Teman Tapi……


mmenjangan-view-gunung.jpgTermasuk hal yang penting dalam pembinaan anak muslim adalah menghindari persahabatan dengan teman-teman yang buruk dan jahat. Anak muslim hendaknya tumbuh dewasa dengan sahabat-sahabat yang baik, bermajelis dengan orang-orang dewasa sehingga mereka mendapatkan ilmu dan pengalaman, belajar adab dan akhlak. Bahkan bisa jadi anak kecil yang mendapatkan karunia Allah berupa kecerdasan dan kepandaian dapat memberikan manfaat yang banyak kepada manusia dan orang-orang yang bergaul dengannya. Dengan demikian kedua orangtuanya dan orang-orang yang mendidiknya ikut bergembira.

Teman mempunyai pengaruh sangat kuat dalam membentuk kepribadian anak. Rasulullah SAW bersabda :

“Seorang itu menurut agamanya sahabatnya, maka hendaklah setiap orang memperhatikan denagn siapa dia bersahabat”.(HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad hasan).

Rasulullah SAW juga bersabda,

“Sesungguhnya perumpamaan teman majelis yang shalih dan teman majelis yang buruk seperti orang yang membawa minyak misik (Kasturi) dan pandai besi. Orang yang membawa minyak misk ada kalanya is memberimu hadiah, atau engkau membeli darinya atau engkau mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi adakalanya ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap” (Muttafaq alaih).

Syaikh Bakr Abu Zaid dalam bukunya “Hilyatu Thalibil Ilmi” memperingatkan penuntut ilmu agar hari-hati terhadap teman yang buruk karena adab yang buruk dan karakter seseorang mudah berpindah dan manusia diberi naluri untuk saling menyerupai dan meniru temannya. Hati-hati dari bergaul dengan mereka karena pencegahan lebih mudah dari pengobatan. Pilihlah teman yang dapat membantu mencapai tujuanmu yang mulia dan cocok dengan tujuan tersebut, pilihlah teman yang mendekatkan dirimu kapada Allah. Kemudian beliau membagi teman itu menjadi tiga macam :

  1. Teman berasaskan manfaat
  2. Teman kenikmatan
  3. Teman keutamaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam “Syarah Hilyah Thalibil Ilmi” menjelaskan tentang tiga macam teman dengn mengatakan,”Pertama, teman manfaat yaitu orang yang berteman denganmu untuk mendapatkan manfaat darimu berupa harta, kedudukan, atau lainnya. Jika tidak ada manfaat yang didapatkan darimu jadilah ia musuhmu, dia tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalnya. Betapa banyaknya mereka ini, jika mereka diberi shadaqah mereka senang, tapi jika tidak diberi mereka marah. Ada seorang temanmu yang sangat akrab, kamu sangat menghormatinya dan dia pun sangat menghormatimu, suatu hari ia berkata kepadamu,”bawa sini bukumu untuk saya baca!”. Kamu menjawab,”InsyaAllah besok”. Maka is cemberut dan memusuhimu, apakah ini dikatakan teman? Ini teman manfaat.

Kedua, teman kenikmatan, ia berteman denganmu hanya untuk bersenang-senang denganmu dalam bermajelis dan berdagang, tetapi dia tidak memberimu manfaat kepadanya, yang ada hanya buang waktu. Tipe ini juga kamu harus berhati-hati darinya karena dia akan menyia-nyiakan waktumu.

Ketiga, teman keutamaan, yang membawamu pada kebaikan an melarangmu kepada keburukan, membuka pintu-pintu kebaikan untukmu dan menuntutmu kepadanya. Jika kamu tergelincir dia akan melrangmu dengan cara tidak mempermalukanmu, ini baru teman keutamaan.”

Syaikh Abdul Aziz As Salman rahimahullah berkata,”Teman itu tiga macam, pertama seperti makanan, sesuatu yang selalu dibutuhkan tidak boleh tidak, kedua seperti obat, dibutuhkan saat sakit saja, ketiga seperti penyakit, sama sekali tidak dibutuhkan.”

Seorang penyair berkata:

Jauhilah teman yang buruk dan putuskanlah perangkapnya

Berbasa basilah apabila engkau tidak mendapatkan jalan untuk menghindarinya

Berpegangteguhlah dengan sahabat yang jujur, hindarilah berdebat dengannya

Engkau akan mendapatkan kasih sayang yang murni selama engkau tidak mendebatnya

Barangsiapa yang menanam kebaikan kepada orang yang tidak pantas diberi kebaikan

Dia akan mendapatkannya dibalik lautan atau didasarnya

Allah memilki surga yang luasnya seluas langit

Tetapi surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai

Ketika kita menanam kebaikan kepada orang lain, janganlah kita maksudkan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari orang tersebut. Hendaklah kita niatkan untuk mendapat ridha Allah SWT semata, agar Allah membalas kebaikan kita di dunia dan di akhirat.

Disarikan dari Majalah Qiblati Vol. 01/No.09/Tahun 2006/1427H dengan judul Da’I Kecil, hal 81-83)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s