Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu?


images3.jpeg
Kesibukan di dunia kerja hampir empat tahun belakangan mewarnai hari-hariku. “Wanita karier” inilah predikat yang kusandang sekarang. Ditahun pertama bekerja aku sangat bahagia karena aku sudah dapat mewujudkan keinginan orang tua menjadi seorang pegawai yang sudah ber-SK (PNS). Di satu sisi aku sangat menikmati pekerjaan ini karena aku bisa memprakrikkan langsung ke pasien ilmu kesehatan yang kupelajari waktu sekolah. Di sisi lain rutinitas yang kujalani hari demi hari sebagai tenaga paramedis di sebuah instansi kesehatan milik pemerintah, kadang membuatku jenih dan bosan.

Entah kenapa, pekerjaan yang selama ini aku impikan membuatku tidak puas dan membuatku semakin jauh dari Allah, mungkin ini karena pengaruh lingkungan kerjaku yang jauh dari nilai-nilai Islam. Acara mingguan kumpul-kumpul dengan akhwat di salah satu partai sudah lama juga tidak kuikuti. Rasanya sekarang aku benar-benar jauh dari Allah. Semangatku untuk mempelajari Islam pun semakin melemah. Ya, Allah, apa yang terjadi padaku, berilah hamba-Mu ini petunjuk. Subhanallah, saat diriku benar-benar sendiri dan kehilangan arah, Allah memberiku hidayah untuk mengenal manhaj salaf dari sebuah bulletin yang diberikan oleh seorang temanku. Dari bulletin yang kudapat, maka kuberanikan diri untuk mengikuti kajian yang membuat diriku penasaran.

Kajian aneh apa ini, kok ini dibilang bid’ah itu dibilang bid’ah, pikirku. Aku mencoba bertanya kepada seorang akhwat yang duduk di sebelahku tentang yang disampaikan ustadz dalam kajian tersebut. Dengan sabar akhwat tersebut menjelaskan kepadaku bahwa semua perkara baru dalam Islam, yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bid’ah, dan setiap ibadah yang kita lakukan harus ittiba’ (mengikuti) Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Satu per satu penjelasan dari akhwat tadi kucerna walau banyak yang tidak sesuai dengan ilmu yang kudapat dari sebuah partai Islam selama ini.

Aku pun semakin penasaran mengikuti kajian salaf ini, aku berusaha tiap minggu mengikuti kajian ini dan membeli buku-buku bermanhaj salaf untuk menambah ilmuku. Alhamdulillah aku semakin mengerti. Setelah lama aku mengikuti kajian salaf, aku pun baru mengetahui bagaimana hukum wanita bekerja di luar rumah, ini dibolehkan selama tidak melanggar syariat. Lalu bagaimana dengan pekerjaanku yang masih ber-ikhtilat dengan lawan jenis…apakah semua ini syar’i? sepertinya aku sudah bisa menjawab pertanyaan itu. Namun di sisi lain, timbul pertanyaan, bagaimana dengan harapan orang tuaku, yang merasa telah berhasil mendidikku denagn menyekolahkanku sampai aku bekerja kini. Semua ini menjadi dilemma di hatiku…Ya Allah, aku mengakui betapa mulia syariat Mu yang memerintahkan wanita untuk tetap dirumah agar terhindar dari fitnah, tapi karena lemahnya iman ini hamba belum sanggup meninggalkan pekerjaan ini, hamba belum sanggup mengecewakan orang tua hamba. Ya Allah…betapa hinanya hamba-Mu yang dhaif ini..Waqarna fii buyutikunna…..(Al-Ahzab:33)
Hari-hari dengan rutinitas pekerjaan masih kulalui, aku berusaha untuk meminimalisir ikhtilat dengan lawan jenis. Tapi aku masih tetap berikhtilat dengan pasien, mau bagaimana lagi memang sudah tuntutan pekerjaan, semoga Allah mengampuniku. Dalam hati aku berharap kalau Allah takdirkan menikah nantinya, aku dapat berhenti bekerja, karena ada suami yang akan menafkahiku. Walaupun keinginanku ini bertentangan dengan orang tuaku. Semoga Allah kabulkan…

