Al-Ma’tsurat dan Mengangkat Tangan dalam Berdoa


images2.jpeg

Pertanyaan:

Assalamualaikum waramatullohi wa barakaatuh.

Ustadz yang dirahmati Allah SWT, saya ingin bertanya :

  1. Apa hukumnya membaca Al-ma’tsurat?
  2. Kapan dimulainya kaum muslimin membaca doa pagi dan petang ? tolong disertai dalil-dalil biar ana ada pegangan.
  3. Apa hukum mengangkat tangan waktu berdoa sehabis shalat fardhu, karena ada yang berpendapat mengangkat tangan ketika berdoa hanya sehabis shalat sunnah?
  4. Bagaimana hukumnya seseorang yang shalat tapi melakukan kemaksiatan setiap hari. Apakah shalatnya diterima?

Jawaban :

Wa’alaikumsalam warahmatullohi wa barakaatuh. Alhamdulillah. Terus terang, kami masih belum bisa menangkap secara pasti, apa yang saudara maksud dengan Al-ma’tsuraat. Karena ada beberapa makna yang mungkin bisa dimaksudkan dengan kata itu. Yang saudara maksud bisa saja sebuah kitab dzikir yang ditulis oleh salah seorang pakar pergerakan Islam Al-Ikhwanul Muslimin, berisi kumpulan dzikir, yang berjudul Al-Ma’tsuraat. Kalau kitab ini yang dimaksud, sebagaimana yang kami ketahui, buku itu belum mendapatkan takhrij dan penelitian ilmiah yang layak, sehingga sebaiknya tidak dipergunakan terlebih dahulu. Karena keabsahan dalil-dalilnya juga masih perlu diteliti.

Al-ma’tsuraat bisa juga bermakna peribahasa Arab. Tapi tentu bukan ini yang saudara maksudkan. Tapi kalau yang saudara maksud dengan Al-ma’tsuraat yakni membaca dzikir-dzikir yang berdasarkan riwayat, maka itu bagus-bagus saja. Tapi cobalah pilih buku kumpulan dzikir yang dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya, seperti Shahih Al-Kalimith Thayyib karya Ibnu Taimiyyah yang sudah diteliti hadist-hadistnya oleh Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddien Al-Albani, atau Shahih Al-Adzhkaar karya An-Nawawi. Bisa juga dipilih Hishnul Muslim, yang sudah direkomendasikan oleh banyak ulama, atau Tuhfatul Akhyaar karya Syaikh Abdul Aziz bin Baaz. Intinya, jangan sembarangan memilih kumpulan dzikir.

Soal dzikir pagi dan petang, memang rentang waktunya masih kontrovensial. Secara umum, Allah SWT berfirman.

“Dan sebutkan (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”(Al-A’raaf:205)

Dalam sebuah hadist disebutkan,

“Allah Maha Besar, Alah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang sebanyak-banyaknya , segal puji bagi Allah yang sebanyak-banyaknya, Segala puji bagi Allah yang sebanyak-banyaknya. Maha susi Allah setiap pagi dan petang.”

Demikian diucapkan sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan,

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan, dari godaan, bisikan dan tiupannya.”

Tapi memang tidak ada hadist yang menyebutkan apakah pagi hari yang dimaksud di situ sehabis shubuh, atau sesudah terbit matahari, dan sore disini sesudah Ashar, atau sesudah magrib. Namun isyarat pada sebagian riwayat bisa memperjelas semua itu. Diantaranya lafal dari doa pagi dan petang itu sendiri.

“Kami bangun di pagi hari ini dan segala kekuasaan adalah milik Allah.”

“Segala puji bagi Allah, tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah. Segala puji bagi Allah. Allah memiliki sebala kerajaan, memiliki segala puja puji, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rabbi, aku memohon kepadamu kebaikan pada hari ini dan kebaikan pada hari selanjutnya. Aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas dan hari tua yang tidak menyenangkan. Rabbi, aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka dan siksa kubur.”

