akhirat kekal

Ternyata Akhirat Tidak Kekal ?????


Akhirat itu Kekal….

PERTANYAAN :

akhirat kekal

Apa bener?

Ustadz, saya membaca buku berjudul ‘Ternyata Akhirat Tidak Kekal’, karangan Agus Mustofa. Dalil penulis mengenai hal tersebut, bahwa hanya Allâh Ta’âla saja yang kekal, sedangkan selainNya tidak memiliki sifat kekal, termasuk (alam) akhirat. Dicantumkan juga surat Hud/11 ayat 106-108. Adapun banyaknya nash al Qur‘an yang menyebutkan akhirat kekal, ditafsirkan oleh penulis karena lamanya masa akhirat akan binasa, yang menurut sains modern sekitar 18 milyar tahun lagi. Apakah pernyataan tersebut benar? Dan bagaimana pandangan manhaj Salaf terhadap hal itu? Mohon penjelasan dan terima kasih.

Arie Fajarsepta ( aseptaf@………….com )

JAWABAN :

Akhirat adalah sesuatu yang ghaib, tidak diketahui kecuali dengan berita wahyu, baik dalam al-Qur‘an maupun Sunnah Rasûlullâh. Sehingga, seseorang tidak boleh menetapkan suatu ketentuan, kecuali berdasarkan keduanya. Namun perlu diingat, memahami keduanya dengan benar, harus merujuk kepada para sahabat. Mereka adalah para murid Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang langsung menerima keterangan dan penjelasan beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam. Juga melihat kepada ketentuan dan pemakaian bahasa Arab, sebab Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

Demikian juga dengan pertanyaan ketidak kekalan akhirat, perlu ditanyakan, adakah di kalangan para sahabat yang menyatakan demikian? Tidak cukup hanya dengan menyebut dalil al-Qur‘an, apalagi berdasarkan terjemahannya –bahasa Indonesia– kemudian menafsirkan seluruh ayat-ayat lain yang dianggap tidak sesuai dengan hipotesa yang dibuatnya sendiri.

Pendapat yang mengatakan akhirat, surga dan neraka tidak kekal, bukanlah pendapat baru. Pendapat ini hanya membangkitkan kembali pemikiran sesat al Jahmiyah, yang dipelopori Jahm bin Shafwan. Begitu juga dengan pembesar Mu’tazilah, yaitu Abu al Hudzail al ‘Allaf.

Alhamdulillah, hal ini sudah dijelaskan oleh para ulama terdahulu, seperti Imam ath Thahawi (wafat 321H), Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, adz Dzahabi, Ibnu Abil ‘Izzi al Hanafi (wafat 792H), dan lainnya.

Imam Abu Ja’far ath Thahawi menyatakan :

“Surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, tidak punah selama-lamanya”.[1]

Ketika menjelaskan perkataan Abu Ja’far ath Thahawi di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi al Hanafi berkata :

“Orang yang berpendapat surga dan neraka tidak kekal adalah Jahm bin Shafwan, pemimpin al Jahmiyah. Pendapatnya ini, tidak ada seorang pun yang mendahului, baik dari kalangan sahabat ataupun tabi’in. Tidak juga dari para imam muslimin dan Ahlu Sunnah. Seluruh Ahlu Sunnah telah mengingkarinya, dan memvonis kafir kepada Jahm disebabkan pendapatnya ini”.[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

“Pendapat yang menyatakan surga dan neraka tidak kekal, maka saya tidak pernah mengetahui ada seorang pun yang menukilnya dari salah seorang salafush-shalih, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Mereka hanya menceritakan, pendapat ini dari Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya (yaitu al Jahmiyah). Pendapat ini termasuk yang diingkari oleh para ulama besar Islam. Bahkan, menjadi argumen mereka untuk memvonis kafir sekte al Jahmiyah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal (dalam as Sunnah), al Atsram (dalam as Sunnah), dan Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al Bukhari (dalam Khalqu Af’al al ‘Ibad) serta lainnya dari Kharijah bin Mush’ab, bahwa ia berkata :

“Al Jahmiyah menjadi kafir berdasarkan beberapa ayat dari al Qur`an. Di antaranya empat ayat.

Firman Allâh Ta’âla:

QS ar Ra’ad/13 : 35

Buahnya (Sorga) tak henti-henti (kekal),
sedang naungannya (Sorga) (demikian pula)

(QS ar Ra’d/13 ayat 35)

Mereka (Al Jahmiyah) menyatakan, tidak kekal.

Firman Allâh Ta’âla:

QS Shad/38 : 54

Sesungguhnya ini adalah benar-benar rizki dari Kami
yang tiada habis-habisnya

(QS Shad/38 : 54)

Mereka (Al Jahmiyah) menyatakan, akan habis.

