Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan


Oleh. Ust. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi

Cukup berpegang pada waktu Shubuh sebagai Imsak

Cukup berpegang pada waktu Shubuh sebagai Imsak

Bulan Romadhon adalah bulan yang sangat mulia, hanya saja –sebagaimana ibadah-ibadah yang lain-, ia tercampur oleh beberapa ritual bid’ah[1] yang tidak ada dasarnya dalam agama. Berikut ini kami sampaikan beberapa bid’ah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan manusia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita darinya. Diantaranya adalah hal-hal sebagai berikut:

1. Melafadzkan Niat Puasa di Malam Hari

Tidak diragukan lagi bahwa niat merupakan syarat sahnya ibadah dengan kesepakatan ulama. Hanya saja perlu diketahui bahwa niat tempatnya adalah di dalam hati, barangsiapa yang terlintas dalam hatinya bahwa dia besok akan berpuasa maka sudah berarti bahwa dia telah berniat. Adapun melafadzkan niat puasa di malam hari baik dengan berjamaah maupun sendiri-sendiri dengan mengucapkan:

“Nawaitu Shouma ghodin ‘an adaai fardli syahri romadloona hadzihissanati lillahi ta’ala

Yang artinya: “Aku berniat puasa besok untuk melaksanakan fardlu puasa Romadlon pada tahun ini karena Allah ta’ala”.

Bacaan ini sangat masyhur di masyarakat kita, bahkan acap kali diucapkan secara berjamaah di masjid setelah sholat Tarawih. Ritual ini tidak ada asalnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits, bahkan termasuk kebid’ahan dalam agama yang sekalipun manusia menganggapnya sebagai kebaikan.

Jadi melafadzkan niat seperti itu tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan sebagainya. Bahkan kata Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahimahullah: “Tak seorangpun dari imam yang empat, baik Imam Syafi’i rahimahullah maupun lainnya yang mensyaratkan harus melafadzkan niat, karena niat itu di dalam hati dengan kesepakatan mereka”[2]. Maka jelaslah bahwa melafadzkan niat termasuk bid’ah dalam agama”[3].

2. Menetapkan Waktu Imsak

Menetapkan waktu imsak bagi orang yang makan sahur 5 atau 7 menit menjelang adzan shubuh dan mengumumkannya melalui pengeras suara ataupun radio adalah bid’ah dan menyelisihi sunnah, yaitu anjuran mengakhirkan sahur.

Syariat memberikan batasan seseorang untuk makan sahur sampai adzan kedua atau adzan Shubuh dan syariat menganjurkan untuk mengakhirkan sahur. Adapun imsak melarang manusia dari apa yang diperbolehkan syariat dan memalingkan manusia dari menghidupkan sunnah untuk mengakhirkan sahur.

Maka lihatlah wahai saudaraku keadaan kaum muslimin zaman sekarang, mereka membalik sunnah dan menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka dianjurkan untuk bersegera dalam berbuka tetapi malah mengakhirkannya, dianjurkan untuk mengakhirkan sahur tetapi malah menyegerakannya. Oleh karenanya, maka tertimpa petaka, kefakiran dan kerendahan di hadapan musuh-musuh mereka[4].

Kami memahami bahwa maksud dari para pencetus imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai masuk waktu shubuh dalam kondisi masih makan atau minum, Akan tetapi karena ini adalah perkara ibadah, maka untuk pengamalannya harus berdasarkan dalil yang shohih. Jika kita hidup di zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, apakah kita berani membuat membuat-buat waktu imsak, melarang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam makan sahur, jauh-jauh sebelum waktu shubuh tiba ??

3. Membangunkan Dengan Kentongan Atau Pengeras Suara

Biasanya disebagian kampung dan desa ada sekelompok anak muda atau juga orang tua menabuh kentongan sekitar 2-3 jam sebelum shubuh untuk membangunkan warganya agar segera sahur, seraya mengatakan: ‘Sahur!! Sahur!! Sahur !!’ Bahkan ada sebagian yang menggunakan mikrofon masjid untuk melakukan panggilan ini.

Tidak ragu lagi bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang dianggap ibadah, padahal tidak ada ajarannya dalam agama. Sekiranya hal itu baik tentu akan diajarkan oleh agama. Terlebih lagi kebiasaan tersebut dapat mengganggu kenyamanan tidur warga sekitar di malam hari, padahal Allah azza wa jalla berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Syaikh Abdul Qodir al-Jazairi berkata: “Apa yang dilakukan oleh sebagian orang jahil pada zaman sekarang di negeri kita berupa membangunkan orang puasa dengan kentongan merupakan kebid’ahan dan kemungkaran yang seharusnya dilarang dan diingatkan oleh orang-orang yang berilmu”[5].

