Barjanji

Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam


Fenomena perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menjadi ritual yang sudah melekat pada sebagian –atau mungkin bahkan sebagian besar- kaum muslimin khususnya di Indonesia. Polemik bagaimana hukum perayaan maulid yang semakin terkesan sebagai hari raya kaum muslimin tambahan selain dua ‘Ied ini telah sering muncul ke permukaan. Namun jika kita berfikir dengan pikiran yang jernih tanpa fanatik kepada golongan manapun, niscaya kita akan mendapati persetujuan kita sendiri bahwa memang benar bahwa perayaan ini tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim. Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang kita pegang dalam masalah ini, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak (Riwayat Muslim).

Rasulullah yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
”Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rhosyidin al-Mahdiyyin (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Maka dari sinilah muncul suatu kaidah yang agung, sebagaimana juga yang dikatakan Ibnu Katsir rahimahullah, “Lau kaana khoiron lasa baquuna ilaihi” yang artinya “Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para pendahulu kita (Shahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabiin) telah melakukannya”. Dan kita tahu semua bahwa perayaan ini tidak pernah kita dapati terdapat dalam hadist Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ataupun atsar dari para shahabat radliyallahu’anhum sekalipun. Maka dengan penjelasan sederhana diatas seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita semua atas amal-amal yang telah kita lakukan termasuk amal kita merayakan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, apakah telah ada contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya?.

Adapun kali ini kita tidak akan membahas panjang masalah hukum maulid ini, tetapi mari kita menelaah salah satu kitab yang sering dibacakan dalam perayaan maulid Nabi ini yaitu kitab Barzanji yang ternyata berisi berbagai penyelewengan agama yang mana sebagian besar kaum muslimin yang mengamalkannya masih memiliki pemahaman makna atau terjemah atas syair-syair tersebut yang dangkal. Artikel ini kami ambil dari pembahasan majalah as-Sunnah edisi 12 th XII Rabiul awwal 1439/Maret 2009. Semoga Bermanfaat.

“Ya Allah jauhkanlah aku dan kaum muslimin di Indonesia dari kesyirikan kepada-Mu baik yang nampak atau tidak, dan lindungilah kami dari amalan yang tertolak yang tidak ada syariatnya dari Mu dan dari Rasul-Mu shallahu’alaihi wa sallam.”

Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi shallallahu’alayhi wa sallam

Oleh. Ust. Zainal Abidin, Lc

SEPUTAR KITAB BARZANJI

Secara umum peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam selalu disemarakkan dengan sholawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji maupun Daiba’, ada kalanya ditambah dengan senandung Qasidah Burdah.Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba’, Barzanji dan Qasidah Burdah dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang diawali dengan dengan membaca kitab Daiba’, lalu Barzanji, kemudian ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab induk peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak diantara mereka yang lebih hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba’ lebih parah daripada kitab Barzanji. Berikut uraiannya:

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga:

  1. Cerita tentang perjalanan hidup Nabi  shallallahu’alaihi wa sallam dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah.
  2. Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan)
  3. Sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI

Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barzanji al-Madani, dia adalah khatib di Masjidil Haram dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah. Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan diatara karyanya adalah Kisah Maulid Nabi Shalallahu’alahi wa sallam (Al-Munjid fii al A’laam, 125)

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermahzab Syiah tentu Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Ini dibuktikan dalam do’anya “Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man”. (Majmuatul Mawalid, hal. 132)

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI

Kesalahan kitab Barzanji tidak separah yang ada pada kitab Daiba’ dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Quran. Bahkan, dianggap lebih mulia daripada al-Quran. Padahal, tidak ada nash syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji, Daiba’ atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Quran yang jelas pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Quran apalagi pada saat perayaan maulid Nabi. Padahal Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa membaca 1 huruf dari al-Quran maka dia akan mendapatkan 1 kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. Tetapi, Alif 1 huruf, Laam 1 huruf, Miim 1 huruf .” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam shahihul jam’i hadist ke 6468)

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI

Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain :

Pertama : Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.


وَقَدْ أَسْبَحَاوَاللهِ مِنْ أَهْلِ اْلإِ يْمَانِ
وَجَاءَلِهَذَا فِي اْلحَدِيْثِ شَوَا هِدُ
وَمَالَ إِلَيْهِ الْجَمُّ مِنْ أَهْلِ الْعِرْفَانِ
فَسَلَّمْ فَإِنََّ اللهَ جَلَّ جَلاَلُهُ
وَإِنَّ اْلإِمَامَ اْلأَ شْعَرِيَ لَمُثْبِتُ
نَجَاتَهُمَانَصَّابِمُحْكَمِ تِبْيَانِ

“Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Ta’ala termasuk ahli iman

Dan telah datang dalil dari hadist sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini

Maka ucapkanlah salam, karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesugguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Quran).” (Lihat Majmuatul Mawalid Barzanji, hal 101)

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadist dari Anas radliyallahu’ahu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))

Imam Nawawi berkata : “Makna hadits ini adalah bahwa, barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan kedekatan kerabat tidak berguna baginya. Begitu juga orang Arab penyembah berhala yang mati pada masa fatrah (jahiliyah), maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyimpangan dakwah mereka, kaena sudah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ‘alahissalam dan yang lainnya.” (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi. 3/74)

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Nabi Shalallahu’alahisasalam dan keduanya beriman dan selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat akan kedhaifannya seperti Daruquthni, al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, al-Khatib, Ibnu Asaki, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili, al-Qurtubi, ath-Tabhari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi beriman, harus dibuktikan kebenarannya. Memang benar, Imam Suyuthi berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu’alahi wa sallam beriman dan selamat dari Neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para ulama peneliti hadist. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))

Kedua : Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka meyakini bahwa Rasulullah hadir pada saat membaca shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) mambaca ;


مَرْحَبًَايَامَرْحَبًَا يَامَرْحَبًَا
مَرْ حَبًَايَاجَدَّ الْحُسَيْنِ مَرْحَبًَا

“Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang”

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang pembela perayaan Maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Ta’ala di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini yang hadir adalah ruhnya.


يَانَبِنيْ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ
يَارَسُوْل سَلَمٌُ عَلَيْكَ
يَاحَبِبُ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ
صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

“Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu.

Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.”

Para pembela Barzanji seperti penulis “Fikih Tradisional” berkilah, bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketiak bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati Nabi lebih layak dilakukan, sebagai ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau. Bukankah Nabi Muhammad Shalallahu’alahisasalam adalah manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain? (Lihat Fikh Tradisional, Muhyiddin Abdusshamad (277-278))

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin menghormati Rasul Shallallahu’alahi wa sallam disamakan dengan hormat bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shalallahu’alahisasalam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin kembali dan hadir ke dunia lagi. Di samping itu, kehadiran Rasul Shalallahu’alahisasalam ke dunia merupakan keyakinan bathil karena termasuk perkara gaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan wahyu Allah Ta’ala, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan, pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan mencintainya.

Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Demikian juga dengan cara perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam adalah para shahabat, sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy : “Wahai kaumku, demi Allah, aku pernah menjadi utusan kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada Kaisar, aku pernah menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah melihat seorang Raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana pengikut Muhammad. Tidaklah Muhammad meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera melaksanakannya. Apabila beliau berwudhu, mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata, mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka.” (HR. Bukhari : 3/187, no. 2731, 2732, al-Fath 5/388)

Bentuk pengagungan para shahabat kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul Shallallahu’alahi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi Shalallahu’alahisasalam, “Berdirilah kalian untuk tuan atau orang yang paling baik di antara kalian” (Shahih HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya), maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi berpendapat bahwa pada hadits di atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan orang yang mempunyai keutamaan, (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313). Namun, tidak dilakukan kepada orang yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan perintah Rasul kepada orang-orang Anshar agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Mu’adz radliyallahu’anhu turun dari keledainya, karena ia sedang terluka parah, bukan menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya secara berlebihan. (Lihat Ikmalil Mu’lim bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi ‘Iyadh, 6/105).

Ketiga : Penulis Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.


فِيكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ
يَابَشِيْرُ يَانَذِيْرُ
فَأَغِثْنِيْ وَ أَجِن
يَامُجِيْرُمِنَ السَّعِيْرِ
يَاغَيَاثِيْ يَامِلاَذِيْ
فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُوْرِ

“Padamu sungguh aku telah berbaik sangka.

Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan

Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku.

Wahai pelindung dari neraka sa’ir.

Wahai penolongku dan pelindungku.

Dalam perkara-pErkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi Allah Ta’ala dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau dan bersumpah dengan nama beliau merupakan sikap yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk dan manhaj dakwah beliau Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu Tauhid. Nabi telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut., sehingga beliau Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. AKu hanyalah seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Bukhari dalam shahihnya 3445)

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa ‘alahissalam sebagai sekutu bagi Allah dalam peribadatan mereka. Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Ta’ala, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam telah memberi peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya : “Janganlah kalian jadikan kuburanku tempat berkumpul, bacalah shalawat atasku, sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku dimanapun kaum berada”. (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih (2042) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram : 125)

Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan beliau. Bahkan, ketika ada orang yang berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shalallahu’alahisasalam, mereka berkata : “Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engakau adalah orang terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami”, maka Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda kepada mereka : “Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan syaitan mengelincirkanmu.” (Shahih, disahhihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram 127, lihat takhrij beliau di dalamnya).

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampaui batas terhadap Nabi adalah bersumpah dengan anma beliau, karena adalah bentuk pengagungan yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, jikalau tidak bisa hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya 2679 dan 1646)

Cukuplah dengan hadist tentang larangan bersikap berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam menjadi dalil yang tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan hadist tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Keempat : Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggap bahwa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam merupakan ibadah yang sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini yang mereka jadikan dalil untuk membaca kitab tersebut pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bershalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu’alahi wa sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan shalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, ia akan terhalang dari melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan akhirat, karena :

1) Terkena doa Nabi Shallallahu’alahi wa sallam yaitu sabda beliau : “Sungguh celaka bagi seseorang yang disebutkan namaku disisnya, namun ia tidak  bershalawat atasku.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 2/254, At-Tirmidzi dalam Sunannya 3545 dan dishahihkanoleh al-Albani dal ‘Irwa : 6)

2) Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, beliau bersabda : “Orang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku disisinya, ia tidak bershalawat atasku”. (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya 3546, Ahmad dalam Musnadnya 1/201, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ‘Irwa : 5)

3) Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Ta’ala, karena meninggalkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Nabi bersabda : “Barangsiapa membaca shalawat atasku skali, maka Allah Ta’ala bershalawat atasku 10 kali”. (HR. Imam Muslim dalam Shahinya 284)

4) Tidak mendapatkan keutamaan shalawat dari Allah Ta’ala dan para malaikat. Allah Ta’ala berfirman : “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang teramg dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”(QS. Al Ahzab 33:34)

Bahkan membaca shalawat menyebabkan hati menjadi lembut, karena membaca shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi tentram dan damai sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dangan mengingat Allah Ta’ala. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.(QS. Ar-Ra’du 13:28). Tetapi dengan syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Ta’ala semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khurafat serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, sehingga bukan mendapat ketentraman di dunia dan pahala di akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah Ta’ala. Siksaan tersebut bukan karena mambaca shalawat, namun karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada malam peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam saja, yang jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap syariat.

Kelima : Penulis kitab Barzanji juga meyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya :


وَمَازَالَ نُوْرُالْمُسْطَفَى مُتَنَقِّلاًَ
مِنَ الطَّيِّبِ اْلأَتْقَي لِطَاهِرِأَرْدَانٍِ

“Nur musthafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni”

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj yang berkata : “Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memilik cahaya yang kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi sebelum Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam menimba ilmu dari cahaya tersebut”.

Demikian juga perkataan Ibnu Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi Adam ‘alahissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya kenabian Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam yaitu penutup para Nabi. (Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullah oleh Abdur Rauf Utsman (169-192))

Perlu diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya. Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan merek seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa ‘alahissalam, seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip Trinitas mereka. Bahkan mereka adalah kepunyaan Allah Ta’ala dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun, mereka menyembah Tuhan-Tuhan mereka dengan keyakinan bahwa Tuhan-Tuhan mereka itu mempu memberi syafaat dan menolong mereka. Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalah kitab Barzanji, semoga bermanfaat.

Disalin dari Majalah AS-SUNNAH Edisi 12 Th. XII Rabiul Awal 1430/Maret 2009 oleh Al-Ustadz Zainal Abidin, Lc

About these ads

79 comments on “Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam

  1. mantab bro … jadi teringat waktu di pondok pesantren dulu ikut maulidan,,, pas mahalul qiyam di bentak sama ustadnya karena rame becanda ama temen2 … harus khusyuk!!! kata si ustad… karena nabi hadir di tengah2 kita…

    semoga si ustad itu sekarang di beri petunjuk oleh Alloh, dan meninggalkan amalan2 bid’ahnya… amin

  2. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Maaf sebelumnya, saya hanya orang awam yang masih terus belajar dan belajar. Setau saya, kami melaksanakan maulidan sebagaimana orang tua kami, ulama2/ajengan2 di berbagai bangsa juga melaksanakannya. Dan pastinya mereka juga melaksanakan atas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadist. Jadi jangan merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain, atau berperan sebagai ulama. Kalau kita merasa ingin menjadi yang paling benar, jangan terlalu merasa benar. Karena tetap itu bukan merupakan kepastian, tapi keputusan. Kita semua ini awam/bodoh. Jangan sok tau dan mengargumentasikannya. Karena yang jadi permasalahan adalah kita ini bodoh, dan susah atau tidak ada yang mengungkapkan kebodohan itu.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


    maramis:

    Wa’alaykumussalam wa rohmatullohi wa barokaatuh

    Anda mengatakan: kami melaksanakan maulidan sebagaimana orang tua kami, ulama2/ajengan2 di berbagai bangsa juga melaksanakannya. Dan pastinya mereka juga melaksanakan atas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadist.

    Maramis: Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, silahkan dipastikan bahwa ulama-ulama dan anjengan-anjengan yang saudara maksud, telah diatas dasar keilmuan berdasar Qur’an dan Hadits, pembahasan tentang hukum maulid Nabi -dengan hujjah yang kuat- banyak tersebar di Internet, semisal link dibawah…..rasanya sudah cukup untuk mewakili
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html

    Anda mengatakan: Jadi jangan merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain, atau berperan sebagai ulama. Kalau kita merasa ingin menjadi yang paling benar, jangan terlalu merasa benar.

