Mencela Orang Yang Sudah Meninggal


300px-pantai_swarangan.jpg

“Dari Aisyah Ra, dia berkata, Nabi SAW bersabda,’Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, Karena mereka itu sudah samapai kepada apa yang telah mereka lakukan.” (HR Bukhari)

Kesimpulan Hadist:

Apa yang disabdakan oleh Nabi pasti memberi kemanfaatan bagi seseorang, baik dunia atau akhirat. Ada beberapa hal yang dapat diambil kesimpulan pada hadist tersebut :

Satu, hadist tersebut menunjukkan haram hukumnya mencaci atau mencela orang-orang yang sudah meninggal. Karena hadist tersebut bersifat umum sehingga mencakup kaum muslimin dan orang-orang kafir. Inilah yang dikatakan oleh Imam Ash-Shan’ani dalam Syarh Bulughul Maram.

Di dalam Asy-Syarh dikatakan,”Tetapi hadist tersebut mengecualikan tentang diperbolehkannya mencaci orang-orang kafir. Alasannya, di dalam Al-Quran, Allah SWT menyebutkan celaan bagi orang-orang kafir, seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan lainnya.”

Lalu Imam Ash-Shan’ani mengatakan ,”Adapun ketika Allah menyebut umat-umat terdahulu tentang kesesatan mereka, hal ini bukan bertujuan untuk mencela mereka, tetapi hanya untuk mengingatkan kepada umat sekarang ini dan perilaku mereka yang buruk, karena perilaku buruk itu menyebabkan kehancuran, dan Allah ingin menjelaskan bahwa perilaku tersebut haram untuk diikuti. Begitu pula menyebutkan keburukan orang yang berbuat dosa-perbuatannya bukan orangnya, maka itu juga diperbolehkan. Oleh Karena itu, larangan mencaci atau menyebut-nyebut keburukan orang yang sudah meninggal tidak ada pengecualian- termasuk orang kafir.

Hikamah dari pelarangan tersebut, adalah karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan. Maksudnya, mereka telah mendapatkan basalasan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, baik berupa perbuatan yang shalih atau sebaliknya.

Dua, tidak ada manfaatnya mencela, mencaci maki, merendahkan kehormatan atau mengungkit-ungkit kejahatan serta perbuatan-perbuatan orang yang sudah meninggal. Sebab hal itu terkadang berimplikasi terhadap keluarganya yang masih hidup, yaitu menyakiti hati mereka.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri ketika memberi catatan-catatan kaki pada kitab Bulughul Maram, menyatakan,”Larangan tersebut akan berdampak buruk kepada orang yang masih hidup: yaitu seseorang yang ada ikatan dengannya (keluarga).”

Ibnu Atsir berkata di dalam kitabnya Usud Al-Ghabah,” Ketika Ikrimah bin Abu Jahal masuk Islam, banyak orang-orang yang berkata, ‘Wah! Ini adalah anak musuh Allah, Abu Jahal.’ Ucapan tersebut menyakiti Ikrimah. Karenanya, ia mengadukan perihal tersebut kepada Rasulullah SAW, lantas beliau bersabda” ‘janganlah kalian mencela ayahnya karena mencela orang yang sudah mati, akan menyakiti orang yang masih hidup (keluarganya).’”

Ibnu Rasyid berkata,” sesungguhnya mencaci orang kafir itu diharamkan jika menyakiti keluarganya yang muslim. Jika tidak, maka tidak mengapa. Begitu pula mencaci seorang muslim, hukumnya adalah haram. Kecuali jika dalam kondisi darurat. Misal, ada maslahat bagi mayat yaitu menyelamatkannya dari kedzaliman. Hal ini sangatlah baik, bahkan wajib jika memang harus mencaciknya. Pernyataan ini disamakan dengan diperbolehkannya ghibah terhadap orang yang masih hidup karena beberapa alas an.”

Tiga, Imam Nawawi berkata,”Ketahuilah, bahwa ghibah (membicarakan kejelekan orang lain ketika orangnya tidak ada ditempat) diperbolehkan bila dimaksudkan untuk tujuan yang benar dan disyariatkan. Maksudnya, ketika tidak ada cara yang baik selain dengan cara itu….”

Kemudian beliau menyebutkan, “Diantaranya, untuk memperingatkan kaum mulimin dari suatu kejahatan dan untuk menasehati mereka. Hal ini dapat ditempuh melalui beberapa sisi, diantaranya (seperti di dalam ilmu hadist –red), diperbolehkan menceritakan para periwayat hadist dan para saksi yang dikenal sebagai orang-orang yang dianggap cacat. Karena riwayat yang disampaikannya tidak sesuai dengan kriteria riwayat yang boleh untuk diterima, baik dari sisi individunya, seperti hafalannya lemah dan lain sebagainya- red), maka, hal sepeti ini secara kesepakatan kaum muslimin diperbolehkan, bahkan wajib hukumnya.

Diantaranya lagi, dengan tujuan memperkenalkan kepada seseorang, bila dia dikenal dengan julukan tertentu seperti al-a’masy (si picak), al-a’raj (si pincang), al-ashamm (si tuli), dan sebagainya. Sedangkan bila julukan itu dilontarkan untuk tujuan merendahkan, maka haram hukumnya. Oleh karena itu, lebih baik lagi menghindari penggunaan julukan semacam itu sedapat mungkin.”

Empat, di dalam menyikapi orang-orang yang sudah meninggal ketika disebut kebaikannya, berharaplah agar orang yang berbuat baik tersebut diberi limpahan pahala oleh Allah, dirahmati dan tidak disiksa oleh-Nya. Sedangkan terhadap orang yang berbuat buruk, dikhawatirkan dirinya akan disiksa karena dosa-dosa dan keburukan yang diperbuatannya. Kita tidak bersaksi terhadap seorang bahwa dia ahli surga atau ahli neraka, kecuali orang yang sudah dipersaksikan oleh Rasulullah SAW akan hal itu. Begitu pula, diharamkan berburuk sangka terhadap seorang muslim yang secara lahiriyahnya ia berperilaku lurus, berbeda dengan orang yang secara lahirnya memang fasik maka tidak berdoa bila berburuk sangka terhadapnya.

 

Dikutip dari majalah Swaraquran Edisi 3 Tahun ke-6/Sept 06, hal 22-23.

Iklan

One thought on “Mencela Orang Yang Sudah Meninggal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s