Bersabarlah!


mosque8.jpeg
Penulis: Abu Nu’man Adhika Mianoki (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

Kehidupan seseorang di dunia ini tidak pernah terlepas dari dua keadaan, keadaan mendapatkan kenikmatan ataupun keadaan mendapatkan musibah. Kewajiban seorang muslim adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dan bersabar ketika mendapatkan musibah. Inilah keadaan yang hanya dimiliki oleh muslim sejati, bagaimanapun keadaan yang dialaminya, dia selalu dalam kebaikan dan tetap masih bisa menuai pahala. Bersabar bagi seorang muslim adalah suatu keharusan, karena inilah yang diperintahkan ketika seorang muslim menghadapi musibah. Sabar merupakan kewajiban bagi seorang muslim berdasarkan Al Quran, As Sunnah, Ijma’, dan juga akal yang sehat.

Hadits Tentang Sabar

Di antara hadits Rasulullah yang menunjukkan kewajiban bagi seorang muslim untuk bersabar adalah hadits berikut.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah melewati seorang wanita yang sedang menangis di samping sebuah kubur, kemudian beliau bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!’ Kemudian wanita itu berkata: ‘Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengetahui musibah yang aku alami.’ Wanita tersebut tidak mengetahui siapa yang berbicara tadi. Kemudian ada yang berkata kepadanya: ‘Dia adalah Nabi.’ Kemudian wanita tersebut mendatangi rumah nabi dan tidak mendapatkan penjaga di rumah nabi, kemudian berkata, ‘Aku tidak mengetahui bahwa engkau adalah nabi.’ Rasulullah bersabda: ‘Sabar itu hanyalah pada saat tertimpa musibah yang pertama kali.’” (Muttafaqun ‘alaihi). Dan dalam riwayat Muslim, “Menangis atas kematian anaknya.” (HR. Bukhori 1283 dan Muslim Muslim 926)

Penjelasan Global Hadis

Dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya nabi melewati seorang wanita yang berada di samping kuburan anak kecil yang telah meninggal. Wanita ini sangat mencintainya sehingga tidak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Ketika Rasulullah melihatnya beliau memerintahkan wanita tersebut untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Rasulullah bersabda kepada wanita tersebut: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Kemudian wanita tersebut berkata: ”Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengalami musibah seperti yang aku alami.” Hal ini menunjukkan terkadang musibah menimpa seseorang dengan cobaan yang berat. Kemudian nabi meninggalkan wanita tersebut.

Kemudian dikatakan kepada wanita tersebut bahwasanya yang berbicara kepadanya tadi adalah Rasulullah. Wanita tersebut menyesal kemudian menemui Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang menghalanginya untuk masuk ke rumah beliau. Kemudian wanita tersebut bercerita dan mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui kalau engkau adalah Rasulullah.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang disebut sabar itu hanyalah pada saat tertimpa musibah yang pertama kali.” Sabar yang berpahala adalah sabar pada saat pertama kali musibah menimpa dirinya. Inilah hakikat sabar.

Pengertian dan Macam-Macam Sabar

Sabar secara bahasa berarti menahan. Secara istilah syar’i yaitu menahan jiwa dari tiga perkara: dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah, dan dalam menerima takdir yang telah ditetapkan Allah. Seseorang harus sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah karena terkadang ketaatan menimbulkan keberatan dalam jiwa sehingga seseorang menjadi sulit dalam melaksanakannya. Terkadang ketaatan juga berat bagi badan sehingga menimbulkan kelelahan. Demikian juga dalam melakukan ketaatan menimbulkan kesusahan berupa harta seperi pada saat melaksanakan zakat dan haji.

Sabar dalam meninggalkan segala sesuatu yang Allah haramkan yaitu seseorang menahan diri dari segala sesuatu yang Allah haramkan karena nafsu yang jelek selalu mengajak kepada kejelekan, sehingga seseorang harus bisa menahan jiwanya. Seseorang tatkala menahan jiwa dan nafsunya dari melaksanakan kemaksiatan sehingga dia tidak melaksanakannya membutuhkan kesabaran

Seseorang juga harus sabar dalam menghadapi takdir Allah yang buruk, baik berupa ujian fisik, harta, keluarga, dan lain-lain, maka dibutuhkan kesabaran. Dia harus bersabar dari menampakkan kegelisahan dengan lisan, hati, maupun anggota badannya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

Tingkatan Dalam Menghadapi Musibah

Seseorang berbeda-beda sikapnya tatkala menghadapi musibah. Keadaan manusia dalam menghadapi musibah terbagi dalam empat golongan:

1. Marah

Keadaan ini adalah keadaan orang-orang yang marah dalam menghadapi musibah, baik marah dengan hatinya, dengan lisannya, atau dengan anggota badannya. Marah dalam hatinya, misalnya dia marah dan benci kepada Allah dan merasa seolah-olah Allah menzaliminya dengan musibah tersebut. Marah dengan lisannya, misalnya dengan berdoa dengan kecelakaan. Marah dengan anggota badan, misalnya dengan menampar pipi dan kepala, menjambak rambut, dan merobek pakaian, dan yang semisalnya. Marah dalam menghadapi musibah ini adalah haram karena menyelisihi sabar yang diwajibkan. Ini adalah keadaannya orang-orang yang celaka yang tidak mendapatkan balasan dari musibah yang dialaminya, bahkan dia mendapatkan dosa. Maka orang seperti ini dia mendapatkan dua musibah sekaligus, musibah dalam agamanya berupa murka Allah dan musibah dunia yang dialaminya.