4. Memperingati Nuzulul Quran

Kebiasaan lain yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin pada tanggal 17 Romadhon ialah mengadakan peringatan yang disebut dengan perayaan Nuzulul Quran sebagai bentuk pengagungan kepada kitab suci al-Quran. Namun ritual ini perlu disoroti dari dua segi:

Pertama: Dari segi sejarah, adakah bukti autentik baik berupa dalil ataupun fakta sejarah yang menyebutkan bahwa al-Quran diturunkan pada tanggal tersebut ? Inilah pertanyaan yang kami lontarkan kepada saudara-saudaraku semua.[6]

Kedua: Anggaplah memang terbukti bahwa al-Quran diturunkan pada tanggal tersebut[7], maka untuk menjadikannya sebagai perayaan yang syar’i diperlukan dalil dan contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Bukankah orang yang paling gembira dengan turunnya al-Quran adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam? Namun sekalipun demikian, tidak pernah dinukil dari mereka tentang adanya peringatan semacam ini. Dari sini menunjukkan bahwa peringatan tersebut bukan termasuk ajaran Islam, tetapi merupakan kebid’ahan dalam agama.

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan tahunan dalam Islam hanya ada dua macam: ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha.

Sebagaimana hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Dari Anas bin Malik berkata: Tatkala Nabi datang ke kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang-senang sebagaimana di waktu jahiliyah, lalu beliau bersabda: ‘Saya datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang sebagaimana waktu jahiliah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik: ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri’”[8]

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menginginkan umatnya membuat-buat perayaan baru yang tidak disyariatkan dalam Islam. Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah: “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan ole Ahli Kitab sebelum kita, tetapi berdasarkan syariat dan dalil”[9]. Beliau juga berkata: “Tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk membuat perayaan kecuali perayaan yang diizinkan syariat, yaitu ‘Idul Fithri, ‘Idul Adha, hari-hari Tasyrik, ini perayaan tahunan, dan hari Jum’at ini perayaan pekanan. Selain itu, menjadikannya sebagai perayaan adalah bid’ah dan tidak ada asalnya dalam syari’at.”[10]

5. Komando Diantara Raka’at Sholat Tarawih

Berdzikir dan mendo’akan para Khulafaur Rosyidin diantara dua salam sholat Tarawih dengan cara berjamaah dipimpin oleh satu orang dengan mengucapkan

“Assholatu sunnatat tarawihi rahimakumullah…”

Tidak pernah dinukil dari al-Quran dan dalam Sunnah tentang dzikir ini. Kalau tidak pernah kenapa kita tidak mencukupkan diri dengan apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Oleh karenanya maka hendaknya bagi setiap muslim untuk menjauhi hal ini, karena hal ini termasuk kebid’ahan dalam agama yang hanya dianggap baik oleh logika.

Jangan ada yang mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja karena berisi sholawat dan do’a kepada sahabat yang merupakan amalan baik dengan kesepakatan ulama, itu memang benar tetapi masalahnya manusia menganggapnya sebagai syiar shalat tarawih, padahal itu merupakan tipu daya iblis kepada mereka.

Bagaimana mereka menganggap baik sesuatu yang tidak ada ajarannya dalam agama, padahal hal itu diingkari secara keras oleh Imam Syafi’i rahimahullah tatkala berkata:

“Barangsiapa yang istihsan maka ia telah membuat syariat”[11].

Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Maksud istihsan adalah ia menetapkan suatu syariat yang tidak syar’i dari pribadinya sendiri”[12]. Jadi ritual ini termasuk kebid’ahan yang harus diwaspadai dan ditinggalkan.

6. Tadarrus Al-Qur’an Berjamaah Dengan Pengeras Suara

Pada dasarnya kita dianjurkan untuk banyak membaca al-Qur’an di bulan ini. Namun ritual Tadarrus al-Qur’an berjamaah yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin di masjid dengan mengeraskan suara adalah suatu hal yang perlu diluruskan.

Membaca al-Qur’an termasuk ibadah mulia yang diharapkan dengannya dapat dipahami dan diamalkan kandungannya serta dilakukan sesuai tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yaitu dengan suara pelan dan merendahkan diri karena itu lebih menjauhkan seseorang dari riya’ dan mendekatkan seseorang kepada Robbnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’rof:55)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah menegur sebagian sahabat yang berdo’a atau berdzikir dengan suara keras dengan perkataan beliau:

“Wahai manusia, kasihanilah dirimu ! sesungguhnya kalian tidaklah berdo’a kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Ia bersama kalian dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat Maha Suci Nama-Nya dan Maha Tinggi Kemuliaan-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim)

Terlebih lagi apabila ibadah mulia ini dilakukan dengan cara campur baurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Wallahul muwaffiq.

