Sinetron Religi antara Tontonan dan Tuntunan (1)


imagesf.jpeg

  Oleh: Ust. Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.

Teknologi Media Antara Nikmat Materi dan Bencana
Di awal abad ke-21 berbagai macam kemajuan peradaban dan teknologi telah dicapai oleh manusia baik dalam bidang pendidikan, pemikiran, industri, pertanian, ekonomi, politik, sosial budaya, militer, transportasi, komunikasi, maupun hubungan diplomatik antar bangsa serta yang lainnya. Maka tidak bisa dipungkiri berbagai macam lembaga pendidikan dan lembaga pengkajian serta penelitian mengundang para cendekiawan dan pakar dari pelosok daerah di seluruh penjuru bumi untuk melakukan kajian empiris dan penelitian ilmiah dalam rangka pengembangan dalam seluruh bidang kehidupan. Para petualang ekonomi dan pasar modal berebut investasi dan peluang pasar untuk mengeruk kekayaan, memperkuat permodalan dan mengais keuntungan. Begitu juga para birokrat dan politikuspun tidak tinggal diam. Mereka rame-rame ambil peran di masing-masing posisinya, ikut nimbrung dalam acara Kenduri Bisnis dan Pesta Sunatan Anggaran dalam rangka menikmati hasil keuntungan bisnis dan pengerukan kekayaan hasil bumi dan tambang milik negara.

Berbagai macam sarana komunikasi dan transportasi diciptakan untuk mempermudah segala urusan kehidupan sehingga dunia laksana satu daratan yang bisa dijangkau dengan mudah dalam waktu sekejap, tanpa menyisakan letih dan lelah. Padahal enam puluh tahun yang lalu sarana komunikasi dan transportasi masih sangat minim. Segala sesuatu hanya bisa ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Namun saat ini semuanya serba instan; hubungan jarak jauh bisa dilakukan tanpa jeda waktu, karena transportasi semakin canggih dan teknologi semakin mutakhir. Saudaraku kaum muslimin, perkembangan yang sangat pesat ini kalau tidak diwaspadai bisa menimbulkan malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat bagaikan benalu yang tumbuh di tangkai gandum atau laksana rumput yang bagus tumbuh ditangkai gandum atau laksana rumput yang bagus tumbuh di atas kotoran kerbau sehingga bisa memberi pengaruh buruk bagi kehidupan dan peradaban manusia, baik pada tingkat pribadi maupun masyarakat.

Liberalisasi Budaya dan Agama Lewat Media

Diantara beberapa contoh dampak negatif media elektronik adalah munculnya liberalisasi agama, pluralisme agama, pluralisme peradaban, pembauran, budaya, kebebasan berfikir, kebebasan berkreasi dan berekspresi dalam dunia media, serta timbulnya gaya hidup free sex yang telah mewarnai corak kehidupan Bangsa Barat dan Eropa. Merekapun mengusung budaya rusak dan kebiasaan buruk tersebut ke tengah keluarga dan kehidupan masyarakat Muslim di seluruh belahan dunia. Bersama dengan kekuatan kristenisasi dan imperialisme mereka menebarkan dan menularkan virus kerusakan moral dan akhlak serta pendangkalan aqidah.

“……Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” QS Al-Baqarah 217

Tanpa disadari, kaum muslimin telah merasakan secara langsung radiasi kerusakan media tersebut. Ditambah lagi dengan buaian setan yang terus menggoda agar mereka jauh dari jalan lurus dan melenceng dari petunjuk, sehingga secara perlahan mereka keluar dari nilai agama dan ajaran Allah Subhanahu wa ta’ala, dan memenuhi segala panggilan syahwat yang mengundang murka dan kemarahan Allah Subhanahu wa ta’ala . Akhirnya, hanya kesengsaraan dan kepahitan abadi yang mereka rasakan –jika tidak bertaubat-, na’udzubillah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS maryam:59)

