Proporsional Dalam Menilai orang


images4.jpg

Seorang yang selalu ingin mengoreksi dirinya, tidak akan ada waktu dalam dirinya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Tidak ada lagi di hatinya tempat ghibah, mencaci, namimah (adu domba), apalagi memfitnah. Hatinya selalu sibuk dengan kesalahan diri dan memikirkan bagaimana menebusnya.

Akan tetapi mencari kesalahan bukan berarti selalu mencela dan memaki diri dan menganggap diri kita hina tiada arti di dunia ini. Dan tidak mencari kesalahan  orang lain bukan berarti kita berdiam diri tatkala melihat suatu kemungkaran di depan kita. Semuanya harus proporsional, karena demikianlah ciri khas kita-umat Islam, yaitu umatan wasathon, umat yang tengah-tengah. Menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan berbuat adil pada setiap perkara.

Tatkala melihat orang lain, kita harus proporsional. Betapa banyak kebaikan orang lain yang tersembunyi di sebalik kesalahan-kesalahannya. Bukankah keadilan lebih dekat dengan ketakwaan? Maka dalam bermuhasabah kita harus jujur, bahwa diri kitalah yang pertama kali harus diperbaiki.
Memperbaiki kesalahan orang lain adalah sangat boleh dan bahkan diwajibkan pada setiap umat Islam. Namun alangkah baiknya kita renungkan terlebih dahulu siapakah diri kita sebenarnya. Sudahkan perkataan kita kepada orang lain sepadan dengan perbuatan kita? Benarkah kita sudah berusaha engan sungguh-sungguh menjadi hamba yang bertaqwa.
Allah   telah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah  yang hendak setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk haru esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah   maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah , lalu Allah   menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19)
Terbiasa mencari kesalahan orang lain justru akan melupakan kesalahan diri dan memperlambat taubat kepada-Nya. Memang benar, semua ini adalah seni dalam mengatur di antara dua amalan yang penting dari keduanya. Sungguh, kita akan selalu dalam kebaikan jika terus waspada pada amalan-amalan yang kita lakukan. InsyaAllah
Al-Hasan rahimahullah berkata,” Sesungguhnya seorang hamba senantiasa masih dalam kebaikan selama masih mau mendengarkan nasihat dari hati kecilnya, dan senang berintrospeksi diri.”
Hilangkanlah sifat angkuh pada diri kita. Seberapa banyak amal shalih kita belum tentu diterima oleh Allah . Karena Sungguh, yang memasikkan kita ke dalam surga bukanlah amalan-amalan kita, tetapi karena rahmat-Nya. Untuk apa kita merasa lebih banyak amalan dari pada orang lain. Allah lebih berhak menilai siapa umat-nya yang bertaqwa. Bukan kita!
Obyektiflah dalam menilai sesuatu, dan jangan samapai terjebak dalam tuntunan syetan yang mengajak kepada hal-hal yang buruk. Betapa sering kita berkata dan memaksa orang lain melakukan suatu kebaikan, kemudian tatkala dia tidak melaksanakan perkataan kita ini, kita menjadi marah dan mencelanya. Kisah Nabi Yunus  patut dijadikan panutan dalam masalah ini.
Boleh jadi amal baik mereka yang sedikit ternyata lebih mulia di sisi Allah dari pada banyaknya amalan yang mungkin masih didiringi sifat riya’, ujub, dan takabur.
Yakinlah bahwa sering banyak menilai diri malah akan mengangkat martabat dan derajat kita di sisi orang lain, hingga akhirnya kita akan dapat berdakwah bil fi’l (dengan perbuatan) yaitu dengan ketauladanan kita. Bukankah berdakwah dengan perbuatan lebih membekas di hati orang dari pada dengan perkataan?
Proporsionallah dalam menilai, jangan berlebihan juga jangan berlemah-lemah. Jangan terburu-buru menyimpulkan suatu perkara yang dilakukan seseorang tanpa pemikiran yang matang.

