Bangga Dengan Jenggot


Hukum Berjenggot[1]

Sunnah Jenggot

Sunnah Jenggot

Makin lama Islam makin terasing. Sebagian umat Islam hampir tak mengenal lagi mana ajaran agama dan mana yang bukan. Sedangkan para musuh Islam senantiasa melancarkan aksi untuk menggempur kekuatan kaum muslimin dengan hebatnya. Salah satu caranya adalah menjauhkan kaum muslimin dari syari’at Islam sedikit demi sedikit.

Dan di antara salah satu syari’at yang kami maksud di atas adalah syari’at memanjangkan jenggot bagi kaum lelaki. Sungguh kita telah mengetahui bersama bahwa di Indonesia atau bahkan di belahan bumi lainnya, mayoritas kaum muslimin agak risih dengan yang namanya jenggot. Bila ada lelaki yang berjenggot maka pikiran sebagian kaum muslimin akan langsung terbayang dengan bom dan ledakan-ledakan teror lainnya, yang kesemuanya itu, bila kita teliti lagi hanyalah sebuah konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang barat terhadap Islam. Maka dari itu, dengan tulisan ini kami ingin memberikan sebuah wacana baru mengenai jenggot yang melulu diidentikkan dengan kejahatan dan kekerasan. Allahul Musta’an

Definisi Jenggot

Dalam bahasa Arab jenggot disebut dengan al-Lihyah. Ibnu Sayyidihi mengatakan: “(Jenggot adalah) suatu ungkapan yang mencakup nama rambut yang tumbuh di sekitar pipi dan dagu”[2]

Hukum Memanjangkan Jenggot

Menurut hadits-hadits yang telah datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dari berbagai jalur, dapat disimpulkan bahwa hukum memanjangkan jenggot bagi lelaki adalah wajib. Salah satunya sebagaimana yang telah shahih diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda: “Selisihilah orang musyrik, cukurlah kumis dan lebatkanlah jenggot![3]

Dari hadits di atas dan yang semisalnya dapat disimpulkan bahwa perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di atas adalah wajib. Sebab semua perintah itu pada asalnya menunjukkan wajib, menurut pendapat yang paling kuat[4]. Jadi, kita tidak boleh memotong jenggot sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah memerintah kita memanjangkan dan membiarkan jenggot tumbuh lebat[5].

Mengapa Laki-Laki Harus Memanjangkan Jenggot ?

Seorang laki-laki seharusnya mengetahui alasan mengapa dia memanjangkan jenggot. Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa alasan yang tepat:

1. Karena ingin ikut menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam

Zaman kita ini –sebagaimana telah disebutkan tadi- adalah zaman keterasingan. Secara tidak langsung, jika kita menghidupkan sunnah jenggot maka kita juga akan mendapatkan gelar sebagai salah satu penghidup dan pembela sunnah.

2. Sebagai pembeda antara kaum Adam dan Hawa serta menambah kewibawaan

Diantara hikmahnya, Allah subhanahu wa ta’ala membedakan antara lelaki dan wanita dengan jenggot. Allah memberikan jenggot untuk lelaki supaya ia tambah berwibawa dan perkasa dihadapan wanita sebab laki-laki adalah pengayom wanita. Lantas Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan jenggot kepada wanita supaya wanita tambah sempurna dalam hal kecantikan parasnya tanpa harus diganggu dengan tumbuhnya rambut di wajah[6].

3. Mengikuti para nabi yang juga berjenggot

Semisal Nabi Harun ’alaihissalam saudaranya Nabi Musa ’alaihissalam:

Harun menjawab: ”Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepadaku….”.(QS. Thoha (20):94)

4. Sesuai dengan fitrah manusia

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: ”Sepuluh hal yang termasuk fitrah: yaitu merapikan kumis dan melebatkan jenggot….” (HR. Muslim:261)

Ragu-Ragu Berjenggot ?

Dalam menghidupkan sunnah jenggot yang terancam punah ini, ada saja orang-orang yang mengaku muslim enggan memanjangkan jenggotnya hanya dengan bersandar pada alasan-alasan yang rapuh:

  1. Banyak orang kafir sekarang yang berjenggot
  2. Hukumnya kan hanya sunnah
  3. Yang penting iman yang di dalam hati, bukan masalah yang lahiriah semisal jenggot.