    Maramis: perkataan ”jangan merasa benar sendiri” adalah perkataan yang memang selalu didegung-dengungkan oleh orang yang memang merasa ”kalah” dalam mendatangkan sebuah hujjah. Dan secara tidak sadar mereka melupakan bahwa sesuatu itu dinilai benar dan salah jika telah ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah yang shahih. Dengan demikian, jika telah ”benar” ketika telah ditimbang dalam al-Quran dan as-Sunnah yang shahih, maka itulah kebenaran….dan itulah ”yang paling benar sendiri”. Dan perkataan ”menyalahkan orang lain” jika perkataan ini lebih diperhalus menjadi ”menasehati orang lain”…dan inilah yang namanya dakwah wahai saudaraku….jika memang sesuatu tersebut ketika telah ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah yang shahih adalah ”salah”….maka memang itu salah,dan sebagai wujud cinta kita kepada kaum muslimin adalah memperingatkannya an menasehatinya agar menjauh dari kesalahan tersebut. Adapun perkataan saudara ”berperan sebagai ulama”, apakah dari tulisan di atas terkesan demikian? Bukanlah kami berperan sebagai ulama…tetapi kami mendatangkan hujjah-hujjah al-Quran, hadits dan perkataan-perkataan ulama.

    Anda mengatakan: Karena tetap itu bukan merupakan kepastian, tapi keputusan. Kita semua ini awam/bodoh. Jangan sok tau dan mengargumentasikannya. Karena yang jadi permasalahan adalah kita ini bodoh, dan susah atau tidak ada yang mengungkapkan kebodohan itu.


    Maramis:
    Saudaraku yang semoga dirahmati Allah….perkataan Anda jika dicermati penuh dengan permainan kata-kata yang terkesan hikmah (saya khawatir jika ini adalah muncul dari ”ilmu kalam/ filsafat” yang banyak dicela oleh para ulama) , tetapi ini semua sebenarnya adalah sikap yang ”bingung” dalam meninti jalan beragama yang haq ini. Apakah jika telah datang dalil dari al-Quran dan as-Sunnah yang shahih serta telah dijelaskan penafsirannya oleh para shalafus sholih adalah suatu yang belum merupakan kepastian??? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita memang bodoh, tetapi apakah kita tidak bisa berilmu ??….tentu saja bisa, dan ilmu itu adalah firman Allah azza wa jalla, sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, dan perkataan sahabat radliyallahu’anhum. Dan dengan ilmu itulah kita melakukan suatu amalan dan menjauhi suatu larangan. Mari kita sibukkan diri dengan ilmu wahai saudaraku….semoga saya dan Anda dipahamkan Islam dengan pemahaman yang benar oleh Allah.

  3. Dah cape belum bahas maulidnya?jadi ane mau ngundang nh,untuk maulid nabi Muhammad saw.tgl 24 april di Tipar. maaf ya ane habisnya cinta bangat sama Rosul jadi kayanya ga bisa untuk menghilangkan tradisi maulid tuh.ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.Semoga yang meryakan maulid dapat pahala & Berkah dari ALLAH SWT amin……….

    maramis:
    Wa’alaykumussalam wa rohmatullohi wa barokaatuh

    Saudaraku yang semoga Allah selalu memberi hidayah kepada saya dan Anda, saya masih berharap dari Anda agar diberikan hidayah oleh Allah agar meninggalakan segala bentuk bid’ah termasuk perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (ini adalah sholawat kepada Nabi kita dan inilah salah satu bentuk kecintaan kita kepada beliau, tidak seperti yang didengung-dengungkan bahwa yang membid’ahkan maulidan atau sholawatan (Nariyah, Badr, dsb yg bid’ah) adalah yang tidak pernah bersholawat dan tidak cinta kepada Rasul, bahkan kami menganggap bahwa penyingkatan sholawat dengan SAW adalah salah satu bentuk kebakhilan/ kikir kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam sholawat dan salam kepadanya).

    Di atas Anda mengatakan ” habisnya cinta bangat sama Rosul”,


    Maramis:
    Untuk menjawab perkataan Anda ini saya nukilkan sebuah dialog dari sumber disini

    ””Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.):
    Syaikh: “Assalaamu ‘alaikum…”
    Dr. Said: “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh…”
    Syaikh: “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”
    Dr. Said: “Ya, benar.”
    Syaikh: “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul…!”
    (kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):
    Dr. Said: “Lho, mengapa bisa demikian?”
    Syaikh: “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
    Dr. Said: “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”
    Syaikh: “Bagaimana bisa begitu??”
    Dr. Said: “Anda bersedia diajak diskusi…?”
    Syaikh: “Ya, silakan saja..”
    Dr. Said: “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”
    Syaikh: “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).
    Dr. Said: “Baik… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak?”
    Syaikh: “Tentu beliau tahu akan hal ini!”
    Dr. Said: “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”
    (…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan “ya”, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )
    Syaikh: “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya…”
    Dr. Said: “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”
    (Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)
    Syaikh: “Maaf, tidak bisa…”
    Dr. Said: “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.”
    Syaikh: “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.”
    Dr. Said: “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat??”

    Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.

    Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.

    Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ’sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.””

    Wahai saudaraku…..ini semuanya adalah bentuk upaya menasehati untuk diri pribadi dan kaum muslimin, karena seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa Agama adalah nasehat. Seperti sabda beliau….

    ”Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” (HR. Muslim)

    Silahkan simak bagaimana sebenarnya cinta kepada Rasul itu pada link berikut:
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html

    Anda juga mengatakan :”ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.”

    Maramis: Wahai saudaraku semoga saya dan Anda diberi hidayah oleh Allah, biarlah memang saya adalah anak kemarin, tetapi tidaklah kami mengambil ilmu kecuali dari ulama-ulama dan ustadz-ustadz yang ilmunya luas…..bahasa arab, hadits, tafsir, ushul, dsb….lagipula seperti artikel diatas ustadz kami, Ust. Zainal Abidin, Lc hafidzahullah telah menyertainya dengan hujjah-hujjah dari al-Quran ataupun Hadits. Jika memang demikian, sekarang saya balik….bukankah Anda taunya bahwa maulid itu sunnah juga tau dari temen-temen ente sendiri????

    Anda juga mengatakan: ”Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.”

    Maramis: Saudaraku…..apakah Anda menulis perkataan diatas telah dipikir dahulu atau hanya dengan hawa nafsu belaka?????? Apakah yang anda maksud dengan ”temen” adalah temen-temen saya yang Islam bahkan ustadz-ustadz yang membid’ahkan maulid ???? Ini adalah sejelek-jeleknya tuduhan tanpa dilandasi bukti-bukti terlebih lagi ini merupakan tuduhan KAFIR….karena Yahudi adalah orang kafir!!. Mana mungkin kami melupakan nabinya sedangkan kami selalu menyibukkan diri dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, selalu menjadikan sabda-sabda beliau dalam berhujjah, dan membela dan menjaga syariat yang dibawa oleh beliau dari segala bentuk penyelewengan agama seperti kesyirikan dan bid’ah. Coba lihatlah konten lain blog ini….mana yang menunjukkan bahwa kami adalah ”orang-orang yang melupakan Nabinya”, jika memang ada khilaf demikian, laporkan kepada kami dan kami tidak segan-segan untuk menghapus postingan tersebut. Atau mungkin memang yang Anda maksud sebagai ”melupakan Nabinya” adalah hanya karena tidak merayakan maulid Nabi ?? Dan tentunya Anda tau sendiri bahwa Abu Bakar, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib dan para shahabat yang lain radliyallahu’anhum tidak pernah merayakan maulid Nabi sepeninggalnya beliau shollallahu’alaihi wa sallam, lalu apakah dikatakan mereka melupakan Nabinya?!!