7. Mengkhususkan Ziarah Kubur

Pada Bulan Romadhon dan hari raya sering kita dapati manusia ramai ke kuburan dengan keyakinan bahwa waktu itu adalah waktu yang sangat istimewa dalam ziarah kubur. Namun, adakah dalam Islam ketentuan waktu khusus untuk ziarah kubur ?

Islam tidak mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan ziarah kubur. Para ahli fiqih dari kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah telah menegaskan anjuran memperbanyak zaiarah kubur kapanpun waktunya[13]. Ulama-ulama dari kalangan Malikiyah mengatakan: “Ziarah kubur tidak ada batasan dan waktu khusus”[14]. Hal ini juga dikuatkan dengan keumuman dalil-dalil tentang perintah ziarah kubur dan tidak ada keterangan bahwa ziarah kubur terbatasi dengan waktu tertentu, karena diantara hikmah ziarah kubur adalah untuk mengambil pelajaran, mengingat akhirat, melembutkan hati, dan hal itu dianjurkan untuk dilaksanakan setiap waktu tanpa terbatasi oleh waktu khusus.

Jadi pada prinsipnya kita tidak boleh mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk ziarah kubur, kapanpun hal itu dilakukan hukumnya adalah boleh.

Demikianlah beberapa bid’ah yang masyhur dan dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang dapat kami sampaikan. Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar menyelamatkan kita semua darinya dan memberikan hidayah kepada kaum muslimin yang masih melakukannya. Amiin.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus Th. Ke -9 Romadhon-Syawal 1430 H (September dan Oktober 2009) hal. 35-38 dengan penambahan dan pengurangan beberapa footnote

Footnote


[1] Simaklah ceramah (mp3) penjelasan gamblang tentang bid’ah  di postingan sebelumnya yang berjudul “Kupas Tuntas Akar Bid’ah” di http://maramissetiawan.wordpress.com/2009/05/21/download-audio-kupas-tuntas-akar-bidah/

[2] Al-Ittiba’ hlm. 62, tahqiq Muhammad Atho’ullah Hanif dan Dr. Ashim al-Qoryuthi.

[3] Lihat secara luas pembahasan ini dalam tulisan yang berjudul “Hukum Melafadzkan Niat” oleh Ust. Abu Ibrohim dalam majalah al-Furqon edisi 9, hlm. 37-42, tahun ketujuh.

[4] Shofwatul Bayan fii Ahkamil Adzan wal Iqomah hlm. 116 oleh Abdul Qodir al-Jazairi

[5] Shofwatul Bayan fii Ahkamil Adzan wal Iqomah hlm. 115-116 oleh Abdul Qodir al-Jazairi murojaah syaikh al-Albani dan syaikh Mansyur bin Hasan.

[6] Penulis (Ust. Abu Ubaidah) pernah menanyakan kepada syaikh Abdurrahman ad-Dahsy (Dosen Ilmu Tafsir di Universitas Qoshim KSA) beliau menjawab bahwa penetapan turunnya al-Quran pada tanggal tersebut tidak ada dalilnya atau bukti sejarah yang valid.

[7] Padahal yang benar bahwa al-Quran itu diturunkan pada malam lailatul qadr. Silahkan pembaca yang budiman merujuk ke postingan di blog ini setahun yang lalu yang berkaitan dengan hal ini di http://maramissetiawan.wordpress.com/2008/09/13/al-quran-turun-pada-malam-lailatul-qadr-bukan-malam-%E2%80%98nuzulul-quran%E2%80%99-17-ramadhan/

[8] HR. Ahmad: 3/103, HR. Abu Dawud: 1134 dan HR. an-Nasa’i: 3/179

[9] Fathul Bari:1/159, Tafsir Ibnu Rojab: 1/390

[10] Lathoiful Ma’arif hlm. 228

[11] Ucapan ini populer dari Imam Syafi’i sebagaimana dinukil oleh para imam madzhab. Syafi’i seperti Ghozali dalam al-Mankhul hlm. 374 dan al-Mahalli dalam Jam’ul Jawami’: 2/395 dan lain sebagainya. (Lihat Ilmu Ushul Bida’ hlm. 121 oleh syaikh Ali Hasan)

[12] Irsyadul Fuhul hlm. 240

[13] Ahkam al-Maqobir hal. 302

[14] Mukhtasor al-Khalil Ala Mawahib al-Jalil: 2/237

About these ads

37 comments on “Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan

    • kalau semua semua dianggap bidah, terus bagaimana anak anak kita dan hampir semua ummat nongkrong didepan tv, terus terusan apakah itu lebih baik daripada mengikuti hal halyang baik ?

      Bagaimana pula dengan cara-cara stasiun TV yang mengadakan siaran sahur dengan acara yang gak karu karuan ….. ? apa gak lebih baik baca quran sama sama berjamaah di masjid ?