Diantara dampak negatif akibat dari kemajuan teknologi dan sains adalah banyaknya kaum musimin yang bodoh dan dibodohkan terhadap perbedaan dan kesamaan dengan kaum nashrani dalam satu sisi dan kurang begitu sadar terhadap gelombang pemikiran sesat, dan gaya hidup hedonisme dalam sisi lain, hingga sekelompok mereka mencoba mengadopsi sistem dan ideologi kuffar dalam semua bidang: sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, hukum dan pertahanan keamanan, bahkan sebagian mereka dengan tegas menolak atau alergi dengan segala yang berbau Islam dan nilai moral karena terpengaruh dan silau oleh kemajuan teknologi dan keunggulan materi para penentang Islam yang hanya menjanjikan “kesuksesan” sementara.

Media Penebar Maksiat dan Pengusung Laknat
Saudaraku kaum muslimin, berhati-hatilah kalian terhadap bencana televisi yang telah memasuki setiap rumah, kecuali rumah orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka itu sangat sedikit. Televisi lebih berbahaya dari pada perampok yang mungkin hanya menjarah harta dan melukai jiwa kita, sementara televisi disamping menguras harta benda yang lebih kejam lagi acara televisi merampok kehormatan dan merampas kesucian serta menghancurkan moral keluarga.

Namun hanya sedikit di antara kita yang sadar akan dampak dan bahaya yang ditimbulkan televisi, sehingga tanpa merasa berdosa mereka menghabiskan waktunya di depan televisi.

Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Dua kenikmatan banyak manusia yang tertipu di dalamnya, kesehatan dan kesempatan”. (HR. Bukhari dalam Kitabur Riqq )6412), At-Tirmidzi dalam Kitab Zuhud (2304) dan Ibnu majah dalam Kitab Zuhud (4170))
Seorang muslim yang mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, membesarkan dan mencintai-Nya akan terpanggil nuraninya untuk membasmi kemungkaran dan menghalau kemaksiatan apalagi sudah masuk ke dalam ruangan bilik rumahnya melalui saluran televisi. Bagaimana tidak seorang muttaqin telah berikrar bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak untuk ditaati tidak boleh didurhakai, wajib diingat tidak boleh dilupakan dan Dzat yang pantas sebagai tempat bersyukur dan dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah dan akan dimintai pertanggungjawabannya mengenai segala apa yang dilihat dan didengarnya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Israa’:36)

Saudaraku muslimin kalian jangan tergiur dengan acara-acara televisi yang bernuansa agamis ternyata hampir 99% menyeret anda ke dalam pelanggaran aqidah dan moral, karena tayangan-tayangan yang disuguhkan kepada pemirsa sekalipun bermanfaat seperti program agama, keilmuan dan pendidikan tidak pernah lepas dari selingan-selingan yang berupa musik, nyanyian, tari-tarian dan para wanita yang mengumbar aurat dan berhias secara berlebihan atau perkara lain yang diharamkan oleh Islam
Dalam sebuah hadist, Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Telah ditetapkan atas setiap anak Adam bagian dari zina dan pasti mendapati, tidak bias mengelak darinya, kedua mata zinanya memandang, kedua telinga ziananya mendengar, lisan zinanya berbicara, tangan zinanya memukul, kaki zinanya berjalan, dan hati zinanya mengkhayal dan bernangan-angan, maka kemaluanlah yang mengiyakan atau mendustakannya”. (HR. Bukhari dalam Kitabul Isti’dzan (6343), Muslim dalam Kitabul qadar (6612) dan Abu Dawaud dalam Kitab An-Nikah (2152))

Bersambung InsyaAllah…………..

Qiblati edisi 06 tahun II hal. 60

About these ads

2 comments on “Sinetron Religi antara Tontonan dan Tuntunan (1)

  1. ya ya ya bagus bagus bagus isinya bagus, karena saya memang setuju dengan sinetron-sinetron di indonesia yang rata-rata menampilkan acara yang kurang baik dan bertentangan dengan agama islam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s