doa lailatul qodar

Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadar bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan


Ketika memasuki malam yang ke 17 di bulan Ramadhan sebagian kaum muslimin dan masjid-masjid mulai diadakan peringatan turunnya al-Quran pertama kali yang disebut malam peringatan Nuzulul Quran. Hal ini juga ‘terkesan’ dikuatkan dengan catatan kaki dalam “al-Quran dan Terjemahnya” surat adh-Dhukhan ayat 3.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.

[1369] malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Keyakinan ini bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’alaa dalam surat al-Qadr ayat pertama:

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].”

[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran.

Ayat diatas dengan jelas bahwa al-Quran diturunkan pada malam kemulian (Lailatul Qadar) dan juga Terlihat jelas bahwa catatan kaki untuk ayat di atas dalam “al-Quran dan Terjemahnya” juga menjelaskan bahwa malam permulaan turunnya al-Quran adalah pada malam tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, malam dimana al-Quran itu turun ? apakah benar pada 17 Ramadhan seperti yang selama ini oleh sebagian kaum muslimin Indonesia mempertingatinya ?

Nabi shallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada kita tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadar. Beliau pernah bersabda:

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Beliau shallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dengan demikian telah jelas bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka gugurlah keyakinan sebagian kaum muslimin yang menyatakan bahwa turunya al-Quran pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan.

Jika ada yang berargumen, “Tanggal 17 Ramadhan yang dimaksud adalah turunnya al-Quran ayat pertama ke dunia kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yaitu surat al-‘Alaq  ayat 1-5, sedangkan Lailatul qadar pada surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran seluruhnya dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia !!?”.

Maka jawabnya: Benar, bahwa turunnya al-Quran yaitu pada Lailatul qadar seperti yang tertuang dalam surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, dan setelah itu al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Seperti perkataan Ibnu Abbas radliyallahu’anhu dan yang lainnya ketika menafsirkan QS. Ad-Dukhon ayat 3:

“Allah menurunkan al-Quran sekaligus daru Lauh Mahfudz ke baitul izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Tetapi apakah ini menjadikan bahwa benar nya pendapat bahwa turunnya ayat pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah 17 Ramadhan ?? mari kita simak pembahasan dibawah ini.

Pendapat bagus syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury di Kitab Sirohnya tentang kapan awal permulaan wahyu

Dalam kitab siroh beliau, beliau menjelaskan bahwa memang ada perbedaan pendapat diantara pakar sejarah tentang kapan awal mula turunnya wahyu, yaitu turunnya surat Al-Alaq: 1-5. Beliau menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21. Beliau mengatakan:

“Kami menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21, sekalipun kami tidak melihat orang yang menguatkan pendapat ini. Sebab semua pakar biografi atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi Rasul pada hari senin, hal ini diperkuat oleh riwayat para imam hadits, dari Abu Qotadah radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Maka beliau menjawab,

“Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.”

Dalam lafdz lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun wahyu kepadaku”

Lihat shahih Muslim 1/368; Ahmad 5/299, Al-Baihaqi 4/286-300, Al-Hakim 2/602.

Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu adalah jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi jika kami membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qodar”, dengan riwayat Abu Qotadah, bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada hari senin, serta berdasarkan penelitian ilmiah tentang jatuhnya hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu, maka jelaslah bagi kami bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada malam tanggal 21 dari Bulan Ramadhan. (Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury Bab Di Bawah Naungan Nubuwah, hal. 58 pustaka al-Kautsar)

Maka jelaslah bahwa pendapat kapan al-Quran turun, baik al-Quran turun dari Baitul Izzah ke langit dunia atau dari langit dunia ke Rasulullah keduanya  saling melengkapi, dan bukan terjadi di 17 Ramadhan. Wallahu’alam.

Yang bisa dipetik dari pembahasan di atas

  1. Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar bukan pada malam yang dikenal dengan malam ‘Nuzulul Quran’ yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan.
  2. Lebih khusus lagi bahwa turunnya wahyu kepada Rasulullah shalallallahu’alaihi wa sallam yang pertama adalah 21 Ramadhan, seperti pendapat syaikh Shafiyyurahman.
  3. Peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan dengan dzikir tertentu dan bentuk pengajian khusus adalah bentuk peringatan yang tidak pernah ada landasannya dari al-Quran dan Hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, sehingga termasuk dalam perkara bid’ah.
  4. Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir yang ganjil dibulan Ramadhan.
  5. Peringatan lailatul qadar pada malam 27 Ramadhan (atau malam ganjil lainnya) dengan suatu pengajian khusus juga merupakan bid’ah karena Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memperingatinya melainkan beliau shallahu’alahi wa sallam menghidupkan malam tersebut dengan qiyamul lail dan memperbanyak doa.
  6. Himbauan kepada para penanggung jawab “al-Quran dan Terjemahnya” agar meluruskan catatan kaki atau takwil-takwil dari ayat suci al-Quran yang hanya merupakan anggapan-anggapan yang tidak berdalil atau bahkan tafsiran/takwil yang bathil.