      Kalau semua amalan amalan yang sudah baik dianggap bidah ? apa kita baca al-quran sepoerti yang sekarang ( dalam cetakan cetakan ) dianggap bidah pula ? padahal alquran yang asli dalam lembaran-lembaran yang terpisah pisah ) padahal jaman nabi gak ada al quran yang seperti sekarang.

      kalau memperingati nuzulul quran dianggap bidah ? yaaa mendingan nonton tv aja atau ngobriol sana sini dengan tetangga yang tanpa ujung…….

      wallahu a’lam.

      Poin-poin yang disebutkan di artikel adalah bid’ah dan ini adalah suatu hal yang buruk, “nongkrong” di depan televisi di bulan Ramadhan yang menyiarkan acara2 sahur atau sinetron “ngabuburit” semuanya juga suatu hal yang buruk.

      Oleh karena itu mari kita mengarahkan anak-anak kita dalam kegiatan-kegiatan positif atau ibadah di bulan Ramadhan ini…dan kegiatan-kegiatan tersebut kan tidak harus amalan-amalan bid’ah yang disebutkan di atas. Misalnya…kita perintah anak-anak kita agar mereka aktif mengaji di TPA/TPQ (bahkan di tempat kami, anak-anak sore-nya mengaji kemudian dilanjutkan dengan berbuka ” ta’jil ” bersama saat maghrib).

      Kita pun demikian, bisa mengisi malam-malam ramadhan dengan mengaji al-Quran (tidak harus berjamaah dan tidak harus dengan mic) dan syukur-syukur kita ramaikan kegiatan masjid dengan mengadakan kajian-kajian keIslaman misalnya kultum bakda Shubuh atau kajian setiap Ahad-nya…dan tidak harus bertepatan dengan momentum perayaan “NUzulul Quran”…. Ini semuanya tinggal bagaimana kita mensiasatinya…wallahua’lam.

      Adapun tentang pengumpulan al-Quran menjadi satu mushaf…ini bukanlah bid’ah, karena ini termasuk sunnah khulafaur rhasyidin, yaitu Umar bin Khattab dan dilanjutkan Utsman bin Affan radliyallahu’anhuma. Sedangkan Nabi telah bersabda, “Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin….” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

      • Sesuatu amalan agar diterima oleh Allah SWT syaratnya niatnya benar, dilakukan secara ikhlash dan sesuai yang dicontohkan oleh rasulullah, dilakukan para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin. Hal ini didasarkan kepada beberapa hadist yang sahih diantaranya : setiap amalan tergantung pada niatnya, maupun setiap amalan yang tiada mengikuti petunjukku (rasulullah SAW) pasti tertolak.

        Nonton TV yang tiada manfaatnya karena memang program acaranya kurang mendidik sebaiknya tidak perlu berlama-lama diikuti dan kita akan membuang waktu percuma. Padahal salah satu ciri orang muslim adalah tidak membuang waktu percuma tetapi menggunaakan waktu untuk sesuatu yang ada manfaatnya.

        Apagunanya kita beramal dengan susah payah membuang waktu tenaga pikiran harta yang tiada sedikit tapi justru tertolak karena tiada mengikuti petunjuk rasulullah SAW. Kita menganggap benar tetapi justru keblinger karena kira kurang ilmu.

        Oleh karena itu janganlah suatu perbuatan bid’ah dilawan dengang kemaksiyatan. but bid’ah dilawan dengan sunnah.
        Wallahu ‘alam bissawab

      • Sebaiknya kita pelajari dulu apa yang dimaksud dengan bid’ah, setelah faham baru kita pelajari lagi apa saja bid’ah2 itu, setelah tahu.. kita hindari amalan-amalan kita dari perbuatan bid’ah…
        Masalah ‘nongkrong’ didepan televisi itu adalah perbuatan yang sia-sia,, tidak ada hubungannya dengan masalah bid’ah. Sunnah2 yg dicontohkan oleh nabi Muhammad saja masih banyak yg belum kita laksanakan, koq malah membikin amalan2 baru yg tidak beliau contohkan…
        Nabi Muhammad telah mengingatkan kita tentang perkara BID’AH ini merupakan suatu KESESATAN, maka jauhilah, Waspadalah…

      • Mas xyz,

        Bid’ah itu terlarang dalam agama, jika mas berpemahaman bahwa koment itu adalah perbuatan bid’ah, lalu mengapa mas sendiri melakukan hal yang serupa ???????? bukanlah ini perbuatan yang lucu ?????

        Adapun kami, menganggap bahwa berdakwah dengan blog itu bukan bid’ah, karena ini termasuk dalam pembahasan “mashlahatul mursalah”.

