KAIDAH FIKIH: Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, DIBENCI. Namun dalam masalah lainnya, DISUKAI


الإِيْثَارُفِي الْقُرَبِ مَكْرُوْهٌ، وَ فِي غَيْرِهاَ مَحْبُوْبٌ

“Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, DIBENCI. Namun dalam masalah lainnya, DISUKAI”

Makna kaidah

Itsar adalah sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kebalikannya adalah atsaroh yang bermakna mendahulukan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain. Itsar ada dua macam:

Pertama: Itsar dalam perkara duniawi

Ini adalah perkara yang sangat dianjurkan bagi ummat Islam. Allah azza wa jalla sangat menyenangi dan mencintainya. Perhatikan firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَيَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Itsar inilah yang tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan hidup para sahabat radliyallahu’anhum.

”Dari Umar bin Khottob radliyallahu’anhu berkata: ’Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk bershodaqoh, dan saat itu saya memiliki harta. Saya pun bergumam: ’Hari ini saya akan mengalahkan Abu Bakar, saya akan sedekahkan separuh hartaku, ’Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ’Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu wahai Umar?’ Umar radliyallahu’anhu menjawab: ’Separuhnya lagi’. Ternyata datanglah Abu Bakar radliyallahu’anhu membawa semua hartanya, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya: ’Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu’. Maka Abu Bakar menjawab: ’Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya’” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan. Lihat Tahqiq Misykah: 6021)

Dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu berkata: Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: ’Wahai Rasulullah, saya sangat lemah’. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepada para istrinya, ternyata tidak ada makanan apa pun di rumah. Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ’Tidak adakah seseorang yang mau menjamu tamu malam ini, semoga Allah merahmatinya’. Maka salah satu sahabat anshor berkata: ’Saya wahai Rasulullah’. Lalu dia pulang menemui istrinya dan berkata: ’Ini adalah tamunya rasulullah, jangan sembunyikan makanan apapun’. Istrinya menjawab: ’Kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak’. Dia pun bilang: ’Jika anak-anak ingin makan malam, maka tidurkanlah mereka, lalu matikan lampu dan malam ini biarlah kita lapar’. Istrinya itu mengerjakan perintah suaminya. Keesokan harinya sahabat anshor tadi datang kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda: ’Sesungguhnya Allah heran (atau tertawa) terhadap perbuatan fulan dan fulanah’. Lalu Allah menurunkan firman-Nya (yang di atas), QS. Al-Hasyr: 9” (HR. Bukhori)

Kedua: Itsar dalam perkara ibadah

Mendahulukan orang lain dalam perkara ibadah adalah sesuatu yang dibenci, karena masing-masing orang diperintahkan untuk mengagungkan Allah ta’ala. Oleh karenanya jika dia tidak melakukannya dan hanya melimpahkan pada orang lain adalah termasuk tindakan kurang adab kepada Allah azza wa jalla.

Dengan beberapa contoh berikut semoga bisa dipahami:

1. Kalau si Zaid mempunyai air hanya cukup untuk wudlu satu orang, sedangkan saat itu dia membutuhkan wudlu, juga temannya yang saat itu sedang bersama dia, maka kewajiban Zaid adalah menggunakan air itu untuk berwudlu dan biarkanlah temannya itu bertayammum. Tidak boleh bagi Zaid untuk mempersilahkan temannya wudlu sedangkan dirinya sendiri bertayammum.

2. Kalau ada seseorang yang hanya mempunyai satu pakaian yang menutup aurot dan saat itu datang waktu sholat, sedangkan dia punya saudara yang tidak punya pakaian yang menutup aurot, maka kewajiban yang punya tadi untuk sholat terlebih dahulu menggunakan pakaian tersebut baru kemudian nantinya dia pinjamkan kepada saudaranya. Dan tidak boleh baginya untuk mendahulukan saudaranya tersebut dalam perkara ibadah.

3. Kalau ada seseorang yang berada di shof pertama, maka dia tidak boleh mundur ke shof kedua untuk mempersilahkan orang lain menempati posisinya.

Wallahua’lam

(Lihat Asybah wan Nadho-ir, as-Suyuthi hlm. 116, Asybah wan Nadho-ir, Ibnu Nujaim hlm. 119, al-Wajiz Dr. al-Burnu hlm. 162)

Ibroh

Sebuah fragmen sejarah yang menggambarkan betapa besar sifat itsar para sahabat radliyallahu’anhum dari urusan dunia. Sebuah peristiwa mengharukan terjadi saat perang Yarmuk, perang melawan orang-orang Romawi

Dikisahkan bahwa Ikrimah bin Abu Jahl dan dua sahabatnya radliyallahu’anhum terluka parah. Tatkala ada seorang yang mengambilkan minum untuk beliau radliyallahu’anhu, beliau melihat ada orang lain yang butuh minum, akhirnya dia mengatakan pada yang membawa air minum: “Berikan pada dia terlebih dahulu”. Maka pergilah dia ke tempat orang yang ditunjuk.

Begitu air akan diberikan padanya radliyallahu’anhu, dia pun berkata: “Berikan kepada Ikrimah terlebih dahulu”. Akhirnya kembalilah dia ke Ikrimah dan ternyata beliau sudah meninggal dunia begitu pula dengan dua sahabatnya, sebelum meminum air tersebut”. Subhanallah. [aina nahnu minhum?]

—-

Oleh. Ust. Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Sumber: Majalah al-Furqon Edisi 7 tahun ke-9, Shofar 1431/ Januari-Februari 2010

Diposting di: http://maramissetiawan.wordpress.com

About these ads

3 comments on “KAIDAH FIKIH: Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, DIBENCI. Namun dalam masalah lainnya, DISUKAI

  1. assalamu a’laikum…
    ada sebuah hadist yang bercerita seorang sahabat rasulullah yang berjalan menuju ke masjid dibelakang orang tua yang tertatih sehingga sahabat tersebut tidak mau menyusulnya, sehingga telat datang kemasjidnya… apa relevansinya dalam hal ini, mendahulukan ibadah atau bagaimana???
    terimakasih sebelumnya
    wass

    Wallahua’lam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s