    Anda mengatakan: ” Semoga yang meryakan maulid dapat pahala & Berkah dari ALLAH SWT amin”

    Maramis: Cukuplah sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban perkataan Anda di atas:

    “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” (HR. Muslim)

    Wahai saudaraku…..ini semuanya adalah bentuk upaya menasehati untuk diri pribadi dan kaum muslimin, karena seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa Agama adalah nasehat. Seperti sabda beliau….

    ”Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” (HR. Muslim)

    Ini adalah nasehat saudaraku…bukan paksaan, Allah berfirman:

    ”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (QS. Al-Ghaasyiyah: 21-22)

    Nabi kita saja yang berusaha mengajak paman beliau Abu Tholib untuk masuk Islam tidak bisa, Istri Nabi Nuh dan Luth ’alaihissalam juga tidak terbuka hatinya untuk masuk Islam sekalipun mereka adalah Istrinya Nabi. Benarlah firman Allah azza wa jalla:

    ”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qoshosh: 56)

    Saudaraku…..jika memang Anda masih suka merayakan maulid Nabi setelah apa yang sampai kepada Anda berupa hujjah seperti artikel di atas atau artikel lain selain di blog ini, maka renungkanlah firman Allah ta’ala:

    ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

    Akhirnya…Semoga saya dan Anda dipahamkan Islam dengan pemahaman yang benar oleh Allah. Barokallahufikum

  4. Alhamdulillah……………….. artikelnya bagus amat, sebetulnya sy belum bisa bhs Arab, trus mo tanya apakah betul dlm kitab Barjanji salah satu terjemahannya ada kalimat yg ditujukan kepd Nabi seperti ” wahai pelindung dari neraka sya’ir, wahai pelindung dan penolongku”, yang sy tau dan sering kita ucapkan dalam shalat adalah firman Allah yg berbunyi ” iyya kana budu wa iyya kanas tain ” ( kepadamu ya Allah aku menyembah dan kepadamu aku meminta pertolongan ) jadi disini jelas bahwa Allah adalah yang kita sembah dan Allah adalah penolong kita dunia dan akhirat, tak ada satupun yang bisa menolong kecuali dengan ijinNya. demikian Wassalam

  5. kenapa ya akh sudah jelas-jelas barzanji itu bid’ah tapi kenapa mereka merasa itu cara mencintai rasul….?

    maramis: Demikianlah pada kenyataannya…..Mereka hanya taqlid buta saja kepada kiyainya. Justru mereka malas melakukan amalan-amalan yang sudah JELAS sunnahnya. Karena tidaklah kita mengamalkan suatu bid’ah kecuali ada amalan sunnah yang kita tinggalkan.

  6. tiap2 perbuatan akan di pertanggungjawabkan di akherat kelak, apakah anda yakin dengan kebenaran tulisan anda ?!!

    maramis: memang tiap2 perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak….dan tulisan diatas demikianlah adanya, dalil-dalil sudah dijelaskan.

    • dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun ini terus yang dperbincangkan tiada akhir, inikah kemajuan islam yang disebut kalau berbeda itu rahmah? ane orang awam tapi yg bener menurut pandangan ane adalah coba kumpul ulama2 Muhammadiyah, NU, Salafy, apalgi nanamnya aliran ini saya gak begitu hapal kemdian coba bahas permasalahan tersebut ditingkat nasional bila perlu internasional dengan dalil-dalil mereka lalu hasilnya publikasikan pada kite2 nah itu baru ane terima. sekarang ini kan yg ngomong ente2 yg baru lepas sebagi santri jadi akibatnya hujat kiri hujat kanan dengan nada sesat seolah-olah orang pade masuk neraka semua, lalu ente pada masuk surga……….ya belum tentulah para santriiiiiiiiii …..paling ente yang nomong disini cuma berani diinternet aja coba sekali-kali enete ngomong di TV tuh baru namanya jago, biar kita tahu juga sampe dimana ilmu lo….apa sebatas kopi paste atau memang ilmu ente di dalam dada. saya lebih tertarik jika ente mengeluti ilmu pengetahuan biar orang islam disegani oarang kafir….misalnya giman muslim indonesia menemukan ilmu-ilmu yg menjadi acuan penelitian orang seduania kayak al-Farobi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain jadi itu saya rasa amat bermanfaat bagi umat islam dan manusia di muka bumi ini…..ok wassalam

  7. Banyak sekali komentar yang tidak suka mengenai hal ini ya akh, tetap semangat akhi.. Tetap menasehati dalam kebenaran dan kesabaran..

    Jazakallah khairan

    Amiin, InsyaAllah akh…doakan supaya tetap istiqomah

  8. komentar ini : “ente kan anak baru kemarin,yang taunya maulid itu bid’ah,juga dari temen ente sendiri.Mungkin aja temen ente Yahudi,jadi kita orang muslim di suruh melupakan Nabi nya.” wrote by Syukron.

    Komentar yg udh umum dan paling sering keluar dari org2 yg tidak suka diperingatkan akan bid’ah dan bahayanya. Wahai akhi dan yg lain yg sudah membaca artikel ini dan tidak suka dinasehati bid’ah, hendaknya kau jaga prasangkamu, jgnlah sembarangan menuduh saudaramu berkomplot dengan Yahudi!! Ingatlah! kau akan dimintai pertanggungjawaban atas tuduhanmu itu nanti! Klo memang tidak suka mbok ya tinggalkan saja artikelnya, gitu aja kok repot sih?

    Kepada pemilik blog : mohon maaf saya jadi emosi, karena saya paling tidak suka ada org yg ketika dinasehati malah menuduh dengan tuduhan yg sangat hina. Tetap semangat dalam menyerukan kebenaran akh, tetaplah sabar dan berlemah lembut, mereka kasar karena blm tau dan tidak punya hujjah untuk membantah.

    Salam ukhuwah.

    Maramis: Barokallahufik akhiy

  9. Subhanallah… terima kasih atas artikelnya dan juga penjelasan tambahan yang panjang lebar itu.. Insya Allah tetap semangat dalam berdakwah..

  10. Ping-balik: Barzanji, Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam « Learn something by Tomy gnt

  11. Ping-balik: CINTA MAULID CINTA NABIKAH? « Learn something by Tomy gnt

  12. Ping-balik: Barzanji, Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam « SMS/CALL: 081511542355 atau 087797670337 atau 08995720828 (WAHAI UMAT MANUSIA, PELUKLAH AGAMA ISLAM AGAR KALIAN SELAMAT DUNIA AKHERAT, SESUNGGUHNYA ISLAM ADALAH SATU-SATUN

  13. MA’AF … sudah tidak jaman lagi membahas ini. Mari kita bahas yang lebih penting, misalnya :
    1. Orang yang mengaku nabi setelah Rosululloh Muhammad SAW.
    2. Mengaku-ngaku sebagai Malaikat Jibril
    3. Ajaran yang tidak mewajibkan sholat, malah sholat bisa ditebus dengan uang.