  1. Ping-balik: Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan | Oase Adwan

  2. Assalammualaikum,

    Masyarakat kita yg awam akan ajaran Islam, belum saja mereka menyerap betul yg namanya Islam secara keseluruhan, tetapi sudah diwanti2 dgn yg namanya Bid;ah-lah, Hadist yg lemah kuat atau sebaginya-lah…dan itu baru terjadi belakagan ini, kemana saja sebelumnya penyataan2 tersebut, kenapa tidak semenjak dahulu…

    kalau memang inginmeluruskan ajaran Islam yg salah menjadi benar…kalo cuma berupa Teori (kalimat) saja kurang mengena saya rasa…lebih baik sebar para ulama yg telah dididik kefasihannya dalam ISLAM utk disebar ke penjuru daerah…yaaah ibarat menyebarkan ISLAM kepada Orang Islam-lah….

    Wassalammualaikum,

    Wa’alaykumussalam…
    insyaAllah semuanya telah dan sedang dilakukan, da’i-da’i yang menyeru kepada al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush sholih telah tersebar dimana-mana…silahkan Anda mencari informasi pengajian2 tersebut di daerah Anda. Barokallahufik.

    • Kemana aja sebelum pernyataan2 tersebut,kenapa tidak semenjak dahulu..?????
      sepertinya saudara kita yg berkata seperti ini mesti bertanya kepada dirinya sendiri”kemana aja aku selama ini,kok baru tahu pernyataan2 seperti ini..??”

  3. Ping-balik: Bid’ah – bid’ah Di Bulan Ramadhan « SYABAABUSSUNNAH

  4. @: ahmad

    Ya akhi, Islam itu dibangun diatas dasar ilmu kemudian amal.
    Baiknya kita belajar kalau memang belum faham.

    Ada atsar dari seorang sahabat : Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat meskipun manusia menganggapnya baik.

    Bedanya ahli maksiat dengan ahli bidah :
    Seorang ahli maksiat ia menyadari bahwa perbuatannya keliru karena melanggar larangan2 maupun perintah Allah, tetapi karena hawa nafsunya ia cenderung terus menerus melakukan perbuatan tersebut. Dan tidak sedikit dari ahli maksiat yang ingin sadar dan ingin sekali taubat dari perbuatan tersebut.

    sedangkan ahli bid’ah ia mendakwahkan kebidahannya dan ia yakin perbuatannya suatu bentuk taqarrub kepada Allah. Padahal sesungguhnya amalannya tersebut tertolak. Dan ahli bid’ah tidak pernah punya i’tikad u/ bertaubat karena ia merasa kebidahannya adalah suatu ketaatan.

    Walloohu “alaam

  5. Assalamu’alaikum..

    Bubaaar!!! ngomongin Bid’ah tpi di Internet, apa itu ga bid’ah juga?katanya smua bid’ah sesat, tpi yg ngomong di media ini bid’ah jg, mana yg bener p Ustad?jgn bikin bingung umat ya..??????

    Wallohu a’laam

    Wa’alaykumussalam warohmatulloh
    saudara tikno yang semoga dirahmati oleh Allah…. memang sebenarnya pembahasan bid’ah haruslah dibahas panjang lebar secara khusus, sehingga tidak timbul salah paham seperti Anda. Yang disebutkan mas diatas memang bukan bid’ah tetapi adalah maslahatul mursalah yang memang antara bid’ah dan maslahatul mursalah hampir sama.
    Keduanya memang sama-sama tidak ada dizaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, salah satu perbedaan antara keduanya adalah bahwa bid’ah itu adalah suatu perbuatan “ibadah” yang dizaman Nabi telah ada faktor pendorongnya untuk diwujudkan tetapi ternyata Nabi dan para sahabatnya tidak mengamalkannya.

    sedangkan maslahatul musrsalah (dan ini bukan bid’ah) adalah suatu perbuatan yang bukan ibadah atau sebagai sarana mempermudah dakwah yang pada zaman Nabi tidak mungkin diwujudkan karena belum ada faktor pendorongnya.

    sebagai contoh…
    Niat berpuasa dengan lafadz khusus, adakah dalil yang menyebutkan lafadz demikian dalam hadits2 Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ? karena faktor pendorong Nabi melafadzkan niat demikian dan mengajarkannya kepada sahabat2nya sangatlah besar…dan pasti sampai haditsnya kepada kita, karena beliau adalah Rasulullah. Hal ini berarti faktor pendorongnya ada tetapi ternyata tidak dicontohkan oleh beliau.

    Adapun dakwah dengan mendirikan sekolah2, ma’had2, dengan radio, blog, dsb…maka ini semuanya termasuk maslahatul mursalah…karena pada zaman Nabi semuanya belum mungkin diwujudkan karena belum ada faktor pendorongnya. Dan selama tidak bertentangan dengan syariat itu sendiri maka hukumnya diperbolehkan.

