Pacaran Dalam Kacamata Islam


Pacaran dalam pandangan Islam

Pacaran dalam pandangan Islam

Sebuah fitnah besar menimpa pemuda pemudi pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita. Apalagi sebagian besar stasiun televisi banyak menayangkan sinetron tentang pacaran di sekolah maupun di kantor. Tentu hal ini sangat merusak moral kaum muslimin. Namun, anehnya, orang tua merasa bangga kalau anak perempuannya memiliki seorang pacar yang sering mengajak kencan. Ada juga yang melakukan pacaran beralasan untuk ta’aruf (berkenalan). Padahal perbuatan ini merupakan dosa dan amat buruk akibatnya. Oleh sebab itu, mengingat perbuatan haram ini sudah begitu memasyarakat, kami memandang perlu untuk membahasnya pada kesempatan ini.

Pacaran dari Sudut Pandang Islam

Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan larangan Alloh subhanahu wa ta’ala. Fitnah ini bermula dari pandang memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati—sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”— kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, atau yang lainnya. Setelah itu, terjadilah saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina. Perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)

Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)

Adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau lak-ilaki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!

Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?

Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masing-masing. Demi Alloh, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan.

Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (lakilaki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?! Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam.

Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhori: 1862, Muslim: 1338)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)

Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar seorang wanita, seorang lakilaki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat menyurat, bebas bertelepon, bebas berSMS, bebas chatting, atau bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut

Adakah Pacaran Islami?

Ada lagi pemudapemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaranpacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegangpegangan. Masingmasing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh q serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya!

Ketahuilah, pacaran yang diembelembeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah firman Alloh

 

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka” …. (Q.S. anNur [24]: 3031)

Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)

Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu

Para pemuda yang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran. Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhori: 5066)

Al-Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.” (Fathul Bari: 9/136)

Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh subhanahu wa ta’ala yang tertuang dalam Q.S. ar-Rum [30]: 21. Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.

Nasihat

Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang tua, jangan biarkan putra-putrimu terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Jangan biarkan mereka keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab[1] atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Perhatikanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. alAhzab [33]: 59)

 

Wallohu A’lam.

oleh Muklis Abu Dzar hafizhahullah

Sumber: buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 3 Bulan Muharram 1430 H

Silahkan mendownload buletin ini dan buletin lainnya disini

 

FootNote


[1] Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka,

dan dada.

About these ads

36 comments on “Pacaran Dalam Kacamata Islam

  1. Asalaamu alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

    Mudah-mudahan ini masih berkaitan dengan judul artikel pada halaman ini: Pacaran Dalam Kacamata Islam.

    Belakangan ini marak ‘kebudayaan baru’ di kalangan ummat Islam yang entah diadaptasi dari mana, yaitu: “Pre Wedding Photography” / Foto-foto yang dibuat sebelum ijab qobul/akad-nikah dan menjadi hiasan pada acara/resepsi pernikahan.

    Bagaimana ‘kebudayaan baru’ ini dalam sudut pandang kacamata Islam dan hukumnya menurut kaidah Islam?

    Billahi taufiq wal hidayah.
    Wasalam,

    T. M. Musa Zakaria

    maramis: Wa’alaykumussalam warohmatullohi wa barokaatuh
    Foto-foto yang demikian tidak diragukan lagi keharamannya…karena tentu mereka berdua belum halal sampai ijab qobul dilaksanakan, artinya sampai mereka berdua telah sah nikahnya. Jadi sebelum itu belum halal untuk bersentuhan, berpelukan, dan semacamnya, karena demikianlah selama ini yang dmaksud dengan “foto pre-wedding”.
    Wallahua’lam

    nb: Untuk melihat lebih detail bagaimana pernikahan Islami dari A sampai Z …silahkan melihat posting terdahulu di Download Audio: NIKAH a-Z.