Referensi

  • Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul Quran pada bulan Romadhon. Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8 1429/ 2008
  • Abu Musa al-Atsari. Lailatul Qadar Malam Kemulian. Majalah adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1 1429 H
  • Al-Quran dan Terjemahnya
  • Siroh Nabawiyah, oleh Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarokfury
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku]
About these ads

57 comments on “Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadar bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.
    Semoga Allah SWT menyertai para Ustadz Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menyampaikan yang Haq dari Al Qur’an & As Sunnah, sehingga kami umat Islam semakin menyadari kekhilafan yang kami lakukan selama ini. Semoga kami termasuk orang-orang yang diberikan Petunjuk yang Lurus dari Allah SWT. Amin.

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  2. Ping-balik: Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadr bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan « Ayo Belajar…..

  3. Terus, kira2 gimana ya cara meyakinkan warga bahwa nuzululul qur’an pada tanggal 17 ramadhan adalah tindakan yang salah??


    maramis:

    Caranya kita sampaikan dengan cara yang baik, kita nasehat mereka jika memang kedudukan kita dimasyarakat mampu untuk itu. Kita nasehati mereka semampu kita. Bila perlu dikuasai dahulu dalil-dalil atau alasan-alasan mengapa Nuzulul Quran itu pada malam Lailatul Qadar bukan pada malam 17 Ramadhan. Wallahu’alam

  4. Saya sependapat bahwa turunya qur’an pada malam lailatul qadar.

    Tapi saya masih belum mantap memahami lailatul qadar itu, karena pemahaman saya malam lailatul qadar ialah malam turunnya qur’an karena qur’an sudah turun apakah akan ada malam lailatul qur’an lagi?

    Terima kasih

    maramis: memang al-Quran turun pada malam lailatul qadar, tetapi insyaAllah kemulian malam tersebut dan keutamaannya akan tetap ada sampai hari kiamat. karena Nabi shallahu’alaihi wa sallam juga menekankan kepada kita untuk mencari malam tersebut padahal saat itu al-Quran sudah turun.

  5. Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!

    http://www.infogue.com

    http://agama.infogue.com/al_quran_turun_pada_malam_lailatul_qadr_bukan_malam_nuzulul_quran_17_ramadhan

  6. Ping-balik: Separuh Jalan Ramadhan; Menjelang Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan?? | Blog.MFajri.Net

  7. Alhamdulillah…. Sudah ada orang yang menulis tentang kontroversi turunnya Al-Qur’an. Ini menandakan ummat islam masih ada perhatian dan cinta pada agama. Namun demikian, akhi, kalau diijinkan saya ingin membagi sedikit yang saya tahu, kenapa di Indonesia ada istilah Nuzulul Qur’an.
    1. Al-qur’an BENAR diturunkan pada malam Lailatul Qodar, tapi juga benar pada 17 Ramadhan (menurut tarikh dan ahli tafsir). Penjelasannya :
    Malam lailatul qodar adalah malam dimana al-qur’an diturunkan ke “langit dunia” penuh 30 juz (Silakan dibaca di Kitab Tanbihul Ghofiliin), sedangkan 17 ramadhan adalah turunnya ayat/surat pertama dari Al-Qur’an ke dunia yang merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAAW.
    Jadi jelas, sebenarnya tidak ada kontroversi disini, semuanya benar.
    2. Peringatan Nuzulul Qur’an atau lailatul qodar dengan pengajian / sejenisnya, SAYA SETUJU BID’AH. Namun demikian Jumhur Ulama sependapat jika Bid’ah ada 2 macam :
    - Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang buruk) yang jika kita melakukannya akan mendapat dosa.
    - Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik), yaitu sekalipun tidak pernah dicontohkan rosululloh SAW secara tindakan/contoh, kita tetap mendapat pahala dari Allah SWT, dengan dasar bid’ah tersebut : membawa kebaikan/kemaslahatan, tidak merubah hukum Allah yang telah ditetapkan, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Contoh : Pengumpulan Al-Qur’an menjadi 1 mushaf/buku, tidak dicontohkan/disuruh Rosul. Sholat tarawih berjamaah tidak dicontohkan/disuruh Rosul, tetapi hal itu tidak berdosa, karena tidak bertentangan dengan hukum Allah.

    Demikian penjelasan saya, akhi. semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan, semata-mata itu kehilafan dan kerendahan pengetahuan dan ilmu saya.

    maramis: Jazakallah komentarnya……semoga dibalas oleh Allah.

    Anda mengatakan: sedangkan 17 ramadhan adalah turunnya ayat/surat pertama dari Al-Qur’an ke dunia yang merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAAW.

    Penetapan yang anda maksud seharusnya disertai dalil, karena munculnya angka ini tidak boleh di ada-ada kecuali memang ada dalilnya.

