
pertolongan
Tatkala membaca surat al-Fatihah dalam suatu rakaat sholat wajib maupun sholat sunnah, barangkali diantara kita ada yang secara tidak sadar membaca suatu potongan ayat didalamnya yang terasa ringan di lisan namun mengandung makna yang agung. Yaitu, ”Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” yang artinya ”Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan”.
Ayat ini adalah salah satu ayat di dalam al-Quranul karim yang menunjukkan wajibnya isti’anah atau memohon pertolongan hanya kepada Allah, yaitu permohonan yang mengandung kerendahan diri yang sempurna dari hamba kepada Tuhannya, menyerahkan semua urusan kepada-Nya dan meyakini hanya Dia-lah yang bisa mencukupinya. Memohon pertolongan seperti ini tidak boleh diperuntukkan melainkan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Lalu bagaimana jika kita ingin meminta pertolongan kepada selain Dia atau sesama makluk ? Maka dalam hal ini telah dirinci oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, beliau merinci meminta pertolongan kepada sesama makhluk sebagai berikut,
1. Memohon pertolongan kepada makhluk yang dia mampu untuk menolong. Dan ini tergantung jenis pertolongan yang dia minta. Jika kebaikan maka hal tersebut diperbolehkan bagi yang meminta tolong dan dianjurkan bagi yang menolong, berdasarkan firman Allah azza wa jalla,
”Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (Al-Maidah:2)
Jika pertolongan tersebut dalam kemaksiatan maka keduanya mendapat dosa berdasarkan firman Allah,
”Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah: 2)
Apabila pertolongan tersebut terhadap sesuatu yang mubah maka dibolehkan bagi kedua belah pihak dan mungkin yang menolong mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan untuk orang lain, maka bagi yang dimintai pertolongan dianjurkan syara’ untuk menolong berdasarkan firman Allah,
”Berbuatlah kebaikan, sesungguhnya Allah senang terhadap orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah:195)
2. Mohon pertolongan kepada makhluk hidup yang ada dihadapannya, tetapi tidak mampu memberikan pertolongan. Ini jelas suatu kesia-siaan karena dia tidak memiliki kuasa, hal ini seperti halnya meminta tolong kepada orang yang lemah untuk mengangkat beban yang berat
3. Memohon pertolongan kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang hidup dalam masalah yang ghoib, dimana dia tidak mampu melakukannya. Ini jelas syirik karena hal tersebut terjadi dari keyakinan bahwa orang yang diminta pertolongan tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa di alam ini.
4. Menjadikan amal sholeh dan hal-hal yang dicintai Allah sebagai penolong. Hal seperti ini dianjurkan berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya,
”Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu” (Al-Baqarah:153)
Dan hal ini juga pernah dikisahkan bahwa ada tiga pemuda yang terkurung dalam gua sehingga mereka bisa keluar dalam gua tersebut dengan tawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka.
Referensi:
Syarah Utsuluts tsalatsah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin




subhanallah…
ALLAH memang sebaik-baik penolong
Posted by deadyrizky | Desember 12, 2008, 3:59 PMJazakumullah atas nasehatnya..
Posted by fachri | Desember 14, 2008, 11:43 PM“Cukuplah hanya Allah sebagai Penolong.” Tawassul kepada selain Allah adalah syirik.
Bagaimana dengan ada yang membaca sebelum berdo’a, “ila hadhiratin nabiy mustafi rasulillah” ? Kenapa tidak langsung “ila hadhiratillah” saja. Bukankah Allah tak seperti Raja yang zalim yang untuk menghadap dan memohon harus pakai perantara/tawassul ?
Posted by koranindependen | Januari 31, 2009, 6:52 AM