  2. Assalamu ‘alaykum Warohmatuloohi Wabarokaatuh..

    Masih tentang “Pre Wedding Photography”, bahkan dengan tak segan-segan dibuat dengan latar belakang Masjid yang seharusnya sakral! Astaghfirullah al adhiem!

    http://www.flickr.com/photos/faniez/3308951452/

    Kebetulan disana ada komentar dari:

    TheSaint3 says:

    Assalamu alaykum Wr Wb:

    1. Melihat judul pasti semua orang tahu, pre wedding artinya: sebelum pernikahan – foto2 ini dibuat sebelum pernikahan, kan?;
    2. Apakah sudah merasa yakin bahwa “Pre Wedding Photography” sesuai Syariat Islam?;
    3. Mohon agar diklarifikasi dengan searching di Google atau lainnya banyak tulisan mengenai hubungan antara lelaki-perempuan sebelum nikah sesuai Syariat Islam;
    4. Sayang sekali walaupun indah jika ini bertolak belakang dengan Syariat Islam – apalagi menggunakan Masjid Agung yang sakral ini.
    5. Jangan sampai penganut non-Muslim berpendapat salah tentang kita (yang Muslim) mengenai event ‘Pre Wedding Photography” ini.

    Wallahu ‘alam bissawab!
    Wassalamu alaykum Wr. Wb.

  3. Assaalamu alykum warohmatullahi wabarokaatuh
    sy ingin bertanx tentang batas2 berhubungan dgn lawan jenis sesuai syari’ah islam yg baik sehinga tdk ada keharaman yg terselip dan tdk menimbulkan fitnah?? Sekian
    wassalamu alykum warohmatullahi wabarohkaatuh

  4. pengen tobat.. hiks..

    Semoga Allah menjadikan Anda dan saya orang-orang yang bertaubat kepada Allah dan istiqomah di atasnya….amiin

  5. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam | http://www.untukku.com

  6. assalammu’alaikum.wr.wb.

    saya ingin bertanya, lalu bagaimna cranya qta berhubngan dgn lawan jenis(msalnya di sekolah, di organisasi, dll)?
    sdgkan dlm organisasi ataupun di sekolah, tdk mgkin tdk ada kontak dgn lawan jenis…

    thank,s before…

  7. Ping-balik: Pacaran Dalam Penglihatan Islam « Lililiana's Blog

  8. pacaran adalah kebudayaan orang nasrani , jadi apakah kita orang islam nggak malu kalau harus menirunya . emang sih pacaran itu indah tapi nggak sepadan dengan ancaman siksaannya .

  9. Assalamu ‘alaykum Wr. Wb.

    Alhamdulillah…
    Forum ini cukup banyak diminati pengunjung yang saling mengisi dan dapat menggapai hikmah bagi kebaikan ummat dalam menjalankan Syariat Islam seutuhnya.

    >>> Jadi sudah jelas, kan?: pacaran itu haram, foto berdua-duaan haram, berbaju ketat haram, foto pre-wedding haram… <<<

    Namun seiring perjalanan waktu, mengapa kini kian marak (di situs sosial seperti fb dll) ummat (yang mengaku) Muslim: berfoto berdua-duaan bukan pasangan nikah atau belum nikah (yang mendapat puji-pujian banyak pengunjung), pernyataan 'in connection with' (yang secara blak-blakan diumumkan dan memiliki tautan/link terhadap masing-masing pasangan belum nikahnya), pre-wedding photogrpahy (yang adem ayem terus melenggang) di dunia maya ini? Mengapa pula mereka (yang mengaku Muslim) bahkan mencemooh dan melecehkan tulisan-tulisan (dalam komentar-komentar) yang mensiarkan ke-haraman terhadap hal-hal tersebut di atas?