    Anda juga mengatakan: Namun demikian Jumhur Ulama sependapat jika Bid’ah ada 2 macam :
    - Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang buruk) yang jika kita melakukannya akan mendapat dosa.
    - Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik), yaitu sekalipun tidak pernah dicontohkan rosululloh SAW secara tindakan/contoh, kita tetap mendapat pahala dari Allah SWT, dengan dasar bid’ah tersebut : membawa kebaikan/kemaslahatan, tidak merubah hukum Allah yang telah ditetapkan, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Contoh : Pengumpulan Al-Qur’an menjadi 1 mushaf/buku, tidak dicontohkan/disuruh Rosul. Sholat tarawih berjamaah tidak dicontohkan/disuruh Rosul, tetapi hal itu tidak berdosa, karena tidak bertentangan dengan hukum Allah.

    Saya baru dengar jika pembagian bid’ah menjadi bid’ah sayyiah dan hasanah adalah pendapat jumhur ulama, jadi untuk masalah ini mohon dicek kembali. Yang saya ketahui memang ada pembagian seperti itu, namun pembagian tersebut tidak berdalil bahkan bertentangan dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallahu’alahi wa sallam,

    ”Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat“. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah ucapannya Rasulullah yang salah atau pendapat adanya bid’ah yang baik ini dan mendapatkan pahala yang salah??

    Yang ada adalah sunnah hasanah, yaitu menghidupkan sunnah yang berada dalam koridor Islam, sedangkan bid’ah bukan bagian dari Islam.

    “Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala yang melakukannya” (HR. Muslim)

    Dan yang dicontohkan oleh anda sebagai bidah hasanah justru merupakan sunnah hasanah dan sama sekali bukan bidah yang mengada-ada.

    Pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya. Dan ini adalah ijma’ para sahabat, dan ijma’ sahabat maksum.

    Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.

    • Surat Al-Qadr. Makkiyah/Turun di Mekkah Tujuan surat ini diturunkan adalah untuk:

      [1] mempertegas bahwa Al-Qur’an benar-benar turun dari Allah SWT,

      [2] menolak orang-orang yang ingkar atas turunnya surat dari Allah SWT,

      [3] mengangkat soal waktu diturunkannya Al-Qur’an dan turunnya para malaikat pada malam diturunkannya Al-Qur’an, [4] informasi bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an adalah lebih [dan paling] utama dibanding malam-malam atau hari-hari lainnya.

      (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada “malam kemuliaan”. Ini adalah informasi paling utama tentang malam turunnya Al-Qur’an. “Malam Kemuliaan” adalah dalam terjemah Indonesia, sedang dalam teks Arabnya adalah Lailatul Qadr, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, keagungan dan penuh barokah karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur’an. Ada perbedaan pandangan dari para mufassir dalam melihat dan mentakwilkan ayat ini. Dlamir atau kata ganti HU pada kalimat Innaa Anzalnaahu. Terjemahnya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkan-NYA”.

      Apa yang dimaksud dengan menurunkan disitu? Benarkah kata ganti NYA atau HU disitu kembali Al-Qur’an, atau maknanya sekedar “malam ayat Al-Qur’an kali pertama diturunkan”? Para jumhur Sunni melihat bahwasanya kata ganti NYA disitu kembali kepada Al-Qur’an. Jadi, maksudnya, pada malam itu, seluruh komponen Al-Qur’an dan planning-planing Tuhan ditetapkan, diletakkan di Lauh Mahfأ»dz [kitab yang terjaga], lalu diturunkan di sebuah tempat yang oleh para ulama disebut Bait al-’Izzah, Rumah Kemulyaan. Saya katakan ‘oleh para ulama’ di atas, karena saya tidak atau belum mendapatkan data tekstual dari terminology Bait Al-’Izzah. Dari penelusuran saya, istilah ini mentok di sahabat Abdullah bin Abbas RA.

      Dugaan saya, beliau mendapatkan rekaan ini dari ulama Yahudi. Tapi, ini sekedar dugaan saja, karena memang beliau paling banyak bergaul dengan ulama Yahudi dan Nasrani. Konsekuensi dari pendapat ini adalah pengertian bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk ayat-ayat dan surat-surat yang sampai pada kita itu, lalu -dalam rekaan para ulama-ulamanya-didistribusikan kepada Nabi SAW secara berangsur-angsur. Kejadian-kejadian pada masa Nabi SAW, lanjut dari konsekuensi ini, sudah dipotret oleh Allah SWT.

      Secara pribadi saya kurang sependapat dengan teori penurunan Al-Qur’an seperti hal di atas. Dan saya lebih setuju dengan pendapat ulama minoritas bahwa maksud Dlamir HU atau kata ganti NYA pada ayat pertama tersebut adalah “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) PERTAMA KALI pada “malam kemuliaan”. Pada malam itu, malam di mana Nabi SAW berkontemplasi di gua Hira, seperti diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah RA, Nabi SAW mendapatkan wahyu pertama kali. Suatu malam di bulan Ramadhan. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

      Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. [QS. Al-Baqarah, 185]. Demikian, semoga membantu. Wassalamualaikum war. wab.