    Karena jelas bertentangan dengan Qur’an, Hadits.

  14. Assalamu’alaikum..
    (Ana harap bgai yg baca komen ana,, baca dgn senyum)

    Bca2 kok jd agak trasa panas yah….

    Urusan maulid mmang sllu hangat klo di bahas & bs jd panas,,
    Ayo kita sm2 bljar biar dingin , ukhuwah terjaga.. Bwt yg gak terima tradisinya ditolak orang dgn hadits,yaa jgn mnuduh mreka tman yahudi,, mreka adalh saudara kita..!!
    Bukankah stiap muslim itu bersaudara??

    Nabi kita shalallohu ‘alaihi wa salam adlah manusia yg cinta dgn kdamaian wlopun ada prbedaan,,
    Nabi suka dgn prbuatan yg sdang2/wajar adanya yg tdk brlebihan(mksudnya sesuai porsinya/aturannya) tidak dikurangin aplgi ditmbah2in,,
    & Nabi mnyuruh kita utk mninggalkan perdebatan skalipun dlm posisi yg benar,,(bwt penulis smoga smakin bijak lg & sabar ) ^_^

    Bwt pecinta tradisi maulid smoga kita tdk mnjdikan tradisi sbagai ibadah & teruskan dakwah islam,,
    &smoga kita smua di mudahkan Allah subhanahu wa ta’ala dlm menggenggam erat Al-qur’an & Sunnah, & bnar2 hnya mnjadikan 2 wasiat itu sbagai pedoman,,agr slamat dunia akhirat….

    & Smoga hiti kita dijaga oleh Allah ta’ala,, agar snantiasa mencintai-Nya tanpa mnyekutukan-Nya dgn suatu apapun,, mencintai NabiNya dgn diringankan mengamalkan Sunnah2 beliau yg datang dari Beliau,, mencintai Al-qur’an & di mudahkan memahaminya dgn benar,, mencintai saudara seiman dgn senantiasa menjaga ukhwah islam….

    Salam ukhuwa smua saudaraku sekalian…
    Barokallohu fiikum….

  15. assalamu’alaikum Warah matullahi barakatuh

    buat seluruh saudara qu yang smoga kita selalu diberkahi ALLAH.

    ana gak begitu paham dgn hadist dan ilmu usulluddin….

    tp yang mau ana pertanyakan buat yang memuat artikel

    - klu memang maulid nabi itu (memperingatinya) tdk ada dalam ajaran agama kita, mengapa masih tetap ada tradisi itu?(knp mentri agaama tdk mengeluarkan fatwa untuk hal ini)
    - di tambah lagi dalam kelender sudah termuat untuk libur pada hari maulid nabi, bukankah itu berarti maulid ini memang harus di peringati krn dalam penyusunan hari libur atau memperingati hari besar dalam kelender bukankah melibatkan pemimpin kita(salah satunya mentri agama)…..

    demikian yang ana tanyaakan,
    kesempurnaan hanya milik ALLAH,,,,,,,

    wassalam

  16. BERFIKIR , MENCARI KEBENARAN, ITU LEBIH BAIK DARI PADA MENYALAHKAN, BIARKAN ” MEREKA ” MENGGUNAKAN AKAL FIKIRANNYA . ATAU RASA GENGSI YANG MEMBUAT MEREKA MENOLAK KEBENARAN…

    • assalamu alaikum…saudara ku….sebelum saya bahas bid’ah…klu albarjanji itu bid’ah,emang bid’ah ada berapa bagian sih pak pemilik blog…??emang anda slama ini tidak pernah melakukan pekerjaan bid’ah,anda naik mobil,sepeda motor,pa itu juga bukan bid’ah,pa nabi pernah naik sepeda motor….dan anda sekarang melakukan nya yang nabi kita tidak pernah melakukannya…seharusnya anda naiknya unta,bkn mobil biar g bid’ah…..contoh lagi al-qur’an,dijaman nabi emang al-qur’an bentuknya kaya sekarang…..????penyusunan seperti itu apa nama bkn bid’ah….masih perlu anda banyak belajar supaya tidak sedikit-sedikit bid’ah….tolong dijawab….wa alaika salam…

  17. Maaf ikut nimbrung masalah maulid nabi , Memang waktu mengaji masa kecil dulu maulid diisi pembacaan barzanji dan terasa ada syiar dalam hati bgm perjuangan nabi itu bisa dihayati. Cuma agak lain apa yg diungkapkan penulis, contoh; berdiri waktu “marhaban”menurut uztadz kami dulu memberi gambaran atau pemghayatan atas peristiwa kedatangan nabi setelah perjalanan hijrahnya yang jauh dan berat disambut para sahabat ansyar dan muhajirin yg sudah lebih dahulu tiba di madinah ,rasanya (bagi saya)bukan waktu marhaban itu sosok/ruh nabi datang ikut bersama merayakan maulidmya sendiri. Lalu dikiaskan bahwa rasa hormat itu ditunjukkan dgn “berdiri” dan bukan duduk seperti upacara bendera pd 17 Agustus kan tergantung niatnya kalau memang kita sepakat bahwa penghormatan itu dalam bentuk duduk yah nggak masalah rasanya semua peserta upacara tsb duduk dilapangan rumput yg mungkin becek.Jadi jangan berbelok menganggap bahwa hubungan upacara bendera tidak selevel dgn peringatan maulid. Penghayatan kedatangan nabi bersama sahabat Abubakar ke madina memang dielu elu kan dengan berdiri . Lalu satu lagi ,apa salah atau nggak ya masalah bid’ah yg terbaca oleh saya dlm pembicaraan 2 ulama ,Saudi dgn dan yg bukan, Saya pernah mendapat penjelasan dari seorang ulama{beken lho} bahwa “laku lampah” penghambaan diri manusia didunia ini dalam bentuk perbuatan semua dapat dikatagorikan”ibadah” apabila memenuhi syarat2 tertentu(benar nggak ya) pertama katanya “ibadatul muqoiyat” yaitu laku lampah yg sudah dituntun syarat rukunnya oleh Rasul seperti sholat,puasa,dll yg tidak boleh ditambah atau dikurangi karena akan merusak ibadah itu sendiri atau malah berdosa(bid”atul ibadah). Lalu yg kedua adalah ibadatul mutlak yaitu semua laku lampah penghambaan diri manusia (apa saja) yg paling tidak memenuhi 3(tiga) syarat yaitu 1) Niat 2).Pengetahuan( bahwa perbuatan itu tidak dilarang agama) 3).Tahsin(bahwa perbuatan itu memberikan manfaat dan bukan mudhorat baik bagi pelaku maupun lingkungannya). Jadi menurut saya peingatan maulid nabi Muhammad SAW itu rasanya statunnya bukan bidatul hasanah tapi justru “ibadah” kalau memang niat kita ingin menghayati perjuangan nabi panutan kita dan kita belum pernah baca ada hadist”hai manusia dilarang kamu rame2 memperingati hari kelahiranku(nabi)” dan apakah ada peningkatan kualitas iman dan kecintaan kita kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW? Yang terakhir ini ada saya lihat bgm ceriah dan semangatnya ichwatul muslimin kita setelah memperingati maulid nadi di pelosok2 dusun dan kampung yg pernah saya amati diwilayah Kalsel dan Palembang atau daerah lain yg ada tradisi memperingati maulid ini dgn pembacaan albarzanji dan marhabanan.Maaf mungkin saya salah mohon tanggapan saudaraku

    • ibadah itu hukumnya terlarang sampai ada perintahnya.
      sedangkan muamalah hukumnya boleh sampai ada larangannya.

