Sinetron Religi antara Tontonan dan Tuntunan (3)


images1.jpeg

Oleh: Ust. Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.

Tontonan Islami, Benarkah?
Sudah menjadi maklum, para pembuat sinetron religi bukan para ulama ahli agama dan bukan bertujuan berdakwah bahkan hanya murni mencari nuansa baru untuk membuka pasar media ekelektronik yang sudah mulai lesu dan goncang, sehingga dalam penyajiannya bisa dipastikan terjadi berbagai macam penyimpangan dan pelanggaran agama. Dan hal ini telah terbukti.
Adapun pelagaran sinetron religi terhadap pilar, norma dan nilai agama adalah sebagai berikut:

1. Sinetron Religi Merusak Pondasi Aqidah.

Penayangan sinetron religi banyak sekali mengandung pelanggaran terhadap aqidah Islamiyah yang antara lain:a. Sinetron religi banyak menonjolkan tema yang berbau khurafat dan takhayul, mengangkat nama besar dukun dan tukang ramal, dan menganggungkan aqidah tasawwuf, serta misteri-misteri dunia ghaib. Misalnya untuk menghadapi seorang dukun maka mereka melakukan amalan tertentu yang diberikan oleh sang kyai atau orang pinter yang mereka juluki ustadz sehingga dari dalam tubuh kyai ada tenaga dalam yang bisa mengalahkan dukun tersebut, ditambah lagi kebanyakan aqidah yang mewarnai nuansa sinetron adalah aqidah sufi yang seolah ustadznya bisa mengetahui makhluk gaib yaitu jin. Sebenarnya Islam tidak mengingkari adanya STMJ (santet, tenung, mejig, dan jengges) dan dunia perdukunan, namun Islam telah mengajarkan bagaimana cara yang benar dan syar’I untuk melepaskan pengaruh sihir dan perdukunan seperti yang diajarkan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam.

b. Menumbuhkan rasa takut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta ‘ala. Tidak jarang tayangan sinetron religi menggambarkan setan atau jin dengan ilustrasi yang sangat menakutkan sehingga membuat pemirsa takut kepada bentuknya bukan kepada tipu dayanya serta mengalahkan takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala. Masyarakat digiring menjadi hamba yang penakut, pengecut dan kurang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala.

c. Menggiring manusia untuk tidak bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala. Selain itu mereka juga diajarkan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta ‘ala seperti bergantung kepada benda tertentu yang bisaanya disebut dengan jimat, padahal Islam sangat melarang orang yang bergantung kepada jimat sebagaimana hadit Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya Abu Basyir Al-Anshary Radhliyallohu’anhu pernah bersama Rasulullah dalam suatu bepergian, lalu beliau mengutus seorang utusan (untuk menyampaikan) “Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari busur pabah atau kalung apapun kecuali harus diputuskan.” (HR. Bukhari dan Kitabul Jihad (3005), Muslim Muslim dalam Kitabul Libas wa Az-Zinah (5515) dan Abu Dawud dalam Kitabul Jihad (2552)).

Dalam sinetron religi terdapat tayangan untuk menghadapi marabahaya maka seseorang hanya cukup dengan menggosok cincin pemberian siluman yang terang-terangan telah diharamkan dalam aqidah Islam dan pelakunya dihukumi kufur dan sangat berbahaya sekali bagi pemirsa yang rata-rata tidak memiliki pengetahuan agama yang benar, sehingga mereka menganggap bahwa nilai-nilai yang diangkat dalam sinetron tersebut merupakan ajaran agama yang wajib dilestarikan dan patut dijadikan sebagai tuntunan.

2. Sinetron Religi Menodai Kehormatan dan Kesucian

Tayangan Sinetron religi yang disajikan kepada para pemirsa hanya sekedar sarana pamer kecantikan dan keindahan tubuh sementara dibalik itu sarat dengan penodaan kesucian, kehormatan dan martabat wanita bahkan sinetron mirip wahana pelacuran terselubung, maka menonton sinetron seperti itu dilarang oleh agama Islam, karena seorang muslim pencemburu terhadap kehormatan dan kesucian mahramnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga istrinya dan anak gadisnya walaupun nyawa taruhannya, namun apa yang ditayangkan dalam sinetron sebuah gambaran kedua orang tua merestui dan mendukung anak gadisnya berpacaran bahkan berciuman atau pergi bareng tanpa ada mahram.
Syaikh bin Baz Rahimahullah ditanya tentang bagaimana hukum menyaksikan wanita-wanita yang bertabarruj (pamer aurat) di televisi?
Beliau menjawab: Tibak boleh seorang laki-laki menyaksikan wanita telanjang, setengah telanjang, atau yang membuka wajahnya, begitu pula seorang wanita tidak boleh menyaksikan laki-laki yang membuka pahanya baik di di televisi atau video, film dan visual lainnya, maka seseorang berkewajiban untuk menahan pandangan atau berpaling, sebab hal itu merupakan sumber fitnah dan salah satu penyebab rusaknya hati dan menyimpangnya dari kebenaran. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta ‘ala :
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Katakanlah kepada wanita yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya……(QS. An-Nur 30-31)
“Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dia berkata: sanad hadist shahih dan tidak dikeluarkan oleh bukhari dan muslim)
3. Sinetron Religi dan Penghancuran Akhlak
Sinetron religi sarat dengan adegan yang merusak akhlak dan moral para pemirsa sehingga kaum muslimin terobsesi dengan tindakan para penjudi, pemabuk, pencuri, koruptor dan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa mengeluarkan fatwa berkenaan dengan sinetron yang kesimpulannya sebagai berikut: Diharamkan memproduksi, memasarkan, menyebarkan dan menawarkan sinetron kepada umat Islam disebabkan beberapa hal berikut ini:

1. Terdapat unsur penghinaan terhadap sebagian ajaran agama dan pelecehan terhadap pemeluknya, sehingga lambat laun tayangan ini akan menimbulkan keresahan masyarakat dan ditakutkan dapat menimbulkan akibat buruk.
2. Terdapat unsur yang bertentangan dengan syariat agama dan membawa manusia dan khususnya umat Islam untuk keluar dari syariat Islam dan menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta ‘ala.
3. Terdapat propaganda dari Negara sekuler yang didalamnya tampak simbol kekafiran dan Negara yang telah popular kerusakan akhlaknya.
4. Terdapat sesuatu yang dapat membangkitkan sombong dan semangat jahiliyah berkenaan dengan memperolok-olokkan adat kebiasaan dan logat bahasa suatu daerah sehingga hal itu bertentangan dengan tujuan diturunkan syariat Islam yang menganjurkan umatnya untuk saling mencintai dan saling mengasihi, bersatu dalam ikatan persaudaraan yang tulus serta menjauhkan dari segala macam permusuhan dan kebencian.
5. Mendatangkan perbuatan yang rendah dan hina, menghilangkan kemuliaan, menyebarkan kerusakan, dan memotivasi perbuatan mungkar dan syahwat.
6. Tidak ada pengecualian hukum dalam menyaksikan sinetron bahkan mencakup seluruh macam bentuk sinetron yang bertentangan dengan syariat Islam, melanggar ketentuan Allah Subhanahu wa Ta ‘ala. Merusak akhlak dan moral, membunuh ghirah (kecemburuan) dalam beragama dan melenyapkan kemuliaan dan kehormatan serta membuka pintu penyimpangan. (Diringkas dari kitab Al-FAtawa As-Syar’iyah Fil Masail Al-Ashriyah, 3/ 129-134)

Tugas Umat semakin Berat
Tantangan Islam dan kaum muslimin zaman sekarang sangat berat dan beraneka ragam yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam baik secara terang-terangan atau terselubung yang mampu mendatangkan bahaya dan musibah bagi umat. Mereka memanfaatkan televisi untu merusak masyarakat dan para pemuda Islam, sehingga mereka jauh jauh dari ajaran Islam, bermoral hewani, berakhlak binatang, bodoh dan dungu. Maka bagi semua pihak baik pemimpin, pengajar, dan aktifis dakwah serta seluruh kekuatan umat berkewajiban menghilangkan kegelapan dan kebodohan kemudian bangkit untuk membela dan mempertahankan eksistensi umat yang sudah terkoyak hancur, sehingga umat kembali jaya, punya harga diri, disegani musuh dan mampu menjadi pemimpin dunia penuh dengan kasih saying dan kemanusiaan serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang bercahaya. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan dimintai tanggung jawabnya, serta pembantu adalah penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya”. (Muttafaqun’alaih, Bukhari 2/317 dan 13/100. Muslim 1829)

Oleh sebab itu kita harus saling menutup celah kekurangan umat dan membuka kesempatan seluas mungkin bagi kaum intelektual dan pakar untuk membahas secara lugas, jelas dan tegas tentang penyelesaian problem umat yang ditimbulkan oleh media. Setelah itu, hasilnya harus disebarkan kepada seluruh masyarakat melalui media cetak dan elektronik, begitu juga harus ada kajian secara sistematik terhadap berbagai rencana musuh yang telah berusaha siang dan malam untuk menghancurkan Islam dan merobohkan bangunan ajaran Islam dan dibantu dengan gencar oleh iblis.

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari al-A’masy dari Abu Sofyan dan Thalhah bin Nafi’ dari Jabir bin Abdullah Rahimahullah dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam berabda:

“Sesungguhnya ibllis meletakkan singgasananya di atas air (samudera) kemudian menyebarkan bala tentaranya, maka yang paling dekat kedudukannya dari iblis adalah yang paling besar fitnahnya, salah satu datang lalu berkata: “Saya telah melakukan ini dan itu.” Lalu iblis mengatakan:”Kamu belum berbuat apa-apa.” Kemudian datang yang lain dan berkata: “Tidaklah aku meninggalkan seseorang sehingga aku pisahkan antara dia dan istrinya.” Maka iblis mendekatkannya dan berkata: “Ya, Kamu”.” (HR. Muslim (2813))

-Tamat-

Qiblati edisi 06 tahun II hal. 65

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s