    • bisa coba di kaji tafsir surat al anfal ayat 41, bisa di tafsir ibnu katsir atau yang lainya. demikian sedikit kutipan dari ibnu kathir :
      { وَمَا أَنزلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ } أي: في القسمة، وقوله: { يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } ينبه تعالى على نعمته (4) وإحسانه إلى خلقه بما فَرَق به بين الحق والباطل ببدر ويسمى “الفرقان”؛ لأن الله تعالى أعلى فيه كلمة الإيمان على كلمة الباطل، وأظهر دينه ونصر نبيه وحزبه.
      قال علي بن أبي طالب والعَوْفِي، عن ابن عباس
      { يَوْمَ الْفُرْقَانِ } يوم بدر، فَرَق الله فيه بين الحق والباطل. رواه الحاكم.
      وكذا قال مجاهد، ومِقْسَم وعبيد الله بن عبد الله، والضحاك، وقتادة، ومُقَاتل بن حيان، وغير واحد: أنه يوم بدر.
      وقال عبد الرزاق، عن مَعْمَر، عن الزهري، عن عُرْوَة بن الزبير في قوله: { يَوْمَ الْفُرْقَانِ } يوم
      فرق الله [فيه] (1) بين الحق والباطل، وهو يوم بدر، وهو أول مشهد شهده رسول الله صلى الله عليه وسلم. وكان رأس المشركين عتبة بن ربيعة، فالتقوا يوم الجمعة لتسعَ عشرةَ -أو: سبع عشرة -مضت من رمضان، وأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يومئذ ثلثمائة وبضعة عشر رجلا والمشركون ما بين الألف والتسعمائة.
      فهزم الله المشركين، وقتل منهم زيادة على السبعين، وأسر منهم مثل ذلك.
      وقد روى الحاكم في مستدركه، من حديث الأعمش، عن إبراهيم، عن الأسود، عن ابن مسعود، قال في ليلة القدر: تحروها لإحدى عشرة يبقين (2) فإن صبيحتها (3) يوم بدر. وقال: على شرطهما (4)
      وروي مثله عن عبد الله بن الزبير أيضًا، من حديث جعفر بن بُرْقَان، عن رجل، عنه.
      وقال ابن جرير: حدثنا ابن حميد، حدثنا يحيى بن واضح، حدثنا يحيى بن يعقوب أبو طالب، عن ابن عَوْن محمد بن عبيد الله الثقفي (5) عن أبي عبد الرحمن السلمي قال: قال الحسن بن علي: كانت ليلة “الفرقان يوم التقى الجمعان” لسبع عشرة من رمضان (6) إسناد جيد قوي.
      ورواه ابن مَرْدُوَيه، عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن حبيب، عن علي قال: كانت ليلة الفرقان، ليلة التقى الجمعان، في صبيحتها ليلة الجمعة لسبع عشر مضت من شهر رمضان.
      وهو الصحيح عند أهل المغازي والسير.
      وقال يزيد بن أبي حبيب إمام أهل الديار المصرية في زمانه: كان يوم بدر يوم الاثنين ولم يتابع على هذا، وقول الجمهور مقدم عليه، والله أعلم.

      mungkin ta’bir di ataslah yang dijadikan hujjah kalo al qur’an turun pada 17 ramadhan, wallaua’lamu

    • Assalamualaikum

      Akhy, masalah aqidah tentunya menjadi keyakinan masing2 pemegangnya maka dari itu tidak perlu menyeberangi/mengurusi keyakinan sesama yg berlainan aqidah, karena sy yakin anda yg membid’ahkan amalan2 belum tentu sanggup menjaga keistiqomahan amalan anda.

      Contoh:
      1. Jaman rosulullah melaksanakan umroh/haji datang menggunakan onta, berjalan kaki maupun berkuda, jika itu sunnah dan yg lain bid’ah maka sesat hukumnya menggunakan pesawat terbang, mobi dsb yg itu buatan orang kafir dengan alasan apapun.
      2. Selanjutnya hadits yg kalian baca itu adalah hasil Bid’ah, karena Rosulullah melarang para shohabat untuk menulis apa yg pernah beliau katakan, tetapi demi menjaga sunnah2 Nabi SAW untuk memberikan dasar syariat umat islam generasi berikutnya para sohabat2 dgn sabar menghafal dan menulis lalu membukukan kalimat2 atau perbuatan nabi menjadi satu mushaf agar bisa dibaca umat. Jika semua yg tidak dicontohkan Rosulullah itu Bid’ah yang sesat, maka anda yg melaksanakan ibadah menggunakan fasilitas buatan kafir maupun membaca buku2 hadits adalah kesesatan yang besar dan karena itu anda tidak akan mendapat Rahmat Allah, Na’udzubillah…

      Afwan, wassalamualaikum

  8. Ping-balik: Bermacam Bid’ah di Bulan Ramadhan « Thinking Out of The Box

  9. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sebenarnya banyak yg tidak mengerti apa yg difirmankan Allah yaitu malam lailatul qadar malam yang lebih baik dari seribu bulan.
    Saya ingin menjelaskannya disini :
    Sebelum rasulallah menerima wahyu pertama yaitu pertemuan beliau kepada jibril alahisalam,rasulallah telah dapat mimpi bahwa Allah menyuruh beliau melakukan ibadah setiap malam hari di gua Hira.
    Setelah penerimaan wahyu pertama wahyu yg berikutnya tidak kunjung muncul sehingga beberapa waktu tetapi beliau tetap melakukan ibadahnya di malam hari di gua Hira.
    Waktu datangnya wahyu berikutnya menjadi perselisihan di antara kaum muslimin/muslimat.Saya ambil sedikit kutipan dari suatu cerita:Terjadi perselisihan tentang berapa lama wahyu tersebut terhenti. Ada yang mengatakan tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu. Pendapat yang lebih kuat ialah apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa masa terhentinya wahyu tersebut selama enam bulan.