    Inilah kaidah yang hendaknya kita pegang…agar mampu membedakan antara bid’ah dan maslahat.

    Saya menyarankan saudara untuk mendownload dan menyimak ceramah mp3 yang terkait dengan pembahasan bid’ah dari A sampai Z sebagai pencerahan disini

    Semoga kita berdua selalu diberi hidayah oleh Allah sehingga bisa membedakan mana yang haq dan mana yang salah…dan kita istiqomah di atasnya…amiiin

    • Assalamu ‘alaikum. wr.wb
      Umat bingung? suatu pertanyaan yang perlu dipertanyakan lagi. Selama umat berpegang pada pemahaman slafush shalih tentu tidak akan bingung. Karena sumber atau referensinya jelas. Nah yang membikin bingung yaitu para ahli bid’ah yang menyampaikan pemahamannya berdasarkan nafsunya sendiri. Coba kita tengok.. yang namanya bid’ah dari ujung barat hingga ujung timur, dari utara hingga selatan tidak ada yang sama. Akibatnya.. umat jadi bingung karena keberagaman ini. Tapi kalo yang bid’ah ini mau merujuk kepada pemahaman yang benar justru sebaliknya yang terjadi. keyakinan yang mantap akan kebenaran dan terus-menerus untuk mempertanyakan yang bikin bingung-bingung tersebut.
      Wallahu ‘alam bissawab.
      Wassalamu ‘alaikum wr.wb

  6. Dan adalah sebuah kejahatan terhadap ilmu ; memfatwakan sesuatu secara terburu-buru sebelum terlebih dahulu mengkaji akar permasalahannya, mendengar pernyataanpernyataan tentangnya, mencari argumen-argumen yang mendasarinya, dan membaca dalil-dalil yang berkaitan dengannya.

    Jujur moco penjelasane njenengan kok katon nek njenengan kui gak mengkaji terlebih dahulu terutama pada point 2, mbok moco sek apa kui maknane Imsak, masyaAllah, Ya Allah………Bila manusia merasa asing bahkan terganggu dengan suara suci Al-Qur’an maka mau diapakan kerinduan hati ini???

    Afwan, saya hanya anak Informatika yang bodoh

    Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah….imsak berasal dari kata amsaka-yumsiku-imsaak, yang artinya “menahan diri dari sesuatu”…dengan kata lain “berpuasa”. Jadi ketika telah masuk waktu imsak, maka kita harus berpuasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Inilah arti imsak. Dan Allah azza wa jalla telah menyebutkan dalam al-Quran batasan imsak tersebut, “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang merah dari benang putih yaitu fajar.” [Al-Baqarah: 187]
    Cukup dalil al-Quran di atas membantah adanya imsak 10 menit sebelum fajar/shubuh, karena ayat ini menunjukkan bahwa boleh bagi kita makan dan minum sampai dikumandangkannya adzan shubuh, yaitu terbitnya fajar (shodiq).

    Anda juga mengatakan:” Bila manusia merasa asing bahkan terganggu dengan suara suci Al-Qur’an maka mau diapakan kerinduan hati ini??? ”

    Jika ini adalah tanggapan atas tulisan di atas tentang poin ke 6, maka kami jawab…bahwa segala sesuatu itu harus ditempatkan pada tempatnya yg sesuai. al-Quran adalah kitab suci ummat Islam….bukan berarti harus dibaca dengan keras dan disiarkan di masjid-masjid. Dan yang melarangnyapun (karena bid’ah) bukan berarti hal itu dilakukan karena ‘alergi’ thd al-Quran atau merasa terganggu dengan lantunan2 al-Quran yg disiarkan di masjid2 tsb. Semua itu ada tempatnya masing2, misalnya seperti yg telah dijelaskan di atas tentang adab membaca al-Quran dalam mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan suara yang lirih.

    Dan hal ini tidak jauh berbeda dengan ketika imam berjamaah sholat dzuhur dan ashar, maka bacaan al-Fatihah dan surat yang lain yang dibaca sirr/ lirih dan tidak boleh sebaliknya walaupun dengan alasan syiar Islam.

    Maka cobalah (jika ingin bukti) ketika Anda mengimami sholat Dzhur atau Ashar dengan membaca al-fatihah dan surat pendek yang keras/jahr, lalu jika ada yang bertanya dari jamaah, “pak kok bacaannya di keraskan/jahr kan ?? kan ini sholar Dzuhur” lalu jawab saja dengan jawaban di atas, ” Bila manusia merasa asing bahkan terganggu dengan suara suci Al-Qur’an maka mau diapakan kerinduan hati ini??? “….maka silahkan dibuktikan bagaimana kelanjutannya. Ini adalah contoh sederhananya…

    Marilah kita bersama-sama belajar jika kita masih miskin ilmu….dan benar yang Anda katakan yaitu dengan “mencari argumen-argumen yang mendasarinya, dan membaca dalil-dalil yang berkaitan dengannya.”

