Jawaban Konsultasi Ustadz: Bingung Masalah Firqah


imagesg.jpeg

Pertanyaan Tanggal 5 April 2007, 5:29 AM
Ditanya Oleh: Menik Haryani
Dijawab Oleh: Ust. Muhammad Nur Yasin

AssWrWb.
Dalam proses tarbiyah, saya masih kurang paham tentang konsep firqah dalam Islam. Mengapa Islam harus terkotak-kotak,walaupun kita semua tahu bahwa itu dibolehkan asalkan tetap dalam konteks Islam dan pondasinya serta tidak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah. Rasulullah SAW bersabda:
“Kaum (umat) Yahudi akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan kaum (umat) Nasrani akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh tiga golongan” ( Abu Daud, at-Tarmizi, al-Hakim, dan Ahmad). Selain itu, terdapat pula sunnah dari Rasulullah SAW yang memperbolehkan perbedaan pendapat dalam pelaksanaan. Sebenarnya macam2 firqah dalam Islam itu apa saja? Dan bagaimana golongan2 itu membahas dan mengamalkan Islam yang bukan hanya konseptual? Apa saja yang membedakan mereka? Lalu seharusnya kita masuk dalam firqah yang mana? Atau hanya “gol_put” alias menggeneralisir Islam, maksudnya berbasis Islam, Qur’an dan Sunnah, namun tidak memiliki ‘emblem’ atau identitas firqah secara khusus , padahal dalam wahyu Allah juga disebutkan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu terpecah-belah…” (QS. Ali-Imran:103). Dalam hal ini menyangkut juga fenomena2 perbedaan firqah yang perilaku dan penampilan tiap2 anggotanya berbeda (identitas yang nonverbal). Bagaimana cara menyikapinya?
Jazakallah.
_________________________________________

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu

Sangat tidak dibenarkan terkotak-kotaknya Islam. Islam tidak mengenal firqoh-firqoh. Karena Islam yang di ajarkan oleh Rasulullah adalah satu warna. Tetapi dalam perkembangannya sangat banyak warna. Dan hal ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, yang benar satu yang 72 salah. Maka carilah yang satu golongan itu. Yang tidak lain Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu orang-orang yang dalam beragama mengikuti tiga generasi terbaik.

Pertanyaan anda adalah pertanyaan yang besar, yang memerlukan pemikiran jernih untuk mendapatkan solusinya. Tapi, mudah-mudahan makalah singkat saya yang saya cantumkan di sini bisa membantunya asalkan pahami baik-baik, perlahan-lahan saja dalam memahaminya tidak perlu terburu-buru.

BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA BERAGAMA?

Pendahuluan
Ketika seseorang ingin membikin kue donat, tetapi dia tidak tahu caranya, maka kemungkinan besar gagal. Atau paling tidak, berhasil tetapi keadaannya tidak menentu, baik rasanya, bentuknya atau percampuran bahan-bahannya. Ternyata sekedar untuk membikin kue yang kelihatannya sederhana tetap dibutuhkan pengetahuan tentangnya. Demikian pula masalah agama, terlebih ia berada di zaman yang sudah cukup jauh dari Nabi yang membawanya. Tentunya untuk bisa beragama sesuai aslinya “Islam yang sebenarnya” sebagaimana dibawa oleh Nabi shallahu alaihi wa sallam mengharuskan adanya methode tersendiri. Inilah yang dinamakan manhaj (metodologi memahami agama)

Manhaj Salaf
Istilah Manhaj, InsyaAllah sudah cukup jelas. Sekarang tentang istilah Salaf. Salaf menurut etimologi adalah dahulu. Menurut terminology adalah generasi pendahulu yang shaleh, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Tiga generasi ini adalah generasi yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam sebagai generasi terbaik.
*Lihat Qs. At-Taubah:100 dan Qs. An-Nisa:115.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa:155)

*Lihat Hadis riwayat At-Tirmidzi, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di Neraka kecuali satu. Para Sahabat bertanya, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang saya dan para Sahabat saya berada di atasnya”.