Di tahun kedua setelah aku mengenal manhaj salaf, aku mendapatkan tawaran dari seorang teman untuk ta’aruf dengan seorang ikhwan yang semanhaj denganku di kota temapatku bekerja. Tentu saja tawaran itu kusambut dengan baik dan orangtuaku pun menyetujuinya. Impian menikah dengan suami yang bisa mendidik dan menafkahiku seakan-akan sudah di depan mata. Namun manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menetapkan. Qadarullah prosesku dengan ikhwan tersebut batal karena adat istiadat yang ditetapkan keluarga ikhwan sebagai syaratuntuk menikah, yaitu dengan memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar kepada keluarga si ikhwan. Keluargaku tak menyetujui syarat keluarga ikhwan yang sangat tidak syar’I tersebut. Kenapa terbalik ya….seharusnya kan wanita yang diberi mahar, pikirku. Dan ikhwan-nya memilih mengundurkan diri karena belum bisa berdakwah kepada keluarganya, aku hanya bisa bersabar dan berharap ganti yang lebih baik dari Allah, semua ini pasti ada hikmahnya.

Sekarang sudah di tahun keempat aku bekerja. Kemandirianku sebagai wanita bekerja pernah membuatku bangga. Emansipasi …..aku adalah salah satu korbannya. Slogan yang berasal dari kaum barat ini pernah sangat memperngaruhi diriku. Hingga aku bercita-cita menjadi wanita karier yang mandiri dan berkedudukan sama dengan laki-laki. Selain diriku, masih banyak wanita lain yang menjadi korban emansipasi. Mereka terpengaruh slogan menyesatkan, dan merasa sama kedudukannya dengan laki-laki, karena bisa mencari nafkah sendiri. Kebanyakan wanita yang menjadi  korban emansipasi menganggap dirinya sudah setara dengan kaum laki-laki, wal’iyyadzubillah. Begitu mulia syariat Allah, laki-laki dilebihkan derajatnya karena menikahi kaum wanita. Dan wanita pun dimuliakan Allah untuk tetap dirumah menjadi seorang istri dan ibu-ibu dari anak-anak suaminya. Tapi kenyataan ini membuatku tidak habis pikir, kenapa masih banyak kaum pria menginginkan calon istri dari kalangan wanita yang bekerja d luar rumah dengan alasan bisa membantu dirinya dalam mencari nafkah, lalu…di manakah letak kemuliaan kaum adam ini, kalau mereka masih membebankan mencari nafkah kepada istri-istri mereka.
Masih teringat olehku celetukan teman kerjaku,”Eh, ada yang mau cari istri lho, kayaknya cocok denganmu. Orangnya sudah mapan dan dia mau istri yang kerja.” Begitu kata temanku. Tawaran seperti ini, tidak hanya nggak sekali dua kali aku terima, tapi sudah cukup sering. Betapa syukurnya teman-teman kajianku yang sudah menikah. Suami mereka tidak menginginkan mereka hanya diberi tanggung jawab mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak mereka, tanpa disibukkan oleh dunia kerja yang terkadang membuat pusing kepala.

Kabar dari seorang temanku baru-baru ini membuatku terkejut, ternyata ikhwan yang pernah gagal proses denganku dulu. Mau menjalani ta’aruf denganku karena aku adalah wanita yang bekerja yang bisa membantunya mencari nafkah. Benar-benar aneh, ternyata ini hikmah kegagalanku menikah dengan ikhwan itu…aku diselamatkan dari seorang calon suami yang akan membebaskan mencari nafkah kepada istrinya.Alhamdulillah ‘ala kulli hal
Kuberharap dan mohon kepada Allah agar kelak diberi suami yang shalih, mengerti tanggung jawabnya sebagai suami, mau menafkahiku tanpa membebankan tugas mencari nafkah kepadaku, karena ingin menjadikanku istri dan ibu yang bisa memberikan perhatian penuh bagi dirinya dan anak-anaknya. Selain itu, aku juga berharap agar suamiku kelak bisa menerimaku apa adanya, bukan karena aku seorang wanita bekerja yang bisa membantu mencari nafkah untuknya….
(Seorang akhwat yang berusaha untuk istiqomah di dunia yang penuh fitnah)

Rubrik Kisah Nyata, Majalah Nikah Edisi April 2007, hal 54.