Jawabannya:

  1. Memanjangkan jenggot bukan hanya karena kita ingin menyelisihi orang kafir, bahkan ia adalah termasuk fitrah sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim (di atas). Kebanyakan orang Yahudi dan Majusi atau Nashrani sekarang tidak memanjangkan jenggot mereka. Dan yang terakhir, jika Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan suatu perintah dengan didasari suatu sebab kemudian sebab itu hilang maka perintah itu jika mencocoki fitrah manusia atau menunjukkan syi’ar Islam, perintah tadi tidak dibatalkan. Seperti syariat roml (lari-lari kecil) dalam haji pada asalnya adalah untuk memperlihatkan kepada kaum musyrikin kekuatan muslimin yang telah dihina dan dianggap lemah oleh mereka karena terserang demam Madinah[7].
  2. Lagi-lagi, ketika kita menjelaskan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ada saja sebagian orang mengatakan: ”Ah, itu kan hanya sunnah, kalau ditinggalkan tidak mengapa !”……..Subhanallah! jika itu memang benar-benar sunnah, apakah sikap seorang muslim sejati yang mengakui Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah panutannya dalam kalimat syahadat yang ia ikrarkan? Manakah pengakuan itu ? Ataukah hanya sebagai formalitas ? seandainya kita ada di hadapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lalu beliau mengatakan: ”Panjangkanlah jenggot!”, beranikah kita mengatakan kalimat tadi kepada beliau ? jika tidak berani semasa hidup lantas apakah kita akan mencobanya ketika beliau telah wafat ?!
  3. Saudara yang mulia, ingatlah pembahasan bulan lalu[8] tentang taqwa yanga da di hati ? bukankah jika hati seseorang benar-benar bertaqwa niscaya akan tampak pada amalan lahiriyahnya ? lantas manakah klaim yang mengatakan bahwa yang penting iman yang ada di hati, bila amalan lahiriah disepelekan ? justru kalau begini malah bisa dibilang sebaliknya.

Berjenggot tetapi bukan karena meniru Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam

Klo gini niatnya nyontoh Nabi atu karena sekedar Gaya ya?

Klo gini niatnya nyontoh Nabi atau karena sekedar Gaya-gayaan ya?

Walaupun jenggot mengalami masa keterasingan, ternyata kalau kita lihat ada saja di antara kawula muda zaman ini yang berusaha dengan sunguh-sungguh memelihara jenggotnya. Namun, apakah yang mereka lakukan itu akan membuahkan pahala ? Untuk menjawabnya tentu harus dilihat dahulu apa motif yang melatarbelakangi perbuatannya itu.

Hendaknya diketahui bahwa kadangkala perbuatan yang asalnya disyari’atkan jika kita kerjakan terkadang kita tidak mendapat pahala, bahkan ada yang sampai mendapat dosa! Mengapa sampai demikian? Itu gara-gara niat yang salah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebenarnya telah memberi permisalan yang bagus sekali tentang hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim rahimahumullah[9] tentang orang yang berhijrah. Salah satunya menginginkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sedangkan yang lainnya menginginkan dunia maka yang akan dia dapatkan hanya dunia saja. Bahkan dalam jihad beliau juga menerangkan ada di antara mujahid yang berperang namun malah mendapat neraka. Apa sebabnya? Tidak lain hanyalah salah niat!

Masalah merapikan jenggot

Dalam masalah ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi[10]: ”Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memotong bagian bawah dan samping jenggotnya”. Namun, hadits tersebut maudlu’ (palsu) sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam adh-Dho’ifah: 1/456-457[11]

Sementara itu, ada atsar yang disebutkan oleh al-Bukhori rahimahullah bahwa Ibnu Umar radliyallahu’anhuma –salah seorang yang meriwayatkan hadits perintah memanjangkan jenggot- memotong jenggotnya bila telah melebihi satu genggam ketika selesai haji atau umroh. Menyikapi atsar tersebut, ulama telah terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa perbuatan periwayat hadits jika menyelisihi hadits yang telah ia riwayatkan maka yang dijadikan sandaran adalah apa yang diriwayatkannya[12]. Pendapat kedua mengatakan bahwa Ibnu Umar –sebagai orang yang meriwayatkan hadits tersebut- tentu lebih mengetahui maksud dari apa yang telah beliau riwayatkan[13].

Pendapat yang paling mendekati kebenaran –Allah-lah yang lebuh tahu- adalah pendapat yang pertama sebab lebih sesuai dengan nash hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana yang telah dikatakan juga oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim: 1/490[14]. Namun demikian, kita tidak boleh menjadikan malasah ini sebagai bahan celaan bagi saudara kita yang mengambil (merapikan) jenggotnya melebihi satu genggam, karena dalil yang mendasari pendapat mereka juga kuat. Wallahu’alam semoga bermanfaat.

Abu Usamah al-Kadiri

Sumber: Buletin al-Furqon Vol.1 No. 4 Tahun ke-4, terbit Jumadil Awal 1430 H


[1] Bagi para pembaca yang ingin memperluas pembahasan ini kami anjurkan untuk merujuk buku yang telah ditulis uleh Ustadzuna Abu Ubaidah as-Sidawi hafizhahullah yang berjudul “Bangga Dengan Jenggot”, terbitan Pustaka an-Nabawi, Surabaya.