Dan pada kahirnya jangan lupa, selalu berdoalah. Karena senjata umat Islam yang paling tajam adalah doa. Doa adalah wujud pengharapan semata kita kepada Allah  Sang Pencipta. Doa, akan mendidik hati untuk lalu bergantung kepada Allah, hingga akhirnya segala bergantung kepada Allah , hingga akhirnya segala sesuatu ukurannya adalah bagaimana Dia bisa tersenyum bangga terhadap kita.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa mengakui kesalahan diri bukan berarti harus banyak menyanjung orang lain padahal orang tersebut berbuat salah. Dan juga –sekali lagi- bukan berarti kita membiarkan urusan mereka sendiri”. Alangkah bijaknya kita tatkala melihat ke dalam juga tetap melihat di luar sana, tentu sekali lagi dengan proporsional. Mengingatkan orang lain bukan dengan kebencian pada orangnya, tapi sebaliknya itu adalah wujud kasih sayang kita kepadanya dan kebencian kita terhadap ada satu pilihan dalam mengingatkan orang, yaitu dengan cara sebijak-bijaknya.

Berat tanggung Jawab menjadi Pemimpin
Seorang pemimpin yang adil akan diberikan ganjaran yang besar di sisi Allah   dan bahkan ia termasuk dari tujuh golongan yang diberikan naungan di hari kiamat nanti. Demikian karena seorang pemimpin yang adil tidaklah semudah membalik tangan. Penuh perjuangan, pengorbanan dan kehati-hatian. Ibarat orang yang berjalan di kegelapan malam di tengah semak-semak berduri.

Satu kebiasaan buruk seorang pemimpin adalah cenderung menyalahkan bawahan. Rakyat, anak buah, orang miskin, anak dan istri, dan sebagainya sering kali menjadi sasaran seorang pemimpin. Menyalahkan tidak salah, tetapi sekali lagi harus proporsional. Karena kesalahan bawahan akan sangat tampak dan gampang di bongkar. Demikianlah kenapa seorang pemimpin yang adil mendapatkan pahala yang berlimpah, dikarenakan beratnya dia mengatur perasaan hatinya dan siapa yang dipimpinnya.

Kesalahan bawahan biasanya begitu cepat tertutup atas kebaikan yang telah ia lakukan. Contoh kata, suatu saat ada seorang karyawan yang terlambat. Setelah di hubungi berkali-kali ternyata handphonenya tidak aktif, padahal hari itu sedang diadakan sebuah rapat yang sangat penting yang mana ia harus hadir. Seorang pemimpin akan sangat mudah sekali bersu’udzon dan marah. Tapi Subhanalloh, bagi seorang pemimpin yang adil dia akan begitu bijaksananya dalam menyelesaikan perkara ini.

Atau perkara seorang suami yang pulang dari bekerja dan ternyata sang istri tidak ada di rumah, sementara di rumah makan tidak ada makanan yang bias dimakan. Seorang suami yang adil pasti berhati-hati berprasangka buruk terhadap istrinya, walaupun mungkin dia saat itu ia sedang lapar dan sangat membutuhkan istrinya.

Apapun kesalahan orang lain harus diukur dengan proporsional. Bermuhasabahlah, apa untungnya jika kita marah dan memutuskan perkara dengan tidak bijak ketika itu.

Bafi orang yang di atas (terpandang), beranilah untuk selalu sejajar di hadapan Allah . Hanya ketakwaanlah yang diukur oleh Allah. Ketahuilah, bahwa semakin tinggi seseorang semakin besar jugalah tanggung jawab yang akan berimbas kepada ketidakadilan dan kedzaliman pada yang ada di bawah. Dan juga semakin tinggi sebuah pohon semakin banyak orang yang akan melihatnya dan semakin keras tiupan angina. Artinya bahwa semakin tinggi jabatan kita maka semakin besar kritik ercaan orang, yang mana kita harus berhati-hati mengatur hati dalam menghadapi kritik-kritik ini.

Terimalah dengan lapang dada dan acungkanlah jari kita ke dada kita sebelum mengacungkan kepada orang lain. Dan pada akhirnya ketahuilah, sedungguhnya setiap kita adalah pemimpin. Maka semoga Allah   menjadikan kita para pemimpin yang shalih dan bijak dalam membawa amanah.

“Wahai Rabb kami, anugreahkanlah kapeda kami para istri/suami, dan anak-anaka yang menjadi penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami para pemimpin panutan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Sumber: Swaraquran/No.7 Thn ke-6 1427 H/2007 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s