Doa dan Wirid dalam Sholat Malam (Disertai ebook pdf)


wirid/ bacaan sholat malam

Salah satu ibadah yang mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah adalah sholat malam. Oleh karena itu terdapat sejumlah ayat dan hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang menganjurkan shalat malam serta menjelaskan sejumlah keutamaan orang yang mengerjakannya, salah satunya firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyaat: 15-19)

Pada pembahasan ini kami tidak membahas panjang lebar bagaimana keutamaan sholat malam atau tata caranya, tetapi kami fokuskan tentang bagaimana doa/wirid gerakan dan bacaan al-Qur’an dalam sholat malam yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Semoga penyusun dan para pembaca rahimakumullah diberi kekuatan oleh Allah untuk istiqomah mengamalkannya. Wabillahit taufiq

1. Do’a Iftitah Yang Dibaca Ketika Sholat Malam[1]

Pada hakikatnya do’a iftitah apa saja yang dibaca ketika sholat malam telah mencukupi, selama hal itu diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Namun demikian kita perlu mengetahui beberapa do’a iftitah yang dibaca oleh beliau shallallahu’alaihi wa sallam ketika mengerjakan sholat malam.

Berikut ini akan dinukilkan beberapa riwayat do’a iftitah tersebut[2]. Orang yang sholat dimalam hari boleh memilih salah satu do’a iftitah yang dikehendakinya, jika dibaca secara bergantian tentunya lebih baik, karena dengan demikian dia telah menghidupkan semua sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam masalah ini.

Diantaranya,

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلٰهَ غَيْرُكَ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّاللهُ،لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ ، اللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًَا،اللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًَا، اللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًَا

“Maha suci Engkau ya Allah[3] dan segala puji bagi-Mu,[4] Maha berkah nama-Mu[5], Maha Tinggi Keagungan-Mu dan tiada sesembahan yang hak selain Engkau, Tiada Ilah (sesembahan) yang hak kecuali Engkau, , Tiada Ilah (sesembahan) yang hak kecuali Engkau, , Tiada Ilah (sesembahan) yang hak kecuali Engkau, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya.”[6]

Atau membaca:

اللهُ أَكْبَرُ،اللهُ أَكْبَرُ،اللهُ أَكْبَرُ، ذُو الْمَلَكُو تِ وَ الْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Allah Maha Besar (3x), Dzat Yang memiliki segala kekuasaan, keperkasaan, kesempurnaan dan keagungan”. [7]

2. Bacaan Surat al-Qur’an Ketika Sholat Malam

Bacaan ayat-ayat al-Qur’an pada sholat malam/ sholat tahajjud dan sholat tarawih di bulan Ramadhan[8], tidak ada batasan tertentu dari Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Bacaan beliau shallallahu’alaihi wa sallam bervariasi antara pendek dan panjang. Terkadang pada setiap rakaat beliau membaca kira-kira sepanjang surat “al-Muzzammil” yaitu 20 ayat, dan terkadang sekitar 50 ayat dan beliau bersabda:

“Barangsiapa yang sholat (malam) dengan membaca 10 ayat niscaya tidak dicatat dari golongan orang-orang yang lalai, barangsiapa sholat (malam) dengan membaca 100 ayat niscaya dicatat tergolong orang-orang yang taat dan banyak beribadah kepada Allah, dan barangsiapa sholat (malam) dengan membaca 1000 ayat niscaya tergolong orang-orang yang meraih ganjaran sebanyak-banyaknya.” (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 642)

Beliau juga pernah membaca tujuh surat yang panjang ketika sholat malam padahal beliau dalam kondisi sakit. Demikian pula kisah sholat malam Hudzaifah bin al-Yaman radliyallahu’anhu bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yang mana beliau membaca Surat al-Baqoroh, an-Nisaa’ dan ali ‘Imroon dalam satu rakaat dengan bacaan yang pelan dan tartil, dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat yang paling afdhol yang panjang berdirinya” (HR. Muslim no: 1257)

Atas dasar itu, bagi orang yang sholat sendirian atau sholat bersama orang yang sepakat untuk memperpanjang bacaan sholat, boleh memperpanjangnya sekehendaknya. Namun yang perlu diingat, hendaknya dia tidak berlebihan dalam memanjangkannya hingga menghidupkan seluruh malam. Cukuplah dia mengerjakan yang sederhana asalkan dilakukan secara berkelanjutan, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

اَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ

“Amal-amal yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhori [43] dan Muslim [782])

3. Surat yang disunnahkan untuk dibaca ketika Sholat Witir[9]

Disyariatkan bagi seorang Muslim membaca pada rakaat pertama sholat Witir dengan surat al-A’la, pada rakaat kedua surat al-Kaafirun, dan pada rakaat ketika membaca surat al-Ikhlas. Terkadang beliau pada rakaat ketiga membaca al-Ikhlas dan mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas).