[2] Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur: 15/243, Lihat juga Fathul Bari: 10/430

[3] HR. Bukhori:5892 dan Muslim: 260

[4] Lihat Manzhumah Ushul Fiqh wa Qowa’idihi

[5] Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz Kumpulan Muhammad Sa’ad Suwai’ir: 8/376

[6] Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnul Qayyim:2/215

[7] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu Utsaimin: 11/128

[8] Pada Buletin al-Furqon Vol. 12 No. 1. Robi’ul Akhir 1430 H, yang insyaAllah akan kita posting untuk kedepannya. Di dalamnya disampaikan perkataan Ibnul Utsaimin: “Jika hati seseorang benar-benar bertaqwa makan akan muncul darinya amalan anggota badan. Sebabnya, permisalan hati bagi anggota badan adalah layaknya seorang raja dan para rakyatnya. Bila raja itu baik maka rakyatnya juga akan baik, begitu juga kebalikannya.” (Syarah al-Arbai’in an-Nawawiyyah: 370)

[9] HR. Bukhori: 1, Muslim: 1907, lihat juga tentang keterangan hadits di atas oleh Syaikh Utsaimin dengan sangat bagus dalam syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah:13

[10] HR. at-Tirmidzi:2762

[11] Lihat juga dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz: 8/368, 374.

[12] Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau: 8/370

[13] Seperti yang telah diriwayatkan dari Imam Ahmad dalam salah satu masa’il beliau dari Ibnu Hani’ (Badai’ul Fawa’id: 4: 1430-1431) dan al-Albani dalam footnote silsilah al-Hadits adh-Dho’ifah: 1/457

[14] Lihat juga dalam shohih Fiqh Sunnah karya Abu Malik Sayyid Salim : 1/102-103

About these ads

6 comments on “Bangga Dengan Jenggot

  1. Assalamu’alaikum

    terima kasih ulasannya,,

    memang saya merasa bgt jaman2 sekarang namanya belajar agama susahnya minta ampun, bukan karena agamanya tapi sekarang sudah banyak pencampuran antara kebenaran dan kebatilan, (tapi bukankah Allah SWT yang memiliki ilmu dan mengajarkannya pada manusia ? itulah yang saya percayai.)

    oia saya mau tanya 1 hal, berhubungan dengan bingungnya saya dalam belajar agama dan jenggot.

    jujur saya banyak belajar agama kebanyakan dari ustad2 di TV, setelah melihat Hadist ini dan mempraktekannya Insya Allah, saya sedikit bingung melihat banyak ustad yang bahkan Ga punya JENGGOT tapi KUMISNYA TEBAL atau bahkan gak punya 2-2nya,,, saya baru liat 1 orang ustad di TV yg KUMIsnya tipis dan JEnggotnya TEBAL ..

    nah ini yang membuat saya bingung,, kalo memang hadist ini populer (setau saya) kenapa para ustad di TV ga panjang jenggotnya dan tipis/tidak ada kumisnya.?

    Contoh, ketika sidang ISBAT ramadhan, kita bisa liat para pemuka agama dari Ormas2 Islam, kebanyakan pada punya kumis tebal dan jenggot, tidak punya keduananya atau hanya kumis saja ?

    gimana ini pak?
    saya belajar agama jadi bingung ini hadisnya yg maaf: palsu atau mereka yg ga mempraktikan ?
    masa sih ustad ga mempraktikan ? padahal ini hadis termasuk yg menurut saya populer ?

    mohon di jawab

    terima kasih

    • Monggo…silahkan ditanyakan kepada da’i2 atau ustadz2 yang mempraktekkannya pak, apa alasan mereka tidak memelihara jenggot. Saya tidak ingin berburuk sangka. Namun diantara mereka ketika ditanya ada yang menganggap bahwa memelihara jenggot sudah tidak zamannya, alias kuno, tidak modern, laa haula wa laa quwwata illa billah….

      Sebagian diantara mereka menganggap mengamalkan sunnah2 seperti memelihara jenggot hanyalah syariat kulit saja, bukan inti. Memelihara jenggot hanya sekedar penampilan saja yang tidak penting. Semoga Allah memberi kita dan mereka hidayah.

      Baarokallahufiykum

  2. Ping-balik: Apakah Berjenggot, Celana di Atas Mata Kaki, dan Bercadar Merupakan Ciri-ciri Teroris? (2) [Bolehkah Mencukur Jenggot-2] |

  3. Ping-balik: Apakah Berjenggot, Celana di Atas Mata Kaki, dan Bercadar Merupakan Ciri-ciri Teroris? (2) [Bolehkah Mencukur Jenggot-3] |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s