Firman Allâh Ta’âla:

QS Waqi’ah/56 : 33

Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.
(QS Waqi’ah/56 : 33)

Barangsiapa yang mengatakan “akan berhenti,” maka ia telah kafir.

Firman Allâh Ta’âla:

QS Hud/11 : 108

Sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
(QS Hud/11 : 108)

Maknanya, tidak putus-putus. Barangsiapa yang menyatakan itu akan terputus, maka ia telah kafir.”[3]

Adapun untuk membantah buku yang ditanyakan tersebut, kami perlu mengkaji terlebih dahulu buku tersebut, sehingga kami dapat mengerti dalil dan sisi pengambilan hukum yang terdapat pada buku ‘Ternyata Akhirat Tidak Kekal’ tersebut. Namun yang jelas, pemahaman seperti ini dipelopori sekte sesat al Jahmiyah dan Mu’tazilah, yang sekarang ini banyak diusung kembali ke dunia Islam oleh para musuh Islam, baik dengan memanfaatkan kaum Muslimin sendiri, ataupun secara langsung melalui pena dan lisan mereka. Oleh karena itu, kita semua hendaklah sadar, betapa berbahaya belajar Islam dari para musuh Islam, seperti orientalis dan Islamologi dari Barat.

Demikian jawaban singkat kami, mudah-mudahan bermanfaat.

[1] Syarah Aqidatuth Thahawiyah, halaman 614.
[2] Ibid, halaman 261.
[3] Dinukil dari ar Radd ‘ala man Qaala bi Fanaa-il Jannati wan Naar, Ibnu Taimiyah, tahqiq Dr. Muhammad bin ‘Abdilah as Samhari, Cet. Pertama, Tahun 1415H, halaman 43-44.

Sumber: Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (07-08)/Tahun X,

http://majalah-assunnah.com

Tulisan terbaru:


5 comments on “Ternyata Akhirat Tidak Kekal ?????

  1. Kalaupun dia mengungkapkan dalil Al A’raf ayat 25 “Katakanlah: di Bumi itulah kalian hidup, dan di Bumi itu kalian mati, dan dari Bumi itu pula kalian akan dibangkitkan” itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Akhirat, Surga dan Neraka berada di Bumi. Ayat itu hanya menunjukkan urut-urutan hidup di atas bumi, mati di atas bumi (dan dikubur di dalam bumi) kemudian dibangkitkan DARI dalam bumi. Masalah setelah dibangkitkan DARI bumi itu manusia akan ditaruh di akhirat mana, Allah tidak mengatakannya.

    Allah tidak mengatakan fihaa tukhrajuun (di bumi kalian dibangkitkan) tapi minhaa tukhrajun (dari bumi kalian dibangkitkan). Di sini kita dapat mengetahui kesalahan Sdr. Agus dalam mengambil kesimpulan. Seperti misalnya pada halaman 191 buku TATK di mana dia mengatakan berdasarkan Al A’raf: 25 bahwa Di Bumi itulah kita hidup, di Bumi itu kita mati, dan DI Bumi itu pula kita dibangkitkan.

    Kemudian Sdr. Agus membuat kesalahan lain ketika menjadikan ayat-ayat yang menggambarkan surga sebagai dalil bahwa surga berada di Bumi. Ini terlihat pada buku TATK halaman 193 sampai 196. Kalau diperhatikan, semua ayat-ayat yang disebutkan hanya menggambarkan Surga sebagai suatu tempat yang menyerupai kondisi ideal dari Bumi. Tapi tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan bahwa suatu tempat yang menyerupai Bumi itu adalah Bumi itu sendiri dalam dimensi yang lain. Kemiripan tempat tidak mengharuskan kesamaan tempat. Kalau Allah bisa menciptakan Bumi yang tidak ideal, tentunya Allah juga bisa dengan mudah menciptakan tempat lain di luar Bumi yang mirip Bumi dengan versi yang lebih sempurna, lengkap dengan sungainya, gunungnya, siang-malamnya dan lain-lainnya.

    Lalu bagaimana solusinya?

    Imani saja semua nash tanpa ta’til, ta’wil, takyif, dan seterusnya. Itulah yang Insya Allah lebih selamat. Kita tidak berhak untuk menta’wilnya sementara Rasulullah sebagai manusia yang paling mengetahui dalam masalah ini tidak menta’wilnya dan Para Shahabat Rasul sebagai generasi terbaik dalam pemahaman agama tidak menta’wilnya.
    Apakah Sdr.Agus menganggap dirinya lebih tahu dari Rasulullah dalam hal ini sementara Rasulullah adalah orang yang paling ‘alim dalam hal yang ghoib.

