sebagainya.

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.” (QS. Al-An’ãm: 120)

Di antara dosa yang tampak adalah meninggalkan etika syar’i dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Sedangkan dosa yang tak tampak adalah berkembangnya perasaan senang terhadap sesuatu yang haram dan berharap mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Menjadi pribadi yang terjaga dari dalam kandungan hingga kelak yaumil akhir, adalah sebuah impian yang mulia. Setidaknya, ketika ada setitik noda yang melekat, serta merta kita menjadi hamba yang tersadar dari kelalaian, kemudian sedemikian rupa berusaha untuk berlepas dengan sungguh-sungguh, mengokohkan diri menjadi muslim yang sebenarnya.

Sangat disayangkan memang, ketika hal-hal yang diremehkan (cairnya hubungan antara ikhwan akhwat) tetapi bagi sebagian kaum yang berilmu merupakan hal yang mampu menghancurkan iman secara perlahan, telah menjadi sebuah diskusi umum ataukah nasihat bijak dari saudara terkasih, hanyalah sebuah tiupan angin sejuk, selintas lalu tapi tidak membekas dalam jiwa.

Wahai ukhti fillah… bangkit dan ubahlah hari ini menjadi hari paling bersejarah dalam kehidupanmu. Mulakanlah dari dirimu, bila engkau tak mampu membawa serta saudara(ikhwan)mu kembali ke jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya hidayah hanyalah kuasa Robb kita.

Jadikanlah hari kemarin adalah masa lalu yang patut engkau sesali, tinggalkan dan berazzamlah untuk tidak mengulang kembali.

Wahai ukhti muslimah… menjadilah indah, tetapi jadikanlah keindahan itu hanya milik suamimu semata. Muliakanlah dirimu dengan sentiasa meminta jiwamu untuk mengikhlaskan diri menjadi muslimah sejati… Muslimah yang bidadari pun kan cemburu kepadamu.

“…,Karena shalat meraka, puasa mereka, ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya….’” (HR. Ath-Thabrani) (dari berbagai sumber)

www.samodrailmu.com

Iklan

2 thoughts on “CBSA dalam Agenda Muslimah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s