    Mari kita lihat lagi makna dari firman Allah diatas tersebut:
    Seribu bulan berarti seribu hari dan seribu malam berarti satu tahun mempunyai 365 hari/malam dan berarti seribu malam adalah 2 tahun dan 7 bulan wahyu terputus.
    Jadi wahyu (alquran) yg berikutnya yg ditunggu- tunggu beliau juga turun di malam hari di gua hira cuma malam ini(malam bulan ramadhan) adalah malam yg istimewa dibandingkan malam-malam ibadah beliau di gua hira yg lalu, karena mulai dari malam yg mulia ini beliau menerima wahyu berturut-turut.

    Semoga kita mendapat bimbingan dari Allah S.W.T

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sayyid

  10. saya jg tadinya tidak setuju bahwa turunnya AlQur’an pd malam nuzulul Qur”an, tp pas saya tanyakan ke ust bahwa ada rujukannya di Surat Al Anfal ayat 41
    walloh hu alam bissawab

    benar, jika dilihat dari footnote terjemah-nya memang demikian….ini adalah takwil dari ayat tersebut, namun yang perlu dipertanyakan dalil yang digunakan untuk menafsirkan ayat tersebut. Untuk hal ini alangkah baiknya kita langsung merujuk tafsiran ayat kepada tafsir al-Quran yang udah teruji kevalidan-nya seperti tafsir Ibnu Katsir, khususnya dalam menafsirkan ayat tersebut. Karena seperti yang dibahas pada artikel di atas ternyata ada salah takwil pada sebagian footnote al-Quran dan terjemahnya. Wallahua’lam

  11. Ping-balik: Al-Quran Turun Pada Malam Lailatul Qadr Bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  12. lebih baik menyoal orang islam yang tidak memedomani tidak belajar,tidak memahami al-qur’an,daripada sibuk menyoal kapan turunya al-qur’an.kapan islam ini muju kalau para ahli ilmunya saling merasa benar??
    Lana a’maluna walakum a’malukum. wallahu a’lam

    • bung Arif, kita tidak hanya sibuk melulu menyoal kapan turunnya al-qur’an (lihatlah topik2 apa aja yg telah diposting di blog ini)….ini hanyalah salah satu koreksi atas yg selama ini kita anggap dengan penjelasan di atas.
      Barokallahufik

  13. Ass. w.w.w.

    Ya akhi, afwan ane orang bodoh, cumen ane gak abis pikir, kenape gara gara hal IKHTILAF atau KHILAFIYAH seperti itu di ributin, …. malu ame umat KRISTEN, kite selalu di ketawain, antum orang pinter agama, harusnye kite bisa bersatu sesama MUSLIM, bukan untuk saling menyalahkan, …. lagian perbuatan kite yang kite anggap bener, ape di mata ALLAH SWT bener???? …………. Coba deh antum renungin. Belum tentu ape yang kite kerjain selama ini bener, dan belum tentu juga yang selama ini kite kerjain salah, … Afwan sekali lagi, … ane cumen ngasih komentar, selagi kite berkalimatkan ” LAA ILAHAILLALLAH MUHAMMADURROSULULLOH, sholat kite menghadap QIBLAT, tuhan kite sama yaitu ALLAH SWT, ayo kite kuatin UKHWUWAH ISLAMIYAH kite.

    Wassalamu’alaikum w w

    • akhuna Burhan…..ketika seorang muslim atau Ulama mengoreksi suatu keyakinan atau amalan yg tidak shahih maka bukan berarti mereka cari ribut. Justru inilah Nasehat, bukankah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sendiri mengatakan bahwa Agama adalah Nasehat ? Betul jika Anda mengatakan kita harus bersatu, dan betul jika Anda mengatakn kita tidak boleh menyalahkan, tetapi apakah dengan bersatu itu harus melakukan pembenaran?

      akhuna Burhan, kita memang tidak tahu apakah amalan kita diterima oleh Allah atau tidak, Dan amalan diterima oleh Allah jika memenuhi 2 syarat, jika benar tata caranya dan lurus niat-nya, dan kita harus memiliki rasa percaya diri bahwa suatu amalan yg kita lakukan adalah BENAR jika memang sesuai dengan petunjuk Nabi dalam riwayat2 yg ada, karena itulah salah satu syarat agar amalan diterima (mengikuti Nabi), sedangkan masalah niat…hati….maka mari bersama-sama kita luruskan niat kita disetiap amalan yg akan kita lakukan. Karena amalan yg benar saja tidak cukup jika niat rusak, dan niat aja pun tidak cukup jika tata cara salah. Dan Allah-lah yg memberi taufiq

      Barokallahufik

  14. Ustadz, sehubungan dgn turunnya Al-Qur’an ini, saya ingin tanyakan mengapa kisah nabi Ibrahim tdk dimuat dlm surat Ibrahim? Demikian juga kisah nabi Nuh dgn bahteranya, mengapa tdk dimuat dlm surat Nuh? Dan banyak lagi contoh2 seperti itu. Siapakah yg memberi nama2 surat Al-Qur’an itu? Terima kasih, wassalam.