Salah satu dalilnya adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu:

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam biasa mengerjakan sholat Witir tiga rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: سَبِّحِ اسْمِ رَبِّكَ اْلأَعْلَى , pada rakaat kedua قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ dan pada rakaat ketiga membaca قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. Beliau pun membaca qunut sebelum ruku’. Jika sudah selesai sholat, beliau saat itu membaca سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ sebanyak tiga kali dan memanjangkannya pada urutan terakhir” (HR. an-Nasaa’i)[10]

Hadits Ubay bin Ka’ab di atas juga menunjukkan disyariatkannya seorang muslim jika selesai dari sholat Witir untuk mengucapkan “سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ” tiga kali dengan memanjangkannya diurutan terakhir.

4. Dzikir/Wirid Ketika Ruku’, I’tidal, Sujud dan Duduk diantara Dua Sujud dalam Sholat Malam[11].

Pertanyaan: Jika seseorang memanjangkan ruku’ ketika mengerjakan sholat malam apakah yang dibacanya ?

Jawaban: Memperbanyak membaca,

سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلعَظِيْمِ …. سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلعَظِيْمِ

“Maha Suci Rabb-ku yang Maha Agung”

Atau memperbanyak membaca,

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَ الْمَلَكُوْ تِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Maha Suci Dzat Yang memiliki segala keperkasaan, kekuasaan, kesempurnaan dan keagungan”

Jika seseorang memperpanjang I’tidal (berdiri ketika bangkit dari ruku’) apakah yang dibacanya ?

Memperbanyak mengucapkan:

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ…لِرَبِّيَ الْحَمْدُ

“Hanya milik Rabb-ku segala pujian”

Jika seseorang memperpanjang sujud, apakah yang dibacanya ?

Memperbanyak membaca:

سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلأَ عْلَى …. سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلأَ عْلَى

“Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi”

Atau memperbanyak membaca,

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَ الْمَلَكُوْ تِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Maha Suci Dzat Yang memiliki segala keperkasaan, kekuasaan, kesempurnaan dan keagungan”

Jika seseorang memperpanjang duduk di antara dua sujud, apakah yang dibacanya?

Memperbanyak membaca:

رَبِّ اغْفِرْلِي….رَبِّ اغْفِرْلِي

“Yaa Rabb-ku ampunilah aku”

Wirid tersebut berdasarkan dalil berikut,

I. Hadits Hudzaifah bin al-Yaman radliyallahu’anhu ketika menceritakan sholat malam Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai berikut,

“Dari Hudzaifah, Bahwasanya dia melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sholat di malam hari, beliau mengucapkan,

اللهُ أَكْبَرُ،اللهُ أَكْبَرُ،اللهُ أَكْبَرُ، ذُو الْمَلَكُو تِ وَ الْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Kemudian memulai membaca lalu beliau membaca surat al-Baqoroh[12] kemudian beliau ruku’, maka (panjang) ruku’nya mendekati lama berdirinya. Beliau membaca dalam ruku’nya سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلعَظِيْمِ …. سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلعَظِيْمِ lalu beliau bangkit dari ruku’nya (I’tidal) dab berdiri I’tidalnya mendekati lama ruku’nya, beliau mengucapkan,

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ…لِرَبِّيَ الْحَمْدُ , lalu beliau sujud dan lama sujudnya mendekati lama I’tidalnya, beliau membaca dalam sujudnya سُبْحَا نَ رَبِّيَ اْلأَ عْلَى kemudian beliau bangkit dari sujud, beliau duduk diantara dua sujud, beliau duduk diantara dua sujud mendekati lama sujudnya sambil mengucapkan رَبِّ اغْفِرْلِي….رَبِّ اغْفِرْلِي , beliau sholat empat rakaat dalam empat rakaat tersebut beliau membaca (surat) al-Baqoroh, ali-‘Imron, an-Nisaa’, dan al-Maa’idah atau al-An’aam, Syu’bah ragu” (HR. Abu Dawud no. 740)[13]

Adapun bacaan-bacaan lainnya seperti bacaan ketika duduk tasyahhud/ tahiyyat, bacaan sholawat kepada Nabi, doa-doa sesudah membaca sholawat (sebelum salam) dan lainnya, tidak ada perbedaan dengan sholat-sholat lainnya.