    Semoga saya dan Anda selalu diberi pemahaman yang benar dalam beragama…amiin

    • Assalamu ‘alaikum wr.wb.
      bila dilanjutkan…. bid’ah itu namamya. penselisih rasulullah SAW, sahabat, tabiin dan tabiut tabiin.
      Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

  7. Ass.Wr. Wb, ya akhi saudara2 kita yang protes tentang topik ini mungkin belum faham tentang apa itu bid’ah sehingga mereka merasa kaget, marah dan macam-macam perasaan meraka, karena selama ini hal-hal yang dianggap bid’ah tersebut mereka lakukan selama bertahun-tahun/turun temurun, sehingga ketika mereka diberikan penjelasan tentang bid’ah mereka merasa tersinggung dan marah. jadi harap maklum dan semoga kita semua diberi kemauan untuk belajar ilmu agama dan diberikan pemahaman yang benar. usul ya akhi mungkin antum bisa berikan penjelasan apa difinisi bid’ah baik dari sisi bahasa maupun dari sisi istilah, agar saudara-saudara kita yang lain bisa faham.

  8. Ping-balik: Mp3 Lagu Religi Ramadhan 1430 H « ♪♫♪♫ WALKMANIA™ ~ "MARHABBAN YA RAMADHAN" ♫♪♫♪

  9. Masya Alloh, hari gini gak tahu tentang bid’ah? Kemana selama ini mereka? Belajar apa aja? Yang namanya bid’ah itu sesat sesesat-sesatnya, dan jangan pernah mengatakan kalao ada yang namanya bid’ah hasanah! Masalahnya sering ada oknum “ustadz” yang mengajarkan banyak bid’ah, dan mereka menyebutnya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik)…mana ada kesesatan yang baik!!! Contohnya bid’ah di antaranya udah dijabarkan di atas. Mari kita bersama menuntut ilmu agama dengan hati ikhlas mencari kebenaran, jangan dengan emosi (apalagi kalo ternyata bertolak belakang dengan yang kita lakukan selama ini), karena ilmu tidak akan terserap dengan hati yang penuh amarah dan kedengkian, Allohu a’lam…

  10. klo tarawih berjamaah pripun pakdhe?? itu bukan bid’ah ya?? trus di masjid di RW saya itu brp orang yg bergamis dan celananya cingkrang koq tarawehnya ga ditutup witir berjamaah, padahal kan sunnahnya ditutup dg witir dg imam taraweh. Pripun pakdhe..
    Poin2 diatas sepakat kabeh.. siip markusip infone..
    Selama ini mmg orang2 berpikiran lebih baik gini dari pada begitu. misal lebih baik tadarus bersama drpd nonton tipi. Padahal kaidah pola pikirnya keliru krn kedua hal itu ga bisa di bandingkan. bener ngga??

    Tarawih berjama’ah ndak termasuk bid’ah mas….Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah melakukannya dengan berjamaah sampai beberapa hari saja kemudian selanjutnya dihentikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan alasan khawatir jika nanti diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan akhirnya kaum muslimin sholat sendiri-sendiri. Selanjutnya Ibadah ini dihidupkan kembali oleh Umar bin Khattab dengan berjama’ah karena tentu saja kekhawatiran Nabi shallallahu’alahi wa sallam dulu tidak mungkin terjadi karena Agama telah sempurna. Dan sunnah Khulafaur Rhasyidin bukan termasuk Bid’ah. Adapun memang yang lebih utama tentang sholat witir adalah berjamaah bersama imam…
    Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya barangsiapa yang sholat (Tarawih) bersama imam sampai selesai maka dicatat baginya pahala sholat semalam suntuk”. (HR. Abu Dawud 1375, at-Tirmidzi 806 dan ia berkata: “Hadits Hasan Shohih”).

    Adapun jika beberapa ikhwah yang pulang terlebih dahulu seperti itu yang biasanya dengan alasan mau sholat malam kembali di sepertiga malam terakhir, maka hal ini seharusnya lebih baik tetap sholat berjamaah sampai witir bersama imam, mengingat hadits di atas. Karena para Ulama sendiri sebenarnya membolehkan seseorang jika sholat sunnah (tahajud) lagi di malam setelah bangun, padahal sudah sholat witir (sebagai penutup) sebelum tidur. InsyaAllah akan dibahas diposting selanjutnya. Wallahua’lam.

