stones-7294-1680x1050

Perkara-Perkara yang Menyebabkan Dosa Kecil Menjadi Besar


Terkadang kita menganggap remeh suatu hal yang kecil, tetapi kita tidak sadar bahwa suatu yang yang kecil tersebut akan membawa bencana yang besar bagi kita. Sebagaimana gunung yang besar itu ternyata terdiri dari kerikil-kerikil yang kecil, demikian pula dosa yang besar itu bisa disebabkan karena dosa kecil yang kita lakukan. Berikut ini adalah beberapa perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar[1], wabillahit taufiq

1. Berulang-ulang dan terus menerus dilakukan

Oleh sebab itulah, ada yang mengatakan bahwa tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila diikuti dengan istighfar.

Ampunan terhadap dosa besar yang dilakukan seorang hamba lebih mudah daripada dosa kecil yang ia lakukan secara berkesinambungan.

Sama seperti air yang terus menerus menetes menimpa sebuah batu, bagaimana pun kerasnya batu itu, lama-kelamaan tetesan-tetesan itu akan memberi bekas padanya. Seandainya engkau mengumpulkan semua tetesan itu tadi, kemudian menuangkannya pada batu itu sekaligus, tentu air itu tidak akan memberi bekas sama sekali

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

اَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ

”Amal-amal yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhori [43] dan Muslim [782])

 

2. Menganggap remeh suatu dosa

Setiap kali seorang hamba menganggap besar suatu dosa maka semakin kecil dosa tersebut disisi Allah ta’ala. Demikian sebaliknya, setiap kali seorang hamba menganggap kecil suatu dosa, maka semakin besar dosa itu disisi Allah ta’ala. Anggapan seseorang terhadap besarnya dosa kecil muncul karena kebencian hati terhadap dosa dan keinginan untuk terus menerus menghindar dari dosa tersebut. Suatu dosa menjadi besar bagi seorang mukmin karena ia mengetahui keagungan Allah ta’ala. Apabila ia melihat sebagai dosa besar baginya.

Dalam kitab shahihul Bukhori disebutkan dari hadits Anas radliyallahu’anhu:

”Sungguh kalian akan melakukan berbagai amal yang dalam pandangan kalian amal-amal tersebut lebih rendah daripada rambut, sedangkan pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kami menganggapnya sebagai salah satu yang dapat membinasakan”. (HR. Bukhori, 6492)

Bilal bin Sa’ad radliyallahu’anhu berkata: ”Janganlah engkau melihat kecil kemaksiatan yang engkau lakukan, tetapi lihatlah keagungan Dzat yang engkau maksiati”.[2]

Al-Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah berkata: ”Setiap kali engkau menganggap kecil suatu dosa maka ia menjadi besar di sisi Allah ta’ala. Sebaliknya, setiap engkau menganggap besar suatu dosa maka ia menjadi kecil di sisi Allah ta’ala.”[3]

Selain mereka, al-Auza’i rahimahullah berkata: ”Disebutkan bahwa yang termasuk dosa besar adalah seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia meremehkannya”.[4]

3. Merasa bangga dengan kemaksiatan

Senang dengan kamaksiatan seperti kesenangannya melakukan kemaksiatan itu, bahkan ia merasa bangga telah melakukannya. Sebagaimana dikatakan, misalnya:

’Tidakkah engkau lihat bagaimana aku mencabik-cabik kehormatan fulan dan aku bongkar semua kejelekannya, sampai-sampai mukanya menjadi merah karena malu’.

Semisal dengan itu pula perkataan seorang pedagang kepada yang lainnya:

’Tidakkah engkau lihat bagaimana aku menyiasati dan mengakalinya’.

Kalimat-kalimat seperti ini dan yang lainnya menjadikan suatu dosa kecil menjadi besar. Setiap kali manisnya kemaksiatan mendominasi seorang hamba maka semakin besar dan semakin agunglah pengaruhnya.