Iklan

16 thoughts on “Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu?”

  1. assalamualaikum,

    boleh di copy paste?

    Syamsul
    _______________________
    maramis:
    Waalaikum salam.
    Boleh, asalkan dengan tetap menyertakan sumbernya.

  2. Assalamualaikum……

    Subhaanallah……
    Saya jadi sadar bahwa yg saya impikan untuk mencari istri yg harus bisa kerja adalah hal yg salah.
    SAya cuman berpendapat….. Boleh saja istri kerja, asalkan tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari anak2 harus harus dan harus di utamakan.

    Semoga dikau memperoleh apa yg kau cita2kan dan mendapatkan jalan yg terbaik dari Allah SWT.
    Amiiiieeennnnn………

    Wasalam
    Yunianto^_^

  3. fastaqimu..
    kisah di atas mirip kisah saudara saya…
    tapi masalahnya karena kafa’ah..
    setiap insan akan melalui episodenya sendiri2
    nb: saudari Icut Alkaff, boleh tau antum alkaff darimana ya?

  4. salafy kok bicara emansipasi ? aneh nih. kayaknya gak sinkron antara topik atas dengan topik bawah.

    kalau emang belum dapat jodoh, jangan emansipasi yg terus di tonjok. nong darul mahmadah, anak JIL aja, nikah muda kok.

    _____________________________________________________
    maramis:

    maksudnya apa akh? lebih baik antum ta’lim dulu, menuntut ilmu din ini supaya pola pikir antum tidak terselimuti kerancuan/ syubhat.

  5. bekerja itu pilihan. bekerja itu bisa diluaran bisa di domestik. istriku mengekspresikan dirinya dengan aktif di posyandu dan mendidrikan pendidikan anak dini usia. agak beda dengan akhwat salafy [ada tiga dekat rumah] yang selalu di dalam rumah, tidak mau [atau tidak mahir ?] aktif bermasyarakat, dan anak anaknya dia tolak untuk diimunisasi.

    takut kena autis katanya … 😛
    _______________________________________
    maramis:

    ….agak beda dengan akhwat salafy [ada tiga dekat rumah] yang selalu di dalam rumah, tidak mau [atau tidak mahir ?] aktif bermasyarakat, dan anak anaknya dia tolak untuk diimunisasi.

    akhi…….maksud antum bermasyarakat yang seperti apa……antum harus memberikan perincian. Trus aktif bermasyarakat yang dalam masyarakat seperti apa dan bagaimana bentuk aktifnya?
    Kalau antum mau mensurvey niscaya antum akan mendapatkan tidak sedikit dokter wanita yang salafy.
    Kalau memang imunisasi itu bermanfaat bagi anak-anaknya dan tidak menyebabkan autis maka kewajiban antum adalah menasehati mereka dengan cara yang ma’ruf dan tentu saja menasehatinya lebih aman melalui suaminya dan insyaAllah nasehat antum akan diterima, boleh jadi ini juga disebabkan karena sosialisasi program imunisasi sendiri dari pihak posyandu yang kurang menyebar, sehingga ada sebagian orang yang belum tahu pentingnya imunisasi. wallohu a’lam.

  6. sabar yaa ukhtii,…banyak ikhwan yang mendambakan akhwat sepeerti antum,,….kisah antum kebalikan ana,…calon ana malah ingin kerja sbg PNS,…begitu juga ortunya,…..minggu ini keputusannya,…sabar yaa ukhtiii,…semaoga anti segara dipertemukan dengan calon yang anti dambakan,…isbiruuu fa takillah,…la yukallifullahu nafasn illa wus’aha,….inna ma’a al usri yusro,…