    Apakah Sdr. Agus menganggap bahwa pada zaman Rasul, Rasulullah sebenarnya sudah tahu (bahwa Surga dan Neraka di Bumi) namun tidak mengungkapkannya pada para Shahabat? Kalau seperti itu anggapan dia, sungguh dia telah menuduh Rasulullah mengkhianati Risalah.

    Sdr. Agus masih kurang memahami konsep kekekalan Allah dan akhirat. Dia masih membenturkan vis a vis konsep kekekalan Akhirat dengan dengan kekekalan Allah sebagai dua konsep yang bertentangan. Padahal sebenarnya konsep kekekalan tidak bisa dilihat selinear itu.

    Sebenarnya, sifat kekalnya Akhirat bukanlah sifat yang “wajib bi dzatihi” namun bergantung pada “masyiatullah” (CMIIW). Artinya Akhirat kekal bukan karena Akhirat itu sendiri yang kekal, namun karena Allah menghendaki Akhirat itu kekal. Artinya kekekalan Akhirat adalah bergantung pada Allah. Sehingga sangatlah tidak pas kalau Sdr. Agus menabrakkan kekekalan Akhirat dengan kekekalan Allah sehingga seolah-olah jika Allah Kekal maka Akhirat harus tidak kekal, dan jika ada orang yang menganggap Akhirat kekal berarti orang itu menyekutukan sifat yang merupakan kekhususan Allah.

    Secara mudah bisa dikatakan bahwa kalau memang Allah yang Maha Kekal berkehendak agar Akhirat kekal maka tidak ada yang bisa menentangnya!

    Pada kesempatan bedah buku di Masjid BI, Sdr. Agus mengatakan bahwa dasar dia menulis buku ini adalah karena keprihatinannya akan fenomena (menurutnya) orang yang beribadah karena mengharap Surga dan takut Neraka saja, bukan karena mengharap cinta Allah dan takut pada murka Allah.

    Sesungguhnya saya tidak menjumpai konsep pemisahan antara cinta Allah dan Surga serta antara murka Allah dan Neraka kecuali dalam agama Sufi.

    Rasulullah, Para Shahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidaklah pernah dipusingkan dengan pembedaan tersebut seperti orang-orang Sufi memusingkannya. Maka di antara mereka para Shahabat, dan orang-orang shalih ada yang menangis dan pingsan ketika mendengar mengenai Surga dan Neraka. Mereka begitu berharap akan Surga dan takut pada Neraka. Tapi apakah berarti mereka tidak cinta dan takut pada Allah?

    Rasulullah juga memerintahkan kita untuk berlindung dari siksa kubur, siksa neraka, mengharap akan Surga, mengharap akan Ridha Allah. Semua Rasulullah sebutkan tanpa membeda-bedakan. Kalau memang kita tidak berhak untuk takut pada neraka, berarti Rasulullah telah melakukan hal yang sia-sia ketika beliau memerintahkan kita untuk mengulang-ulang doa setelah shalawat pada saat duduk tawarruk di akhir shalat. Sungguh kezaliman besar pada sunnah Rasul.

    Intinya adalah kita tidak usah dipusingkan dengan pembedaan antara Surga Neraka, Ridha dan Murka Allah. Surga adalah perwujudan masyiah (kehendak) Allah atas Ridha-Nya. Neraka adalah perwujudan masyiah Allah atas murkanya. Kalau seseorang ingin masuk Surga dan menghindar dari Neraka, pada hakikatnya dia sedang berlari meninggalkan Murka Allah menuju Ridha Allah.

    Lagi pula sepanjang pengetahuan saya tidak pernah ada pembuktian ilmiah bahwa fenomena orang yang beribadah semata hanya karena mengharap surga dan menghindar dari neraka saja. Sepanjang pengetahuan saya tentang ulama-ulama sholih dan atsar-atsar (peninggalan) mereka, tidak ada di antara mereka yang membeda-bedakan secara khusus, ini untuk Allah, ini untuk surga, ini untuk neraka, kecuali sedikit sekali di antara sufiyyun yang tidak bisa digolongkan sebagai ulama dan sholihin. Para ulama ahlussunnah itu dalam beribadah, mereka beribadah saja, mereka mengharap ridha Allah, mereka meminta surga dan berusaha menghindar dari neraka. Sebegitu simpel, lalu mengapa harus dipersulit dengan putaran lidah penganut filsafat sufi?