  15. Ping-balik: Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadr bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan « NGAJI-MOD: MENITI ILMU SYAR'I MENGGAPAI RIDHO ILAHI

  16. Saya mencari kebenaran, tetapi saya buntu ketika ketika ada dua atau beberapa pendapat berbeda, satu pendapat diuraikan dengan berbagai dalilnya lalu menyimpulkan pendapatnya benar tanpa menyandingkan pendapat lain dan dalilnya. Kebenaran itu hanya Allah swt yang Maha Tahu, kita sebagai manusia hanya menelaah berdasarkan data dan fakta yang ada. Kesimpulan akhir adalah hak masing-masing individu, sehingga alangkah bijaknya sebelum menyimpulkan pendapatnya benar, ia menyandingkan pendapat lain dan dalilnya. Dengan begitu, umat dapat menyimpulkan sendiri mana yang menurutnya benar, bukan menyimpulkan karena diarahkan oleh satu pendapat yang belum tentu benar.

  17. Ping-balik: Al-Quran Turun Pada Malam Lailatul Qadr Bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan « - – ASSALAFIYYAH – -

  18. saya orang awam saya mau bertanya dan berpendapat soal bid’ah
    mungkin ada benarnya bid’ah itu ada 2
    kan tadi ada yang menjelaskan kalo ibadah yang tidak termasuk d contohkan nabi adalah bid’ah.
    pertanya anya sekarang kita kerja mencari nafkah untuk anak istri bukan kah termasuk ibadah,kalo kita kerja dengan mengendaai motor apa mobil termasuk bib’ah apa tidak,apa harus kita berangkat kerja naik unta atau jalan kaki.
    triamkasi mohon maaf bila salah kata

  19. kenapa rakyat indonesia memperingati nuzulul qur’an tanggal 17 romadhon?
    baca saja di buku Bung Karno dan Wacana Islam… so and nda usah bicara bid’ah dalam masalah ini !

  20. Ass Wr Wb
    Alchamdulillah hari gini msh ada yg peduli mengingatkan kita dg berdasarkan data dan fakta ilmiah, sehingga makin menambah kemantaban iman kita, karena Istimewanya Islam antaralian kita jg disuruh menggunakan Ilmu, akal dan Iman kita agar selamat dunia dan akherat…itu berarti kita harus cekcj dan receck terhadap berita jadi jangan langsung dipercaya mentah-mentah tanpa tahu dasarnya..bila ditanya….pokoknya kata guru saya begini, kata guru saya begitu..padahal guru juga manusia yg taklupt dari klaf dan salah….Tapi kalau sdh kata Rosululloh dari dalil yg sohih terlebih kata Allah tidak akan pernah salah…sudahlah jangan mengalihkan , atau membelokkan ke pokok persoalan pelurusan tentang peringatan Nuzul Qur’an dg bbg dalih spt wahabi, perpecahan umat dll..Marilah kita belajar menghargai pendapat yg memang merujuk pada Allah dan Rosulullah. karena tidak ada dicemari dengan pamrih apapun ..Dan Alcahmdulillah dari yg tadinya tidak tahu jadi tahu itu Insya Allah menjadi barokah dan pengetahuan yg takternilai harganya yang bermanfaat tidak saja bagi diri yg menyampaikan namun juga bagi umat Islam secara keseluruhan. Sy doakan semoga Allah membimbing kita semua untuk beribadah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosulullah dengan niat yg tulus ikhlas sehingga amal ibadah kita diterima dan doa kita diijabah.Dan juga semoga para ulama yg diberi kelebihan kecerdasan dan kepekaan ilmu akal dan imannya untuk senantiasa istiqomah mengemban misi suci amar ma’ruf nahi mungkar, dg landasan kasih-sayang selalu dalam lindungan Allah SWT.Amin Salam Hamba Allah

  21. Ping-balik: Al-Quran Turun Pada Malam Lailatul Qadr Bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan | abuabdurrohmanmanado