  11. Beberapa saran dari ana :
    1. Sebaiknya bagi yang belum paham agama tidak perlu berkomentar dan memberikan penilian tentang kebenaran agama, sebaikan belajar dulu dan kuasai dulu agama, anda bingung karena salahanda sendiri menjadi orang zahil agama.
    2. Para ustadz yang ilmunya tanggung juga, sebaiknya anda menggunakan referensi/kitab yang shohih yang dalilnya jelas, karena, kalau tidak akan menjadikan bingung masyarakat, karena banyak mengaku madzhab iman Syafi’i tetapi dalam amal banyak yang melanggar faham imam Syafi’i itu sendiri, ini berarti belum paham juga tentang ajarannya.

  12. jangan suka saling hujat menghujat kalau tidak di dasari ilmu yg mantap ,apa itu bid’ah saya mengatakan bid’ah itu di bawa oleh kaum wahab yg di dalangi org2 kafir ,yg memporak2dakan umat islam, di zaman imam syafi’i tdk ada pengikutnya yg mempermasalahkan seorg pengikut imam hanafi, baru2 ini ormas yg mencari2 masalah baru ,di zaman abad ke 18 itu tidak ada masalah, justru saat inilah kita umat yg awam di buat bimbang kpda org yg mengatasnamakan seorg ustad.

    Anda mengatakan: saya mengatakan bid’ah itu di bawa oleh kaum wahab yg di dalangi org2 kafir ,yg memporak2dakan umat islam,

    Yaa subhanallah…anda mengatakan definisi bid’ah demikian !?? padahal Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jauh hari telah memperkenalkan istilah bid’ah kepada kaum muslimin. Ini dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, Nabi saya, Nabi Anda, dan Nabi kita semua sebagai kaum muslimin. Tidak pernahkan Anda mendengarkan perkataan Rasulullah yang bersabda, “Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih).

    Dan Anda mengatakan bahwa ini semua didalangi oleh orang wahab yang didalangi orang kafir !????? memporak-porandakan umat Islam ????

    Ini adalah tuduhan yang sangat besar kedustaannya jika yang Anda maksud dengan “wahab” adalah dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abduk Wahhab. Secara panjang lebar silahkan simak postingan dan audionya disini, atau jika tidak…Bersiaplah Anda mempersiapkan hujjah Anda nanti ketika di akhirat atas apa yang Anda katakan.

  13. Ping-balik: Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan « Mujahidah Sunnah

  14. Ping-balik: Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan « Mujahidah Sunnah

  15. Ping-balik: Bid’ah-Bid’ah Di Bulan Ramadhan | mediasalafi.com

  16. org yg membid’ah kan sesuatu itu org yg bodoh sekali..kalo mas tdk mw mengikuti smw,,kya maulid,tadaruz,ziarah jngn membid’ah kan..emank di zaman nabi itu tdk ada smw nya tpi apakah qta hidup di zaman nabi?? apakah qta baca alqur’an dimasjid tdk boleh?? mas pikir donk zaman nabi huruf alqur’an msih gundul,apakh mas sndri baca alqur’an dngn huruf gundul…klo gak berarti bid’ah dnk?? apakah qta bershalawat dan mengenang nabi di acara maulid tdk boleh? sungguh berdosa kalo tdk boleh. zaman nabi tdk ada maulid tpi nabi sedang perang bagaimana mw maulid nah qta yg sudah merdeka wajib mengenang perjalanan beliau..maka dari itu diadakan maulid. mas blh blg bid’ah kalo ad yg melenceng tentang shalat,puasa,zakat,dan haji. tpi klo yg hanya maulid,tadaruz mas berani bgd bsa ngomong bid’ah..itu sama aja menghancurkan umat muslimin yg laen.islam th mengajarkan persatuan walaupun berbeda pendapat.

  17. mudah2an umat muslim berpikir yg logis dan msuk akal..yg baik yg mana? qta lihat aj yg skrg ini bangsa timur tengah kbnyak berperang/jihad dngn menggunakan peralatan canggih(bom,tembakan dll) zaman nabi pake pedang,panahan. apakah bangsa timur tengah yg jihad sekarang ini bid’ah????pikir pake otak..qita th hidup bkn dizaman nabi..nabi juga mengajarkan islam itu harus maju dan penuh kreavitas asal yg masih dijalan Allahh SWT..teknologi sudah berkembang mas msa qta msh mw jadul aja????masa pake pengeras suara azan bid’ah aduh pikir pake logika..gmna kaum muslimin dengar klo tdk pake pengeras suara pd saat mw shalat di masjid berjamaah.

    • 1. Anda tidak bisa membedakan antara bid’ah dalam agama dan dunia….
      2. Ttg pengeras suara yg dibahas diatas adalah untuk tadarrus, bukan Adzan yg memang syariatnya agar dikeraskan memanggil orang agar sholat. Adapun tadarrus yg jadi masalah utama bukanlah mic-nya, tapi dampak yg akan muncul yaitu riya’, bercampur baur, bahkan bisa jadi bisa mengganggu orang yg sedang istirahat karena sakit atau sekedar capek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s