II. Hadits Auf bin Malik al-Asyja’i radliyallahu’anhu berkata:

“Pernah aku sholat malam bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau membaca surat al-Baqoroh, beliau tidak melewati yat rahmat[14] melainkan beliau berhenti lalu memohon[15], dan tidak pula beliau melewati ayat azab[16] melainkan beliau berhenti lalu memohon perlindungan[17], kemudian beliau ruku’ (yang lama) mendekati lama berdirinya, beliau mengucapkan dalam ruku’nya,

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَ الْمَلَكُوْ تِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Kemudian beliau sujud[18] (yang lama) mendekati lama berdirinya[19], lalu beliau mengucapkan dalam sujudnya seperti itu”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud” (Shahiih wa Dha’iif Abi Dawud no. 873) dan Nasaa’I (Shahiih wa Dha’iif Sunan Nasaa’I no. 1132)

Yang juga perlu diketahui bahwa kita dianjurkan untuk berdo’a dengan sungguh-sungguh ketika sujud, baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan ketika sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a karena sangat layak untuk diperkenankan bagi kamu”. (HR. Muslim no. 738)

5. Membaca Do’a Qunut dalam Sholat Witir[20]

Qunut di dalam sholat Witir itu disunnahkan, bukan suatu hal yang wajib. Dalil yang menunjukkannya sunnah adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam biasa mengerjakan sholat Witir, terkadang dengan tidak membaca qunut. Hal itu menunjukkan tidak diwajibkannya qunut dalam sholat Witir. Sebab, jika qunut itu wajib, niscaya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak akan pernah meninggalkannya pada suatu saat.

Qunut itu dibaca pada rakaat terakhir setelah bacaan surat dan sebelum ruku’. Pandangan ini jelas berasal dari apa yang sering dikerjakan Rasulullah. Namun terkadang beliau juga qunut dalam sholat Witir setelah ruku’. Wallahua’lam.

Lafadznya adalah,

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ]، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku seba-gaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Eng-kau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuh-kan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Se-sungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.”[21]

— DOWNLOAD DALAM BENTUK EBOOK PDF—-

Disusun oleh. Abu Abdirrahman al-Muhandisy

Diposting di http://maramissetiawan.wordpress.com

Referensi:

  • “Fadhilah Sholat Malam, menurut al-Quran dan Hadits” oleh Ust. Abu Abdillah Mubarak bin Mahfudh Bamu’allim Lc. Penerbit: Duta Ilmu, Surabaya, 2008.
  • “Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” oleh Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, pustaka Imam Syafi’i, 2007.

Endnote:


[1] Disarikan dari buku “Fadhilah Sholat Malam, menurut al-Quran dan Hadits” oleh Ust. Abu Abdillah Mubarak bin Mahfudh Bamu’allim Lc. Penerbit: Duta Ilmu, Surabaya, 2008. Jika ingin mendapatkan kajian ceramah tentang buku ini dan faidah yang bisa dipetik silahkan klik disini.

[2] Disini hanya kami nukilkan 2 jenis do’a iftitah yang kami rasa pendek dan mudah dihafal, untuk berbagai macam variasi do’a iftitah selengkapnya bisa langsung merujuk buku yang kami isyaratkan di atas.

[3] Artinya: Aku senantiasa mensucikan Engkau dari segala kekurangan.

[4] Artinya: kami senantiasa memuji-Mu

[5] Artinya: Nama-Mu penuh dengan keberkahan, karea segala kebaikan terwujud dengan sebab penyebutan nama-Mu. Ada juga yang mengatakan ucapan ini sebagai bentuk pengagungan terhadap Dzat-Nya, dan ini ma’na yang sesuai hakikatnya, sabab kalau saja nama-nama-nya diagungkan, tentu pengagungan kepada Dzatnya adalah lebih utama (Ash Shifat Sholat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam I/ 258) karya al-‘Allamah al-Muhaddits Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

[6] Dalilnya Hadits Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu’anhu, yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/427 “Bab: Man Ro’aa al-Istiftaah bi Subhanakallahumma wa bihamdika”, hadits no. 658, dan dishahihkan oleh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah (Shahih wa Dho’if Sunan Abi Dawud no. 775).

[7] Dalilnya Hadits Hudzaifah bin Yaman radliyallahu’anhu, HR. Abu Dawud no. 740 (Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam “Shahiih wa Dho’if Abi Dawud” no: 874) dan Nasa’i.