  22. Ping-balik: Kapan Nuzulul Qur’an ? | Secarik Motivasi Diri

  23. Meneliti peristiwa yg telah terjadi 1403 tahun silam (2013, tahun sekarang, dikurangi 610, tahun rasulullah menjadi nabi) memang sangat sulit. Yang masih mungkin adalah mengikuti catatan sejarah yg ditulis oleh para ilmuwan/sejarawan dari masa ke masa. Itupun masih berada dalam analisa, yg pasti melahirkan berbagai pendapat. Termasuk riwayat bahwa Alquran itu turun sekaligus ke sebuah tempat yg disebut lauh al mah-fudh, dari sana baru direlease kepada Rasulullah secara bertahap (tanziilan), itupun masih dalam analisa/kemungkinan. Meski Alquran menyebut “lauh Al muh-fudh” yang hanya sekali sebut saja (QS85:22) sama sekali tidak mengisaratkan sebagai tempat persinggahan Alquran sebagaiman yg dimaksud penganalisis.(termasuk sebutan baitul Makmur atau sidratul Muntaha). Mengikuti pemaparan Alquran, bila 5 ayat pertama surah Al ‘Alaq dinyatakan wahyu pertama yang diwahyukan di gua Hira, pada tahun 610 M, kemudian pada urutan wahyu ke 25 (QS 97, Al Qadr :ayat 1) bahwa malam turunnya Alquran itu disebut Malam Al Qadr yg memiliki nilai lebih bagus dari seribu bulan, atau urutan surah ke 64 (QS44, Ad Dukhan ayat 3) bahwa turunnya Alquran adalah pada malam penuh keberkahan, maka turunnya Alquran itu terjadi pada bulan Ramadhan, baru dinyatakan di Madinah bersamaan dg pernyataan perintah berpuasa. Dengan demikian kita boleh menganalisa, bahwa setelah kenabian atau kerasulan berjalan sekitar 15 tahun, barulah Rasulullah dan kaum muslimin mengetahui bahwa malam Qadr atau malam Keberkahan itu terjadi pada bulan Ramadhan. Artinya setelah agama berjalan sekitar 15 tahun itulah baru Ramadhan – sebagai satu-satunya bulan Qamariah yg disebut oleh Alquran – dinyatakan bulan yang penuh keberkahan. Andaikan Rasulullah sendiripun tidak dapat memastikan atau mengingat kapan persisinya wahyu (yg kemudian disebut surah) itu diturunkan, adalah hal yang sangat wajar atau masuk akal. Apa lagi dunia catat mencatat belum sepopuler zaman sekarang. Bahkan kodifikasi wahyu-wahyu itu (pemushafan) baru terpikirkan oleh Umar bin Khatab. Bahwa Lailatul Qadr itu jatuh pada tanggal-tanggal ganjil, riwayat tersebut sama sekali tidak dikuatkan oleh Alquran. Alquran merangkai dengan rinci langkah-langkah peristiwa perjalanan agama, yang dibatasi dengan periode Makkah-Madinah, sehingga para sahabat menyatakan bahwa proses kenabian berjalan selama sekitar 23 tahun. Namun setidaknya, dengan memahami adanya surah-surah Makiyah dan Madaniyah kemudian mengenali masing-masing urutannya (surah pertama hingga surah terakhir) adalah jalan untuk mengestimasi waktu-waktu turunnya setiap peristiwa agama. Sekaligus akan memperluas cakrawala berfikir tentang agama.

  24. Ping-balik: Benarkah Al-Qur’an Turun Pada 17 Ramadhan? | SETIYANTO'S BLOG - THE LOST BLOGGER PLACE

  25. 1. Mohon informasi turunnya al-Qur’an dari Lauh Mahfudh ke Baitul Izzah, yang merupakan imla’ dari malaikat Jibril kepada malaikat Safarah, sehingga dengan demikian terdapat al-Qur’an yang utuh 30 Juz di dua “tempat”, Lauh Mahfudh dan Baitul Izzah sebelum diturunkan secara bertahap pada Rasulullah Muhammad SAW.
    2. Saya setuju peringatan Nuzulul Qur’an sebagai bid’ah hasanah yang harus dilestarikan. Peringatan sejenis sangat penting diantaranya sebagai media pendidikan bagi generasi muslim. Bisa dibayangkan, jika peringatan Maulid Nabi, Isro’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, dan lainnya ditiadakan karena hanya alasan tidak pernah dilakukan Rasulullah, maka generasi muslim di akhir zaman akan kehilangan sekian banyak kekayaan dan warna Islam. Hal ini bahkan sangat berbahaya, satu warna dengan apa yang dilakukan sekte Wahhabi menggusur sekian ratus situs bersejarah di Haramain. Mereka rela menggusur demi membangun fasilitas hotel dan sejenisnya di mana sebagiannya merupakan modal asing. Astaghfirullah. Ini skenario besar menghancurkan Islam!

    • generasi muslim akan jaya jika mereka mempelajari al-Quran dan as-Sunnah, memahami kaidah2 tauhid sehingga memiliki akidah yang kokoh, dan memahami akar2 kesyirikan dan kekufuran sehingga bisa meninggalkannya….serta memahami kaidah2 sunnah sehingga memiliki manhaj yang shohih dan mempelajari akar2 bid’ah sehingga mampu menjauh darinya.