Disini disebutkan,’kami bangun tidur pagi ini,’tentu maksudnya bukanlah sesudah terbit matahari. Karena seseorang muslim bangun tidur, maksimal sesudah terbit fajar, sesudah tiba waktu Shubuh, bukan setelah matahari terbit. Sehingga doa ini dibaca di waktu Shubuh, bukan di pagi hari setelah terbit matahari.

Di sore hari, diucapkan: “Rabbi, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada malam ini dan pada malam selanjutnya. Aku memohon perlindungan kapada-Mu dari keburukan pada malam hari ini dan keburukan pada malam berikutnya”.Secara jelas ini bermakna bahwa doa ini tidak diucapkan sesudah waktu magrib, karena itu artinya sudah masuk waktu malam.

Jadi yang lebih tepat. Doa pagi petang di ucapkan di waktu shubuh atau sesudah shalat Shubuh, dan diwaktu sore sesudah sahalat Ashar.

Wallahu a’lam.

***

Mengangkat tangan termasuk salah satu anjuran agar doa makin mudah terkabul.

Dari Abu Hurairoh Ra bahwasanya Rasulullah SAW menyebutkan,

“Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tangannya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa: Ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan?”

Hadist ini mengisyaratkan, bahwa ada seorang hamba yang sudah memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa, diantaranya dalam kondisi membutuhkan, miskin, dalam perjalanan, dan mengangkat kedua belah tangan.

Disebutkan dalam sebuah riwayat,

“Saat melakukan Al-Jumrah yang tiga, beliau selalu bertakbir setiap melempar kerikil, kemudian maju (saat sekarang ini berarti mendekati tiang-pent) lalu berdoa sambil menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan usai melakukan Jumrah pertama dan kedua. Adapun ketika melakukan Al-Jumrah Al-Aqabah cukup melempar kerikil sambil bertakbir, setelah itu pergi tanpa perlu berhenti berdoa.”

Ini salah satu riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW juga mengangkat tangan saat berdoa.

Tapi harus dipahami, bahwa yang disunnahkan secara khusus mengangkat tangan dalam hal ini adalah doa mas’alah. Karena doa ada dua macam: doa ibadah dan doa mas’alah. Yang dimaksud dengan doa ibadah yaitu segala segala jenis ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran dan termasuk juga dzikir dan doa khusus yang sudah disyariatkan dengan lafal-lafalnya pada beberapa bentuk aktivitas, seperi doa sebelum dan sesudah makan, doa ketika akan bepergian, dan sejenisnya. Doa-doa yang sudah dipaket dengan lafal-lafal khusus itu, tergolong doa ibadah. Dan di situ –menurut pendapat yang benar- tidak disunnahkan mengangkat tangan. Termasuk doa-doa dan dzikir sesudah sholat. Tapi kalau seseorang sesudah shalat seseorang merasa memiliki keperluan tertentu atau permohonan tertentu, lalu ia berdoa, maka itu disebut doa mas’alah. Maka, saat itu dianjurkan untuk mengangkat tangan.

Kesimpulannya, tidk dianjurkan mengangkat tangan saat melakukan dzikir dan doa sesudah shalat. Tapi dianjurkan mengangkat tangan saat seseorang melakukan doa mas’alah, baik itu sesudah shalat atau diwaktu yang lain.

Kemudian, soal maksiat. Sama sekali tidak ada hubungan antara maksiat dengan keabsahan shalat itu sah kalau sudah memenuhi rukun dan syaratnya. Selama rukun dan syaratnya sudah terpenuhi, bahkan bila seseorang melakukan doasa dan maksiat ketika shalat pun, sama sekali tidak membatalkan shalat. Karena shalat itu batal, kalau salah satu rukun atau syaratnya ditinggal atau tidak dilaksanakan.

