Berani Mengintrospeksi Diri


ml0017.jpg

Berani Mengintrospeksi Diri

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr:18)

Setiap orang mempunyai hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin kuat pula bujuk rayu syetan kepadanya. Coba kita ingat sejenak pendahulu kita Nabi Adam  dan Hawa, mereka tergelincir dari surga itu karena bujuk dan tipu daya syetan.

Hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang ikhlas. Tapi permasalahannya, siapakah di antara kita yang tahu bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar ikhlas?

Allah membekali tubuh kita yang lemah ini dengan hawa nafsu. Dan kita diberikan kendali oleh Allah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengatur keduanya. Dua perbekalan mulia ini menjadi kendali seorang mukmin dalam menghadapi arus deras kehidupan yang penuh dengan pergolakan jiwa. Ada kalanya suatu saat dia selamat, tapi ada di saat lain dia terseret arus. Suatu kewajaran di mana keimanan itu terkadang naik dan terkadang turun. Namun hanya mereka yang mau mengintrospeksi diri dan bertaubat dari kesalahanlah yang tidak berlama-lama terseret bujuk rayu hawa nafsu.

Seorang pemberani dan yang bertekad tinggi, adalah mereka yang berani menghitung amal yang telah ia lakukan. Setiap saat ia sibuk menilai dirinya. Apakah perbuatan, perkataan dan tingkah lakunya telah benar-benar mendatangkan keridhoan Allah ataukah tidak.
Introspeksi diri memang bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengorbanan dan kemauan yang kuat untuk melakukannya.
Ibnul Qayyim rahimahullah membagi muhasabah (introspeksi diri) ini menjadi dua.
1. Muhasabah Sebelum Berbuat
Adalah introspeksi diri yang dilakukan sebelum melakukan suatu tindakan, dengan memelihara niat pikiran, kehendak dan tekad yang ada di dalam jiwa. Seseorang sebelum bertindak hendaknya memikirkan dengan matang, apakah tindakan atau ucapannya nanti mendatangkan ridha Allah   atau tidak.
Introspeksi sangat penting karena akan menjadi tolak ukur, apakah tindakannya benar-benar ikhlas karena Allah  ataukah hanya berharap pada rengkuhan dunia fana.
Tahapan Introspeksi:
a. Mampukah ia mengerjakannya. Jika ternyata tidak mampu, maka ia harus meninggalkannya supaya waktu itu tidak terbuang sia-sia.
b. Apakah dengan melakukan amalan tersebut akan membawa hasil yang lebih baik daripada meninggalkannya, ataukah sebaliknya. Jika lebih baik dilakukan maka lakukanlah. Tapi kembali renungkan apakah amalannya harus dilakukan sekarang ataukah nanti saja.
c. Apakah amalan tersebut dilakukan untuk mencari ridha Allah  atau hanya motivasi lain yang bersifat keduniaan.
d. Apa saja sarana yang dapat digunakan dalam rangka merealisasikan niatnya tersebut. Adalah sarana yang memotivasi karena Allah   semata. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.(QS. Al-Fatihah 5)

2. Muhasabah Setelah Berbuat
Dalam introspeksi kedua ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Introspeksi dalam ketaatan yang berkaitan dengan hak Allah 
Yaitu, introspeksi tentang bagaimana cara kita dalam melakukan sebuah amalan fardhu. Apakah selama ini kita telah melakukannya sesuai dengan sunnah dan ketentuan yang semestinya, dan adakah kekurangan di dalamnya.
b. Introspeksi terhadap perbuatan baik yang ditinggalkan
Ukuran perbuatan baik tentu harus sepadan dengan yang dinilai oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ada kalanya suatu tindakan terkesan baik di mata kita, tapi ternyata ia buruk di sisi Allah . Dan betapa banyak waktu kita tergunakan pada hal-hal yang sia-sia. Misal adalah mulut kita. Hitung dan bandingkanlah berapa jam mulut digunakan untuk perkataan sia-sia daripada untuk berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Padahal betapa mulia dan besarnya pahala dzikir dan membaca Al-Qur’an.
c. Introspeksi pada perbuatan mubah yang biasa dilakukan.
Apakah pebuatan tersebut dilakukan untuk mengharap ridha Allah   atau hanya sekedar kegiatan rutinitas semata. Betapa ruginya jika perbuatan rutinitas kita seperti tidur, berjalan, makan, berbicara, duduk, berdiri, dan seterusnya jika tidak diniatkan mencari ridha Allah . Dan betapa untungnya seseorang jika selalu meniatkan setiap gerak tubuh dan ucapannya demi mencari ridha Allah .
Bayangkan saudaraku, betapa besarnya pahala yang akan kita raup jika seluruh kegiatan kita lakukan demi ibadah karena Allah . Tidur yang berpahala, berpakaian yang berpahala, berpakaian yang berpahala, mencari nafkah yang berpahala. Subahanallah!
Wa shollallahu ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in
Sumber: Swaraquran/No.7 Thn ke-6 1427 H/2007 M

Iklan

2 thoughts on “Berani Mengintrospeksi Diri”

  1. kita sebagai muslim memang sudah selayaknya untuk selalu berintrospeksi akan diri kita, karena manusia selalu tidak lepas dari kesalahan…
    selain itu juga, salah satu hadist menyebutkan untuk selalu berbuat lebih baik dari pada hari sebelumnya…
    hal tersebut dapat menjadi dasar dalam melakukan introspeksi diri…

  2. Ping-balik: one second

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s