      Jika maulid kita melakukannya unt mendekatkan diri kepada Allah, mengharap pahala, dan disertai ritual tertentu ini disebut apa? ibadah atau muamalah? maka tidak perlu adanya dalil larangan untuk mengatakan bahwa maulid atau perbuatan bid’ah lainnya itu dilarang.

      demikian….barokallahufiykum

  18. maulid Nabi dalam rangka memperbanyak bershalawat kepada nabi ,sudah ada sejak Abad ke 7 Masehi,dan hal yang memakjulkan kegiatan itu berrlangsung sejak Abad Ke-12 Jadi,hal yang sudah lebih dulu tidak bisa untuk di persalahkan,memang kegiatan itu Bid’ah,tetapi didalamnya sarat dengan kegiatan ibadah yang menghasilkan kebaikan (Hasanah)untuk bekal kita di akhirat ,adakah yang menjamin tanpa kita bermaulid nabi kita akan masuk syurga?tentu tidak inilah dasar “fastabiqul khairooot fi kastsi..rul hasana..t yazhibussayyia’..t” untuk memperoleh syafaat nabi,dalam sholatpun kita wajib bershalawat sampai kepada keluarganya,tanpa itu nol persen shalat kita di terima…. Disebutkan dalam kitab Ihya , Al-Qirthas dan Al-Maghnam Fil Wirdil A’dham karangan Asy-Syaikh Muhyiddin Ibn An-Nuhhas, sebuah hadist dari Abi Kahil yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda

    “Hai, Abu Kahil ! Ketahuilah bahwa barangsiapa bershalawat karena cinta dan rindu kepadaku sebanyak 3x dalam sehari, maka sudah pasti Allah akan mengampunkan dosa-dosanya pada hari itu dan malam itu”

    Diriwayatkan juga dari Abu Bakar bin Abu ‘Ashim dalam Kitab Ash-Shalah juga disebutkan dalam Kitab Syarhul Washiyah

    Rasulullah bersabda “Siapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi 10x dan petang 10x maka ia mendapat syafaatku di hari kiamat”

    “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.”

    (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)

    • Yang melarang perayaan maulid, juga memiliki keyakinan dan berusaha mengamalkan memperbanyak sholawat dan memiliki pula keyakinan tentang keutamaan bersholawat kepada Nabi. Dan dalil-dalil tentang keutamaan Sholawat tersebut sama sekali tidak memperkuat keabsahan peringatan maulid Nabi. Karena yang dikritisi tentang maulid bukanlah apa yang dibaca didalamnya, tetapi kaifiyyah-nya, yaitu salah satu cara/ritual dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan itu telah jelas tidak pernah ada riwayatkan bahwa amalan ini dilakukan oleh generasi terbaik ummat ini, yaitu para Sahabat, atau bahkan oleh imam yang 4.

      Yahdikumulloh

  19. Setiap jatuhnya tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam selalu merayakan datangnya maulid Nabi Muhammad SAW. demikian itu tidak lain merupakan sebuah warisan budaya atau peradaban Islam yang diperingati secara turun-temurun oleh umatnya. Jika dikaji dari catatan historis (tarekh), maulid telah dimulai sejak zaman Kekhalifahan Fatimiyah di bawah pimpinan keturunan dari Fatimah az-Zahrah binti Muhammad. Asal muasal pelaksanaan perayaan maulid ini dilaksanakan atas usulan panglima perang bernama Shalahuddin al-Ayyubi (1137M-1193 M), kepada khalifah agar mengadakan peringatan hari kelahiran (mulud) Nabi Muhammad SAW. Ending dari perinagatan itu adalah untuk mengembalikan semangat juang umat Islam dalam perjuangan membebaskan Masjid al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Zionis Yahudi. Yang kemudian, menghasilkan efek besar berupa semangat jihad umat Islam menggelora pada saat itu. Secara subtansial dapat dikatakan perayaan maulid nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengenal akan ketauladanan Nabi Muhammad SAW. atas risalah kerasulan untuk menyiarkan Dinul Islam.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam catatan sepanjang sejarah kehidupan, Nabi Muhammad SAW. adalah pemimipin besar yang sangat luar biasa dalam memberikan tauladan agung bagi umatnya. Dalam konteks ini maulid harus juga diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat Islam. Yaitu sebagai semangat baru (spirit) untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokratisasi seperti adanya sikap toleransi (tasamuh), transparansi (tabligh), anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan hidup, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme. Dalam tatanan sejarah sosiologis antropologis Islam, Nabi Muhammad SAW. dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi satu sama liannya.
    Dimensi pertama, dapat dilihat dan dipahami dari perspektif sosial-politik ke-Islaman (siasyah syariah), bahwa Nabi Muhammad SAW. di samping sebagai nabi dan rasul juga sebagai imamul ummah dari sini beliau sebagai sosok politikus ulung dan handal. Sosok individu beliau yang sangat identik sekali dengan sosok seorang pemimpin yang adil, egaliter, toleransi, humanis, serta non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial bangsa Arab masa itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera, damai dan tentram di bawah ampunan Rabb (baldatun thoibatun warabun ghaffur).
    Dimensi kedua, dapat dilihat dan dipahami dari perspektif teologis-religius, bahwa Nabi Muhammad SAW. sebagai sosok nabi sekaligus juga sebagai rasul akhiruzaman dalam tatanan konsep ke-Islaman. Hal ini beliau diposisikan sebagai sosok manusia sakral yang merupakan wakil Tuhan di dunia yang misi utamanya adalah bertugas membawa, menyampaikan, dan mengaplikasikan segala bentuk pesan suci (kudus) dari Tuhan kepada umat manusia secara universal.
    Nah dalam kesempatan ini rasanya sudah datang saatnya bagi umat Islam untuk kembali memulai (merekonstruksi) memahami arti tanggal 12 Rabiul Awal yang sering disebut maulid secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga tidak hanya memahami dan memperingatinya sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang sarat dengan serangkaian ritual-ritual sakralistik-simbolik ke-Islaman semata, namun jauh dari itu sesungguhnya menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin yang membawa spirit reformasi dan restorasi menuju perubahan dalam tataran kepemimpinan umumnya dan kepemipinan peradilan khususnya dalam rangka menuju peradilan yang agung. Karena bukan menjadi rahasia lagi bila saat ini bangsa ini sedang membutuhkan sosok pemimpin yang mampu merekonstruksikan suatu citra kepemimpinan dan masyarakat sosial yang ideal, egaliter, toleran, humanis dan nondiskriminatif, sebagaimana yang pernah dipraktekan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. untuk seluruh umat manusia (rahmatan linnas). Sehingga kontekstualisasi maulid tidak lagi dipahami dari perspektif ke-Islaman semata, melainkan juga harus dipahami dari berbagai perspektif dan dimensi yang menyangkut segala persoalan dalam kehidupan umat manusia, seperti aspek persoalan penegakkan hukum, politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, maupun agama……

    • Bisakah yang disampaikan itu tentang dalil bahwa para Sahabat, yaitu ummat Islam terbaik yang paling paham dengan agama yang lurus ini, yang melakukan perayaan maulid Nabi?