2. Sabar

Keadaan ini adalah keadaan bersabar dalam menghadapi musibah dengan menahan nafsunya. Dia benci dan tidak suka dengan musibah yang terjadi, akan tetapi dia menahan nafsunya dari berkata-kata yang menimbulkan murka Allah, melakukan perbuatan yang mendatangkan azab Allah, dan tidak ada dalam hatinya kebencian terhadap Allah. Dia bersabar, akan tetapi dia tidak suka musibah tersebut menimpa dirinya. Bersabar adalah wajib karena Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman,

وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)

3. Ridho

Pada keadaan ini seseorang ridho dan merasa lapang dada dengan musibah yang dialaminya. Ia benar-benar ridho seolah-olah musibah tersebut tidak menimpanya. Ridho ketika menghadapi musibah hukumnya adalah sunnah.

4. Syukur

Keadaan terakhir adalah seseorang bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpa dirinya. Rasulullah apabila melihat sesuatu yang beliau tidak suka beliau mengucapkan “Alhamdulillahi ‘ala kulli haal.” (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan). Bersyukur kepada Allah karena Allah memberinya pahala atas musibah yang dia alami lebih besar daripada musibah yang dia rasakan. Tingkatan ini adalah tingkat yang paling tinggi, karena dia bersyukur kepada Allah terhadap musibah yang menimpanya. Karena dia tahu, bahwa musibah ini merupakan sebab ditutupnya kejelekan-kejelekannya dan barangkali untuk menambah kebaikan-kebaikannya. Nabi bersabda yang artinya, “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menutupi dosa dengannya, meski sekedar duri yang menusuknya.“ (Muttafaqun ‘alaihi). (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin dan Majmu’ Fatawa, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

Untaian Hikmah Hadits

Hadits di atas memilki beberapa pesan di antaranya:

Pertama, betapa bagus akhlak Rasulullah dan cara beliau dalam mendakwahkan kebaikan. Hal ini dapat kita lihat ketika beliau melihat seorang wanita yang sedang menangis di samping kubur, beliau memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Tatkala wanita tersebut berkata, “Menjauhlah dariku!” Rasulullah tidak marah kepadanya, tidak memaksanya, dan tidak memperlakukannya dengan keras karena beliau mengetahui bahwa dia tidak mampu mengontrol dirinya karena kesedihan yang menimpanya. Oleh karena itu ia keluar rumah dan menangis di samping kubur.

Kedua, seseorang itu dimaafkan karena dia tidak tahu, baik tidak tahu hukum syar’i maupun jahil terhadap keadaan yang sebenarnya. Ketika wanita tersebut berkata kepada Rasulullah: “Menjauhlah dariku!” padahal Rasulullah memerintahkannya dengan kebaikan, bertakwa, dan bersabar. Akan tetapi wanita tersebut tidak mengetahui kalau lawan bicaranya adalah Rasulullah, maka Rasulullah memaafkannya. Hal ini menunjukkan tawadhu’nya Nabi dan sikap beliau yang lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu.

Ketiga, menangis di sisi kubur menunjukkan sikap tidak sabar ketika menghadapi musibah karena Rasulullah bersabda kepada wanita yang menangis di samping kubur: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!”

Keempat, sabar terpuji adalah bersabar ketika pertama kali mendapatkan musibah, bukan setelah terlewatinya musibah. Hal ini karena jika telah lewat waktu terjadinya musibah, maka musibah pun juga akan terlupakan, dan bersabar pada saat itu tidak bermanfaat.

Kelima, tidak sepantasnya bagi seorang yang mempunyai kepentingan bagi kaum muslimin menjadikan di rumahnya pengawal yang menghalangi manusia yang membutuhkannya untuk menemuinya (baca: satpam).

Keenam, seseorang yang diperintahkan dengan kebaikan hendaknya menerima dengan baik dan tunduk kepada kebenaran walaupun dia tidak mengetahui siapa yang memerintahnya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Bahjatun Naadzirin Syarah Riyaadhis Shoolihin oleh Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly).

Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa bersabar di dunia ini, baik ketika melaksanakan ketaatan, menghindari maksiat, dan menghadapi musibah. Wallahul musta’aan.

Iklan

One thought on “Bersabarlah!”

  1. Excellent post. Keep posting such kind of information on your blog.

    Im really impressed by your blog.
    Hey there, You have done a great job. I’ll definitely digg it and for my part suggest to my friends. I am sure they will be benefited from this web site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s