      Sungguh mengamalkan SELURUH sunnah yang telah jelas contohnya dari Nabi dan para sahabat kita mungkin tidak mampu…maka mengapa menambah-nambah lagi? Baarokallahufiykum

  26. Kitab suci Al Qur’an secara teologis merupakan kitab dari agama samawi terakhir yang diturunkan Allah SWT sebagai penyempurna kitab agama samawi sebelumnya yaitu zabur, taurat dan injil yang telah lebih dulu diturunkan. Bulan Ramadhan seperti sekarang ini sering diidentikkan dengan “bulan Alquran” karena pada bulan inilah Alquran diturunkan. Peristiwa turunnya Al Qur’an pertama kali ini dikenal dengan istilah Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan. Pertanyaannya, benarkah Al Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan?

    Menurut Al-Imam ‘Imaduddin Abi al-Fida’ bin Katsir Al-Quraysyi (774 H) dalam kitab Tafsir ibnu Katsir hal 529 juz 4 dan hal 216 juz 1, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Al-Qur’an mengalami tiga kali proses penurunan :

    1. Penurunan pertama terjadi secara jumlatan wahidatan (menyeluruh) diturunkan Allah SWT ke Lauhil Mahfudz yaitu suatu tempat di atas langit ke tujuh yang memiliki keluasan ma baina al-masyriqi wa al-maghrib (antara timur dan barat) dengan kepanjangan ma baina as-sama’ wa al-ardh (antara langit dan bumi). Inilah yang menjadi ruh sebuah ayat yang mengatakan Bal hua Qur’anun majid. Fi lahil al-mahfudh. “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfudh”. (QS. Al Buruj 85:21-22).

    2. Penurunan kedua, juga secara jumlatan wahidah dari Lauhil Mahfudh diturunkan ke sebuah tempat di Sama’i ad-dunya (langit dunia) yang bernama Baitul ‘Izza.

    3. Sedangkan penurunan ketiga, yaitu dari Baitul ‘Izza melalui malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan penurunannya yang pertama dan kedua, penurunann yang terakhir ini tidak secara jumlatan wahidah melainkan secara tadarruj (berangsur-angsur) atau manajjaman bittanjih (sedikit demi sedikit) selama kurang lebih 23 tahun. Proses penurunannya juga disesuaikan dengan kebutuhan seperti jika ada persoalan dan nabi tidak bisa menjawab, baru kemudian turun ayat. Jadi ada asbab (kebutuhan) terlebih dahulu baru kemudian turun ayat.

    Proses penurunan ketiga inilah yang kemudian dikenal sebagai “Nuzulul Qur’an” yakni saat wahyu Al Qur’an pertama kali (lima ayat surah Al ‘Alaq) diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di gua Hira.

    Lalu benarkah Nuzulul Qur’an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan sebagaimana selama ini selalu diperingati secara rutin di tempat kita?

    Dalam QS. Al Anfaal 8:41 Allah SWT berfirman: “…..jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari ‘Furqaan’ yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Pengertian furqaan disini adalah pemisah antara yang hak dan yang batil. Sedangkan yang dimaksud dengan hari Al Furqaan adalah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Quranul Kariem pada malam 17 Ramadhan. Tapi, dalam banyak tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud “ma anzalna” dalam ayat itu bukan penurunan pertama al-Qur’an, namun penurunan ayat-ayat yang terkait dengan ghanimah badar (rampasan perang badar).

    Selain itu ayat di atas masih ada beberapa ayat lagi dalam Al Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang Nuzulul Qur’an ini diantaranya :

    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…..” (QS. Al Baqarah 2:185)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadr 97:1)

    “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi…..” (QS. Ad Dukhaan 44:3)

    Aisyah ra berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

    Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa, tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.” (HR. Bukhari)

    Sembilan hari yang masih tersisa, maksudnya tanggal dua puluh satu, tujuh hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh tiga, dan lima hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh lima.

    Dengan ketiga ayat dan dua hadits diatas kita hanya mendapatkan informasi secara umum saja bahwa waktu turunnya Al Qur’an yaitu terjadi pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan lailatul qadar yaitu malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran. Saya pribadi termasuk yang meyakini bahwa Nuzulul Qur’an tidak terjadi pada tanggal 17 Ramadhan karena pada tanggal tersebut belum termasuk hari-hari lailatul qadar padahal dalam Qur’an dan Hadits secara tegas menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar.

    Memang masih terjadi perdebatan luas di kalangan ulama mengenai tanggal tepatnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya “Fath al-Bari” menuliskan bahwa terdapat lebih dari 40 pendapat ulama seputar kapan Nuzulul Qur’an tersebut berlangsung. Ada yang mengatakan tanggal 17 Ramadhan. Tapi ada pula yang berpendapat tanggal 21, 23, 24 dan seterusnya. Perbedaan seperti ini terjadi karena memang tidak ada satu ayatpun dalam Al Qur’an maupun satu hadits-pun yang menjelaskan tentang kapan tepatnya tanggal diturunkannya Al Qur’an. Semua pendapat yang dikemukakan oleh ulama adalah murni hasil ijtihad yang rata-rata merujuk pada pernyataan para sahabat yang juga hanya ijtihad.

  27. Subhanallah,
    saya salut dengan ulama salaf, jika mereka berpendapat maka mereka mengatakan mungkin pendapat anda benar dan pendapat saya salah.

  28. Ping-balik: Kepanjangan Esq | Caramanfaat.net

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s