      Mohon ketika memberi feedback tentang maulid Nabi jangan memberikan penjelasan manfaat secara substansial atau sekedar warisan turun-temurun, karena seandainya kita menjelaskan manfaat substansial atau makna yang ada di dalam ibadah-ibadah lain yang telah sah datang dari Nabi dan para Sahabat telah cukup, bahkan mungkin tidak sanggup kita merealisasikan semuanya

      Adapun tentang Kekhalifahan Fathimiyyun, maka ini sebenarnya beragama syi’ah yang justri syi’ah inilah kuturunan yahudi.
      Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. (Al Bidayah Wan Nihayah 11/172). Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar 1/490. (Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hal. 43)


      Siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?

      Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”

      Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”

      Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”[14]

      Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.

      Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”[15]

      Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].”[16]

      ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.

      Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).”[17]

      Bagaimana mungkin Shalahuddin menghidupkan perayaan Maulid sedangkan beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun?! Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

      صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ

      “Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”[18]

      Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

      فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ

      “Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Beliau yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Di masa beliau, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[19][20] semakin terbesar luas.”

      Dari penjelasan ini, sangat mustahil jika kita katakan bahwa Shalahuddin Al Ayubi yang menjadi pelopor perayaan Maulid, padahal beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun. Sungguh, jika ada yang menyatakan bahwa Shalahuddin sebagai pelopor Maulid, maka ini sama saja memutar balikkan sejarah. Sejarah yang benar, Shalahuddin itu menumpas ‘Ubaidiyyun sebelum diadakan perang salib karena ‘Ubaidiyyun yang sebenarnya melemahkan kaum muslimin dengan maulid yang mereka ada-adakan. Namun inilah kenyataan sejarah yang direkayasa yang diputarbalik dan disebar di negeri ini. Hanya Allah yang beri taufik.

      Adapun tentang Siapakah sebenarnya Sholahudin al-Ayyubi? apakah beliau pro-maulid?

      berikut kami nukilkan artikal yang ditulis oleh Ust kami, Ust. Ahmad Sabiq, Lc

      Alkisah

      Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.

      Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?

      Kedustaan Kisah Ini

      Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.

      Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah. Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

      Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]

      Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?

      Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.

      Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]

      Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

      Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”

      Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”

      Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”

      Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

      Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]

      Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini. Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.

      Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.

      Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.

      Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.

      Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.

      Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”

      Adz Dzahabi berkata: “Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”

      Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

      Note:

      [1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hokum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”

      [2] Disarikan dari Siyar A’lamin Nubala’: 15/434 no.5301

      Sumber:

      Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 09 Thn.XIII, Robi’uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58

      referensi url: http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2929-benarkah-ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html
      http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/05/benarkah-sholahuddin-al-ayyubi-pencetus-perayaan-maulid-nabi/


      Yahdikalloh

  20. alhamdulilah sampai saat ini masih bisa bersholawat dan ikut merayakan maulidNabi di majlis majlis,,,,,Tiada hari tanpa bersholawat,,,,,,,,

  21. subhanalloh kalian berhujjah seuai dengan ilmu nyang kalian miliki, betapa luas ilmu Alloh, istigfar dan lakukan sesuai alqur’an dan hadist, semoga Alloh subhanahuwata’ala mengampuni kita semua, amin

  22. assalamu’alaikum.
    subhanallah.astagfirullah hujjah sana hujjah sini. memang syaithon halus bangat merusak hati dan pikiran saudaraku.saudaraku pecinta nabi terus bersholawatlah dan bermaulidlah, biarkan mereka yang bilang bid’ah.pake jurus surat al -kafirun ayat terakhir aja buat yang begitu.kan dah di bilang entar terbagi 73 golongan .mudah -mudahan kita satu golongan yang di ridhoi allah. ga pernah ada dosa bgi orang bersholawat ..belajarlah terus dari guru dan ulama, biarkan mereka bilang bid’ah.biasalah klo ga gtu kan mereka ga terkenal dan masuk tivi,ya tentunya ga dapat jatah dah…ceramah bid’ah amplop kaga bid’ah ,kita yang waras doain merka aja biar dapat taufik dan hidayah, karena saat ini kyai dan ulama lah yang bimbing kita.

  23. Sebelum saya berkomentar, sebaiknya penulis konfirmasi dulu kepada yg merayakan apakah saat merayakan telah berbuat syirik apa tidak. Jangan asal menuduh…hati2 klo berpendapat, ingat semua itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Soal beda pendapat soal biasa, tapi menuduh kelompok lain musyrik hendaknya ditimbang2 dlu. Bicara soal peringatan maulud nabi, saya pribadi pny pendapat. Bahwa amalan2 ibadah itu haram dikerjakan kecuali ada dallil yg memerintahkan. Dan amalan2 muamalah/duniawi boleh dikerjakan selama tidak ada dalil yg melarang. Mengenai maulud nabi merupakan amalan yg mengandung unsur amalan ibadah dan sekaligus muamalah. Unsur ibadah smua tau, bahwa tujuan pokok maulud adalah kecintaan terhadap Nabi, kemudian syiar dan ukhuwah islamiah. Bukankah amalan2 itu ada dalilnya. Sedangkan pengkhusan waktunya ataupun teknis peringatanya itu adalah amalan yg sifatnya muamalah, boleh dikerjakan selama tidak ada dalil yg melarang. Kalau memang peringatan maulud itu adalah haram, harusnya shalat tarawih berjamaah dan dilakukan terus~menerus selama bln ramadan adalah haram juga. Bukankah nabi pernah menolak untuk sholat tarawih berjamaah. Tapi kemudian sahabat Umar mengatakan, shalat tarawih berjamaah sebaik2 bidah. Akhirnya saya berkesimpulan, peringatan maulud boleh dan bahkan berpahala, selama tidak menganggap wajib.

  24. assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh,

    jazakallaahu khoiron katsiron ya akhi.
    semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dan kelancaran dalam jalan dakwah akhi.
    saya yakin banyak sekali orang2 yang melakukan suatu perbuatan karena dilandasi perbuatan bapak2nya ato nenek moyangnya yang sering kali belum diketahui kebenarannya.
    Semoga Allah senantiasa memberi pemahaman atas kebenaran-Nya bagi kita semua dan tidak mudah disesatkan oleh syaitan.

    Sekali lagi tetap semangat dalam berdakwah sebab dakwah dijalan Allah tidaklah mudah.
    Dan sering2 berbagi tulisan agar kami2 yang masih awam tentang islam jadi lebih mengerti dan memahami dan yang terpenting adalah mengetahui hujjah dan dalil atas perbuatan yang dilakukan agar kelak dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT.

    Sholawat itu bisa kapan saja! tidak harus mengkhususkan hari! salam ukhuwah dari jepang!