    Semoga kita semua selalu memperoleh bimbingan & ridha Allah SWT, dibukakan pintu hati untuk secara ikhlas dan ridha lillahi ta'ala mematuhi perintah-Nya dan melaksanakan ajaran Rasulullah SAW sevara istiqomah. Menurut saya (dan tentu saja berlawanan dengan mereka yang menentang), meninggalkan semua yang tersebut di atas itu bukan 'ketinggalan zaman' atau 'out of mode' atau 'seperti katak dalam tempurung', koq! Kini masalahnya tergantung dari pribadi masing-masing: Apakah kita (sebagai Muslim) mau secara konsekwen mentaati dan mematuhi perintah Allah SWT dan ajaran Rasulullah SAW atau tidak??

    Wassalamu 'alaykum!
    Note: Bagaimana untuk dapat sharing halaman ini di wall page Facebook?

  10. assalamualaikum Wr.Wb.

    saya ingin tobat, karena sekarang ini saya punya pacar,
    tetapi baru 1 kali.
    agar dosa saya tidak berlanjut saya ingin memusyawarahkan ini dengan pacar saya.

    tolong beri tau cara yang baik untuk mengatakan kepada pacar saya agar tidak menyakiti perasaannya???

    thank b4

    wassalamualaikum Wr.Wb

    Wa’alaykumussalam warohmatulloh wa barokaatuh.
    Hendaknya pacar Anda diingatkan bahwa kita itu hidup untuk beribadah kepada Allah, yaitu dengan mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Itulah makna dari hidup ini…itulah tujuan kita hidup. Allah berfirman:

    Dan merupakan upaya untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah tidak mendekati hal-hal yang dapat mendekatkan kita kepada zina yang dalam hal ini adalah pacaran. Allah ta’ala berfirman:

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

    “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

    Mungkin poin-poin sederhana berikut bisa menjadi saran yang bisa dipertimbangkan.
    1. Bertaubat kepada Allah azza wa jalla. Ajaklah pacar untuk bertaubat juga kepada Nya.

    Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu, “Saya mendengar Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, Alloh Ta’ala berfirman, ‘…Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan kau datang tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani di Shohihul Jaami’)

    Namun, taubat yang diterima oleh Allah haruslah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat.

    2. Menikahlah. Jika memang Anda sudah siap untuk menikah begitu juga pacar….maka mengapa hubungan itu tidak dilanjutkan ke jenjang pernikahan ??. Dengan menikah maka pandangan akan terjaga, menjaga kehormatan, akan mendapatkan pertolongan Allah.
    Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Beliau juga bersabda:

    “Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Alloh: (1) mujahid fi sabilillah, (2) budak yang menebus dirinya agar merdeka, (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.(Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (2/251), dll)

    Dan sabdanya yang lain…

    “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

    3. Jika belum mampu menikah….hendaknya Anda berpuasa seperti yang disabdakan Nabi diatas, sibukkan diri dengan aktifitas positif dan khususnya aktif mengikuti majelis2 pengajian rutin. Lupakan sang pacar, jangan pernah menghubunginya atau bertemu lagi dengannya…karena hal tsb justru akan mengingat dia kembali dan ingin dekat lagi dengannya.

    4. Berdoa kepada Allah agar istiqomah dijalan ini, walaupun berat…tetapi inilah memang yang dinamakan ujian dari Allah. Nabi mengajarkan doa kepada kita agar tetap istiqomah kepada Allah:

    Ya Muqollibal quluub, tsabbits qolbiy ‘alad diinika
    “Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Lihat juga doa dalam QS. Ali Imron: 8

    5. Berdoa kepada Allah agar diberi oleh-Nya istri yang sholihah kelak, walaupun bukan “si dia”. Seperti doa dalam QS. AL-Furqon: 74

    Wallahua’lam…semoga membantu

  11. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam « "Bisa Karena Terbiasa"

  12. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam « asephendriana's Blog -Berbagi Berita-

  13. Ping-balik: Yaaaaah….Di Rumahmu Koq gak Ngadain Tahlilan Seeeh? Kamu Muhammadiyah Ya ? PERSIS Ya ? Al Irsyad Ya ? Salafi Ya ? Wahabi Ya ? « Jihadsabili’s Blog

  14. Ping-balik: Pacaran dalam Islam..! « rikymetal

  15. Say no pacaran
    Tidak ada pacaran dalam islam, hanya ada Khitbah. Islam sudah mengatur bagaimana cara berhubungan dengan lawan jenis, dan aturan itu menjaga kita dari fitnah dan menjaga kesucian kita…………..