    Saran saya untuk kita semua Pelajarilah Islam dari Al Qur’an dan Assunnah seperti apa yang dipahami oleh generasi terbaik Islam, para Shahabat, Tabiin dan tabiut Tabiin. Berinteraksilah dengan pemahaman-pemahaman mereka melebihi intensitas kita dalam mempelajari logika dan Astronomi. Jauhilah pemahaman-pemahaman baru dalam hal Agama. Sebegitu mudah, lalu mengapa kita harus mencampur adukkan yang simpel dengan kerumitan filsafat sufi?

    Logika dan ilmu pengetahuan kita bukanlah tempat yang pas untuk mengeksplorasi hal-hal yang ghoib. Dalam hal ini kita harus secara murni dan konsekuen memakai nash. Gunakan logika dan ilmu pengetahuan hanya sampai tingkat tadabbur akan penciptaan Alam ini dan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang mampu menciptakan semua ini (seperti yang yang telah dituntunkan oleh Nash-nash tentang tadabbur), yaitu tentang begitu besarnya matahari, begitu luasnya tata surya, bima sakti dan lain-lain. Dan dari semua itu timbulkan rasa takut pada Allah, pada murka Allah dan rasa takut dijatuhkan ke Neraka karena murka Allah.

    Teori sains bersifat relatif. Sesuatu yang saat ini seolah seperti kebenaran yang nyata, bisa jadi kelak akan dibantah dengan bukti yang lebih kuat. Pengetahuan sains manusia tentang alam semesta ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh para astronom, baru mencapai satu persen dari total alam semesta ini. Masih ada 99 persen alam semesta ini beserta fenomenanya yang belum terjamah ilmu pengetahuan manusia. Lalu apakah kita hendak menggunakan yang satu persen itu dan yang relatif itu, untuk mengeksplor dan bahkan menjustifikasi sesuatu yang secara absolut diungkapkan dalam nash-nash agama?Bagaimana mungkin yang relatif menentukan yang absolut. Bagaimana mungkin yang nisbi menentukan yang mutlak.

    Yang perlu kita lakukan adalah tetapkan saja Surga dan Neraka seperti apa yang Allah katakan, yang Rasulullah katakan, dan yang para Shahabat pahami. Tetapkan itu dalam keimanan kita sebagai sesuatu yang MUTLAK pasti akan kita alami, persis seperti apa yang Allah katakan, Rasulullah katakan dan para Shahabat pahami. Kemudian ketika kita belajar sains, tentang segala macam teorinya. Gunakan semua itu untuk merenungi kebesaran Allah dan menimbulkan rasa takut pada-Nya. Seperti itulah sikap yang Insya Allah terbaik bagi kita.

    Wallahu a’lam

  2. Assalamu’alaikum…

    Mantap akhi tanggapannya.. beberapa kali ana dijejali tentang aqidah sufi, dan terakhir ana di pinjamkan tentang TATK.. Ana pikir ini menjawab tentang buku tersebut.. Gak perlu panjang lebar bagi orang2 yang berpikir… Jazakallah tentang pencerahannya..

  3. Mengambil kesimpulan tentang hal yang ghoib, berdasarkan kedangkalan pemahaman aqal semata(walaupun disertai dalil), sangat berbahaya, kecuali bertujuan untuk merusak islam dengan kedangkalan pemahaman aqal tersebut. Dengan menganggab surga tidak kekal tentu memunculkan efek pemahaman tentang beramal: buat apa susah2 beramal, toh kalau masuk surga tidak lama, ini akan berdampak pada menurunkan/merusak semangat beramal/ibadah kepada Allah. Di lain sisi dengan menganggab neraka tidak kekal, ini akan memunculkan efek pemahaman kenapa takut berbuat dosa, toh kalau masuk neraka hanya sebentar. Persis pemahaman orang2 yahudi; masuk neraka paling2 2-3 hari saja. INILAH PEMAHAMAN YANG MERUSAK AQIDAH DAN MENYESATKAN UMAT, WAHAI HAMBA ALLAH MARI BENTENGI UMAT ISLAM DARI PENYERU JAHANNAM INI!!!!! ihdinashshiroothol mustaqiim, shirotholladzina an’amta’alaihim ghoirilmaghdhuubi ‘alaihim waladhdhoolliin. Aamiin.

  4. kekal tak kekal, merdekaka sajalah berfikir
    buat saya itu gak penting tapi demi kebaikan umat itu penting dibahas
    so… keren buat jeng karinavirusan. apapun itu selagi tujuannya Allah pasti bener

    • karena itu adalah salah satu aqidah yang perlu diyakini….ketika membahas bahwa surga dan neraka ada atau tidak, apakah kita akan mengatakan bahwa keyakinan seperti itu tidak penting?? ….semoga Allah memberi hidayah bagi kita semua, amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s