  25. singkat aja deh dari saya orang yg awan…yang pasti dalam peringatan Maulid Nabi MUHAMMAD SAW tidak ada joget2 minum2an keras atau pesta Narkoba ( tidak ada keburukan didalamnya )…jadi yg membid’ah kan sesuatu yg hasanah itu tidak bisa diterima akal sehat…karna dengan memperingati maulid tidak ada yg sampai keluar dari syariat apalagi sampai berganti syahadatnya…
    singkat kata malana ‘amaluna malakum ‘amalukum (klau ga salah kaya gtu dalam al-qur’annya) klw salah semoga Allah mengampuni kesalahan saya…

    • cukuplah disebut sebagai keburukan jika mengada-adakan suatu perayaan yang para Sahabat-pun tidak pernah merayakan maulid sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Baarokallahufiykum

      • maramis: cukuplah disebut sebagai keburukan jika mengada-adakan suatu perayaan yang para Sahabat-pun tidak pernah merayakan maulid sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

        berarti internetan, naik mobil, naik motor, pake hp itu buruk semua???

      • mas Irvan -yg semoga dirahmati Allah-…perlu dibedakan antara ‘ibadah dan non-’ibadah…bid’ah sendiri didefinisikan oleh Ulama sebagai berikut…

        عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
        Suatu istilah untuk suatu jalan dalam AGAMA yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

        Jadi “mengada-ada” yang dilarang adalah dalam ibadah, yaitu sebuah ritual, tatacara tertentu demi mendekatkan diri kepada Allah. Untuk masalah duniawi maka bukan termasuk dalam pembahasan bid’ah, bahkan Nabi pun pernah berfatwa kurang tepat kepada sahabatnya tentang urusan cocok tanam (kurma), maka Sahabatnya memberi ‘feed back’ kepada Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- kenapa hasilnya kurang memuaskan, maka beliau bersabda,

        أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
        “…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

        Maka mari kita berinovasi urusan dunia kita…tanpa berinovasi dalam urusan agama kita.

        Baarokallahufiykum

  26. Yang pasti orang2 yang demen maulid adalah orang2 demen dan cinta Rosul, yang haus akan Sholawat, Sampai2 langkahnya pun diiringi dg bacaan Sholawat.

    • Seperti yang Imam Asy-Syafi’i katakan… Al-Ilmu kobla Qoul wal Amal
      Berilmu sebelum berkata dan beramal…
      Telitilah.. bagaimanakah cara Imam Asy-Syafi’i bershalawat… Apakah dengan barjanji?

    • Bener brooo…boloku nek demen sholawat…nek sing ra demen kon maca Qur’an sing teliti tentang sholawat…Innalloha maalaikatahu yusolluna ngalannabi ya ayyuhalladzina amanu shollu ngalaihi wasallimu tasliima….

  27. Akeh kang apal, Qur”an haditse gampang ngafirke marang liyane…kafire dewe ga digate’ke yen esih kotor ati akale………

  28. Setelah aq baca artikel barjanji aq jadi geli kok masih ada ustad gaok dan goblog. Apalagi seperti aq yang awam
    Belajar anda baca sholawat dengan khikmat yakin anda akan terbuka mata hatinya nanti anda bisa masuk kealam malakut walau anda masih hidup didunia ini
    kamu akan tau bebentuk makhluk Alloh yang ghoib insya alloh
    seperti aq dulu waktu masih mengajara di muhammadiyah aq keras sekarang sudah tidak karena aq sekarang sudah dapat merasakan semua itu
    Ohya Alloh setiap memerintahkan makhluknya Dia tidak pernah ikut didalamnya kecuali Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

    • Jika dasar Anda adalah khikmat semata dalam ibadah, maka apa beda agama yang mulia ini dengan agama lainnya? saya yakin seorang nasrani, budha, hindu…semuanya ketika beribadah akan merasa ketenangan dan ketentraman hati…namun apakah ini menunjukkan bahwa agama mereka benar?

      Makhluk ghoib memang kita imani bahwa mereka ada, namun dengan kemampuan Anda mampu melihat sosok mereka apakah menandakan bahwa Anda benar? Atau jangan-jangan karena anda punya ajian/ jimat atau jin bawaan? Tidak perlu mengambil contoh Anda…kita bisa melihat banyak orang yang ngaku bisa melihat jin dari kalangan dukun dan paranormal.

      Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah

    • Mas/mba. Klu ngarasa bodo jangan pada komentar. Malah keliatan bodo bangetnya.
      Ustad sma ulama belajar itu ga sebentar model orang goblog yang pinternya ngehujat. Mereka belajar jga mengamalkan apa yang benar. Baru bisa baca aja udah pada sok tau.

  29. Ping-balik: MENGAGUNGKAN NABI MUHAMMAD SAW DENGAN BERSHALAWAT | GUS PRI

  30. Trus saya harus koprol dan bilang waw gitu.
    Saya tau islam dari ustad dan ulama yg suka baca albarjanji.
    Dan itu terjadi dr jamannya orang2 soleh yang sudah di akui kecerdasan, kepintaran, kesolehan dan ketakwaannya.
    Rasanya ga mungkin mereka ga tau isi barjanji. Merak itu jngankan berjanji baca Al Qur’an aja udah di luar kepala. Masa saya mau percaya sma kmu orang bodo yang baru belajar membaca. Yang ga jelas entah darimana. Mas klu mw ngomong mbo yao sinau sing bener sik. Hati2 sama omongan. Karna bisa memurtadkan diri sendiri….

  31. saya rasa,segala sesuatu yang menuntun terhadap kebaikan,mengapa harus dilarang?
    tinggal bagaimana niatnya saja..
    tidak maulidan tak kan kufur
    orang yang maulidan juga bukan kafir
    oh ya saya mau bertanya: kalau makan sampai kenyang bid’ah bukan?

    • Sebagaimana telah diketahui bahwa agar sebuah ibadah diterima Allah maka syaratnya tidak hanya ikhlas, namun juga harus ittiba’ (meneladani Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-)

      Allah berfirman: “Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“.(QS : Al Kahfi: 110).

      Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan, ““Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.” Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[Tafsir Ibnu Katsir].

      Orang yang melakukan kebid’ahan memang bukan kafir, karena kebid’ahan berbeda dengan kekufuran. Orang yang melakukan kebid’ahan disebut mubtadi’. Namun kebid’ahan juga bisa menyebabkan pelakunya terjatuh kepada kesyirikan karena bentuk kebid’ahannya tsb seperti yang dibahas dalam artikel ini.

      Makan sampai kenyang bukan bid’ah.

      Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah

  32. Smoga org ini mendapat hidayah. Dan kembali ke jln yg lurus
    آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَبَّلْ عَلَمِيّنْ.

    Kamii umat nabi. Kami cinta nabii. Dan kami beshalawat kpda nabii.

    • aammiin…semoga Anda pula mendapatkan hidayah Allah
      saya juga ummat Nabi, cinta Nabi, dan bersholawat kepada Nabi…dengan cara meneladaninya dan ittba’ kepadanya, bukan dengan kecintaan dan sholawat yang tidak ada sunnahnya dari beliau shallallahu’alaihi wa sallam, juga bukan kecintaan yang menjadikan beliau memiliki kedudukan yang sama dengan sang Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s