Meski demikian bukan boleh-boleh saja orang melakukan kesalahan atau dosa saat shalat. Karena ada perbedaan antara sah dengan maqbul atau diterimanya pahala. Kalau shalat seseorang shalat tidak sah, berarti ia sama dengan tidak shalat. Tapi ada juga orang yang shalatnya sah, dan ia dianggap tidak meninggalkan shalat, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa selain setelah menjalankan kewajiban shalatnya saja. Itu artinya , shalatnya tidak maqbul.

Adapun maksiat dan dosa di luar shalat, sama sekali tidak mempengaruhi keabsahan dan kemaqbulan shalat secara langsung. Hanya saja, bila seseorang banyak berbuat maksiat di luar shalat, akan sulit diharapkan ia dapat melakukan shalat secara baik. Bisa jadi shalatnya akan berantakan, kurang atau bahkan tidak mempedulikan sama sekali kesempurnaan rukun dan shalatnya. Apalagi sekedar yang wajib atau sunnah dalam shalat. Karena kalau seseorang melakukan shalat dengan ikhlas dan ittiba’, maka seluruh amal perbuatannya juga akan tertata dengan baik, ia akan selalu berupaya menjauhi larangan Allah di luar shalat, karena kualitas shalat, menggambarkan seutuhnya kualitas seorang hamba.

Wallahu A’lam

Dikutip dari majalah ElFata Vol 7: 2 2007, hal 6, Judul: Mengangkat Tangan dalam Berdoa.

About these ads

3 comments on “Al-Ma’tsurat dan Mengangkat Tangan dalam Berdoa

  1. jazzakallohu khoiron katsiro atas penjelasannya. sudah lama ana mencari penjelasan tentang masalah mengangkat tangan ketika berdoa.
    barokallohu fiik.

  2. ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا
    Kemudia Beliau mengangkat tangan Beliau sehingga terlihat oleh kami ketiak Beliau yang putih, (dan berkata): “Ya Allah bukankah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan….” sebanyak tiga kali. [Shahih Bukhari no. 2407 dari Abu Humaid as-Sa'idiy]

    عَنْ أَبِي عُثْمَانَ ، عَنْ سَلْمَانَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ ، فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا

    Dari Abu ‘Utsman (an-Nahdhi), dari Salman (al-Farisi), dari Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, bersabda: Sesungguhnya Rabbmu itu Pemalu yang Mahadermawan, Dia malu terhadap hamba-Nya yang mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu menurunkan kembali kedua tangannya dengan hampa. [Sunan ibnu Maajah no.3865, Shahih ibnu Hibbaan no.876, Sunan at-Tarmidzi no. 3556, Sunan Abu Dawud no.1488]

    عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا بَعْدَ الرُّكُوعِ، وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ ضَبْعَاهُ، وَيُسْمَعَ صَوْتُهُ مِنْ وَرَاءِ الْمَسْجِدِ

    Dari Abu ‘Utsman (an-Nahdhi), berkata: ‘Umar (bin Khaththab) berqunut dengan kami setelah ruku’, dan mengangkat kedua tangannya sehingga tersingkap kedua dhob’anya. Dan terdengar suaranya dari belakang Masjid. [HR. Ibnu Abi Syaibah no.7041]

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ , فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلاَ تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا ، فَإِذَا فَرَغْتَ , فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

    Dari ibnu Abbas, berkata: Bersabda Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Jika engkau meminta (kebaikan) kepada Allah, maka mintalah dengan telapak tanganmu, dan janganlah engkau meminta dengan punggung kedua tanganmu. Jika telah selesai, maka usaplah dengan kedua telapak tanganmu itu akan wajahmu.” [Sunan ibnu Maajah no.1181,3866]

  3. Ping-balik: Koreksi Kesalahan Seputar Dzikir Setelah Sholat (7) [Apa Salahnya Berdoa dengan Mengangkat Tangan?-2] |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s