*Lihat Hadits riwayat Bukhari Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian masa setelahnya”.

* Pembesar Tabi’in di antaranya; Uwais Al-Qorni, Sa’id bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Salim bin Abdullah bin Umar, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, Muhammad bin Hanafiyah, Ali bin Hasan Zainal Abidin, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad bin Syihab Az-Zuhri.

* Di antara Tabi’ut tabi’in: Malik bin Anas (Imam Malik), Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah Al-Hilali, Al-Laits bin Sa’id,
Murid-murid mereka di antaranya adalah Abdullah bin Mubarak, Waki’, Asy-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya Al-Qaththan. Kemudian lahirlah generasi seperti Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad), Yahya bin Ma’in, Ali bin Al-Madini. Selanjutnya lahirlah generasi seperti Al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, At-Tirmidzi, Abu Daud An-Nasa’i

Bagaimanakah generasi tersebut beragama, maka kita pun mengikutinya secara 100%, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam beragama. Islam yang kita anut menjadi sesuai dengan aslinya. Nampaklah bagi kita, keharusan untuk mengikuti Manhaj Salaf.

Manhaj Salaf dalam Aqidah
Siapakah yang tahu tentang diri Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Kita tidak akan mungkin mengetahui tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau Dia tidak memberitahukan kepada kita. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan tentang dirinya melalui Al-Qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dalam Hadits-Haditsnya. Jadi, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam adalah orang yang paling tahu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang paling paham tentang-Nya setelah beliau adalah para Sahabat, di mana mereka adalah para santri Rasulullah Shallahu alahi wa Sallam secara langsung dan mereka juga adalah orang-orang yang hidup di mana wahyu berangsur-angsur turun. Kemudian para Sahabat mengajarkannya kepada murid-muridnya dan seterusnya.
Demikian juga dalam masalah lainnya, seperti Malaikat, kitab-kitab, Rasul-Rasul, Hari Qiamat, takdir dan perkara-perkara ghaib lainnya. Jadi, sedikitpun kita tidak boleh merujuk kepada perenungan, menunggu wangsit, mimpi, atau penalaran logika.Tetapi mencukupkan diri dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an yang di jelaskan Hadits-Hadits yang dipahami oleh para Sahabat.

Prinsip-prinsip Salaf dalam beraqidah, di antaranya adalah
1. Memahami rukun iman secara benar
2. Iman meliputi i’tiqad, lisan dan jawarih (anggota badan).
3. Tidak mudah-mudah mengkafirkan seseorang
4. Mengimani nash-nash tentang janji dan ancaman
5. Memahami al-Wala’ wal Bara’ secara benar
6. Mempercayai adanya karomah waliyullah
7. Di dalam talaqqi wal istidlal mencukupkan diri dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
8. Wajib taat kepada Waliyul Amri (pemimpin)
9. Mencintai Sahabat dan Ahlul Bait serta meyakini kekhalifahan Khulafaur Rasyidin
10. Berpaling dari Ahlul Ahwa’ wal Bida’

Contoh memahami rukun Iman secara benar, berkaitan dengan nama dan sifat Allah:
Semua nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia tentukan untuk dirinya dan juga Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam tetapkan untuk-Nya, maka wajib kita imani tanpa tahrif, takyif, tamtsil dan ta’thil.

Manhaj Salaf dalam Ibadah
Kaedah dalam Ibadah adalah “Al-Ashlu fil Ibadah al-Haram Illa Ma Dalla ad-Dalil ‘ala Amrihi” (Hukum asal dari ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkan). Para Salaf mencukupkan diri dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.Betapa beliau sering mengingatkan umatnya dari penambahan dan pengurangan terhadap ajarannya. Tindakan merubah ajaran disebut bid’ah.
Bid’ah adalah perbuatan yang sangat tercela, baik ditinjau dari logika ataupun nash.