[8] Mungkin ada sebagian yang masih bingung tentang istilah sholat malam/ Qiyamul lail, sholat Terawih, sholat Tahajjud, atau sholat Witir. Padahal semua istilah ini pada hakikatnya sama, yaitu sholat yang dilakukan pada malam hari (Qiyamul lail) yaitu waktu antara setelah ‘Isya’ sampai terbit fajar (shubuh) . Disebut sholat Terawih jika dilakukan di bulan Ramadhan, dan dinamakan sholat Tahajjud bila dilakukan setelah bangun tidur di malam hari, dan disebut sholat Witir bila dilakukan sebagai penutup sholat malam dengan bilangan yang ganjil.

[9] Disarikan dari buku “Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” oleh Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, pustaka Imam Syafi’I, 2007. Hlm. 82-84

[10] Sanad hadits ini dinilai shahih oleh syaikh al-Albani di dalam kitab, shahiih Sunanun Nasaa’I (I/ 371-372)

[11] “Fadhilah Sholat Malam, menurut al-Quran dan Hadits” oleh Ust. Abu Abdillah Mubarak bin Mahfudh Bamu’allim Lc. Penerbit: Duta Ilmu, Surabaya, 2008. Hlm. 90-95

[12] Maksudnya setelah membaca surat al-Fatihah, karena membaca surat al-Fatihah adalah salah satu rukun sholat, dan secara lahir hadits ini menunjukkan bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam membaca surat al-Baqoroh semuanya.

[13] Dishahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Shahiih wa Dha’iif Abi Dawud: no. 874 dan Nasa’I no. 1133. Syu’bah adalah salah seorang periwayat hadits ini, dialah yang ragu apakah Hudzaifah radliyallahu’anhu mengatakan surat al-Maa’idah atau surat al-An’aam.

[14] Maksudnya ayat yang menyebut tentang rahmat Allah

[15] Maksudnya memohon rahmat Allah tersebut

[16] Maksudnya ayat yang menyebut tentang azab Allah

[17] Maksudnya memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya

[18] Maksudnya setelah berdiri I’tidal (bangkit dari ruku’nya)

[19] Dalam riwayat Nasaa’i beliau sujud mendekati lama ruku’nya

[20] Disarikan dari buku “Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” oleh Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, pustaka Imam Syafi’I, 2007. Hlm. 85-94. Silahkan merujuk ke buku tersebut untuk penjelasan lebih lengkap yang disertai dengan dalil-dalilnya.

[21] HR. Empat penyusun kitab Sunan, Ahmad, Ad- Darimi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Sedang doa yang ada di antara dua kurung, menurut riwayat Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Tirmidzi 1/144, Shahih Ibnu Majah 1/194 dan Irwa’ul Ghalil, oleh Al-Albani 2/172.

About these ads

18 comments on “Doa dan Wirid dalam Sholat Malam (Disertai ebook pdf)

  1. Ping-balik: Doa dan Wirid dalam Sholat Malam « galeri misbach

  2. Berbagi adalah salah satu jalan untuk menyelamatkan bangsa dari keburukan. Berbagi pengetahuan seperti yang dijalankan lewat blog, semoga juga memberikan berkah yang serupa. Terimakasih atas ilmunya :)

  3. Ping-balik: jam digital doa sholat 5 waktu | Ayo Sholat Tepat Waktu

  4. Artikel yang sangat bagus, saya ingin menyempurnakan sedikit:

    Dalam Shahih Muslim, dari Hudzaifah bahwa ia bermakmum mengikuti Rasulullah SAW yang membaca Al-Baqoroh, An-Nisaa dan Al-Imran dalam 1 rokaat, hadits ini lebih kuat dari pada yg diriwayatkan Abu Daud diatas yang hanya membaca al-Baqoroh dalam 1 rakaat.

    Walaupun hadits tersebut terkesan ‘extreme’, tapi jadi peringatan buat para hafidz zaman sekarang yang lebih suka mengulang-ulang surat-surat panjangnya (muroja’ah) dalam duduk.

    Memang dalam akhir surat Muzammil, Allah memberi keringanan dalam maksud bagi para hafidz yang mendapat udzur. Tapi bila mereka tidak berusaha meluangkan waktu misalnya seminggu sekali di akhir pekan untuk membaca surat panjang dalam Tahajudnya, kita bisa melihat kecenderungan menghafal al-Qur’an di negara ini dikhawatirkan hanya akan menjadi hiasan di bibir semata.

    Semoga Allah memberkati kita pembaca Qur’an semua, dan khususnya para pengamal Tahajjud.

    Salaam

  5. Ping-balik: sholat dalam kendaraan | Ayo Sholat Tepat Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s