//
Muslimah

Mintalah Yang Terbaik


images4.jpeg
“Poligami, Anugerah yang Terdzalimi”, buku karya Abu Umar Basyier itu baru saja kubaca. Menarik juga isinya, mengupas tuntas tentang seluk beluk poligami, disertai beberapa ilustrasi yang terjadi dalam kehidupannya. Pilihan katanya yang mudah dicerna dan tidak bertele-tele, telah membuat buku ini tidak membosankan untuk dibaca.

Dulu, sebagai istri aku begitu khawatir bila dimadu. Berbagi suami, tidakkah itu akan terasa menyiksa? Lalu akupun berdoa agar itu tidak terjadi padaku. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan ummahat, istri penulis buku itu. Dengan polos, kutanyakan padanya,”Um, bolehkah seorang istri berdo’a agar suaminya tidak ta’addud?” Ia pun tersenyum, lalu menjawab,”Pada dasarnya, semua wanita mungkin akan menolak untuk dita’addud. Tapi, ta’addud adalah bagian dari syariat yang tidak boleh bagi kita untuk menolaknya. Kalau berdo’a agar suami tidak ta’addud, bagaimana bila Allah nanti menakdirkan yang sebaliknya? Malah tidak siapkan jadinya. Jadi kalau berdo’a, mintalah yang terbaik.’Ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi kami’. Kalau yang terbaik buat kalian adalah berdua sampai mati ya insyaAllah itu yang akan Dia kasih”.
“Ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi kami.” Kalimat itu senantiasa terngiang-ngiang dalam benakku. Sungguh do’a yang sederhana tapi penuh makna. Dalam do’a itu, terkandung kepasrahan dan ketawakkalan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ya Allah, ampunilah aku, yang selama ini masih takut dan khawatir atas garis takdirku. Sejak saat itu, kuubah do’aku yang penuh kekhawatiran, dengan do’a yang penuh kepasrahan dan ketawakkalan.
Kembali pada buku itu. Setidaknya, ada dua point penting yang terekam dalam otakku, dari buku itu. Pertama, bahwa ternyata, poligami itu adalah kekangan bagi lelaki, untuk senantiasan berlaku adil. Tidak boleh ia memperlakukan istri sekehendak hatinya. Tidak boleh ia berlama-lama bersama istri muda, dengan mengabaikan istri tuanya. Ia wajib memberikan nafkah, perlindungan, dan pemeliharaan kepada semua istrinya, dengan adil. Ini sesuai yang dikatakan istri penulis buku itu. “Kelihatannya saja poligami itu enak bagi lelaki. Tapi, sesungguhnya, tanggung jawab seorang laki-laki yang berpoligami itu sangat berat. Bila ia tidak bisa adil, maka ia akan mempertanggungjawabkannya di akhirat. Di dunia, bisa saja ia berbuat sekehendaknya. Tapi diakhirat, semua tetap ada balasannya.”

Kedua, dalam buku itu, ada anjuran bagi istri pertama, untuk mengubah rasa duka menjadi suka dan gembira, bila suaminya ta’addud. Mengapa? Karena suaminya telah melakukkan syariat yang mulia. Kurasa, sepanjang sang suami bisa berlaku adil, sepanjang istri tua tidak kehilangan cinta dan kasih sayang dari suaminya, bisa saja mengubah duka menjadi suka, meski mungkin perlu waktu. Sebaliknya, bila suami tidak bisa adil, selalu menomorsatukan istri keduanya, maka duka pun akan senantiasa menggelayut dalam hati istri pertama. Doaku semoga bila abahnya anak-anak sudah beristri lagi,”maduku” nanti diperlakukan pula dengan adil dan akhirnya tambah sayang kepadaku. Doaku berikutnya, semoga dengan poligami, kebahagiaan itu takkan pergi…(ummu naziha)

Rubrik Kolomummi, Majalah Nikah edisi April 2007, hal. 75

Tentang maramis setiawan

>> Diperbolehkan mengopy, mendownload, dan atau menyebarkan konten/artikel dari blog ini, dengan catatan TANPA dikomersilkan dan dengan mencantumkan sumber. >> Komentar yang masuk berupa salam, doa, atau sekedar uneg-uneg yang tidak membutuhkan jawaban insyaAllah akan secepatnya di approve. >> Komentar yang membutuhkan jawaban (khususnya jawaban panjang) atau yang berupa bantahan (syubhat) atas tulisan yang terkait dalam blog ini, maka dengan mohon maaf akan melalui moderasi terlebih dahulu yang lamanya tergantung beratnya pertanyaan atau syubhat tersebut. >> Jika pertanyaan atau bantahan/syubhat memang terlalu lama untuk dimoderasi atau karena "saya belum tahu", saya menyarankan untuk menanyakannya kepada ikhwah atau assatidz Ahlussunnah/ Salafy lain yang lebih tahu.

Diskusi

3 Tanggapan to “Mintalah Yang Terbaik”

  1. jika ibu-ibu tidak setuju suaminya menikah lagi maka itu urusan ibu-ibu. Tapi jika ibu-ibu tidak setuju atas apa yg Allah tetapkan maka itu adalah kekufuran.
    dulu iblis berkata aku terbuat dari api dan Adam dari tanah, aku lebih mulia dari Adam. Aku tidak mau sujud kepadanya.
    iblis tidak setuju dengan apa yg Allah tetapkan maka diapun diusir dari syurga.

    Posted by rochmat | Mei 1, 2007, 7:54 AM
  2. semoga Allah memberikan yang terbaik juga untukqu,ketika kelak aq menemukan pasangan hidupqu.Aamiin..(tapi kyaknya masih lama,soalnya ana masih sekolah :-) ,wallahu a’lam)

    Posted by ukhti nita | Mei 12, 2007, 4:06 AM
  3. Poligami adalah sebuah tantangan bagi para istri untuk memilih: kebahagiaan dunia yang hanya sesaat ataukah kenikmatan akhirat yang kekal?
    Memang, itu tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa diupayakan right? untuk memiliki keduanya, bahagia di dunia+akhirat.
    Hope Allah will give us all the best.
    Special untuk para calon ummahat: upayakanlah syurga di rumah2 antunna. Prepare yourself, start right now. ;-)

    Posted by citra | Mei 23, 2007, 1:55 AM

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Video Ceramah: Pelebur Dosa, Ust. Abdullah Zain

Dengerin Radio Islami yuk

Download: ;stream.nsv

Arsip Terbaru

Daftar Isi

Mau SMS Dakwah Gratis ?

Berlangganan

Polling

Mohon Anda mengisi polling ini sebelum meninggalkan blog ini. Jazakumullah Khoiron

Jumlah Pengunjung

  • 1,053,397 Pengunjung
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.