  7. assalamualaikum…Barakallahu fikum…salam kenal untuk sesama akhi Islam yang berusaha berjalan diatas manhaj Rasul saw dan para sahabat r.a..ane ngak pandai memberi nasehat or masukkan karena ane sendiri masih sering dalam bermaksiat kepada-NYA..sedikit nasehat dari ane untuk kita semua…”Dahulukan Allah dalam semua perkara…ILAHI, ANTA MAKSUDI WARIDHAKA MATLUBI…UNTUK UKHTI….SESUNGGUHNYA DUNIA INI ADALAH ALAM MIMPI AKHIRAT ADALAH KENYATAAN & PERTENGAHAN DIANTARA KEDUANYA ADALAH KEMATIAN..DAN KITA SEMUA SEDANG BERADA DIALAM MIMPI…BARAKALLAHUFIKUM….WASSALAM

  8. ASSALAMUALAIKUM….U S’MUA AKHI ISLAM YENJADIKAN MANHAJ RASUL DAN PARA SAHABAT RA SEBAGAI JALANNYA..ANE DARI ACEH..senag kenal dengan akhi2….www.auliasalafy_aceh@yahoo.com…bila Allah izinkan kita akan berjumpa..nga’ di dunia…ntar ya di yaumil akhir..& ane tlah hidup di bumi nee udah 23 tahun lamanya 6 bulan & berapa hari ya….doain ntar umur 25 taon insya Allah dapat nikah ya…Wassalam…Barakallahufikum

  9. karier terhebat mahluk Allah yang bernama perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga, berbanggalah akhowat dengan karier yang langsung diberikan Allah kepada kalian.

  10. wah akhi maramis jazakumullah yach sudah menampilkan artikel-artikel dari majalah Kami, kalau bisa jangan hanya kisah Nyatanya aja donk yang diambil kan ada landasan utama, shiratal mustaqim dan lain sebagainya. mudah-mudahan majalah Nikah bisa bermanfaat bagi perkembangan dakwah salaf terutama di Indonesia, Amien…..
    sekedar informasi silahkan klik: http://www.majalah-nikah.com
    jazakumullah Akhi, kalau ada informasi hubungi ana di 085228402723. kritik dan saran utnuk majalah Nikah hubungi no Redaksi. 0271-5819272(fleksi) atau kirim email ke: abahnya_shofi@yahoo.com

  11. assalamualaikum…

    Barakallah fiikum
    Terima kasih atas apresiasi ikhwah sekalian utk pelaku dalam kisah nyata ini. (yang jg adalah penulisnya).
    Yang mau e-mail sang akhwat…
    Minta aja sama pem red Nikah.
    Ga bakalan dikasih….
    he he he
    wassalamualaikum

    Notes ; Kritik dan sarannya ditunggu

    Adi

  12. assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    memang kebanyakannya yang ana ketahui, anak kesehatan (terutama perawat) lebih memilih menjadi PNS ketika selesai kuliah, karena ada anggapan bahwan perawat kalau bukan PNS tidaklah perawat. berbagai macam alasan biasanya dikemukakan sebagai dalih untuk membolehkan bekerja sebagai PNS (khusus akhwat) seperti kalau hanya di rumah maka ilmu yang diperoleh menjadi sia-sia jika tidak dipraktekkan.meskipun sebenarnya ada juga yang sudah bersuamikan PNS tetap saja mengejar cita-cita untukmenjadi PNS.yah karena di masyarakat (khususnya di daerah saya) anggapan PNS merupakan pekerjaan yang paling mudah dan paling terjamin dalam hidup (karena tiap bulan PASTI dapat gaji dan berbagai tunjangan lainnya serta gaji pensiunan) serta imej PNS sebagai orang yg dihormati di masyarakat. sangat sedikit memang anak kesehatan yang tidak menjadikan PNS sebagai keberhasilan dalam kuliah dan hidup. tidak menjadikan PNS sebagai kebanggaan. akhirnya banyak akhwat kesehatan yang mennsyaratkan calon suami harus PNS. pertanyaannya…beranikah akhwat dalam cerita di atas untuk melepaskan status PNS nya meskipun belum menikah dan mendapatkan suami yang sudah bekerja dan bukan dari kalangan PNS???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s