  16. Say no pacaran
    Tidak ada pacaran dalam islam, hanya ada Khitbah. Islam sudah mengatur bagaimana cara berhubungan dengan lawan jenis, dan aturan itu menjaga kita dari fitnah dan menjaga kesucian kita…………..
    Taati aturan islam, maka kau akan terjaga

  17. Assalamu’alaikum Ustadz, ana mau tanya.
    Kalau berkenalan dan saling mengenal dengan calon kita meskipun tanpa tatap muka g boleh. lantas gmn jika saat kita memustuskan tidak pacaran tp lantas dikemudian hari setelah menikah akhirnya muncul belangnya. GImana menyikapinya? bagaimana cara mengenal calon istri kita yang dianjurkan Islam?
    Syukron sangat sebelumnya

  18. assalamualaikum. .

    saya ingin bertanya,tadi dijelaskan bahwa pacaran haram karena pada dasarnya laki.laki dan perempuan yg belum muhrim dilarang berdua.duaan. .
    bagaimana jika pacaran namun dalam batas kewajaran,maksudnya tidak melakuka sesuatu yg haram seperti pegangan tangan,cimuan dsb. .

    mohon penjelasannya. .
    syukron :)

    • assalammua’laiqum..
      mlihat pertnyaan yg dlontarkan oleh uni arini, saya juga jdi pngen nanya..
      diatas d sbutkan “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)”..
      1.yg ingin saya tanyakan, bagai mana bila kita sudah siap nikah, tpi belum ada pasangannya?(taaruf berkali2,tapi saya tidak merasa cocok dengan calon pasangan taaruf)..apakah saya harus jadi perawan tua?..
      sedangkan menikah adalah wajib..tpi saya tdak mau menikah coba-coba..saya pengen menikah 1x seumur hidup saya(karena cerai itu dibenci oleh Allah.SWT walaupun halal..)
      2.trus bila saya mnikah(taaruf dikenalkan oleh famili),dan setelah menikah baru saya tau belangnya pasangan saya/pasangan saya tau belangnya saya dan saya/pasangan tdak suka dngan itu,siapa yg harus dsalahkan?.. dri saya?.. pasangan saya?.. atau pemahamn maksud tentang taaruf?..
      3.beda g sie PACARAN=TAARUF=BERKENALAN?.. klo beda, apa perbedanya hnya dri “kata” apa dri “sudut pandang” aja..

      mohon penjelasannya.. syukron ustad..

  19. Ping-balik: Pacaran dalam ISLAM « jrighiffari

  20. Ping-balik: Hidayah Kedua « Armanketigabelas

  21. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam « Heaven Afterlife

  22. Asalaamu alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
    Saya Mau bertanya .
    Apakah benar Haram nya Menyentuh Wanita Yang bukan Mahramnya.
    Lebih baik Kepala Seseorang di Tusuk Dari pasak Besi Panas, dari pada menyentuh Wanita yang Bukan Mahramnya..

    • wa’alaykumussalam wa rohmatullohi wa barokatuh…

      benar…itu adalah hadits Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-

      لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ.

      “lebih baik kepala salah seorang dari kalian Ditusuk dengan jarum besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

      HR. Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir no.486. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan Shahih. lih. Shahih At-Targhib wa At-Tarhib

  23. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam | SMP Negeri 3 Batam

  24. Ping-balik: Pacaran Dalam Kacamata Islam | fathurrahman dido

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s