Ditinjau dari sisi logika

  • Dalam urusan dunia saja akal manusia tidak bisa berdiri sendiri untuk tahu banyak hal kecuali setelah diberi tahu atau mempelajarinya. Itu pun terbatas dan lemah terbukti seringkali mereka meleset dalam suatu uji coba atau penelitian. Kalau demikian keadaannya, bagaimana mungkin akan mengutak-atik urusan syareat, sesuatu yang di luar bidang akal.
  • Syare’at telah dinyatakan sempurna oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuatu yang sempurna tidak memerlukan penambahan dan pengurangan.
  • Orang yang berbuat bid’ah berarti menentang syare’at. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul untuk menjelaskan syare’atnya? Kenapa mereka membikin syareat sendiri?Lalu apa artinya diutusnya para Rasul.
  • Orang yang berbuat bid’ah berarti menandingi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah Dia sebagai Sang Khalik yang berhak menentukan syare’at?
  • Orang yang berbuat bid’ah berarti mengikuti hawa nafsu. Karena ketika seseorang tidak mengikuti syare’at yang telah ditetapkan, tidak lain adalah mengikuti hawa dan syahwatnya. Lihat QS.Shaad:26. Al-Kahfi:28. Al-Qashash:50.

Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shaad:26)

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) Ketahuilah bahwa Sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qashash: 50)

Ditinjau dari sisi nash

a. Dari Al-Qur’an
-Hadits Aisyah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam ditanya tentang Qs.Ali Imran:7. Beliau menjawab, “Jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyabih, maka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (Al-Bukhari)
-Ibnu Abas berkata tentang Qs.Ali-Imran:106, “Tabyadldlu wujuhu Ahlissunnah wa taswaddu wujuhu ahli bid’ah”
-Qatadah (murid Ibnu Mas’ud) berkata tentang Qs.Ali Imran:105, “yakni Ahli bid’ah”.
-Mujahid (murid Ibnu Abbas)berkata tentang Qs.Al-An’am:103, Wa la tattabi’uu As Subula, “Bid’ah-bid’ah dan syubuhat”
-Abu Bakar Ash-Shiddiq ditanya tentang Qs.An-Nahl:6, “Saya diberitahu oleh Abu Wail bahwa Abdullah bin Mas’ud menggaris satu garis lurus kemudian membikin garis-garis yang banyak di sebelah kanan kirinya, kemudian beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam membikin garis seperti ini dan mengatakan untuk garis yang lurus, ‘ini adalah jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala’ dan untuk garis-garis yang banyak di sebelah kanan kirinya ‘ini adalah jalan-jalan yang tercerai berai’…kemudian membaca Qs.Al-An-am:153.
-Qs. Ayat 31-32 yang dimaksud adalah Ashabul Ahwa wal Bida’

b. Dari Hadits
-Hadits Aisyah. “Man Ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu fahuwa roddun” (Al-Bukhari)
-Hadits Aisyah. “Man ‘amila amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun” (Muslim)
-Hadits Jabir. “Bahwa Rasulullah bersabda dalam khutbahnya, ‘Amma ba’du.Fa inna khairol hadits Kitabullah wa khairal hadyi hadyu Muhammadin wa syarrol umuri muhdatsatuha wa kulla bid’atin dlalalah” (Muslim)
-Hadits Ibnu Mas’ud. “Iyyakum wa muhdatsatil umur, fa inna syarrol umuri muhdatsatuha, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa inna kulla bid’atin dlalalah.” (Ibnu Majah)
-Hadits Irbadl bin Sariyah. “Suatu hari Rasulullah shalat mengimami kami, kemudian menghadap ke arah kami memberi nasihat yang mendalam sehingga mata-mata bercucuran dan hati-hati menjadi takut. Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka yang perintahkan kepada kami? Rasulullah bersabda, “Saya wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, dengarkanlah dan taatilah meskipun terhadap seorang budak Habasyah. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat perpecahan yang banyak. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin. Berpegang teguhlah dengannya, gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”(At-Tirmidzi)