4. Tertipu dengan kebaikan Allah

Ada hamba yang tertipu dengan kebaikan Allah, perlindungan-Nya kepada hamba dan penundaan-Nya terhadap hamba itu, sementara ia tidak mengetahui bahwa bisa jadi hal itu merupakan kebencian-Nya, sehingga setiap kali hukumannya ditunda maka semakin besar dosa yang dilakukannya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

”Apabila engkau melihat Allah azza wa jalla memberikan seorang hamba setiap kenikmatan dunia yang diinginkannya, padahal dia terus melakukan kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah istidraj”.(HR. Ahmad IV/ 145)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: ”Tidak seorangpun yang menceburkan dirinya dalam kemaksiatan –sekecil apapun ia- kecuali ia akan mendapatkan balasannya, cepat atau lambat.

Salah satu bentuk tipudaya-Nya adalah engkau melakukan kemaksiatan, namun engkau melihatnya sebagai suatu kebaikan. Engkau mengira bahwa engkau sudah dimaafkan dan dilupakan.

…. مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَبِهِ….

”…Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…” (QS. An-Nisaa’: 123)[5]

Beliau rahimahullah juga berkata: ”Ketahuilah, salah satu bentuk ujian yang paling besar adalah tertipunya seorang hamba dengan merasa aman dan selamat dari adzab setelah ia melakukan dosa. Sesungguhnya balasan itu datang kemudian. Salah satu balasan yang paling besar adalah ketidaktahuan seseorang terhadap balasan itu, menganggap remeh terhadap agama, kebutaan mata hati, dan ketidakmampuan dalam menentukan pilihan yang baik untuk dirinya sendiri sehingga dapat mempengaruhi keselamatan badan dan timbulnya kebosanan.”[6]

Al-Ghazali rahimahullah berkata: ”Ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang melakukan suatu dosa kecuali permukaan hatinya menjadi hitam. Apabila hamba tu termasuk orang yang selamat (di akhirat), maka tampaklah noda hitam itu pada permukaan hatinya agar ia dapat lari menghindarinya. Sebaliknya, apabila ia termasuk seorang yang sengsara (di akhirat), maka noda hitam itu pun tidak tampak pada dirinya sendiri sehingga ia tetap asyik melakukannya, sampai ia masuk Neraka.”[7]

5. Orang yang berdosa termasuk salah seorang yang dihormati (tokoh)

Apabila salah satu dosa itu berasal dari seorang tokoh, maka kedudukan dosa tersebut besar disisi Allah sebab pengikutnya juga akan mengikuti dosa tersebut. Jika orang itu mati, niscaya bahaya dosa itu masih tetap ada; maka beruntunglah mereka yang meninggal dunia sedang dosa-dosanya pun mati bersamanya. Oleh karena itu, mereka yang menjadi panutan orang banyak hendaklah melakukan dua hal, yaitu meninggalkan dosa dan menyembunyikan dosa apabila ia melakukannya.

Sebagaimana dosa-dosa orang tersebut bertambah karena kemaksiatan mereka diikuti oleh para pengikutnya, maka demikian juga pahala dan kebaikan mereka akan tambah karena perbuatan baik yang diikuti oleh para pengikutnya.

Allah ta’ala berfirman:

يَانِسَآءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرًا {30} وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَآ أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا {31}

”Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)


Artikel http://maramissetiawan.wordpress.com

Footnote


[1] Penjelasan ini dinukil dari buku “Cara Bertaubat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, penerbit: pustakan Imam Syafi’i cet. Pertama/ 2007, hlm. 169-173.

[2] Minhajul Qaashidiin, hlm. 282

[3] Dzammul Hawa karya Ibnul Jauzi, hlm. 184

[4] At-Taubah karya Ibnu Abid Dunya, hlm 78

[5] Shaidul khaathir (hlm. 313).

[6] Ibid. (hlm. 314-315)

[7] Ihyaa-u ‘Uluumiddiin (IV/ 54)

About these ads

2 comments on “Perkara-Perkara yang Menyebabkan Dosa Kecil Menjadi Besar

  1. Ping-balik: Perkara-perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar « Pustaka Dokter Muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s