c. Dari Atsar Sahabat
-Umar bin Khattab berkhutbah di hadapan manusia, “Wahai sekalian manusia, telah disunnahkan untuk kalian sunnah-sunnah, telah difardlukan untuk kalian fardlu-fardlu, dan kalian ditinggalkan dalam keadaan jelas, kecuali kalian sesat bersama manusia dengan condong ke kanan atau ke kiri.”
-Ibnu Mas’ud, “Ikutilah jejak-jejak kami, janganlah kalian berbuat bid’ah, karena telah dicukupkan untuk kalian.”
-Ibnu Mas’ud, “Sederhana (pas-pasan) dalam melakukan Sunnah lebih baik daripad bersemangat dalam melakukan bid’ah.”

d. Dari perkataan orang-orang setelah Sahabat
-Hasan Al-Bashri, “Pelaku bid’ah tidaklah bertambah semangat (dalam shalat dan puasa) melainkan semakin bertambah jauh dari Allah.”
-Ibnu Wahab dari Abi Idris al-Khaulani, “Jika saya melihat masjid yang di dalamnya terdapat api membakar yang saya tidak bisa memadamkannya lebih aku sukai daripada melihat masjid yang di dalamnya terdapat bid’ah yang saya tidak mampu merubahnya.”
-Fudlail bin ‘Iyadl, “Ikutilah jalan-jalan petunjuk, jumlah pengikut yang sedikit tidak akan memadlaratkan kalian. Hindarilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah terbuai dengan jumlah yang banyak (yang binasa).”dll.

Manhaj Salaf dalam Muamalah
Berbeda dengan masalah ibadah, kaedah dalam muamalah adalah ‘Al-Ashlu fil muamalah al-Ibahah Illa ma dalla ad-Dalil ‘ala khilafihi (Hukum asal di dalam muamalah adalah boleh [leluasa] kecuali ada dalil yang menyelisihinya)’
Dalam ruang lingkup inilah semestinya kaum muslimin berlomba-lomba untuk melakukan kreatifitas, bukan dalam masalah aqidah dan ibadah. Karena hukum asal muamalah adalah boleh (leluasa) selama tidak menyelisihi batasan-batasan yang telah ditetapkan syareat. Dengan cara ini, maka kaum muslimin akan jaya di dunia. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Sementara yang terjadi sekarang tidak demikian, justru kaum muslimin berlomba-lomba mengadakan kreatifitas dalam ibadah atau aqidah.

Penutup
Janganlah anda terbuai dengan jumlah pengikut yang banyak. Karena kebenaran tidak diukur dengan jumlah pengikutnya. Tetapi kebenaran adalah apabila sesuai dengan yang haq (pemahaman tiga generasi terbaik) meskipun anda seorang diri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, “Ahlussunah adalah yang sesuai haq, meskipun kamu seorang diri.” Tetapi sebagaimana pesan Rasulullah kita harus bangga meskipun dipandang asing di tengah-tengah kelompok mayoritas, karena justru yang asing inilah yang sesuai dengan ajaran beliau. Bukankah beliau menyatakan bahwa kaum muslimin yang sesuai dengan ajarannya adalah cuma 1 (satu) golongan, sementara yang tidak sesuai berjumlah 72 golongan? Bukankah ini adalah perbandingan yang sangat jauh? Jika kita menyadari hal ini mestinya kita cemas dan risau, jangan-jangan kita termasuk golongan yang 72. Oleh karena itu agar termasuk ke dalam 1 (satu) golongan, mari beragama sebagaimana generasi yang dinyatakan Rasulullah sebagai generasi terbaik beragama!

Iklan